Usia 39 tahun tidak membuat Lionel Messi kehilangan kemampuan menentukan pertandingan pada level tertinggi. Kapten Argentina itu hanya mengubah cara bermainnya, dari pelari yang terus membawa bola menjadi pemburu momen yang memilih kapan harus bergerak cepat.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris yang akan berlangsung Stadion Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB, perhatian tidak hanya tertuju kepada teknik, visi, dan penyelesaian akhirnya. Ancaman lain datang dari kemampuan Messi menyimpan tenaga, lalu mengeluarkan ledakan kecepatan ketika pertahanan lawan sedang kehilangan keseimbangan.
Gaya bermain tersebut sering membuat Lionel Messi tampak berjalan santai dan tidak terlibat dalam pertandingan. Namun, ketenangan itu bukan tanda kelelahan, melainkan bagian dari strategi untuk membaca pergerakan lawan dan menemukan ruang yang tidak dijaga.
Inggris menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada sekadar mengejar pemain tercepat. Para bek harus terus mengawasi Messi, memahami arah pandangannya, dan memutuskan kapan mereka perlu mendekat tanpa meninggalkan ruang bagi pemain Argentina lainnya.
Lionel Messi Tidak Berlari Tanpa Tujuan
Pada usia yang mendekati 40 tahun, Lionel Messi tidak lagi menghabiskan tenaga untuk menekan setiap bek atau mengejar semua umpan. Ia bergerak perlahan sambil membaca bentuk pertahanan, posisi gelandang, serta jarak antarpemain lawan.
Cara tersebut memungkinkan Messi tetap segar ketika bola memasuki area yang paling menguntungkan. Begitu melihat celah, ia dapat meningkatkan kecepatan, menerima umpan, dan memaksa pertahanan bereaksi sebelum sempat membentuk posisi ideal.
Banyak pemain bergerak cepat untuk menciptakan peluang, tetapi Lionel Messi sering menciptakan peluang sebelum mulai berlari. Ia terlebih dahulu menemukan ruang, menunggu waktu yang tepat, kemudian menggunakan akselerasi pendek untuk menguasai situasi.
Inilah alasan pergerakannya sulit dibaca oleh bek yang terbiasa menghadapi penyerang aktif. Pemain bertahan dapat kehilangan konsentrasi karena Messi terlihat pasif, padahal ia sedang mengamati celah dan menyiapkan gerakan berikutnya.
Statistik Jalan Kaki yang Menipu
Dalam pertandingan perempat final melawan Swiss, Lionel Messi menempuh 6.655 meter pada kategori kecepatan terendah, antara nol hingga tujuh kilometer per jam. Jarak tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh pemain dari kedua tim.
Sebanyak 64,8 persen dari total pergerakannya dilakukan pada kecepatan terendah. Persentase itu jauh lebih besar dibandingkan Harry Kane, Lamine Yamal, Kylian Mbappé, dan Erling Haaland dalam pertandingan mereka masing-masing.
Harry Kane mencatat sekitar 40,5 persen pergerakan pada kategori tersebut, sedangkan Lamine Yamal berada di angka 45,4 persen. Mbappé menghasilkan 52,6 persen dan Haaland 55,7 persen, tetap lebih rendah daripada Lionel Messi.
Data itu memperlihatkan bahwa berjalan merupakan bagian utama dari permainan Messi, bukan kebiasaan yang muncul karena usia. Ia menggunakan tempo lambat untuk menjaga stamina sekaligus memantau perubahan posisi lawan sepanjang pertandingan.
Namun, berjalan dalam waktu lama tidak berarti Lionel Messi kehilangan kemampuan melakukan sprint. Persentase pergerakannya pada kecepatan di atas 20 kilometer per jam tetap tidak jauh berbeda dari sejumlah penyerang yang jauh lebih muda.
Ledakan Kecepatan Masih Berbahaya
Messi memang tidak melakukan sprint sebanyak pemain muda, tetapi jumlahnya masih berada pada tingkat yang mengejutkan. Pada perempat final, ia mencatat jumlah setara 85 sprint per 90 menit berdasarkan pengukuran pergerakan FIFA.
