Musim Liga Inggris 2026/27 baru berjalan empat pertandingan, tetapi tekanan sudah menghantam Coventry City, Tottenham Hotspur, dan Aston Villa dengan kekuatan berbeda. Coventry belum memperoleh satu poin maupun gol, Tottenham belum mencetak gol, sedangkan Villa baru mengumpulkan satu angka.
Situasi tersebut terlihat buruk di klasemen, tetapi sejarah Liga Inggris menunjukkan empat laga pertama belum selalu menentukan nasib sebuah tim hingga Mei. Data masa lalu justru memperlihatkan perbedaan risiko yang cukup tajam antara tim promosi, tim mapan, dan klub yang hanya mengalami masalah penyelesaian akhir.
Dilansir Opta Analyst, Coventry menjadi satu-satunya tim Premier League musim ini yang masih tanpa poin setelah empat pertandingan dan juga belum mencetak gol. Dua kekalahan datang saat menghadapi Arsenal serta Manchester City, tetapi hasil melawan Hull City dan Brighton jauh lebih mengkhawatirkan.
Kekalahan 0-1 dari sesama tim promosi Hull di kandang menjadi kesempatan yang terbuang, sebelum Coventry dihajar Brighton 0-5 dalam lanjutan Liga Inggris di Coventry Building Society Arena. Kartu merah Taiwo Awoniyi memperburuk keadaan, tetapi tim Frank Lampard sudah tertinggal dua gol sebelumnya.
Bagi Coventry, start buruk Premier League ini lebih berbahaya karena mereka baru kembali ke kasta tertinggi setelah absen sejak 2001. Mereka datang sebagai juara Championship, tetapi empat pertandingan pertama memperlihatkan betapa lebar jarak tuntutan teknis, tempo, dan kualitas penyelesaian di level tertinggi.
Coventry menjadi tim promosi kedelapan yang kalah dalam empat pertandingan pertama sebuah musim Liga Inggris, dan sejarah memberikan peringatan keras. Dari tujuh pendahulunya, hanya Southampton pada musim 2012/13 yang berhasil bertahan dan menghindari degradasi pada akhir kompetisi.
Namun, jika seluruh tim yang kalah dalam empat laga awal dihitung tanpa membedakan status promosi, gambarnya tidak sekelam itu. Sebelum Coventry, terdapat 18 kejadian serupa di Liga Inggris dan delapan di antaranya tetap mampu bertahan, termasuk Everton pada musim 2024/25.
Crystal Palace musim 2017/18 menjadi contoh paling ekstrem bahwa start buruk Premier League masih dapat dibalik secara dramatis. Palace gagal mencetak gol maupun meraih poin dalam tujuh pertandingan pertama, tetapi pergantian Frank de Boer dengan Roy Hodgson akhirnya membawa mereka finis di posisi ke-11.
Cerita Portsmouth musim 2009/10 menunjukkan sisi berbeda karena mereka juga melalui tujuh pertandingan pembuka Liga Inggris tanpa poin dan akhirnya finis paling bawah. Pengurangan sembilan poin akibat administrasi memperburuk keadaan, tetapi bahkan tanpa hukuman tersebut Portsmouth tetap akan berada di dasar klasemen.
Norwich City pada 2021/22 juga kalah dalam enam laga pertama Premier League sebelum mengakhiri musim di posisi terakhir dengan 22 poin. Southampton 1998/99 berhasil selamat setelah lima kekalahan pembuka, sedangkan Sunderland 2005/06 dan Wolverhampton musim lalu akhirnya terdegradasi.
Liga Inggris dan Alarm Terbesar untuk Coventry
Perbedaan Coventry dengan beberapa contoh yang akhirnya selamat terletak pada status mereka sebagai tim promosi dan minimnya margin kesalahan. Di Liga Inggris, klub pendatang baru tidak hanya membutuhkan peningkatan performa, tetapi juga harus segera menemukan pertandingan yang bisa diubah menjadi sumber poin.
Jadwal awal Premier League memang memberikan pembelaan karena Coventry harus bertandang ke markas juara bertahan Arsenal dan kemudian menghadapi Manchester City. Namun, kekalahan kandang dari Hull serta pembantaian Brighton menunjukkan masalah mereka tidak semata lahir karena menghadapi dua kekuatan terbesar kompetisi.
Lampard kini membutuhkan respons cepat ketika Coventry bertandang ke Nottingham Forest pada 19 September 2026, pertandingan kelima mereka di Liga Inggris. Satu gol atau satu poin dapat mengubah atmosfer, sementara kekalahan kembali akan membuat tekanan psikologis dan statistik semakin berat.
