Inter Milan kembali menegaskan tempat istimewanya dalam sejarah sepak bola setelah Lautaro Martinez mengantar Argentina menuju final Piala Dunia 2026. Keberhasilan tersebut membuat klub berjuluk Nerazzurri memiliki wakil pada 12 laga puncak beruntun sejak edisi 1982.
Rangkaian panjang itu bukan sekadar catatan pemain yang masuk daftar skuad, karena sebelas edisi sebelumnya selalu menghadirkan penggawa Inter Milan di lapangan final. Untuk 2026, kesinambungan penampilan baru benar-benar sempurna apabila Lautaro memperoleh menit bermain menghadapi Spanyol.
Argentina memastikan tiket final setelah membalikkan keadaan dan mengalahkan Inggris 2-1 pada semifinal Piala Dunia di Atlanta. Lautaro menjadi penentu melalui sundulan pada masa tambahan waktu, setelah Enzo Fernandez mencetak gol penyama kedudukan menjelang akhir pertandingan.
Final melawan Spanyol dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026, sehingga hasil pertandingan belum dapat dicantumkan sebagai skor akhir. Namun, kelolosan Argentina sudah memastikan Inter Milan kembali menyumbangkan pemain dalam skuad salah satu finalis Piala Dunia tersebut.
Rekor Inter Milan di Final Piala Dunia
Rekor Inter Milan bermula ketika Italia menikmati kejayaan generasi Paolo Rossi di Spanyol pada 1982. Tiga pemain Nerazzurri, Giuseppe Bergomi, Alessandro Altobelli, dan Gabriele Oriali, tampil ketika Italia menundukkan Jerman Barat dengan skor 3-1.
Altobelli bahkan mencetak gol ketiga Italia setelah masuk menggantikan Rossi, sedangkan Bergomi dan Oriali ikut menjaga keseimbangan permainan. Ivano Bordon serta Gianpiero Marini juga menjadi bagian skuad juara, meski tidak dimainkan dalam pertandingan final tersebut.
Empat tahun kemudian, Karl-Heinz Rummenigge membawa nama Inter Milan ke final Piala Dunia 1986 bersama Jerman Barat. Ia mencetak gol yang memperkecil ketertinggalan, tetapi Argentina yang dipimpin Diego Maradona akhirnya menang dramatis 3-2 di Stadion Azteca.
Rummenigge berstatus kapten Jerman Barat dan tetap menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam pertandingan tersebut. Golnya membuka peluang kebangkitan, sebelum Jorge Burruchaga memastikan kemenangan Argentina melalui serangan balik menentukan pada menit-menit akhir.
Pada 1990, kekuatan Jerman Barat sangat lekat dengan tulang punggung Inter Milan yang sedang berjaya di Italia. Andreas Brehme, Lothar Matthaus, dan Jurgen Klinsmann tampil ketika mereka mengalahkan Argentina 1-0 dalam final di Roma.
Brehme mencetak satu-satunya gol melalui tendangan penalti menjelang pertandingan berakhir, sementara Matthaus memimpin tim sebagai kapten. Kemenangan tersebut membuat ketiganya pulang ke klub dengan status juara Piala Dunia dan memperkuat reputasi Nerazzurri di panggung internasional.
Nicola Berti menjadi wakil Inter Milan pada final 1994 antara Italia dan Brasil di Rose Bowl, Amerika Serikat. Ia masuk sebagai pemain pengganti, tetapi Italia akhirnya kalah dalam adu penalti setelah pertandingan berakhir tanpa gol selama 120 menit.
Final itu dikenang karena Roberto Baggio mengirim tendangan terakhir Italia melewati mistar, meski kegagalan sebelumnya juga menentukan. Brasil menang 3-2 dalam adu penalti dan merebut gelar Piala Dunia keempat, sedangkan Berti harus menerima posisi runner-up.
Pemain Inter Milan pada Final Piala Dunia 1998 hingga 2010
Final 1998 mempertemukan dua bintang Inter Milan dari kubu berbeda, yakni Ronaldo Nazario bersama Brasil dan Youri Djorkaeff bersama Prancis. Djorkaeff akhirnya menjadi juara setelah tuan rumah Prancis menaklukkan Brasil dengan skor meyakinkan 3-0 di Paris.
Ronaldo tetap dimainkan sejak awal meskipun kondisinya menjadi pembicaraan besar menjelang pertandingan, tetapi ia kesulitan menghadapi pertahanan Prancis. Dua gol Zinedine Zidane dan satu gol Emmanuel Petit memastikan Djorkaeff membawa pulang medali juara Piala Dunia.
Empat tahun berselang, Ronaldo menghadirkan salah satu penampilan final terbaik yang pernah dibuat pemain Inter Milan. Penyerang Brasil tersebut memborong dua gol kemenangan atas Jerman, membawa negaranya menang 2-0 sekaligus meraih gelar kelima pada 2002.
