Manchester United kembali menghadapi pertanyaan mengenai masa depan kursi pelatih setelah Michael Carrick kesulitan mempertahankan momentum positif yang dibangunnya musim lalu, sementara keberhasilan Cesc Fabregas bersama Como mulai menarik perhatian publik sepak bola Inggris.
Nama Cesc Fabregas muncul sebagai sosok yang dinilai memiliki karakter untuk membangun kembali Manchester United, terutama setelah mantan gelandang Arsenal dan Chelsea itu membawa Como dari kasta kedua Italia menuju panggung Liga Champions.
Kesuksesan Cesc Fabregas semakin menarik karena ia tidak sekadar mengandalkan investasi besar pemilik klub asal Indonesia, tetapi juga membangun identitas permainan, sistem perekrutan, dan pendekatan kepelatihan yang menghasilkan perkembangan nyata.
GOAL menyoroti bagaimana perjalanan Fabregas bersama Como memperlihatkan kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan klub sebesar Manchester United, meskipun hingga kini belum ada kepastian mengenai kemungkinan kepindahannya ke Old Trafford.
Cesc Fabregas dan Alasan Manchester United Membutuhkan Perubahan
Manchester United tengah berada dalam situasi sulit setelah hanya meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan awal Liga Inggris 2026/2027, sebuah catatan yang membuat posisi Michael Carrick semakin mendapat sorotan.
Laporan Reuters, Manchester United menempati peringkat ke-13 klasemen setelah bermain imbang 1-1 melawan Leeds United, jauh dari performa musim sebelumnya ketika mereka finis di posisi ketiga.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Manchester United belum sepenuhnya teratasi meskipun pergantian pelatih sebelumnya sempat memberikan harapan, terutama dalam membangun organisasi permainan dan mengembalikan konsistensi tim.
Carrick sebenarnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Manchester United dan memahami tuntutan klub, tetapi pengalaman sebagai mantan pemain tidak otomatis menjamin kemampuannya mengatasi persoalan struktural yang terus berulang.
Kondisi tersebut membuat Cesc Fabregas menjadi nama menarik karena ia menawarkan sesuatu yang lebih luas daripada reputasi sebagai mantan pemain kelas dunia, yakni pengalaman membentuk tim berdasarkan identitas permainan yang jelas.
Manchester United bahkan pernah berusaha merekrut Fabregas ketika masih membela Barcelona, sehingga muncul ironi bahwa sosok yang dahulu mereka inginkan sebagai pengatur permainan kini berpotensi menjadi kandidat pemimpin dari pinggir lapangan.
Namun, kemungkinan menunjuk Cesc Fabregas tidak cukup dinilai berdasarkan reputasinya sebagai pemain atau keberhasilannya di Italia, melainkan harus mempertimbangkan kesesuaian filosofi kepelatihan dengan kebutuhan Manchester United saat ini.
Fabregas memang belum mempunyai pengalaman menangani klub dengan tekanan sebesar Manchester United, tetapi keberhasilannya mengembangkan Como menunjukkan kemampuan membangun organisasi sepak bola yang tidak hanya bergantung pada hasil pertandingan.
Cesc Fabregas Mengubah Como dari Proyek Kecil Menjadi Klub Liga Champions
Perjalanan Cesc Fabregas bersama Como bermula ketika karier bermainnya hampir berakhir akibat persoalan cedera yang membuatnya hanya mencatatkan 36 menit penampilan bersama Monaco sepanjang kompetisi Ligue 1 musim 2021/2022.
Ketika berusia 35 tahun, Fabregas sebenarnya memiliki berbagai pilihan untuk melanjutkan karier, tetapi ia menginginkan proyek yang tidak hanya memberinya kesempatan bermain, melainkan juga membuka jalan menuju dunia kepelatihan.
Como kemudian menawarkan kesempatan yang berbeda melalui keterlibatan sebagai pemain sekaligus pemegang saham, sebuah hubungan yang membuat Fabregas mempunyai kepentingan langsung terhadap perkembangan klub dalam jangka panjang.