Masalah Coventry di Liga Inggris bukan hanya angka nol pada klasemen, melainkan bagaimana tim menciptakan keyakinan bahwa mereka mampu bersaing dalam pertandingan seimbang. Ketika laga melawan sesama tim promosi justru berakhir kalah, ruang menutup defisit dari pertandingan berat menjadi semakin sempit.
Bagi sebuah tim promosi, pertandingan melawan Arsenal atau Manchester City bukan ukuran terbaik untuk menentukan kemampuan bertahan di Liga Inggris. Duel melawan Hull, Forest, atau tim papan tengah justru lebih menentukan karena di sanalah poin-poin yang dibutuhkan untuk selamat biasanya dikumpulkan.
Itulah mengapa kekalahan dari Hull mempunyai bobot psikologis lebih besar dibandingkan kekalahan ketika menghadapi kandidat juara. Coventry bukan hanya kehilangan tiga poin, tetapi juga gagal memanfaatkan salah satu laga Liga Inggris yang secara realistis berada dalam kategori dapat dimenangkan.
Satu kemenangan dapat mengubah banyak hal karena tekanan awal musim sering membesar akibat pemain mulai bermain dengan rasa takut melakukan kesalahan. Namun, apabila tren tersebut berlanjut sampai enam atau tujuh pertandingan, sejarah Premier League menunjukkan proses pemulihan menjadi semakin sulit.
Tottenham dan Villa: Krisis Berbeda, Harapan Serupa
Tottenham mempunyai persoalan berbeda karena mereka sudah meraih dua poin dari empat pertandingan, tetapi belum mencetak satu gol pun di Premier League. Hasil imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest dan Everton setidaknya menunjukkan struktur bertahan bekerja, meskipun lini depan sama sekali belum menemukan ritmenya.
Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Tottenham mereka gagal mencetak gol pada empat pertandingan liga pertama sebuah musim. Mereka juga telah melalui 407 menit pertandingan Liga Inggris tanpa gol, rentetan tanpa produktivitas terpanjang klub di kompetisi tersebut sejak September 2006.
Angkanya terlihat mengerikan, tetapi sejarah justru memberi Spurs alasan untuk tidak bereaksi berlebihan setelah empat pertandingan. Sebelum musim ini, lima tim pernah gagal mencetak gol dalam empat laga awal Liga Inggris dan tidak satu pun dari mereka kemudian terdegradasi.
Daftar Liga Inggris itu mencakup Sheffield Wednesday 1994/95, Newcastle United 2005/06, Swansea City 2011/12, Aston Villa 2025/26 serta Crystal Palace 2017/18. Posisi akhir terburuk di antara lima tim tersebut bahkan hanya peringkat ke-13, yang ditempati Sheffield Wednesday.
Konteks Premier League tersebut tidak menghapus masalah Roberto De Zerbi karena Tottenham seharusnya memiliki kualitas ofensif lebih tinggi dibanding sebagian besar contoh sebelumnya. Klub juga memperkuat skuad pada musim panas setelah dua kali finis ke-17, sehingga ekspektasi terhadap perubahan performa jelas jauh lebih besar.
Skuad Tottenham untuk Liga Inggris musim ini memiliki Omar Marmoush, Dominic Solanke, Mohammed Kudus, Xavi Simons, Dejan Kulusevski dan Sávio sebagai pilihan ofensif. Dengan kualitas tersebut, masalah nol gol lebih masuk akal dibaca sebagai kegagalan koneksi dan penyelesaian daripada kekurangan bakat menyerang.
Tottenham sendiri mencatat pertandingan Liga Inggris melawan Everton hanya menghasilkan lima tembakan tepat sasaran secara gabungan dari kedua kesebelasan. Kondisi itu memperlihatkan bahwa persoalan Spurs bukan sekadar nasib buruk, tetapi juga produksi peluang berbahaya yang masih terlalu kecil.
Ujian berikutnya datang ketika Tottenham menjamu Aston Villa pada 19 September, mempertemukan dua klub Liga Inggris yang sama-sama kehilangan momentum. Pertandingan tersebut berpotensi menjadi titik balik karena satu kemenangan dapat langsung mengubah narasi dari krisis awal menjadi proses adaptasi.
Aston Villa berada di zona degradasi dengan satu poin dari empat pertandingan dan baru mencetak satu gol di Liga Inggris musim ini. Mereka kalah dari Brighton, Arsenal dan Nottingham Forest, sedangkan satu-satunya poin diperoleh melalui hasil imbang tanpa gol melawan Hull City.