Catatan itu bahkan lebih tinggi daripada Erling Haaland yang menghasilkan sekitar 74 sprint per 90 menit. Messi juga tidak terlalu jauh tertinggal dari Kylian Mbappé, yang mencatat sekitar 97 sprint dalam periode pertandingan serupa.
Perbedaannya terletak pada pemilihan waktu, bukan hanya jumlah gerakan cepat. Lionel Messi melakukan sprint ketika peluang memberi dampak langsung, sehingga beberapa meter pergerakannya bisa jauh lebih berbahaya daripada lari panjang pemain lain.
Ia tidak selalu berlari mengejar bola yang sulit dijangkau atau menutup bek tanpa peluang merebut penguasaan. Energi disimpan untuk menerima umpan antarlini, menyerang kotak penalti, atau membuka jalur tembakan dan umpan terakhir.
Kecepatan Puncak Lionel Messi Masih Tinggi
Data Sofascore mencatat kecepatan tertinggi Lionel Messi pada Piala Dunia 2026 mencapai 30,9 kilometer per jam. Angka tersebut membuktikan bahwa ia masih mampu bergerak cepat ketika pertandingan menuntut akselerasi maksimal.
Kecepatan itu melampaui catatan terbaik Lautaro Martínez sebesar 30,5 kilometer per jam. Messi juga lebih cepat daripada Alexis Mac Allister, yang membukukan kecepatan puncak sekitar 30,2 kilometer per jam bersama Argentina.
Perbandingan tersebut menarik karena Lautaro dan Mac Allister lebih muda lebih dari satu dekade. Meski demikian, Lionel Messi tetap mampu menghasilkan kecepatan puncak yang lebih tinggi dalam momen tertentu sepanjang turnamen.
Catatan Messi juga tidak terpaut jauh dari pemain utama Inggris. Harry Kane mencapai sekitar 31,4 kilometer per jam, sedangkan Jude Bellingham mencatat kecepatan tertinggi kurang lebih 31,1 kilometer per jam.
Inggris memang memiliki Nico O’Reilly yang mampu mencapai 35,6 kilometer per jam. Namun, keunggulan kecepatan lurus tidak otomatis membuatnya mudah mengatasi pemain yang bergerak berdasarkan ruang, sudut, dan waktu.
Mengapa Kecepatan Saja Tidak Cukup?
Bek cepat dapat mengejar penyerang dalam perlombaan terbuka, tetapi Lionel Messi jarang memberi lawan situasi sesederhana itu. Ia menggunakan perubahan arah, kontrol bola, dan gerakan kecil untuk membuat keunggulan fisik lawan kehilangan arti.
Pemain Inggris harus memperhatikan posisi tubuh Messi sebelum bola datang. Jika mereka terlambat membaca arah gerakannya, kecepatan tinggi hanya digunakan untuk mengejar situasi yang sudah lebih dahulu dikuasai Argentina.
Masalah lain muncul ketika bek terlalu dekat mengawal Lionel Messi. Gerakan maju yang agresif dapat membuka ruang di belakang, kemudian dimanfaatkan Lautaro Martínez, Julián Álvarez, atau gelandang yang masuk dari lini kedua.
Sebaliknya, memberikan jarak juga tidak menawarkan keamanan penuh. Messi dapat menerima bola dengan nyaman, berbalik, lalu memilih antara menembak, menggiring, atau memberikan umpan yang membelah pertahanan.
Membawa Bola dan Menghasilkan Peluang
Tidak ada pemain di turnamen ini yang mengakhiri lebih banyak pergerakan membawa bola minimal lima meter dengan tembakan atau umpan kunci. Lionel Messi menghasilkan 22 momen semacam itu sepanjang perjalanan Argentina.
Data tersebut menunjukkan bahwa dribelnya tetap memiliki tujuan yang jelas. Ia tidak membawa bola hanya untuk melewati lawan, tetapi untuk menciptakan tembakan, menarik penjagaan, atau membuka kesempatan bagi rekan setim.