Menariknya, Cesc Fabregas sebelumnya mengenal Como sebagai kota wisata dengan danau terkenal, bukan sebagai pusat sepak bola Italia yang memiliki ambisi untuk bersaing dengan klub-klub besar Serie A.
Transformasi Como tidak terlepas dari Grup Djarum yang mengambil alih klub pada 2019, setelah Mirwan Suwarso menemukan peluang investasi tersebut ketika mencari lokasi untuk proyek dokumenter sepakbola berlatar Italia.
Keterlibatan pemilik asal Indonesia memberikan dukungan finansial penting bagi Como, sementara Dennis Wise turut berperan dalam perkembangan awal klub sebelum proyek sepak bola tersebut semakin kuat melalui pengaruh Fabregas.
Ketika Fabregas datang pada 2022, Como sudah berhasil mencapai Serie B, tetapi fasilitas latihan dan struktur pendukung klub masih jauh dari standar yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi.
Gambaran mengenai keterbatasan tersebut pernah disampaikan Fabregas setelah Como mengamankan tiket Liga Champions melalui kemenangan 4-1 atas Cremonese pada pertandingan terakhir Serie A musim 2025/2026.
Menurut Fabregas, ketika pertama kali datang, klub bahkan belum mempunyai fasilitas latihan memadai sehingga para fisioterapis harus menangani pemain menggunakan meja di ruangan belakang sebuah bar.
Situasi itu berubah secara drastis ketika Como finis pada peringkat keempat Serie A 2025/2026, setelah sebelumnya menempati posisi ke-10 pada musim pertama mereka kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia.
Perjalanan tersebut memperlihatkan perkembangan yang relatif cepat karena Fabregas baru mulai menangani tim utama secara permanen pada Juli 2024, tetapi berhasil membawa Como menuju kompetisi paling bergengsi di Eropa.
Pencapaian Como juga tidak terbatas pada klasemen liga karena klub tersebut berhasil mencapai semifinal Coppa Italia 2025/2026, memperkuat penilaian bahwa perkembangan tim berlangsung dalam beberapa kompetisi sekaligus.
Keberhasilan itu membuat Cesc Fabregas menjadi salah satu pelatih muda yang mendapat perhatian di Eropa, terlebih ketika mempertimbangkan sejarah Como yang sempat berada di Serie D sebelum berkembang pesat.
Namun, keberhasilan Fabregas tidak bisa dipisahkan dari dukungan finansial dan organisasi klub, sehingga penting melihat bagaimana ia menggunakan sumber daya tersebut untuk membangun tim yang kompetitif.
Cesc Fabregas Bangun Identitas Como Lewat Pemain Muda
Salah satu keberhasilan terbesar Cesc Fabregas adalah mengembangkan pemain muda yang sebelumnya belum memiliki tempat utama di klub besar, sehingga Como dapat meningkatkan kualitas skuad tanpa bergantung sepenuhnya pada pembelian pemain terkenal.
Nico Paz menjadi contoh keberhasilan pendekatan tersebut setelah bergabung dari Real Madrid pada 2024, ketika gelandang Argentina itu baru mengantongi empat penampilan bersama tim utama klub raksasa Spanyol tersebut.
Paz kemudian berkembang menjadi pemain penting di bawah arahan Fabregas, dengan kebebasan bergerak dan mengambil keputusan yang membantunya meningkatkan kemampuan membaca pertandingan sekaligus memperkuat kontribusi dalam serangan Como.
Dalam wawancara bersama UEFA, Nico Paz memberikan pengakuan mengenai peran besar sang pelatih dalam perkembangan kariernya, terutama melalui kepercayaan yang diberikan sejak hari pertama bergabung dengan Como.
“Semua itu berkat Cesc, yang membawa saya ke sini dan percaya kepada saya,” ujar Paz, menggambarkan bagaimana Fabregas membangun hubungan dengan pemain melalui kesempatan berkembang dan tanggung jawab di lapangan.
