Hull City memasuki Liga Inggris 2026/27 dengan status tim promosi yang paling mudah diremehkan, tetapi empat pertandingan pertama justru mengubah persepsi itu. Delapan poin tanpa kekalahan membuat The Tigers muncul sebagai salah satu cerita paling mengejutkan pada awal musim.
Promosi Hull City memang sejak awal dianggap tidak meyakinkan karena perjalanan mereka di Championship musim lalu jauh dari dominan. Tim asuhan Sergej Jakirovic bahkan lolos melalui play-off setelah menjalani musim reguler yang secara statistik terlihat lebih dekat ke papan bawah daripada kandidat promosi.
Berdasarkan analisis Opta Analyst, Hull City mengumpulkan 73 poin di Championship, sementara model expected points atau xPts mereka hanya mencapai 53,1. Selisih positif 19,9 poin menjadi yang terbesar di kompetisi dan menggambarkan betapa ekstremnya kemampuan mereka memaksimalkan hasil.
Jika klasemen Championship disusun berdasarkan xPts, Hull City justru akan berada di tiga terbawah dan terdegradasi karena hanya Sheffield Wednesday yang memiliki angka lebih rendah. Fakta itu menjelaskan mengapa promosi mereka langsung disambut keraguan besar menjelang musim baru.
Namun, ukuran statistik tidak selalu mampu membaca seluruh karakter sebuah tim, terutama dalam pertandingan yang ditentukan ketahanan mental dan efisiensi. Hull City justru membangun perjalanan promosi dengan kemampuan bertahan dalam tekanan sekaligus memaksimalkan momentum penting.
Kondisi tersebut memperkuat identitas Hull City sebagai tim yang nyaman hidup dalam tekanan dan tidak membutuhkan dominasi penuh untuk mendapatkan hasil. Mentalitas semacam itu ternyata menjadi modal penting ketika level persaingan meningkat drastis setelah mereka memasuki Liga Inggris.
Hull City Tak Perlu Mengubah Identitas
Identitas itulah yang kemudian terbawa ke Liga Inggris, bukan ditinggalkan ketika level kompetisi meningkat. Hull City membuka musim dengan kemenangan atas Manchester United dan Coventry City sebelum bermain imbang melawan Aston Villa.
Hasil paling mencolok berikutnya datang di Stamford Bridge ketika Hull City menahan Chelsea 2-2 dalam pertandingan yang seharusnya memperlihatkan jurang kualitas antarskuad. Mohamed Belloumi mencetak dua gol setelah Morgan Rogers membawa tuan rumah unggul, sebelum João Pedro menyamakan kedudukan.
Yang membuat hasil itu lebih penting adalah cara Hull City mendapatkannya, bukan hanya skor akhirnya. Mereka menciptakan empat peluang besar dibanding dua milik Chelsea, sehingga satu poin tersebut muncul dari pertandingan kompetitif yang bahkan membuka peluang bagi Hull City untuk menang.
Setelah empat pertandingan, Hull City mengoleksi delapan poin dan menjadi salah satu tim promosi dengan start terbaik dalam sejarah Liga Inggris. Hanya Nottingham Forest pada 1994/95 dan Bolton Wanderers pada 2001/02 yang meraih lebih banyak, masing-masing sepuluh poin dalam empat laga.
Catatan historis itu tentu belum menjamin keselamatan karena musim masih sangat panjang, tetapi memberikan konteks penting terhadap pencapaian awal Hull. Tim promosi lain yang sebelumnya mengumpulkan delapan poin setelah empat pertandingan juga mampu bertahan, sebuah indikator psikologis yang tidak bisa diabaikan.
Keberhasilan Hull City sejauh ini berangkat dari satu hal yang sederhana tetapi sering sulit dilakukan tim promosi, yakni mempertahankan identitas. Mereka tidak mencoba berubah menjadi tim penguasaan bola hanya karena menghadapi lawan dengan kualitas individu jauh lebih tinggi.
Musim lalu, Hull hanya mencatat rata-rata 45,0 persen penguasaan bola di Championship, angka kelima terendah di divisi tersebut. Musim ini persentasenya memang turun menjadi 29,3 persen, tetapi pola permainannya tetap serupa dengan bertahan rapat sebelum menyerang secara langsung.
Perbandingan dengan Coventry City membantu menjelaskan mengapa adaptasi mental Hull City terlihat lebih mulus. Coventry memiliki 55,1 persen penguasaan bola di Championship, tetapi turun menjadi 38,6 persen di Liga Inggris sehingga perubahan tuntutan permainannya terasa jauh lebih drastis.
Hull City justru seperti meningkatkan dosis dari gaya yang sudah mereka pahami, bukan mempelajari pendekatan baru dari awal. Musim lalu mereka memulai rangkaian umpan terbuka rata-rata 41,2 meter dari garis gawang sendiri, kemudian turun menjadi 37,7 meter musim ini.
Mereka juga bukan tim yang bergantung pada kombinasi umpan panjang dan rumit untuk mencapai kotak penalti. Hull City hanya mencatat 39 rangkaian dengan minimal sepuluh operan yang berakhir dengan tembakan atau sentuhan di kotak lawan sepanjang Championship.
Di Liga Inggris, kecenderungan tersebut menjadi semakin ekstrem karena Hull City baru mencatat satu rangkaian serupa. Rata-rata operan per rangkaian juga turun dari 2,7 menjadi 2,5, menegaskan orientasi vertikal dan keinginan memindahkan bola menuju area lawan secepat mungkin.
