Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Prancis Era Zidane Dimulai, Kekalahan Memalukan Ini Menutup 14 Tahun Didier Deschamps

Prancis Era Zidane Dimulai, Kekalahan Memalukan Ini Menutup 14 Tahun Didier Deschamps

  • Juli 15, 2026
Zinedine Zidane

Kekalahan 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026, Rabu (16/07/2026) tidak hanya menghentikan perjalanan Timnas Prancis menuju pertandingan puncak. Hasil tersebut sekaligus menjadi penutup yang menyakitkan bagi masa kepemimpinan Didier Deschamps selama 14 tahun.

Prancis datang ke turnamen sebagai salah satu favorit utama berkat kedalaman skuad yang hampir tidak tertandingi negara lain. Namun, tim bertabur bintang itu justru kehilangan keberanian, kendali permainan, dan gagasan ketika menghadapi lawan paling terorganisasi.

Kekalahan tersebut membuat pembicaraan mengenai Prancis era Zidane semakin kuat dan sulit dibendung. Publik tidak lagi sekadar mempertanyakan hasil, melainkan menuntut perubahan cara berpikir setelah melihat tim terbaik mereka tampil tanpa perlawanan berarti.

Deschamps meninggalkan jabatan dengan catatan yang tetap luar biasa dan sulit disamai pelatih internasional lain. Ia memimpin 184 pertandingan, mencapai tiga final turnamen besar, menjuarai Piala Dunia 2018, dan membawa pulang trofi UEFA Nations League.

Namun, sepak bola memiliki ingatan pendek ketika sebuah era berakhir dengan penampilan yang buruk. Keberhasilan masa lalu tidak mampu sepenuhnya melindungi Deschamps dari kritik setelah Prancis hanya menghasilkan ancaman minimal selama sebagian besar pertandingan semifinal.

Prancis Era Zidane Lahir dari Kegagalan Melawan Spanyol

Spanyol sejak awal diperkirakan akan mendominasi bola, menggerakkan lawan, dan menciptakan keunggulan jumlah pemain di lini tengah. Persoalannya bukan apakah pola itu akan muncul, melainkan bagaimana Deschamps merancang jawaban untuk menghentikannya.

Prancis mempunyai dua pilihan utama, yakni menekan lebih agresif atau menambah pemain tengah untuk memperbaiki keseimbangan. Deschamps justru mempertahankan pendekatan awal dan berharap kualitas individu para penyerangnya dapat memaksa Spanyol melakukan penyesuaian.

Keputusan itu terbukti tidak berjalan karena Prancis kesulitan mendapatkan bola dan ruang pada waktu bersamaan. Dalam 64 menit pertama, barisan penyerang mereka hanya mampu menghasilkan sekitar 0,04 expected goals, angka yang mencerminkan betapa tumpulnya serangan.

Kylian Mbappé, Michael Olise, Ousmane Dembélé, dan pemain depan lainnya tidak memperoleh situasi ideal untuk menunjukkan keunggulan mereka. Spanyol menguasai bola, mempersempit ruang, dan memaksa bintang Prancis terus berlari tanpa tujuan jelas.

Kekalahan ini menjadi kali ketiga dalam tiga tahun Deschamps ditaklukkan Luis de la Fuente. Spanyol sebelumnya mengalahkan Prancis pada semifinal Euro 2024 dan Nations League 2025, tetapi pelajaran dari dua pertandingan tersebut tampaknya tidak diterapkan.

Karena itulah, pembicaraan mengenai Prancis era Zidane tidak hanya didorong oleh keinginan menghadirkan wajah baru. Perubahan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Prancis membutuhkan pelatih yang lebih cepat membaca perkembangan permainan dan berani melakukan penyesuaian.

