Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Drama Usai Gugur di Piala Dunia 2026: Banyak Pelatih Mundur Berjamaah

Drama Usai Gugur di Piala Dunia 2026: Banyak Pelatih Mundur Berjamaah

  • Juli 3, 2026
Riyad Mahrez

Piala Dunia 2026 belum mencapai laga final, tetapi panggung besar ini sudah meninggalkan banyak cerita pahit bagi sejumlah negara. Hanya satu tim yang akan berpesta pada 20 Juli 2026, sementara puluhan peserta lain lebih dulu pulang dengan beban evaluasi besar.

Format 48 peserta membuat persaingan Piala Dunia 2026 terasa lebih panjang, lebih ketat, dan lebih brutal bagi tim yang gagal memenuhi ekspektasi. Setelah fase gugur berjalan, efek domino mulai terlihat lewat mundurnya pelatih, pemecatan cepat, hingga pensiunnya pemain besar.

Julian Nagelsmann Mundur Setelah Jerman Tersingkir

Nama terbesar dalam daftar perubahan besar Piala Dunia 2026 adalah Julian Nagelsmann, pelatih Jerman yang akhirnya memilih mundur. Keputusan itu muncul setelah Der Panzer disingkirkan Paraguay lewat adu penalti pada babak 32 besar.

Nagelsmann sebenarnya masih berusia 38 tahun dan memiliki kontrak bersama tim nasional Jerman hingga 2028. Ia bahkan sempat menyatakan siap bertahan, tetapi pembicaraan dengan pejabat Federasi Sepak Bola Jerman mengubah arah masa depannya.

Media Jerman melaporkan bahwa DFB tidak puas dengan penjelasan Nagelsmann terkait kegagalan tim di Piala Dunia 2026. Situasi itu membuat sang pelatih mengambil keputusan mundur pada Jumat, setelah menjalani pembicaraan serius sehari sebelumnya.

Kegagalan ini terasa menyakitkan karena Jerman kembali gagal mencapai babak 16 besar untuk tiga edisi Piala Dunia secara beruntun. Nama Jurgen Klopp kemudian mulai dikaitkan sebagai calon pengganti, terutama setelah muncul laporan bahwa ia siap menerima pendekatan.

Riyad Mahrez Pensiun dari Timnas Aljazair

Piala Dunia 2026 juga menjadi akhir perjalanan Riyad Mahrez bersama tim nasional Aljazair. Winger berusia 35 tahun itu menyatakan laga melawan Swiss sebagai pertandingan terakhirnya untuk negara yang sudah lama ia bela.

Aljazair tersingkir dari babak 32 besar setelah kalah 0-2 dari Swiss dalam pertandingan yang sebenarnya masih mereka yakini bisa dimenangi. Mahrez menilai kesalahan sendiri membuat Aljazair dihukum, terutama karena level Piala Dunia tidak memberi ruang bagi kelengahan.

Mahrez tetap pulang dengan status legenda besar sepak bola Aljazair, bukan hanya karena kualitasnya di lapangan. Ia mencatat 119 penampilan, mencetak 40 gol, dan menjadi figur penting saat Aljazair menjuarai Piala Afrika 2019.

Keputusan Mahrez membuat Piala Dunia 2026 terasa seperti garis akhir bagi satu era penting sepak bola Aljazair. Meski gagal melangkah lebih jauh, keberhasilan keluar dari fase grup tetap menjadi catatan yang tidak sepenuhnya buruk bagi Fennecs.

Ronald Koeman Akhiri Periode Kedua di Belanda

Ronald Koeman juga mengambil keputusan besar setelah Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026. Legenda sepak bola Belanda itu menyatakan mundur setelah timnya kalah dari Maroko melalui drama adu penalti di fase gugur.

Koeman menulis bahwa tidak ada orang yang lebih kecewa daripada dirinya sendiri atas kegagalan tersebut. Ia juga menegaskan pelatih kepala harus memikul tanggung jawab ketika mimpi besar tim tidak berjalan sesuai rencana.