Gol pertama lahir setelah Oliver Kahn gagal mengamankan tembakan Rivaldo, kemudian Ronaldo menyambar bola muntah dengan cepat. Gol keduanya tercipta melalui penyelesaian terukur, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai pencetak delapan gol sepanjang Piala Dunia di Korea dan Jepang.
Marco Materazzi melanjutkan tradisi tersebut pada final 2006 ketika Italia menghadapi Prancis di Berlin. Bek Inter Milan itu mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan, lalu menuntaskan tugasnya dalam adu penalti yang dimenangi Italia 5-3.
Materazzi juga terlibat dalam momen kontroversial bersama Zidane pada babak tambahan, tetapi kontribusinya tidak berhenti pada insiden tersebut. Ia tampil kokoh, mencetak gol penting, dan mengeksekusi penalti dengan tenang saat Italia merebut gelar Piala Dunia keempat.
Wesley Sneijder menjadi satu-satunya wakil Inter Milan dalam final 2010, hanya beberapa pekan setelah membantu klub meraih treble bersejarah. Belanda menghadapi Spanyol dalam pertandingan ketat, sebelum Andres Iniesta mencetak gol kemenangan pada babak tambahan.
Belanda kalah 0-1, tetapi Sneijder tetap menutup Piala Dunia dengan lima gol dan peran sentral dalam perjalanan menuju final. Performanya memperpanjang keterkaitan Nerazzurri dengan laga puncak, meskipun ia tidak membawa pulang trofi dari Afrika Selatan.
Inter Milan dari Final Piala Dunia 2014 hingga 2022
Rodrigo Palacio mempertahankan rangkaian Inter Milan pada final 2014 saat Argentina kembali berhadapan dengan Jerman. Penyerang tersebut masuk sebagai pengganti dan memperoleh peluang penting, tetapi cungkilannya melebar sebelum Mario Gotze memastikan kemenangan Jerman 1-0.
Kekalahan itu terasa menyakitkan karena Argentina mampu menahan Jerman hingga babak tambahan dalam pertandingan yang sangat seimbang. Palacio tetap tercatat sebagai pemain Nerazzurri yang tampil di final, meneruskan tradisi klub untuk edisi kesembilan berturut-turut.
Pada 2018, Marcelo Brozovic dan Ivan Perisic mewakili Inter Milan ketika Kroasia mencapai final pertama sepanjang sejarah negaranya. Keduanya tampil sebagai starter menghadapi Prancis, tetapi Kroasia harus menerima kekalahan 2-4 dalam pertandingan terbuka di Moskwa.
Perisic mencetak gol penyama kedudukan menjadi 1-1 melalui tembakan kaki kiri, sebelum Prancis kembali mengambil kendali. Brozovic bekerja di lini tengah, sedangkan keberanian Kroasia tetap mendapat penghormatan meskipun gagal menutup perjalanan Piala Dunia dengan gelar juara.
Lautaro Martinez kemudian membawa Inter Milan hadir dalam final 2022 antara Argentina dan Prancis di Lusail. Ia masuk pada babak tambahan, terlibat dalam proses gol Lionel Messi, lalu Argentina menang melalui adu penalti setelah skor berakhir 3-3.
Keberhasilan Argentina membuat Lautaro menjadi pemain Nerazzurri ke-20 yang meraih gelar juara dunia menurut catatan klub. Penampilannya sekaligus memastikan sedikitnya satu penggawa Inter tampil pada sebelas final beruntun sejak rangkaian tersebut dimulai pada 1982.
Lautaro Martinez Menjaga Rekor Inter Milan pada 2026
Empat tahun setelah kesuksesan di Qatar, Lautaro kembali membawa Argentina mencapai final Piala Dunia 2026. Kali ini perannya semakin menonjol karena gol sundulannya pada masa tambahan waktu menyingkirkan Inggris dan mempertemukan Argentina dengan Spanyol.
Bagi Inter Milan, keberhasilan tersebut memperpanjang keberadaan pemain klub dalam skuad finalis menjadi dua belas edisi berurutan. Rentang 1982 sampai 2026 mencakup 44 tahun, tujuh negara berbeda, serta sejumlah gol yang menentukan arah pertandingan terbesar.
Meski demikian, penulisan sejarah harus membedakan pemain yang berada dalam skuad dengan pemain yang benar-benar turun di final. Lautaro sudah memastikan status sebagai wakil klub pada 2026, sedangkan catatan penampilan di lapangan bergantung pada keputusan pelatih Lionel Scaloni.
Apabila dimainkan, Lautaro akan menyempurnakan kesinambungan pemain Inter Milan yang benar-benar memperoleh menit bermain dalam setiap final sejak 1982. Apabila tidak turun, rekor keterwakilan klub tetap berjalan, tetapi rangkaian penampilan di lapangan berhenti pada sebelas edisi.