Kesetiaan Deschamps Menjadi Kekuatan Sekaligus Kelemahan

Selama bertahun-tahun, Deschamps dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan kestabilan, kesederhanaan taktik, dan hubungan baik dengan pemain. Pendekatan itu sangat efektif dalam turnamen pendek karena pemain internasional tidak mempunyai banyak waktu untuk mempelajari sistem rumit.

Ia memberikan kepercayaan besar kepada pemain inti dan jarang mengubah struktur hanya karena tekanan publik. Sikap tersebut membantu Prancis melewati berbagai krisis serta menjaga ruang ganti tetap solid ketika ekspektasi terhadap tim terus meningkat.

Namun, kesetiaan juga dapat berubah menjadi beban apabila seorang pemain sedang tampil buruk. Adrien Rabiot dan Michael Olise tetap memperoleh kepercayaan, meski permainan keduanya tidak memberi pengaruh yang cukup untuk mengubah jalannya semifinal.

Pergantian Manu Koné untuk Rabiot serta Désiré Doué untuk Bradley Barcola sebenarnya mudah diprediksi. Perubahan itu tidak merombak struktur secara mendasar, sehingga Spanyol tetap nyaman menjalankan rencana tanpa menghadapi kejutan taktik.

Pada hari yang baik, pendekatan Deschamps membuat Prancis terlihat tenang dan tidak mudah kehilangan bentuk. Pada hari yang buruk, kesederhanaan tersebut membuat tim terus mengulang kesalahan karena tidak memiliki alternatif yang mampu mengubah arah pertandingan.

Kegagalan itu menjadi pelajaran penting bagi Prancis era Zidane yang segera dimulai. Pelatih baru tidak cukup hanya menjaga keharmonisan, tetapi juga harus memahami kapan stabilitas perlu dipertahankan dan kapan struktur harus dibongkar.

Deschamps Tetap Meninggalkan Warisan Besar

Mengkritik pertandingan terakhir Deschamps tidak berarti menghapus seluruh keberhasilannya bersama Prancis. Ia mengambil alih tim pada 2012 dan mengubah Les Bleus menjadi salah satu kekuatan paling konsisten di sepak bola internasional.

Prancis mencapai final Euro 2016, menjuarai Piala Dunia 2018, dan kembali tampil di final Piala Dunia 2022. Mereka juga merebut Nations League serta hampir selalu datang ke turnamen besar sebagai kandidat kuat juara.

Deschamps bahkan hanya berjarak satu peluang Randal Kolo Muani dari kemungkinan memenangkan Piala Dunia kedua sebagai pelatih. Jika peluang pada akhir final 2022 menjadi gol, cara dunia menilai seluruh kariernya mungkin akan berbeda.

Keberhasilan itu dibangun melalui pragmatisme, manajemen pemain, dan kemampuan menjaga fokus tim. Deschamps memahami bahwa turnamen internasional sering kali dimenangkan bukan oleh permainan terindah, melainkan oleh tim yang paling mampu bertahan menghadapi tekanan.

Masalahnya, resep yang sama tidak selalu bekerja ketika lawan mampu menghilangkan ruang dan penguasaan bola. Ketika bakat individu tidak memiliki kondisi untuk berkembang, Prancis membutuhkan solusi taktik yang selama ini bukan kekuatan terbesar Deschamps.

Karena itu, Prancis era Zidane akan berdiri di atas fondasi yang sebenarnya cukup kokoh. Tantangan Zidane bukan membangun tim dari kehancuran, melainkan memperbarui mesin hebat yang mulai kehilangan kemampuan merespons perubahan.

Mengapa Zinedine Zidane Menjadi Pilihan Alami?

Zinedine Zidane mempunyai hubungan emosional yang sangat kuat dengan sejarah sepak bola Prancis. Ia menjadi pusat permainan ketika Les Bleus menjuarai Piala Dunia 1998 dan kemudian membawa negara tersebut meraih gelar Euro 2000.