Koeman menangani Belanda setelah Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika Oranje saat itu mampu mencapai perempat final. Periode tersebut merupakan masa keduanya bersama tim nasional, setelah sebelumnya ia juga melatih Belanda pada 2018 hingga 2020.

Kekalahan dari Maroko menjadi pukulan berat karena Belanda datang dengan ambisi besar di Piala Dunia 2026. Namun, turnamen kali ini justru berakhir lebih cepat dari harapan dan memaksa KNVB mencari arah baru.

Hong Myung-bo Mundur dari Korea Selatan

Korea Selatan juga mengalami perubahan besar setelah gagal melewati fase grup Piala Dunia 2026. Hong Myung-bo, sosok yang pernah menjadi kapten saat Korea Selatan menembus semifinal 2002, memilih mundur dari kursi pelatih.

Hubungan Hong dengan publik Korea Selatan memang tidak selalu mulus selama karier kepelatihannya. Pada Piala Dunia 2014, reputasinya sempat menurun setelah Korea Selatan tersingkir di fase grup saat berada di bawah komandonya.

Pada Piala Dunia 2026, Korea Selatan kembali gagal melangkah dari fase awal setelah kalah dari Meksiko dan Afrika Selatan. Tekanan publik membesar, sehingga Hong akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada warga yang selalu mendukung sepak bola Korea.

Hong menyebut menerima jabatan tersebut bukan keputusan mudah, tetapi ia merasa harus menuntaskan tanggung jawab sampai akhir. Setelah hasil mengecewakan itu, ia menyatakan mundur demi membuka jalan baru bagi tim nasional Korea Selatan.

Miroslav Koubek Tinggalkan Republik Ceko

Miroslav Koubek menjadi nama berikutnya yang mundur setelah Republik Ceko menjalani kampanye buruk di Piala Dunia 2026. Mereka finis di dasar Grup A dengan hanya satu poin dari hasil imbang melawan Afrika Selatan.

Padahal, Koubek sempat membawa Ceko melewati babak playoff Eropa yang tidak mudah untuk kembali ke Piala Dunia. Turnamen ini menjadi penampilan pertama Republik Ceko di panggung Piala Dunia sejak edisi 2006.

Koubek menyebut jadwal perjalanan yang melelahkan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi performa tim. Ia juga menyinggung adanya kampanye media berisi setengah kebenaran dan fabrikasi yang membuat pekerjaannya tidak lagi masuk akal.

Keputusan Koubek membuat Ceko harus kembali membangun proyek baru setelah Piala Dunia 2026. Kegagalan finis lebih baik dari dasar grup menjadi bahan evaluasi besar bagi federasi dan generasi pemain mereka.

Presiden Federasi Arab Saudi Ikut Mundur

Tidak semua perubahan di Piala Dunia 2026 terjadi pada posisi pelatih kepala. Di Arab Saudi, Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi, Yasser Al Misehal, memilih mundur setelah Green Falcons gagal memenuhi ekspektasi.

Harapan publik Arab Saudi sempat tinggi karena mereka pernah mengalahkan Argentina, yang kemudian menjadi juara dunia, pada Piala Dunia 2022. Namun, cerita indah itu tidak berlanjut karena Arab Saudi finis sebagai juru kunci Grup H.

Arab Saudi hanya meraih dua poin dari hasil imbang melawan Uruguay dan Tanjung Verde. Mereka juga menelan kekalahan telak dari Spanyol, sehingga gagal melaju ke babak berikutnya di Piala Dunia 2026.

Al Misehal menyatakan dirinya bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut dan meminta maaf kepada publik. Ia kemudian memilih tidak melanjutkan masa jabatannya sampai akhir periode, karena menilai federasi membutuhkan fase baru.

Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Setelah Satu Laga

Tunisia menjadi salah satu cerita paling keras di Piala Dunia 2026 karena memecat Sabri Lamouchi setelah satu pertandingan. Kekalahan 1-5 dari Swedia pada laga pembuka langsung membuat federasi mengambil keputusan ekstrem.

Lamouchi baru menangani Tunisia sejak Januari dan hanya memimpin lima pertandingan sebelum nasibnya berakhir. Ia menjadi pelatih pertama yang diberhentikan setelah satu laga di putaran final Piala Dunia, sebuah rekor yang tidak diinginkan siapa pun.