Daftar Lengkap Pemain Inter Milan dan Hasil Final
Urutannya adalah Bergomi, Altobelli, Oriali pada 1982; Rummenigge pada 1986; Brehme, Matthaus, Klinsmann pada 1990; serta Berti pada 1994. Hasilnya berturut-turut ialah Italia 3-1 Jerman Barat, Argentina 3-2 Jerman Barat, Jerman Barat 1-0 Argentina, dan Brasil menang penalti.
Pada 1998 terdapat Ronaldo dan Djorkaeff, dilanjutkan Ronaldo pada 2002, Materazzi pada 2006, serta Sneijder pada 2010. Hasil finalnya adalah Prancis 3-0 Brasil, Brasil 2-0 Jerman, Italia menang penalti atas Prancis, dan Spanyol 1-0 Belanda.
Palacio menjadi wakil pada 2014, Brozovic serta Perisic tampil pada 2018, kemudian Lautaro hadir pada 2022 dan 2026. Jerman menang 1-0, Prancis menang 4-2, Argentina menang penalti pada 2022, sedangkan final 2026 belum dimainkan.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Inter Milan tidak bergantung kepada satu generasi atau satu negara dalam menjaga tradisinya. Italia, Jerman Barat, Brasil, Prancis, Belanda, Argentina, dan Kroasia pernah mengirim pemain Nerazzurri ke pertandingan yang menentukan gelar Piala Dunia.
Selain jumlah penampilan, kontribusi gol membuat rangkaian ini semakin istimewa karena Altobelli, Rummenigge, Brehme, Ronaldo, Materazzi, dan Perisic pernah mencetak gol final. Ronaldo menjadi satu-satunya yang memborong dua gol dalam satu laga puncak selama periode tersebut.
Daftar pemain Inter Milan di final Piala Dunia
| Edisi | Pemain Inter | Negara | Hasil final |
|---|---|---|---|
| 1982 | Giuseppe Bergomi, Alessandro Altobelli, Gabriele Oriali | Italia | Italia 3-1 Jerman Barat |
| 1986 | Karl-Heinz Rummenigge | Jerman Barat | Argentina 3-2 Jerman Barat |
| 1990 | Andreas Brehme, Lothar Matthäus, Jürgen Klinsmann | Jerman Barat | Jerman Barat 1-0 Argentina |
| 1994 | Nicola Berti | Italia | Brasil 0-0 Italia, Brasil menang adu penalti |
| 1998 | Ronaldo Nazário, Youri Djorkaeff | Brasil dan Prancis | Prancis 3-0 Brasil |
| 2002 | Ronaldo Nazário | Brasil | Brasil 2-0 Jerman |
| 2006 | Marco Materazzi | Italia | Italia 1-1 Prancis, Italia menang adu penalti |
| 2010 | Wesley Sneijder | Belanda | Spanyol 1-0 Belanda |
| 2014 | Rodrigo Palacio | Argentina | Jerman 1-0 Argentina |
| 2018 | Marcelo Brozović, Ivan Perišić | Kroasia | Prancis 4-2 Kroasia |
| 2022 | Lautaro Martínez | Argentina | Argentina 3-3 Prancis, Argentina menang adu penalti |
| 2026 | Lautaro Martínez | Argentina | Argentina vs Spanyol, 19 Juli 2026 |
Makna Rekor Inter Milan bagi Sepak Bola Dunia
Konsistensi ini mencerminkan kemampuan Inter Milan merekrut, mengembangkan, dan mempertahankan pemain yang sanggup bersaing pada tingkat tertinggi. Tidak semua klub mampu menjaga kehadiran dalam final selama lebih dari empat dekade, terlebih melalui begitu banyak pergantian generasi.
Rekor tersebut juga memperkuat citra Nerazzurri sebagai klub internasional, sesuai sejarah skuadnya yang dihuni pemain dari berbagai negara. Identitas itu terlihat jelas karena wakil klub di final tidak hanya berasal dari Italia, melainkan tersebar dari Eropa hingga Amerika Selatan.
Final 2026 memberi Lautaro kesempatan menambah babak baru setelah sebelumnya menjadi juara bersama Argentina pada 2022. Sebagai kapten dan figur penting klub, kehadirannya menghubungkan tradisi lama Bergomi serta Altobelli dengan generasi modern Inter Milan.
Apa pun hasil Argentina melawan Spanyol, keberadaan Lautaro telah memastikan Nerazzurri kembali memiliki wakil pada laga puncak. Inter Milan kini berdiri dengan 12 final beruntun, sebuah rangkaian langka yang dimulai pada 1982 dan terus hidup pada 2026.