Namanya juga identik dengan generasi emas yang mengubah status Prancis di panggung internasional. Bagi banyak pendukung, penunjukan Zidane terasa seperti kelanjutan alami dari perjalanan seorang legenda menuju tanggung jawab terbesar di negaranya.

Rekam jejak kepelatihannya bersama Real Madrid juga sulit diabaikan karena menghasilkan tiga gelar Liga Champions berturut-turut. Zidane turut memenangkan dua gelar La Liga dan menunjukkan kemampuan mengelola ruang ganti yang berisi pemain kelas dunia.

Pengalaman tersebut menjadi alasan utama munculnya optimisme terhadap Prancis era Zidane. Tim nasional Prancis dipenuhi pemain berbakat, sehingga kemampuan membangun hubungan dan menjaga ego akan sama pentingnya dengan kecanggihan taktik.

Zidane pernah menangani Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Luka Modrić, Toni Kroos, Sergio Ramos, dan sejumlah bintang besar lainnya. Ia membuktikan mampu membuat pemain elite menerima peran tertentu demi mencapai tujuan bersama.

Namun, melatih tim nasional berbeda jauh dengan bekerja di klub sebesar Real Madrid. Zidane tidak dapat membeli pemain pengganti, tidak bertemu skuad setiap hari, dan hanya memiliki waktu terbatas untuk membangun kebiasaan permainan.

Pertanyaan Besar di Balik Prancis Era Zidane

Zidane tidak melatih tim mana pun selama sekitar lima tahun, sehingga perkembangan pendekatannya belum dapat diukur. Gelar terakhirnya diraih pada 2020, sementara sepak bola terus berubah dengan tekanan tinggi, struktur posisi, dan penggunaan data yang semakin penting.

Sebagian orang menganggap kemampuan Zidane mengelola manusia akan langsung cocok dengan kebutuhan Prancis. Namun, kegagalan Deschamps melawan Spanyol menunjukkan bahwa manajemen pemain saja tidak cukup ketika lawan unggul secara struktur.

Kesamaan latar belakang Zidane dan Deschamps juga menimbulkan pertanyaan menarik. Keduanya pernah bermain bersama untuk Prancis dan Juventus, serta sama-sama cenderung menghindari taktik yang terlalu rumit selama menjalani karier kepelatihan.

Ada kemungkinan Prancis era Zidane hanya menghadirkan versi baru dari pendekatan lama. Zidane dapat mempertahankan kesederhanaan, menjaga pemain tetap bahagia, dan mengandalkan kualitas individu sebagaimana dilakukan pendahulunya.

Pendekatan itu tidak selalu keliru karena sepak bola internasional memang membutuhkan kejelasan serta efisiensi. Namun, Zidane harus lebih cepat menyadari ketika lawan mengambil penguasaan bola, menutup ruang, dan membuat pemain terbaiknya tidak berfungsi.

Zidane perlu menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya mampu menekan tombol psikologis yang tepat. Ia juga harus berani mengganti formasi, menambah gelandang, mengubah pola tekanan, atau mengorbankan satu bintang demi keseimbangan tim.

Keseimbangan Harus Mengalahkan Kumpulan Bintang

Prancis memiliki kedalaman pemain yang membuat hampir setiap pelatih merasa dimanjakan. Mereka mempunyai penyerang cepat, gelandang dinamis, bek kuat, serta pilihan pemain muda yang terus muncul dari akademi terbaik.

Namun, jumlah bintang yang terlalu banyak dapat menciptakan godaan untuk memainkan semuanya secara bersamaan. Semifinal melawan Spanyol memperlihatkan bahwa empat penyerang berbakat tidak otomatis menghasilkan serangan berbahaya apabila lini tengah kalah jumlah.

Mbappé bahkan mengakui Prancis menghadapi situasi dua lawan tiga di lini tengah. Ketimpangan tersebut membuat pemain depan jarang menerima bola dalam kondisi menguntungkan dan terus terpisah dari fase pembangunan serangan.

