Valencia pernah menjadi salah satu nama yang paling ditakuti di Spanyol dan Eropa, menyingkirkan klub-klub elite serta mencapai dua final Liga Champions secara beruntun. Kini, klub bersejarah itu justru harus menghadapi ancaman degradasi yang terasa semakin nyata.
Situasinya semakin ironis karena Valencia memasuki Oktober 2026 dengan performa yang jauh dari standar sebuah klub besar. La Liga mencatat mereka berada di posisi ke-19 setelah delapan pertandingan, hanya mengumpulkan lima poin dari satu kemenangan, dua hasil imbang, dan lima kekalahan.
Tim Kelelawar Hitam ini baru mencetak enam gol dan telah kebobolan 15 kali, memperlihatkan masalah yang tidak hanya muncul pada satu bagian permainan. Hasil imbang 2-2 melawan Racing Santander pada 11 Oktober juga belum cukup untuk mengangkat mereka keluar dari zona merah.
Kemerosotan tersebut terasa semakin menyakitkan ketika dibandingkan dengan periode sekitar seperempat abad lalu, ketika Mestalla merupakan salah satu stadion paling menakutkan di Eropa. Valencia ketika itu mampu melawan Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, Arsenal, dan klub-klub elite lainnya dengan kepercayaan diri besar.
Dilansir GOAL, gambaran keterpurukan Valencia terlihat jelas ketika mereka dihantam Barcelona 0-5 di Mestalla pada 6 September 2026. Rodri bahkan tertangkap kamera mengungkapkan keterkejutannya karena Valencia dinilai hampir tidak mampu melewati garis tengah lapangan.
Rodri kemudian meminta maaf dan menegaskan komentarnya bukan dimaksudkan sebagai ejekan terhadap klub yang sedang mengalami masa sulit. Namun, kejadian tersebut justru menggambarkan betapa jauhnya posisi Valencia sekarang dibandingkan dengan status mereka pada era kejayaan.
Pernah Membuat Real Madrid dan Barcelona Ketakutan
Fondasi era keemasan Valencia mulai dibangun Claudio Ranieri ketika pelatih asal Italia tersebut datang ke Mestalla pada September 1997. Namanya belum terlalu terkenal di Spanyol, tetapi Ranieri segera menemukan kombinasi tepat antara pemain senior, pemain muda, dan talenta menyerang.
Ranieri memberi ruang besar kepada Gaizka Mendieta, Miguel Angel Angulo, serta Francisco Javier Farinos, sembari memaksimalkan pemain berpengalaman seperti Jocelyn Angloma dan Amedeo Carboni. Claudio Lopez juga berubah menjadi salah satu senjata utama setelah dipasangkan dengan penyerang Rumania, Adrian Ilie.
Valencia kemudian menutup musim 1998/99 dengan posisi keempat La Liga sekaligus tiket Liga Champions, tetapi Copa del Rey menjadi panggung terbesar mereka. Barcelona disingkirkan melalui kemenangan agregat 7-5, dengan Claudio Lopez mencetak empat gol menghadapi tim berisi Rivaldo dan Patrick Kluivert.
Malam yang lebih luar biasa datang ketika Valencia menghancurkan Real Madrid 6-0 di Mestalla pada semifinal Copa del Rey. Mereka akhirnya melaju dengan agregat 7-2 sebelum menundukkan Atletico Madrid 3-0 di final dan mengakhiri penantian panjang meraih trofi besar.
Ranieri kemudian pergi, tetapi fondasi yang dibangunnya justru menjadi titik awal perjalanan Valencia menuju tingkat yang lebih tinggi. Hector Cuper mengambil alih tim dan, meski taktik defensifnya kerap mendapat kritik, membawa klub tersebut menjadi kekuatan serius di Liga Champions.
Pada musim 1999/2000, Valencia menyingkirkan Lazio dan Barcelona untuk mencapai final Liga Champions menghadapi Real Madrid di Paris. Mereka akhirnya kalah 0-3, tetapi sekadar mencapai pertandingan terbesar sepak bola antarklub Eropa sudah menjadi pencapaian luar biasa bagi proyek tersebut.
Valencia kehilangan Claudio Lopez, Gerard Lopez, dan Farinos sebelum musim berikutnya, tetapi Cuper mampu menjaga daya saing tim. Ruben Baraja, Roberto Ayala, Vicente Rodriguez, John Carew, serta Pablo Aimar datang dan membantu membentuk generasi baru yang tetap sangat kompetitif.
Hasilnya, Valencia kembali mencapai final Liga Champions pada 2000/01 setelah menyingkirkan Arsenal dan Leeds United. Mereka hampir menjadi juara sebelum akhirnya kalah 4-5 dalam adu penalti melawan Bayern Munich setelah pertandingan di Milan berakhir imbang 1-1.