Tunisia kemudian menunjuk Herve Renard, mantan pelatih Arab Saudi, untuk mengambil alih tim. Namun, perubahan itu tidak cukup menyelamatkan turnamen mereka karena Tunisia akhirnya kalah dalam tiga pertandingan dan kebobolan 12 gol.

Ironisnya, Tunisia datang ke Piala Dunia 2026 dengan catatan kuat karena tidak kebobolan sepanjang kualifikasi. Kenyataan di putaran final justru berbanding terbalik, sehingga kegagalan mereka terasa lebih mengejutkan.

Steve Clarke Berpisah dengan Skotlandia

Steve Clarke juga memilih mundur setelah Skotlandia tersingkir dari fase grup Piala Dunia 2026. Bagi Skotlandia, turnamen ini sebenarnya bersejarah karena menjadi penampilan pertama mereka di putaran final setelah 28 tahun menunggu.

Skotlandia finis di posisi ketiga Grup C dengan satu kemenangan dan dua kekalahan. Namun, catatan itu tidak cukup membawa mereka masuk delapan tim peringkat ketiga terbaik untuk melaju ke babak 32 besar.

Clarke menyebut bagian paling emosional dari perpisahan ini adalah meninggalkan para pemain yang sudah bersamanya sejak 2019. Ia merasa bangga pernah menjadi pelatih mereka dan mengucapkan terima kasih kepada skuad yang telah memberinya banyak kenangan.

Selama memimpin Skotlandia, Clarke mencatat 36 kemenangan dan menjadi pelatih dengan jumlah kemenangan terbanyak dalam sejarah negara tersebut. Karena itu, perpisahan ini tetap meninggalkan rasa hormat meski Piala Dunia 2026 berakhir mengecewakan.

Sebastian Beccacece Pamit dari Ekuador

Sebastian Beccacece turut masuk daftar pelatih yang meninggalkan jabatannya setelah Piala Dunia 2026. Pelatih asal Argentina itu mundur setelah Ekuador kalah 0-2 dari Meksiko pada babak 32 besar.

Ekuador sebenarnya sempat menjaga harapan setelah lolos ke fase gugur berkat kemenangan dramatis atas Jerman. Namun, mereka tidak mampu mengulang performa tersebut ketika menghadapi Meksiko yang tampil lebih klinis.

Beccacece menjelaskan bahwa kontraknya memang berakhir setelah Piala Dunia 2026. Ia mengakui timnya belum mampu mencapai prestasi yang dijanjikan, meski secara pribadi masih ingin melanjutkan pekerjaan bersama para pemain.

Keputusan itu terasa pahit karena Beccacece merasa dukungan pemain dan manajemen sebenarnya membuka peluang untuk bertahan. Namun, ia memahami cara kerja sepak bola modern, ketika kegagalan di panggung besar sering berakhir dengan perpisahan.

Rangkaian mundur, pemecatan, dan pensiun ini menunjukkan betapa beratnya tekanan Piala Dunia 2026 bagi setiap peserta. Satu kekalahan bisa mengubah masa depan pelatih, federasi, bahkan pemain senior yang sudah lama menjadi ikon negaranya.

Jerman, Belanda, Korea Selatan, Ceko, Arab Saudi, Tunisia, Skotlandia, dan Ekuador kini menghadapi pekerjaan rumah besar. Mereka harus menentukan arah baru setelah turnamen yang memperlihatkan jarak antara ambisi, kualitas, dan hasil di lapangan.

Di sisi lain, keputusan Riyad Mahrez memberi warna emosional yang berbeda pada Piala Dunia 2026. Ia tidak meninggalkan jabatan, tetapi menutup bab panjang sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Aljazair.

TImnas Jepang

Negara Asia Babak Belur di Piala Dunia 2026, Apa yang Salah?

03 Jul 2026
Mikel Oyarzabal

Mikel Oyarzabal, Pahlawan Senyap Spanyol yang Meledak di Piala Dunia 2026

03 Jul 2026
Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo Bungkam Kritikus di Usia 41 Tahun

03 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.