Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Inggris Masih Layak Disebut Favorit Juara meski Belum Sempurna

Inggris Masih Layak Disebut Favorit Juara meski Belum Sempurna

  • Juli 1, 2026
Timnas Inggris

Timnas Inggris datang ke fase gugur Piala Dunia 2026 dengan satu pertanyaan besar yang kembali menggoda publik sepak bola. Setelah 60 tahun menunggu sejak gelar 1966, keyakinan bahwa football is coming home mulai terasa lebih masuk akal.

Keyakinan itu tidak hanya lahir dari romantisme atau lagu lama yang selalu dinyanyikan pendukung The Three Lions. Inggris memiliki kedalaman skuad, kekuatan statistik, pelatih elite, dan pemain pembeda yang membuat peluang mereka tetap sangat terbuka.

Analisis Bill Connelly di ESPN bahkan menempatkan Inggris sebagai kandidat kuat sejak sebelum turnamen dimulai. Meski tidak selalu tampil meyakinkan di fase grup, alasan logis untuk percaya kepada skuad Thomas Tuchel masih cukup banyak.

Inggris memang sempat membuat pendukungnya cemas ketika kesulitan membongkar pertahanan rapat Ghana dan Panama. Namun, turnamen besar jarang dimenangkan oleh tim yang sempurna sejak awal, karena momentum sering tumbuh setelah fase gugur dimulai.

Thomas Tuchel memilih pendekatan fungsional dalam membentuk skuad berisi 26 pemain untuk Piala Dunia 2026. Keputusan itu membuat Inggris tidak selalu terlihat flamboyan, tetapi mereka tetap punya fondasi kuat untuk bertahan dalam tekanan.

Beberapa nama besar bahkan tidak masuk skuad, termasuk Ben White, Myles Lewis-Skelly, Trent Alexander-Arnold, Phil Foden, dan Cole Palmer. Fakta itu memperlihatkan betapa dalamnya pilihan pemain Inggris di hampir semua posisi.

Cedera di sektor bek kanan menjadi masalah yang harus segera diatasi oleh Tuchel. Tino Livramento mengalami cedera betis, sementara Reece James dan Jarell Quansah juga datang dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya ideal.

Situasi itu membuat Djed Spence berpotensi memikul peran penting di sisi yang bukan posisi naturalnya. Namun, Inggris tetap berada dalam kelompok favorit karena banyak pesaing utama juga membawa masalah masing-masing.

Spanyol berhadapan dengan isu cedera Lamine Yamal dan periode serangan yang kurang efektif. Prancis masih sering menyerahkan kontrol pertandingan kepada lawan, sementara Argentina sangat bergantung kepada Lionel Messi yang sudah berusia 39 tahun.

Di tengah segala kekurangan itu, Inggris tetap berada dalam bursa favorit kuat untuk memenangkan turnamen. Jika nama besar mereka tidak dibebani sejarah kegagalan panjang, peluang The Three Lions mungkin akan dipandang lebih tinggi.

Alasan Pertama, Efek Premier League Membuat Inggris Lebih Teruji

Alasan pertama Inggris layak dipercaya adalah efek Premier League yang membentuk mayoritas pemain mereka. Kompetisi tersebut menjadi ruang paling keras, mahal, dan beragam secara taktik dalam sepak bola modern.

Dulu, sepak bola Inggris sering dianggap terlalu tertutup karena merasa sudah menemukan permainan itu sendiri. Kini situasinya berubah drastis, karena Premier League menjadi melting pot terbesar bagi pemain, pelatih, dan gagasan taktik dari seluruh dunia.

Para pemain Inggris tidak hanya berhadapan dengan lawan lokal, tetapi juga bintang terbaik dari berbagai negara setiap pekan. Mereka terbiasa menghadapi variasi gaya, mulai dari dominasi penguasaan bola ala Pep Guardiola hingga pressing dan serangan langsung.

Dalam skuad Piala Dunia 2026, sebanyak 25 dari 26 pemain Inggris bermain di klub yang masuk jajaran elite dunia versi Opta. Tidak banyak negara lain yang bisa menandingi tingkat keterujian klub seperti itu.

Efek Premier League juga terlihat dari kekuatan bola mati yang menjadi senjata penting Inggris. Pada fase grup, The Three Lions berada di papan atas dalam jumlah tembakan dari set piece dan gol dari situasi bola mati.

Sepak bola modern semakin menempatkan bola mati sebagai detail yang dapat menentukan pertandingan gugur. Dalam laga ketat yang minim ruang, satu tendangan sudut atau umpan bebas bisa mengubah nasib Inggris.

Alasan Kedua, Inggris Berbahaya Saat Pertandingan Terbuka

Alasan kedua adalah karakter Inggris yang semakin berbahaya ketika pertandingan berjalan terbuka. Fase awal Piala Dunia sering menuntut tim besar membongkar lawan yang bertahan rendah dan menumpuk pemain di belakang.

Masalah itu terlihat jelas ketika Inggris menghadapi Ghana yang bermain sangat rapat. Mereka menguasai area sepertiga akhir, tetapi terlalu sedikit menyentuh bola di kotak penalti dan kesulitan menciptakan peluang berkualitas tinggi.

Ghana hanya memberi sedikit ruang, bahkan hampir membentuk garis pertahanan enam pemain. Inggris mendominasi pertandingan, tetapi hanya memaksa kiper Benjamin Asare melakukan tiga penyelamatan dan nyaris dihukum pada akhir laga.

Namun, gambaran berbeda muncul ketika Kroasia memilih bermain terbuka dan berani bertukar serangan. Dalam situasi seperti itu, Inggris lebih mudah menemukan ruang dan akhirnya menang 4-2 lewat kombinasi serangan yang lebih tajam.