Dua kekalahan final tersebut memang meninggalkan luka, tetapi pada saat bersamaan memperlihatkan tingginya posisi Valencia dalam hierarki sepak bola Eropa. Hanya sedikit klub mampu mencapai dua final Liga Champions secara beruntun, terlebih tanpa kekuatan finansial sebesar Real Madrid atau Barcelona.
Rafael Benitez Membawa ke Puncak
Setelah Cuper pergi, Valencia mengambil keputusan berisiko dengan menunjuk Rafael Benitez, pelatih yang baru membawa Tenerife promosi. Penunjukannya sempat diragukan karena klub sebelumnya telah mendekati Javier Irureta, Mane Esnal, dan Luis Aragones sebelum pilihan akhirnya jatuh kepada Benitez.
Benitez membawa pendekatan berbeda dengan mempertahankan fondasi pertahanan kuat peninggalan Cuper sambil membuat Valencia sedikit lebih agresif ketika menguasai bola. Kombinasi David Albelda dan Ruben Baraja menjadi pusat permainan, sedangkan Vicente, Kily Gonzalez, Angulo, dan Rufete memberikan keseimbangan di sisi lapangan.
Musim pertamanya sempat berjalan sulit hingga kemenangan dramatis 3-2 atas Espanyol pada Desember menjadi titik balik. Valencia kemudian hanya sekali kalah sejak akhir Januari hingga 11 Mei 2002 dan mengakhiri penantian 31 tahun untuk menjadi juara La Liga.
Mereka memenangi tujuh dari delapan pertandingan terakhir dan akhirnya finis delapan poin di depan Deportivo La Coruna. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa Valencia bukan sekadar tim kejutan di kompetisi Eropa, melainkan kekuatan yang mampu mengalahkan dominasi klub terbesar Spanyol.
Puncak era Benitez muncul pada musim 2003/04 ketika Valencia kembali menjadi juara La Liga sekaligus memenangkan Piala UEFA. Mereka mengumpulkan 28 dari kemungkinan 30 poin dalam sepuluh pertandingan penutup liga untuk mengejar dan melewati Real Madrid.
Sepuluh hari setelah memastikan gelar domestik, Valencia mengalahkan Marseille 2-0 pada final Piala UEFA di Gothenburg. Keberhasilan tersebut melengkapi salah satu musim paling bersejarah klub dan mempertegas reputasi mereka sebagai kekuatan besar sepak bola Eropa.
Namun, Benitez mengundurkan diri pada Juni 2004 setelah perselisihan berkepanjangan mengenai kebijakan transfer klub. Ungkapan terkenalnya tentang meminta “sofa” tetapi mendapatkan “lampu” menggambarkan rasa frustrasi terhadap perekrutan yang tidak sesuai kebutuhan teknis tim.
Kepergian Benitez kemudian menjadi salah satu garis pemisah penting dalam sejarah modern Valencia. Klub memang masih mampu tampil kompetitif pada periode tertentu, tetapi tidak pernah lagi mencapai kestabilan prestasi seperti ketika Ranieri, Cuper, dan Benitez membangun tim tersebut.
Valencia dan Titik Balik Era Peter Lim
Peter Lim mengambil alih Valencia pada 2014 ketika klub berada dalam situasi finansial sulit dan membutuhkan investasi baru. Awalnya, kedatangan miliarder Singapura tersebut membangkitkan harapan bahwa Valencia bisa kembali menjadi penantang Real Madrid, Barcelona, serta klub elite Eropa.
Harapan sempat terlihat masuk akal ketika Valencia menjuarai Copa del Rey pada 2019 dan kembali lolos ke Liga Champions. Namun, keputusan memecat Marcelino Garcia Toral dan direktur olahraga Mateu Alemany setelah perselisihan mengenai transfer menjadi titik pecah hubungan dengan banyak pendukung.
Bagi sebagian besar suporter Valencia, persoalan klub kemudian bukan lagi sekadar hasil pertandingan, melainkan arah pengelolaan secara keseluruhan. Ketidakstabilan pelatih, penjualan pemain, kebijakan transfer, dan renggangnya komunikasi pemilik dengan publik membentuk ketidakpercayaan yang terus membesar.
Kritik semakin keras setelah Peter Lim menyebut Valencia sebagai “aset prestisius” yang berguna untuk membangun jejaring dalam wawancara Financial Times pada 2021. Bagi suporter, pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa identitas olahraga klub tidak berada pada posisi yang mereka harapkan.