Pelajaran terbesar untuk Prancis era Zidane adalah pentingnya keseimbangan antara kualitas individu dan kebutuhan kolektif. Pemain terbaik tidak selalu membentuk susunan terbaik apabila fungsi mereka saling bertabrakan atau meninggalkan ruang terlalu besar.

Zidane sebenarnya memahami prinsip tersebut karena pernah menjuarai Piala Dunia bersama Stéphane Guivarc’h sebagai penyerang tengah. Guivarc’h tidak menjadi bintang utama, tetapi perannya membantu pemain lain menemukan ruang serta menjaga struktur tim.

Di Real Madrid, Zidane juga pernah mengorbankan nama besar demi komposisi yang lebih seimbang. Casemiro menjadi bagian penting karena memberikan perlindungan, meski perhatian publik lebih sering tertuju kepada Ronaldo, Benzema, Modrić, dan Kroos.

Cara Zidane Bisa Mengubah Prancis

Perubahan pertama yang dibutuhkan bukan revolusi total, melainkan keberanian mengubah struktur sesuai lawan. Prancis harus tetap mempunyai identitas sendiri, tetapi tidak boleh menganggap setiap pertandingan dapat dimenangkan hanya melalui keunggulan individu.

Dalam situasi tertentu, Zidane dapat menggunakan tiga gelandang agar Prancis tidak mudah dikendalikan. Pilihan itu mungkin mengurangi satu pemain menyerang, tetapi dapat memberi Mbappé dan rekan-rekannya lebih banyak bola serta ruang untuk melakukan serangan.

Prancis juga perlu mengembangkan tekanan yang lebih terkoordinasi agar tidak terus menunggu lawan melakukan kesalahan. Tekanan setengah hati hanya akan menguras tenaga dan memberikan kesempatan kepada tim seperti Spanyol untuk bergerak melewati lini pertama.

Pada fase menyerang, Prancis era Zidane membutuhkan koneksi yang lebih jelas antara gelandang dan penyerang. Bola tidak boleh hanya diarahkan kepada Mbappé dengan harapan sang kapten menciptakan sesuatu dari situasi yang tidak ideal.

Zidane dapat membangun beberapa jalur serangan, termasuk pergerakan dari sisi lapangan, umpan vertikal, dan lari pemain lini kedua. Variasi tersebut akan membuat Prancis tidak mudah dibaca ketika lawan berhasil menutup ruang bagi satu bintang.

Ia juga harus berani mengganti pemain lebih cepat ketika pertandingan bergerak menuju arah yang salah. Pergantian pada menit akhir tidak cukup apabila masalah struktural sudah terlihat sejak babak pertama dan terus dimanfaatkan lawan.

Mbappé Menjadi Pusat Proyek Baru

Kylian Mbappé hampir pasti menjadi wajah utama dalam Prancis era Zidane. Sang kapten memiliki kualitas, pengalaman, dan pengaruh besar, tetapi proyek baru harus memastikan dirinya menjadi bagian dari sistem, bukan satu-satunya jawaban.

Zidane perlu menentukan posisi terbaik Mbappé berdasarkan kebutuhan tim, bukan sekadar keinginannya. Bermain di sisi kiri memberi ruang untuk melakukan akselerasi, sementara menjadi penyerang tengah dapat mengurangi beban bertahan tetapi membatasi keterlibatannya.

Hubungan keduanya kemungkinan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan Prancis. Zidane merupakan figur yang dihormati Mbappé, tetapi rasa hormat itu tetap harus diterjemahkan menjadi komunikasi terbuka mengenai tanggung jawab dan keseimbangan.

Jika Zidane mampu membuat Mbappé bekerja dalam struktur kolektif, Prancis akan mempunyai pusat serangan yang sangat berbahaya. Jika gagal, tim dapat kembali bergantung pada momen individu ketika pola permainan tidak berjalan.