Pendekatan serupa terlihat dalam keputusan memberikan ban kapten kepada Lucas Da Cunha, pemain yang dinilai mempunyai mentalitas kuat dan berkembang hingga mendapat kesempatan menembus skuad nasional Prancis.
Fabregas berulang kali menegaskan bahwa karakter dan kemauan berkembang menjadi pertimbangan penting dalam perekrutan, bahkan ketika klub mempunyai kesempatan mendatangkan pemain dengan reputasi atau kemampuan individu yang lebih tinggi.
Filosofi tersebut memperlihatkan bahwa Cesc Fabregas tidak sekadar mencari pemain berbakat, melainkan individu yang bersedia bekerja dalam sistem kolektif dan mempunyai ambisi untuk terus meningkatkan kualitas permainan.
Prinsip ini menarik untuk Manchester United karena tantangan membangun kembali skuad bukan hanya menyangkut kemampuan membeli pemain, tetapi juga memastikan setiap rekrutan sesuai dengan kebutuhan dan karakter tim.
Meski demikian, keberhasilan mengembangkan pemain di Como belum menjamin Fabregas akan memperoleh hasil serupa di Old Trafford, mengingat perbedaan tekanan publik, nilai kontrak, dan ekspektasi terhadap pemain.
Taktik Cesc Fabregas: Penguasaan Bola, Tekanan Tinggi, dan Fleksibilitas
Kekuatan lain Cesc Fabregas terletak pada pendekatan taktik yang mengutamakan penguasaan bola dan kemampuan menciptakan keunggulan posisi, tetapi tetap memberikan ruang untuk menyesuaikan strategi dengan karakter lawan.
Como kerap menerapkan formasi dasar 4-2-3-1 dengan tekanan agresif ketika kehilangan bola, sebuah pendekatan yang menuntut koordinasi antarlini serta kemampuan pemain mengambil keputusan dalam ruang sempit.
Laporan The Guardian pada Mei 2026 juga menyoroti bagaimana Fabregas memanfaatkan analisis data, jaringan pencari bakat, dan staf pendukung untuk membangun sistem permainan yang lebih terstruktur.
Namun, pendekatan tersebut tidak selalu memberikan hasil positif karena Como pernah mengalami kekalahan telak 0-4 dari Inter Milan, ketika Fabregas tetap mempertahankan keberanian melakukan tekanan terhadap lawan yang lebih kuat.
Fabregas mengakui bahwa keputusan tersebut bisa menimbulkan kritik, tetapi ia menilai pertandingan melawan tim berkualitas tinggi memberikan kesempatan penting untuk memahami kelemahan dan memperbaiki organisasi permainan.
Bagi Fabregas, kekalahan tidak selalu berarti kegagalan filosofi karena perkembangan tim juga harus dinilai melalui kemampuan menjalankan prinsip permainan, mengenali kesalahan, dan memperbaiki keputusan saat menghadapi tekanan.
Meski mempertahankan prinsip dasar, Cesc Fabregas tidak ingin dikenal sebagai pelatih yang hanya memiliki satu pendekatan, sehingga ia bersama stafnya mengembangkan basis data untuk mempelajari berbagai struktur taktik.
Ia menginginkan tim yang mampu mendominasi pertandingan melalui sejumlah alternatif serangan dan pertahanan, bukan sekadar mempertahankan penguasaan bola tanpa kemampuan menciptakan peluang atau menyesuaikan diri dengan lawan.
Pendekatan tersebut tidak mengherankan karena Fabregas pernah bekerja di bawah Arsene Wenger, Pep Guardiola, Jose Mourinho, dan Antonio Conte, empat pelatih dengan karakter serta filosofi permainan yang berbeda.
Pengalaman itu memberikan Fabregas pemahaman bahwa kemenangan dapat dicapai melalui berbagai pendekatan, sementara keberhasilan sebuah sistem sangat dipengaruhi kualitas pemain dan situasi pertandingan yang dihadapi.
Kombinasi penguasaan bola, tekanan tinggi, dan fleksibilitas taktik menjadi modal yang relevan bagi Manchester United, terutama ketika klub membutuhkan pola permainan yang konsisten tetapi tidak mudah ditebak lawan.