Mantan kiper Santiago Canizares menjadi salah satu suara paling vokal dalam mengkritik kepemilikan tersebut dan menilai Valencia tetap mempunyai potensi komersial luar biasa. Menurutnya, puluhan ribu pendukung terus datang ke Mestalla meski mengetahui tim mereka bisa kembali mengalami kekecewaan.
Ironinya, salah satu proyek terbesar dalam sejarah Valencia justru berjalan ketika tim mengalami krisis di lapangan. Klub telah menyelesaikan paket pembiayaan senilai €322 juta untuk Nou Mestalla, stadion baru dengan kapasitas lebih dari 70.000 penonton yang ditargetkan beroperasi mulai 2027.
Pembangunan Nou Mestalla juga terus menunjukkan kemajuan sepanjang 2026, termasuk pemasangan struktur pendukung atap dan pengerjaan bagian interior. Stadion berkapasitas 70.044 kursi tersebut diharapkan meningkatkan pendapatan pertandingan, hospitality, komersial, serta acara nonsepak bola.
Dari sisi bisnis, proyek tersebut menawarkan peluang besar untuk memperkuat pendapatan Valencia dalam jangka panjang. Namun, stadion modern tidak akan otomatis menyelesaikan masalah apabila keputusan olahraga, struktur perekrutan, kestabilan manajemen, dan hubungan dengan suporter tidak dibenahi secara bersamaan.
Itulah kontradiksi terbesar Valencia saat ini, karena klub sedang membangun rumah baru yang ambisius ketika tim utama justru terancam kehilangan status La Liga. Infrastruktur masa depan bergerak maju, sementara performa sepak bola menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah modern klub.
Ancaman degradasi bukan lagi sekadar retorika setelah Valencia berada di posisi ke-19 dengan lima poin dari delapan pertandingan. Mereka hanya menang sekali, telah menelan lima kekalahan, dan mempunyai selisih gol minus sembilan menuju pertandingan berikutnya menghadapi Athletic Club.
Bagi klub sebesar Valencia, turun kasta akan membawa konsekuensi jauh melampaui rasa malu secara olahraga karena pendapatan hak siar, daya tarik sponsor, dan kemampuan mempertahankan pemain dapat terdampak. Proyek pemulihan yang sudah sulit berpotensi menjadi jauh lebih rumit.
Namun, perspektif sebagian suporter juga memperlihatkan betapa dalam konflik dengan pemilik klub telah berkembang. Bahkan terdapat pendukung yang melihat degradasi sebagai harga ekstrem yang mungkin harus dibayar apabila tekanan tersebut akhirnya mendorong terjadinya perubahan kepemilikan.
Pandangan itu menunjukkan persoalan Valencia telah berkembang menjadi krisis identitas, bukan sekadar rentetan hasil buruk. Klub yang dahulu membangun reputasi melalui kontinuitas teknis dan hubungan kuat dengan Mestalla kini berjuang menemukan kembali arah olahraga sekaligus kepercayaan pendukungnya.
Sejarah sebenarnya memperlihatkan Valencia tidak membutuhkan sumber daya sebesar Real Madrid untuk menjadi kompetitif di level tertinggi. Era Ranieri, Cuper, dan Benitez membuktikan bahwa perekrutan tepat, struktur jelas, stabilitas, serta kekuatan kolektif dapat mengalahkan klub dengan anggaran jauh lebih besar.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah Valencia mampu menggunakan sejarah tersebut sebagai dasar kebangkitan atau justru terus bergerak menuju titik terendah berikutnya. Pertandingan demi pertandingan akan menentukan apakah kekhawatiran mengenai degradasi berubah menjadi kenyataan atau akhirnya hanya menjadi peringatan keras.
Bagi siapa pun yang mengingat Mendieta, Aimar, Baraja, Albelda, Ayala, Canizares, Vicente, serta malam-malam besar Mestalla, kondisi Valencia hari ini terasa sulit dipercaya. Dua final Liga Champions pernah menjadi standar ambisi mereka, tetapi bertahan di La Liga kini menjadi prioritas mendesak.
Valencia masih memiliki basis suporter besar, sejarah panjang, stadion baru yang hampir selesai, serta nama yang tetap memiliki daya tarik global. Namun, tanpa perubahan nyata pada pengelolaan olahraga, semua aset tersebut tidak akan cukup mengembalikan klub menuju posisi yang pernah mereka miliki.
Kejatuhan Valencia akhirnya menjadi pengingat bahwa status klub besar tidak pernah menjamin masa depan apabila fondasi organisasi melemah. Dari dua final Liga Champions menuju zona degradasi, perjalanan tersebut menunjukkan betapa cepat kejayaan dapat terkikis ketika keputusan buruk menumpuk selama bertahun-tahun.