Messi dapat memulai pergerakan dari area yang terlihat tidak berbahaya, lalu mengubah situasi hanya melalui beberapa sentuhan. Ketika lawan mendekat, ia menggunakan keseimbangan dan kontrol sempit untuk mempertahankan bola tanpa kehilangan arah serangan.
Inggris harus mencegah Lionel Messi menerima bola dengan tubuh menghadap ke depan. Begitu situasi itu terjadi, pertahanan akan dipaksa mundur dan kehilangan kesempatan untuk menentukan arah permainan.
Berjalan untuk Mengumpulkan Informasi
Kebiasaan berjalan memungkinkan Messi mempelajari pertandingan dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ia mengamati pemain mana yang agresif meninggalkan posisi, bek yang lambat berputar, serta gelandang yang terlambat menutup ruang.
Informasi tersebut dikumpulkan selama beberapa menit sebelum akhirnya digunakan. Lionel Messi dapat mengulang pola yang sama dua atau tiga kali, kemudian mengubah arah ketika lawan merasa sudah memahami gerakannya.
Dalam kondisi itu, berjalan menjadi bentuk pengamatan aktif, bukan ketidakpedulian. Messi seolah menyusun peta lapangan dalam kepalanya, lalu memilih jalur yang paling aman untuk menciptakan ancaman.
Kemampuan membaca pertandingan inilah yang membedakannya dari penyerang cepat biasa. Pemain lain mungkin mengandalkan tenaga, sedangkan Lionel Messi menggabungkan tenaga yang tersisa dengan pengalaman ribuan pertandingan.
Tantangan Nico O’Reilly dan Pertahanan Inggris
Nico O’Reilly berpotensi mendapat tugas besar untuk menutup sisi pergerakan Messi. Kecepatan 35,6 kilometer per jam memberinya modal fisik, tetapi keputusan posisi akan jauh lebih menentukan daripada kemampuan berlari.
O’Reilly tidak boleh terpancing mengikuti Lionel Messi terlalu jauh ke tengah. Jika meninggalkan jalurnya tanpa perlindungan, Argentina dapat mengalihkan serangan ke ruang kosong dan memaksa pertahanan Inggris bergerak tidak seimbang.
Bek tengah Inggris juga harus menjaga komunikasi ketika Messi berpindah area. Pengawalan tidak dapat dibebankan kepada satu pemain karena sang kapten Argentina terus bergerak di antara bek, gelandang, dan sisi lapangan.
Pendekatan paling aman adalah menyerahkan penjagaan secara bergantian tanpa kehilangan bentuk tim. Namun, sistem tersebut membutuhkan konsentrasi tinggi karena satu keterlambatan komunikasi dapat membuka ruang yang langsung dihukum Lionel Messi.
Inggris Tidak Boleh Terobsesi kepada Messi
Terlalu fokus menghentikan Messi dapat menciptakan masalah lain bagi Inggris. Argentina mempunyai pemain yang mampu memanfaatkan ruang, terutama ketika dua atau tiga bek bergerak mendekati sang kapten secara bersamaan.
Lautaro Martínez dapat menyerang kotak penalti, sementara Mac Allister menawarkan umpan vertikal dan pergerakan dari lini kedua. Rodrigo De Paul juga mampu mengisi area yang ditinggalkan ketika Lionel Messi menarik perhatian lawan.
Inggris harus membatasi pengaruh Messi tanpa merusak keseimbangan pertahanan secara keseluruhan. Tujuannya bukan memastikan ia tidak menyentuh bola, melainkan membuat setiap sentuhannya terjadi jauh dari area berbahaya.
Menjaga Lionel Messi tetap berada di dekat garis tengah akan lebih berguna daripada mengejarnya di sekitar kotak penalti. Semakin dekat ia berada dengan gawang, semakin sedikit waktu yang dimiliki pertahanan untuk merespons.
Contoh Ancaman yang Bisa Muncul
Salah satu contoh paling berbahaya terjadi ketika Messi berjalan di belakang gelandang Inggris sebelum tiba-tiba bergerak ke ruang antarlini. Umpan pendek dari De Paul dapat membuatnya langsung berhadapan dengan empat bek yang sedang mundur.
