Era Xabi Alonso di Chelsea baru berjalan enam pertandingan, tetapi wajah baru The Blues sudah terlihat melalui permainan menyerang yang agresif dan berani mengambil risiko. Masalahnya, produktivitas tinggi tersebut dibayar mahal dengan pertahanan rapuh yang membuat hampir setiap pertandingan berkembang menjadi duel terbuka.
João Pedro, Morgan Rogers, dan Cole Palmer membentuk kombinasi menyerang yang membuat Chelsea sangat berbahaya ketika memasuki sepertiga akhir lapangan. Namun, lini belakang belum memiliki keseimbangan serupa, sehingga keunggulan kualitas ofensif sering kehilangan dampaknya akibat kesalahan organisasi maupun transisi bertahan.
Dalam enam pertandingan pertama bersama Alonso, Chelsea telah mencetak 18 gol tetapi kebobolan 12 kali, angka yang memperlihatkan ketimpangan mencolok antara serangan dan pertahanan. Sports Illustrated menilai kondisi tersebut membuat sejumlah pertandingan The Blues menyerupai permainan basket karena serangan terus bergantian dari kedua arah.
Di Liga Inggris, Crystal Palace tercatat telah kebobolan 11 gol, sedangkan Coventry City dan Ipswich Town masing-masing kemasukan 10 gol pada fase awal musim. Chelsea berada tidak jauh dari kelompok tersebut, meski kualitas skuad mereka seharusnya memberi fondasi pertahanan yang jauh lebih stabil.
Situasi tersebut membuat Chelsea menarik sekaligus mengkhawatirkan karena permainan menyerang mereka menghasilkan tontonan terbuka, cepat, dan penuh peluang bagi kedua tim. Gaya seperti itu menyenangkan untuk disaksikan, tetapi sulit dijadikan fondasi konsisten bagi klub yang ingin bersaing memperebutkan gelar.
Menariknya, persoalan pertahanan seperti ini bukan pengalaman baru bagi Xabi Alonso karena fase awalnya bersama Bayer Leverkusen pernah menghadirkan masalah hampir serupa. Kemampuan sang pelatih dalam membangun organisasi defensif juga sempat dipertanyakan sebelum Leverkusen berkembang menjadi salah satu tim paling terkontrol di Eropa.
Chelsea dan Déjà Vu Awal Sulit Xabi Alonso di Leverkusen
Xabi Alonso tiba di Bayer Leverkusen pada 5 Oktober 2022 ketika klub berada di posisi ke-17 Bundesliga dan sedang menjalani salah satu start terburuk mereka. Debutnya langsung menghasilkan kemenangan 4-0 atas Schalke, tetapi euforia tersebut tidak bertahan lama karena persoalan fundamental segera kembali terlihat.
Leverkusen kemudian kalah 0-3 dari Porto sebelum dihancurkan Eintracht Frankfurt 1-5, dua hasil yang memperlihatkan besarnya pekerjaan rumah sang pelatih. Setelah itu muncul hasil imbang 2-2 menghadapi Wolfsburg dan Atlético Madrid, kemudian kekalahan 0-2 dari RB Leipzig.
Enam pertandingan pertama Alonso bersama Bayer Leverkusen menghasilkan 14 gol kebobolan, bahkan lebih buruk dibandingkan 12 gol yang diterima Chelsea dalam enam laga awal musim ini. Direktur olahraga Simon Rolfes saat itu menyatakan tim kebobolan terlalu banyak, sementara Alonso memberikan pengakuan singkat, “Too many.”
Perbandingan tersebut penting karena menunjukkan masalah yang sekarang dihadapi Chelsea bukan sepenuhnya fenomena baru dalam perjalanan kepelatihan Xabi Alonso. Bedanya, tekanan di Stamford Bridge jauh lebih besar karena investasi tinggi klub selalu diikuti tuntutan hasil instan dari pendukung maupun publik Inggris.
| Enam Laga Pertama Alonso | Chelsea 2026/27 | Bayer Leverkusen 2022/23 |
| Gol | 18 | 9 |
| Kebobolan | 12 | 14 |
| Menang | 4 | 1 |
| Kalah | 1 | 3 |
| Imbang | 1 | 2 |
Di Leverkusen, Alonso menjawab persoalan tersebut bukan dengan meninggalkan ide dasarnya, melainkan memperjelas struktur permainan melalui pendekatan tiga pemain belakang dan sistem 3-4-2-1. Formasi tersebut memberi perlindungan tambahan ketika kehilangan bola sekaligus menghadirkan jalur progresi yang lebih terstruktur ketika membangun serangan.