Mengapa Hull City Nyaman Menjadi Underdog
Pendekatan itu mungkin tidak menghasilkan sepak bola yang terlihat dominan, tetapi sangat cocok dengan realitas tim promosi. Hull City sadar mereka akan lebih sering kehilangan bola, sehingga struktur bertahan, duel, bola kedua, dan keberanian memainkan operan panjang menjadi fondasi utama.
Statistik awal musim mendukung gambaran tersebut karena Hull City berada di peringkat keempat Liga Inggris untuk keberhasilan duel dengan 53,2 persen. Mereka juga berada di urutan keenam dalam duel udara dengan 52,3 persen, mencatat 65 percobaan tekel, dan melepaskan 237 umpan panjang.
Angka tersebut menunjukkan Hull City tidak sekadar bertahan pasif di area sendiri, melainkan aktif memaksa pertandingan berubah menjadi pertarungan fisik dan perebutan momentum. Dalam konteks ini, kualitas individu lawan dapat dipersempit melalui duel, transisi, serta situasi pertandingan yang semakin sulit dikontrol.
Ucapan Jakirovic sebelum laga pertama melawan Manchester United mencerminkan filosofi tersebut ketika ia menjelaskan bahwa timnya akan sering berstatus sebagai underdog. Namun, kondisi itu tidak dianggap sebagai kelemahan karena para pemain Hull City sudah terbiasa menghadapi pertandingan dengan posisi serupa.
“Dalam sebagian besar pertandingan kami akan menjadi tim yang tidak diunggulkan, tetapi kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu,” kata Sergej Jakirovic menjelang laga menghadapi Manchester United.
Label underdog menjadi bermanfaat ketika pemain menerima bahwa mereka tidak harus mendominasi untuk memenangkan pertandingan. Hull City terlihat nyaman bermain tanpa bola, tidak mudah panik ketika ditekan, dan tetap percaya peluang akan muncul apabila struktur mereka bertahan cukup lama.
Model seperti ini juga pernah terlihat pada Sunderland, yang promosi dengan pendekatan tanpa dominasi penguasaan bola sebelum mampu beradaptasi di kasta tertinggi. Kesamaan utamanya bukan terletak pada skema taktik, tetapi kesiapan mental menerima pertandingan ketika lawan lebih sering mengendalikan permainan.
Meski demikian, awal bagus Hull City belum boleh dibaca sebagai jaminan bahwa perjuangan bertahan sudah selesai. Sejarah klub sendiri memberi peringatan karena The Tigers pernah memulai musim Liga Inggris dengan sangat baik sebelum akhirnya terseret ke pertarungan degradasi.
Pada 2008/09, Hull sempat berada di posisi ketiga setelah sembilan pertandingan dan bertahan di paruh atas hingga pekan ke-24. Mereka akhirnya hanya lolos dari degradasi dengan selisih satu poin, memperlihatkan betapa cepat momentum dapat berubah sepanjang musim.
Musim 2013/14 juga memberikan pola serupa setelah Hull City meraih 11 poin dari tujuh pertandingan pertama dan hanya kalah dari Chelsea serta Manchester City. Mereka kemudian tetap terseret ke persaingan papan bawah, meski pada akhirnya berhasil mempertahankan status di kasta tertinggi.
Peringatan paling keras datang pada 2014/15 ketika Hull City hanya kalah dua kali dalam sembilan pertandingan awal. Start yang cukup stabil itu tidak mampu mencegah penurunan performa dan mereka akhirnya finis di peringkat ke-18, sehingga harus kembali turun kasta.
Hull City Masih Harus Melewati Ujian Konsistensi
Jakirovic memahami risiko tersebut, terutama karena kalender internasional dapat mengganggu ritme tim yang sedang bagus. Ia mengungkapkan kekhawatiran karena 13 pemain Hull bergabung dengan tim nasional, situasi yang membawa risiko kelelahan, cedera, hingga perubahan momentum.
Pelatih Hull bahkan sempat menjanjikan libur satu pekan apabila tim mampu mengumpulkan tujuh atau delapan poin dari lima pertandingan pertama. Hull City mencapai target tersebut lebih cepat, tetapi pencapaian itu semestinya menjadi fondasi untuk bertahan dan bukan alasan merasa aman.
Jakirovic juga menyinggung kekhawatirannya terhadap jeda internasional karena banyak pemain harus meninggalkan klub ketika performa sedang positif. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ritme yang sudah terbangun selama empat pertandingan awal berpotensi terganggu setelah pemain kembali.
Tantangan berikutnya akan menguji apakah pola bertahan mereka tetap efektif ketika lawan mulai memiliki lebih banyak data untuk membongkar transisi Hull. Semakin lama musim berjalan, unsur kejutan akan berkurang dan kemampuan melakukan penyesuaian menjadi semakin menentukan.
Pada fase ini, keunggulan Hull City bukan terletak pada kejutan semata, melainkan pada kejelasan cara bermain yang sudah teruji sejak Championship. Mereka tahu bagaimana hidup dengan penguasaan bola rendah, bertahan dalam tekanan, memenangkan duel, dan menunggu momen transisi dengan disiplin.
Masih terlalu dini untuk menyimpulkan Hull akan aman dari degradasi karena kualitas kedalaman skuad dan konsistensi baru bisa dinilai setelah jadwal semakin padat. Namun, empat pertandingan pertama menunjukkan bahwa promosi yang dianggap rapuh justru mungkin telah mempersiapkan mereka menghadapi tekanan Liga Inggris.
Jika Hull City mampu menjaga kebugaran, efisiensi peluang, serta disiplin bertahan, status underdog justru dapat terus bekerja sebagai kekuatan psikologis. Musim mereka belum membuktikan apa pun secara final, tetapi awal ini sudah cukup membuat lawan tidak lagi bisa memandang Hull sebelah mata.