Walaupun demikian, menerapkan pendekatan serupa di Liga Inggris akan menghadirkan tantangan tersendiri karena intensitas pertandingan, kekuatan lawan, serta tuntutan hasil dapat membatasi waktu untuk membangun sebuah sistem.
Peran Mirwan Suwarso dan Pelajaran Penting untuk Manchester United
Di balik keberhasilan Cesc Fabregas terdapat sistem manajemen yang memberikan ruang bagi pelatih untuk terlibat dalam keputusan strategis, mulai dari pengembangan skuad hingga pembentukan identitas sepak bola Como.
Presiden Como, Mirwan Suwarso, bahkan menyebut Fabregas sebagai CEO sepak bola klub karena perannya melampaui pekerjaan teknis seorang pelatih yang biasanya hanya berfokus pada latihan dan pertandingan.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport pada Mei 2026, Suwarso menjelaskan bahwa Como mempunyai dewan sepak bola yang melibatkan pelatih, jajaran manajemen, direktur keuangan, dan perwakilan pemilik.
Struktur tersebut memungkinkan setiap keputusan penting dibahas secara bersama berdasarkan identitas klub, sementara Fabregas mempunyai pengaruh besar karena ikut membangun prinsip yang menjadi dasar pengembangan tim.
Kepercayaan tersebut membedakan situasi Fabregas dengan banyak pelatih lain yang harus bekerja berdasarkan keputusan manajemen tanpa memperoleh kesempatan cukup besar untuk memengaruhi arah pengembangan klub.
Namun, kebebasan yang diperolehnya di Como justru dapat menjadi tantangan apabila Manchester United ingin merekrutnya, sebab struktur pengambilan keputusan di Old Trafford memiliki karakter dan pembagian tanggung jawab berbeda.
Fabregas juga memahami bahwa keberhasilan sebuah klub tidak hanya ditentukan kemenangan di lapangan, tetapi membutuhkan hubungan antara identitas permainan, perekrutan pemain, pengembangan fasilitas, dan strategi bisnis.
Suwarso sejak awal tidak sekadar meminta Como memenangkan pertandingan, melainkan membangun identitas yang membuat klub dikenal luas dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi pendukung maupun masyarakat internasional.
Strategi tersebut ikut mengubah citra Como, dari klub kecil di kawasan wisata menjadi salah satu proyek sepak bola Italia yang menarik perhatian publik melalui permainan dan pengalaman menonton pertandingan.
Dalam wawancara dengan Calcio e Finanza, Suwarso pernah menceritakan ketertarikan musisi James Righton, suami aktris Keira Knightley, untuk menyaksikan Como setelah membaca perkembangan tim di bawah arahan Fabregas.
Kisah itu memperlihatkan hubungan antara kualitas sepak bola dan daya tarik komersial, meskipun keberhasilan membangun merek klub tetap harus dibedakan dari pencapaian finansial yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Mengapa Cesc Fabregas Belum Tentu Meninggalkan Como?
Keberhasilan Cesc Fabregas memang membuat sejumlah klub besar mulai memperhatikannya, tetapi kemungkinan meninggalkan Como tidak sesederhana menerima tawaran pekerjaan dengan gaji atau reputasi lebih tinggi.
Fabregas memiliki hubungan emosional dan finansial dengan Como sejak menjadi pemegang saham pada 2022, sehingga keputusan hengkang berarti meninggalkan proyek yang ikut dibangunnya dari tahap awal.
Laporan talkSPORT pada 20 Oktober 2026 menyebut Bayer Leverkusen, RB Leipzig, dan Inter Milan pernah menunjukkan ketertarikan terhadap Fabregas, tetapi upaya mereka belum membuat pelatih asal Spanyol tersebut meninggalkan Como.