Dalam situasi lain, Lionel Messi bisa memulai dari sisi kanan dan bergerak perlahan ke tengah. Ketika bek kiri Inggris mengikuti, pemain Argentina lainnya dapat melakukan lari tumpang tindih menuju ruang yang baru terbuka.
Ancaman berikutnya muncul dari serangan balik setelah Inggris kehilangan bola. Messi tidak perlu berlari panjang, karena satu sprint sepuluh meter sudah cukup untuk menerima bola dan mengirim umpan kepada penyerang yang lebih cepat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa bahaya bukan hanya berasal dari kecepatan tertinggi Lionel Messi. Keputusan kapan mulai bergerak membuat setiap sprint pendek memiliki kemungkinan menghasilkan peluang yang jauh lebih besar.
Skenario Penjagaan Inggris
Inggris dapat menempatkan seorang gelandang bertahan di jalur umpan menuju Messi tanpa melakukan penjagaan satu lawan satu. Cara tersebut menjaga struktur tim, sekaligus memaksa Argentina mengalirkan bola melalui area yang kurang berbahaya.
Ketika Lionel Messi turun terlalu dalam, pemain Inggris sebaiknya tidak selalu mengikutinya. Membiarkan ia menerima bola jauh dari gawang dapat menjadi risiko yang lebih kecil dibandingkan membuka ruang di belakang garis pertahanan.
Namun, begitu Messi melewati garis tengah dan menghadap ke depan, tekanan harus datang secara terkoordinasi. Satu pemain menutup bola, sementara pemain lain menjaga jalur umpan dan mengantisipasi perubahan arah.
Skenario ini hanya berhasil apabila Inggris disiplin selama 90 menit. Messi mungkin terlihat tidak aktif selama beberapa fase, tetapi satu kehilangan konsentrasi dapat memberinya momen yang dibutuhkan untuk menentukan pertandingan.
Usia Mengubah Messi, Bukan Menghabisinya
Lionel Messi pada usia 39 tahun jelas berbeda dari pemain yang menggiring bola melewati banyak lawan satu dekade lalu. Ia tidak lagi melakukan semua pekerjaan dengan volume tinggi, tetapi memilih tindakan yang paling bernilai.
Perubahan itu menunjukkan kemampuannya beradaptasi terhadap penurunan fisik alami. Kecepatan masih tersedia, tetapi digunakan lebih hemat sehingga tetap dapat muncul dalam pertandingan yang berlangsung panjang dan melelahkan.
Banyak pemain kehilangan pengaruh ketika tidak lagi mampu berlari seperti masa muda. Lionel Messi justru mempertahankan pengaruh melalui kecerdasan, posisi, serta kemampuan mengubah tempo dalam waktu sangat singkat.
Inilah alasan Inggris tidak boleh menilai ancaman hanya berdasarkan usia atau jarak tempuh sprint. Messi tidak perlu mendominasi seluruh pertandingan untuk menghasilkan satu tindakan yang menentukan hasil akhirnya.
Ancaman yang Datang Tanpa Peringatan
Pemain paling berbahaya tidak selalu menjadi orang yang paling banyak bergerak. Dalam kasus Lionel Messi, ancaman justru tumbuh ketika ia terlihat tenang, berjalan perlahan, dan seolah berada di luar permainan.
Ketika perhatian bek menurun, ia bergerak ke ruang baru dan menerima bola dalam posisi ideal. Beberapa detik kemudian, Inggris dapat menghadapi tembakan, umpan kunci, atau pergerakan yang mengubah arah semifinal.
Karena itu, tugas pertahanan Inggris bukan sekadar berlari lebih cepat daripada Messi. Mereka harus berpikir lebih cepat, berkomunikasi lebih baik, dan mempertahankan konsentrasi ketika sang kapten Argentina belum menyentuh bola.
Pada usia 39 tahun, Lionel Messi mungkin tidak lagi berlari sepanjang pertandingan. Namun, kemampuan memilih satu sprint yang tepat membuatnya tetap menjadi ancaman terbesar bagi impian Inggris mencapai final Piala Dunia 2026.