Ia juga menuntut pemain memahami waktu terbaik untuk menekan, mengendalikan risiko, serta menjaga hubungan posisi dengan rekan di sekelilingnya. Prinsip serupa sekarang dibutuhkan Chelsea karena persoalan mereka bukan hanya kualitas bek, tetapi bagaimana seluruh tim menjaga struktur ketika penguasaan bola hilang.
Chelsea beberapa kali terlihat terlalu terbuka setelah kehilangan bola karena jarak antarlini belum selalu rapat untuk menghentikan serangan balik sejak fase pertama. Ketika tekanan awal gagal, bek akhirnya harus menghadapi lawan dalam ruang besar, situasi yang memperbesar kemungkinan kesalahan individu maupun pelanggaran posisi.
Titik balik perjalanan Alonso di Leverkusen datang pada pertandingan ketujuh ketika mereka menghancurkan pemuncak klasemen Union Berlin 5-0 dan kemudian membangun lima kemenangan beruntun. Kemenangan tersebut menjadi bukti awal bahwa ide permainan Alonso mulai dipahami setelah periode adaptasi yang sebelumnya penuh tekanan.
Perjalanan itu berkembang jauh melampaui ekspektasi karena Alonso membawa Leverkusen finis keenam pada Bundesliga 2022/23 sekaligus mencapai semifinal Liga Europa. Satu musim kemudian, fondasi tersebut membawa klub meraih gelar Bundesliga pertamanya dengan status tidak terkalahkan sepanjang 34 pertandingan liga.
Leverkusen mengakhiri Bundesliga 2023/24 dengan 28 kemenangan, enam hasil imbang, 90 poin, dan tanpa kekalahan, sekaligus hanya kebobolan 24 gol sepanjang musim. Mereka mencetak 89 gol, memperlihatkan bagaimana Alonso akhirnya mampu menyatukan produktivitas menyerang dengan kontrol defensif tingkat elite.
Produktivitas tersebut ditopang Florian Wirtz yang menutup seluruh kompetisi 2023/24 dengan 18 gol serta 20 assist untuk Leverkusen. Victor Boniface juga menjadi senjata penting dengan menghasilkan 21 gol dan 10 assist dalam 34 pertandingan di semua kompetisi.
Transformasi tersebut menjadi referensi penting bagi Chelsea karena memperlihatkan bahwa masalah pertahanan pada fase awal tidak selalu menandakan konsep pelatih sepenuhnya keliru. Namun, pengalaman Leverkusen juga bukan jaminan otomatis karena Alonso tetap harus menyesuaikan pendekatannya dengan intensitas Liga Inggris dan karakter pemain Chelsea.
Chelsea Harus Menemukan Keseimbangan sebelum Masalah Membesar
Hasil imbang 2-2 menghadapi Hull City menjadi alarm terbaru karena Chelsea sempat memimpin sebelum kembali kehilangan kontrol atas pertandingan di Stamford Bridge. Morgan Rogers mencetak gol pada menit ketujuh, tetapi dua gol Mohamed Belloumi membawa Hull berbalik unggul sebelum João Pedro menyamakan kedudukan.
Alonso kemudian mengakui Chelsea belum memiliki rasa solid yang dibutuhkan untuk mengontrol pertandingan secara konsisten selama 90 menit. Ia menjelaskan skuad sudah memahami konsep, ide, serta mentalitas yang diinginkan, tetapi satu bulan bekerja bersama belum cukup membuat struktur tersebut benar-benar matang.
“It’s early days for us,” menjadi salah satu pesan Alonso setelah pertandingan tersebut, sekaligus permintaan tersirat agar proses adaptasi tidak dinilai terlalu cepat. Meski demikian, sang pelatih juga mengakui Chelsea saat ini “attacking better than we are defending,” diagnosis yang sejalan dengan angka kebobolan mereka.
Chelsea sudah kebobolan sedikitnya dua gol dalam setiap pertandingan Liga Inggris pada awal musim, tren yang jelas tidak sesuai standar klub dengan ambisi papan atas. Alonso sendiri menyoroti permainan terbuka, situasi bola mati, umpan panjang, ketangguhan fisik, serta daya kompetitif sebagai area yang harus diperbaiki.
Catatan melawan Hull memperlihatkan bahwa kerentanan Chelsea tidak hanya berasal dari penggunaan garis pertahanan tinggi, melainkan respons setelah struktur pertama berhasil dilewati lawan. Ketika gelandang terlambat menutup ruang, bek harus berhadapan dengan penyerang di area luas dan peluang lawan menjadi lebih berbahaya.