Pemain seperti Olise, Dembélé, Doué, dan Barcola juga membutuhkan pembagian peran yang jelas. Tidak semuanya dapat bergerak ke ruang yang sama atau terus menunggu bola tanpa terlibat dalam tekanan dan penguasaan.

Akhir yang Buruk Tidak Menghapus Kehebatan

Deschamps pantas menerima kritik atas pendekatannya ketika menghadapi Spanyol. Namun, penampilan buruk pada pertandingan terakhir tidak boleh menghapus fakta bahwa ia mengubah Prancis menjadi kekuatan yang sangat stabil selama lebih dari satu dekade.

Ia meninggalkan trofi, pengalaman, budaya kemenangan, dan standar tinggi kepada penerusnya. Tidak banyak pelatih yang mampu membawa negara yang sama ke tiga final turnamen besar dalam periode yang relatif singkat.

Zidane akan menghadapi perbandingan sejak pertandingan pertamanya, terlebih karena reputasinya sebagai legenda. Setiap kemenangan akan disebut sebagai awal kebangkitan, sedangkan setiap kegagalan akan digunakan untuk mempertanyakan kesiapan dan masa vakumnya.

Karena itu, Prancis era Zidane tidak boleh dinilai hanya dari nama besar pelatihnya. Keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan warisan Deschamps tanpa mengulangi kelemahan yang membuat era sebelumnya berakhir.

Prancis tidak membutuhkan penyelamat yang menghapus masa lalu, melainkan pemimpin yang mampu menyempurnakan fondasi lama. Zidane harus mempertahankan kekuatan mental dan kebersamaan, kemudian menambahkan keluwesan yang hilang dalam pertandingan melawan Spanyol.

Harapan Besar setelah Perpisahan

Kekalahan di Arlington akan dikenang sebagai malam ketika tim paling berbakat gagal menunjukkan kualitas sebenarnya. Prancis tidak sekadar tersingkir, tetapi kehilangan keberanian untuk mengubah pertandingan ketika rencana awal mereka dihentikan lawan.

Momen tersebut menjelaskan mengapa publik begitu antusias menyambut Prancis era Zidane. Mereka tidak hanya menginginkan pelatih baru, tetapi berharap melihat sepak bola yang lebih berani, adaptif, dan sesuai dengan kekayaan pemain yang tersedia.

Zidane mempunyai seluruh modal awal berupa reputasi, pemahaman budaya, pengalaman mengelola bintang, serta hubungan emosional dengan negara. Namun, semua itu baru menjadi jaminan moral dan belum menjadi bukti keberhasilan di level internasional.

Tantangan sesungguhnya adalah membangun tim yang tidak bergantung pada nama, suasana hati, atau satu momen kejeniusan. Prancis harus mampu memenangkan pertandingan melalui organisasi, fleksibilitas, dan pemahaman kolektif yang lebih matang.

Deschamps pergi dengan warisan besar dan satu malam buruk yang mempercepat tuntutan perubahan. Zidane datang membawa harapan bahwa generasi berbakat Prancis tidak kembali mengakhiri turnamen sambil bertanya apa yang seharusnya bisa mereka capai.

Pada akhirnya, keberhasilan Prancis era Zidane tidak hanya diukur dari jumlah gelar yang diraih. Era baru itu akan dinilai dari kemampuan Prancis menggabungkan bintang terbaiknya menjadi satu tim utuh yang mampu belajar, berubah, dan menang bersama.

Zinedine Zidane

Prancis Era Zidane Dimulai, Kekalahan Memalukan Ini Menutup 14 Tahun Didier Deschamps

15 Jul 2026
Kane-Bellingham

Inggris Bergantung pada Kane dan Bellingham, Senjata Juara atau Bom Waktu?

15 Jul 2026
Messi vs Harry Kane

Inggris vs Argentina: Tangan Tuhan, Kartu Merah, dan Luka yang Tak Pernah Selesai

15 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.