Panama juga sempat bertahan dalam, tetapi mereka masih mencoba menyerang dan bermain langsung. Begitu ruang mulai muncul, Inggris mampu memanfaatkannya untuk meraih kemenangan 2-0 dan menjaga posisi kuat di grup.

Tantangan berikutnya adalah Kongo DR di babak 32 besar, lawan yang bisa membuat pertandingan terasa rumit. Mereka hanya memberi total peluang bernilai rendah sepanjang fase grup dan memiliki Yoane Wissa yang sedang percaya diri.

Kongo DR juga membawa cerita besar setelah kembali ke Piala Dunia usai absen sangat lama. Mereka tidak punya beban sebesar Inggris, sehingga pertandingan ini bisa menjadi ujian mental sekaligus taktik bagi Tuchel.

Jika Inggris lolos, gaya permainan lawan berikutnya kemungkinan akan lebih terbuka. Meksiko, Ekuador, Brasil, atau Norwegia punya kecenderungan lebih aktif menguasai bola, sehingga ruang transisi bisa lebih sering muncul.

Dalam pertandingan terbuka, Inggris punya kualitas untuk menyerang dari berbagai jalur. Mereka bisa memanfaatkan Harry Kane sebagai pemantul, sayap cepat sebagai pemecah ruang, dan gelandang dinamis untuk menusuk dari lini kedua.

Alasan Ketiga, Inggris Punya Jude Bellingham

Alasan ketiga dan mungkin paling meyakinkan adalah keberadaan Jude Bellingham. Inggris memiliki pemain yang bisa bertahan seperti gelandang bertahan, menyerang seperti nomor 10, dan mencetak gol seperti penyerang tambahan.

Saat di Borussia Dortmund, Bellingham dikenal sebagai gelandang box-to-box yang sangat lengkap. Ketika pindah ke Real Madrid, ia menunjukkan sisi berbeda dengan mencetak banyak gol dan menjadi ancaman besar di area lawan.

Di Piala Dunia 2026, Bellingham memperlihatkan dua wajah itu secara bersamaan. Ia masuk jajaran atas dalam kontribusi gol dan assist, tetapi juga aktif dalam tekel, duel, pemulihan bola, dan tekanan di area lawan.

Performa terbaiknya terlihat ketika Inggris mengalahkan Panama pada laga ketiga fase grup. Bellingham mencetak gol pertama, memberi assist untuk Harry Kane, dan memimpin tim dalam peluang tercipta, tekel sukses, duel menang, serta pemulihan bola.

Ketika Inggris terlihat buntu, Bellingham adalah pemain yang bisa menarik tim keluar dari masalah. Ia memiliki tenaga, keberanian, kreativitas, dan rasa percaya diri untuk mengubah ritme pertandingan dalam satu momen.

Pemain seperti Bellingham sangat penting dalam turnamen gugur yang sering ditentukan detail kecil. Saat struktur taktik tidak berjalan mulus, Inggris masih punya individu elite yang mampu membuat perbedaan tanpa menunggu pola sempurna.

Alasan Keempat, Statistik Inggris Sebenarnya Sangat Kuat

Alasan keempat adalah statistik Inggris yang jauh lebih baik daripada kesan visual sebagian pertandingan. Mereka memang belum selalu menghibur, tetapi angka-angka menunjukkan fondasi permainan yang cukup meyakinkan.

Inggris berada di papan atas untuk tembakan per penguasaan bola, tembakan tepat sasaran, peluang berkualitas tinggi, dan expected goals. Enam gol yang mereka cetak di fase grup justru bisa dianggap sedikit di bawah potensi serangan sebenarnya.

Di sisi pertahanan, Inggris juga menunjukkan tanda yang sangat kuat. Mereka belum memberi lawan peluang berkualitas tinggi dan berada di peringkat atas untuk membatasi tembakan serta nilai peluang lawan.

The Three Lions juga unggul dalam duel fisik, jumlah pelanggaran yang mereka menangkan, umpan progresif, dan penguasaan bola. Profil seperti itu menunjukkan tim yang mampu mengendalikan wilayah, menekan lawan, dan menjaga pertandingan tetap dalam genggaman.

Dalam lima turnamen besar terakhir sejak 2018, hanya Prancis yang memiliki jumlah kemenangan lebih banyak daripada Inggris. Catatan itu membuktikan The Three Lions bukan lagi tim yang hanya hidup dari reputasi masa lalu.

Masalahnya, publik sering menilai Inggris dengan standar emosional yang lebih berat dibanding negara lain. Setiap hasil imbang terasa seperti krisis, setiap kemenangan tipis terasa kurang, dan setiap kesulitan langsung dikaitkan dengan trauma sejarah.

Padahal, Piala Dunia jarang dimenangkan tanpa hambatan selama fase grup. Sejak awal abad ini, banyak juara dunia tidak selalu menyapu fase grup dengan sempurna dan baru menemukan bentuk terbaik saat tekanan meningkat.

Argentina, Prancis, Spanyol, dan Brasil juga menunjukkan celah masing-masing di turnamen ini. Karena itu, tidak adil jika hanya Inggris yang dianggap gagal meyakinkan hanya karena belum tampil seperti mesin sempurna.

Tiket Piala Dunia

Tiket Partai Final Piala Dunia 2026 Berpotensi Tembus Setengah Miliar Rupiah Lebih 

02 Jul 2026
Lionel Mpasi

Siapa Lionel Mpasi? Kiper Diaspora Kongo yang Bikin Inggris Frustasi

02 Jul 2026
Timnas AS

Cerita Timnas Amerika yang Menjelma Hebat di Piala Dunia 2026 Berkat Andil Kaum Migran

02 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.