Ini merupakan keempat kalinya Villa memulai musim Premier League tanpa kemenangan dalam empat pertandingan pertama, setelah 1992/93, 1997/98, dan 2025/26. Namun, contoh musim lalu menjadi alasan paling kuat bagi Unai Emery untuk menahan kepanikan dan tetap menjaga proses.
Villa bahkan baru mencetak gol pertama pada pekan kelima musim 2025/26, tetapi setelah itu mampu membalikkan arah kompetisi secara luar biasa. Mereka akhirnya finis keempat di Liga Inggris dan menjuarai Liga Europa, perubahan yang menunjukkan betapa menyesatkannya sampel empat pertandingan.
Perbedaannya, skuad Villa di Liga Inggris musim ini kehilangan sejumlah pemain penting pada bursa musim panas sehingga ruang koreksi Emery tidak sama persis. Alysson sudah membuka rekening gol ketika menghadapi Forest, tetapi Villa tetap membutuhkan peningkatan volume serangan dan kontrol pertandingan.
Beban mereka juga lebih berat karena harus membagi energi dengan Liga Champions setelah menjuarai Liga Europa dan kembali tampil di kompetisi elite Eropa. Jadwal padat dapat memperlambat pemulihan di Liga Inggris apabila rotasi tidak mampu menjaga kualitas permainan pada akhir pekan.
Pertandingan tandang ke Tottenham datang pada saat sangat penting bagi kedua klub Liga Inggris, bukan sekadar pertemuan dua tim papan bawah sementara. Spurs ingin memecahkan kebuntuan gol, sedangkan Villa membutuhkan kemenangan pertama sebelum tekanan klasemen berubah menjadi beban lebih nyata.
Empat Laga Belum Menentukan Musim Liga Inggris
Fulham juga memberikan contoh Premier League bagaimana sebuah hasil dapat sedikit mengubah suasana setelah tiga kekalahan beruntun. Hasil imbang di markas Liverpool memberi mereka poin pertama dan menunjukkan tim Álvaro Arbeloa masih mempunyai fondasi permainan untuk membangun pemulihan.
Empat pertandingan hanya mewakili sedikit lebih dari sepersepuluh perjalanan musim sehingga kesimpulan besar mengenai degradasi masih terlalu dini bagi sebagian klub. Liga Inggris masih menyisakan 34 laga, cukup panjang untuk memperbaiki performa, struktur permainan, rotasi, bahkan melakukan perubahan pada Januari.
Namun, perjalanan panjang Liga Inggris tidak berarti seluruh start buruk mempunyai tingkat bahaya sama karena konteks menentukan seberapa besar ruang pemulihan. Coventry menghadapi ancaman statistik paling serius, Tottenham mengalami krisis produktivitas, sedangkan Villa sedang berusaha menemukan stabilitas setelah perubahan skuad.
Bagi Coventry, target terdekat bukan langsung keluar dari zona bawah, melainkan mencetak gol pertama dan menghentikan rangkaian kekalahan. Setiap pertandingan tanpa poin akan membuat start buruk Liga Inggris mereka semakin menyerupai pola klub promosi yang akhirnya kembali turun kasta.
Tottenham mempunyai ruang Liga Inggris lebih besar karena dua hasil imbang menunjukkan mereka tidak sepenuhnya kehilangan kontrol pertandingan. Jika lini depan mulai mencetak gol, fondasi pertahanan yang menghasilkan dua clean sheet dapat mengubah poin-poin kecil menjadi kemenangan yang mengangkat posisi mereka.
Villa bahkan memiliki bukti dari musim sebelumnya bahwa awal buruk tidak harus berkembang menjadi musim buruk, tetapi mereka tidak boleh bergantung pada sejarah. Kedalaman skuad, kalender Eropa, dan pemain yang pergi membuat tantangan Liga Inggris musim ini mempunyai karakter berbeda.
Pada akhirnya, empat pertandingan pertama lebih tepat dibaca sebagai alat diagnosis daripada vonis terhadap sebuah musim. Data sejarah Liga Inggris menunjukkan kepanikan dini sering berlebihan, tetapi pola tertentu seperti nol poin bagi tim promosi tetap harus diperlakukan sebagai peringatan serius.
Coventry, Tottenham, dan Aston Villa masih mempunyai waktu panjang untuk membalikkan keadaan, tetapi kebutuhan mereka tidak sama dan jalan keluar mereka juga berbeda. Pekan berikutnya akan menunjukkan apakah masalah Liga Inggris mereka hanya gangguan awal atau tanda persoalan yang jauh lebih dalam.