Di sinilah pengalaman Leverkusen menjadi pelajaran penting karena solusi Alonso ketika itu lebih banyak berangkat dari kontrol ruang dibandingkan perubahan personel secara ekstrem. Ia memperbaiki koordinasi antarlini, memperjelas jarak antarpemain, serta menentukan situasi ketika tim harus agresif atau menahan tekanan.
Serangan Chelsea sebenarnya telah menyediakan fondasi menjanjikan karena 18 gol dalam enam pertandingan memperlihatkan besarnya potensi skuad yang dibangun Alonso. João Pedro, Morgan Rogers, dan Cole Palmer memberikan kreativitas, pergerakan tanpa bola, serta kualitas penyelesaian yang bisa mengancam hampir seluruh lawan.
Namun, kekuatan menyerang tersebut dapat menjadi jebakan apabila terlalu banyak pemain maju secara bersamaan tanpa perlindungan memadai setelah kehilangan bola. Filosofi Alonso membutuhkan keberanian menyerang, tetapi keberanian harus disertai struktur rest-defense yang memastikan lawan tidak memperoleh jalur serangan balik secara mudah.
Rest-defense merupakan struktur pemain yang tetap menjaga keseimbangan ketika sebuah tim sedang menyerang sehingga transisi lawan dapat dihentikan sebelum berkembang menjadi peluang. Konsep tersebut sangat penting bagi Chelsea karena tekanan pertama mereka beberapa kali ditembus dan meninggalkan ruang terlalu besar di belakang lini tengah.
Chelsea juga membutuhkan peningkatan kualitas duel serta konsentrasi menghadapi bola kedua, khususnya ketika lawan mencoba melewati pressing menggunakan umpan langsung. Pernyataan Alonso mengenai perlunya ketangguhan dan daya kompetitif menunjukkan bahwa sebagian persoalan tidak cukup diselesaikan melalui perubahan formasi atau instruksi taktikal.
Kesabaran memang diperlukan untuk membangun sistem baru, tetapi kalender kompetisi tidak memberikan banyak ruang bagi Chelsea untuk terus kehilangan poin karena persoalan berulang. Brentford, Bournemouth, Everton, Tottenham Hotspur, dan Manchester United menjadi rangkaian lawan berikutnya yang dapat menguji seberapa cepat struktur Alonso berkembang.
Rangkaian pertandingan tersebut menawarkan tantangan berbeda, mulai dari permainan transisi, duel fisik, bola langsung, hingga pressing tinggi yang dapat memancing kesalahan ketika membangun serangan. Apabila pola kebobolan tidak berubah, tekanan terhadap Alonso akan semakin besar walaupun sepak bola menyerang Chelsea tetap menghasilkan banyak gol.
Sebaliknya, apabila Chelsea mampu mengurangi kualitas peluang lawan tanpa kehilangan kreativitas menyerangnya, kemiripan dengan evolusi Leverkusen mulai memiliki dasar yang lebih kuat. Pengalaman Alonso di Jerman menunjukkan perubahan tidak selalu membutuhkan revolusi besar, melainkan penyempurnaan detail yang dilakukan secara konsisten setiap pekan.
Pelajaran terbesar dari Leverkusen bukan bahwa Chelsea cukup menunggu sampai semuanya membaik dengan sendirinya, melainkan waktu harus dimanfaatkan untuk menyelesaikan titik terlemah. Alonso membutuhkan organisasi lebih kompak, keputusan defensif lebih disiplin, serta keseimbangan yang memungkinkan tim tetap menyerang tanpa kehilangan kontrol.
Bayer Leverkusen pernah menjalani periode ketika gagasan Alonso terlihat terlalu terbuka dan sejumlah hasil buruk menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan proyek mereka. Sekitar 18 bulan kemudian, klub tersebut menjadi juara Bundesliga tanpa kekalahan, sebuah transformasi yang menunjukkan pentingnya kesabaran apabila proses perbaikannya berjalan tepat.
Bagi Chelsea, tantangan sekarang adalah mempercepat proses serupa di lingkungan yang menuntut hasil hampir setiap pekan dan memberikan toleransi kecil terhadap kesalahan berulang. Serangan The Blues sudah terlihat seperti milik tim papan atas, tetapi pertahanan harus mengejar level tersebut sebelum mereka layak disebut kandidat serius.
Enam pertandingan memang belum cukup untuk menentukan berhasil atau tidaknya proyek Xabi Alonso bersama Chelsea, tetapi periode itu sudah memperlihatkan persoalan utama yang membutuhkan jawaban. Jika keseimbangan seperti di Leverkusen akhirnya ditemukan, kegelisahan awal musim dapat berubah menjadi bagian penting dari proses pembangunan tim.