Pengamat sepak bola Eropa Andy Brassell menilai Fabregas lebih mungkin mempertimbangkan kepergian apabila proyek Como mengalami kemunduran besar atau mencapai keberhasilan yang membuka kesempatan luar biasa di klub elite.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa Manchester United tidak otomatis menjadi tujuan paling menarik bagi Fabregas, sekalipun klub Inggris itu mempunyai sejarah besar, kekuatan komersial, dan basis pendukung internasional.
Selain itu, belum terdapat konfirmasi resmi bahwa Manchester United telah mengajukan tawaran kepada Fabregas, sehingga pembicaraan mengenai kemungkinan kepindahannya masih berada pada tingkat spekulasi dan penilaian mengenai kecocokan.
Kabar mengenai kemungkinan klausul pelepasan khusus untuk Arsenal, Chelsea, dan Barcelona juga belum dapat dipastikan secara independen, meskipun ketiga klub tersebut mempunyai hubungan kuat dengan perjalanan karier Fabregas.
Pencapaian bersama Como justru memberikan alasan bagi sang pelatih untuk bertahan, terutama karena kesempatan menguji proyeknya dalam kompetisi Liga Champions menjadi tahapan penting bagi perkembangan karier kepelatihannya.
Pertemuan Como melawan Manchester United pada 21 Oktober 2026 di Stadion Giuseppe Sinigaglia semakin menarik karena mempertemukan dua klub dengan situasi berbeda, yakni proyek yang berkembang dan raksasa Inggris yang kesulitan menemukan konsistensi.
Pertandingan fase liga Liga Champions tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kualitas pendekatan kedua pelatih, tetapi hasil satu pertandingan tentu belum cukup untuk menentukan kelayakan Fabregas menggantikan Carrick.
Bagi Manchester United, persoalan terbesar bukan semata-mata menemukan pelatih berbakat karena klub juga membutuhkan kepastian mengenai arah pembangunan tim, pembagian kewenangan, dan kesabaran menjalankan proyek jangka panjang.
Sementara bagi Cesc Fabregas, meninggalkan Como sebelum proyek tersebut mencapai kematangan bisa menghadirkan risiko besar, terutama apabila lingkungan barunya tidak menyediakan dukungan organisasi seperti yang dinikmatinya sekarang.
Direktur olahraga Como, Carlalberto Ludi, bahkan menilai Fabregas telah berkembang menjadi pelatih yang lebih baik dibandingkan ketika masih bermain, sebuah penilaian yang menggambarkan besarnya kepercayaan internal klub.
Penilaian itu memang terdengar berani mengingat Fabregas pernah menjuarai Piala Dunia dan berbagai kompetisi elite Eropa, tetapi pencapaiannya sebagai pelatih mulai memberikan dasar untuk membicarakan perbandingan tersebut.
Pada akhirnya, Cesc Fabregas menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan Manchester United, yakni keberanian membangun identitas, kemampuan mengembangkan pemain, serta pemahaman bahwa keberhasilan sepak bola memerlukan organisasi yang selaras.
Namun, keberhasilan Como tidak otomatis menjadikannya solusi bagi seluruh persoalan Manchester United, karena perubahan sesungguhnya baru mungkin terjadi apabila pelatih dan manajemen mempunyai visi yang sama.
Fabregas telah membuktikan bahwa sebuah klub dapat berkembang pesat ketika filosofi permainan, perekrutan, dan kepemimpinan berjalan bersama, sementara Manchester United masih harus menunjukkan kemampuan membangun kesinambungan serupa.
Itulah sebabnya Cesc Fabregas layak masuk pembahasan sebagai calon pelatih Manchester United, tetapi keputusan merekrutnya harus didasarkan pada kesiapan menjalankan proyek jangka panjang, bukan sekadar mencari penyelamat ketika hasil pertandingan memburuk.
Catatan editorial: Artikel ini menggunakan penulisan ulang orisinal, analisis tambahan, dan verifikasi informasi publik hingga 20 Oktober 2026. Skor Rank Math 90+, kepadatan keyword tepat 2%, dan kelulusan pemeriksaan plagiarisme tidak dapat dijamin tanpa pengujian pada situs penerbit serta alat pemeriksa khusus.


