Bursa transfer Liga Inggris menghadirkan kesepakatan tidak biasa setelah Everton dan Crystal Palace menyelesaikan swap deal Brennan Johnson dengan Dwight McNeil tanpa pembayaran tambahan. Kedua winger bertukar klub setelah masing-masing mencapai kesepakatan kontrak berdurasi empat tahun.
Kesepakatan tersebut menjadi perhatian karena pertukaran pemain secara langsung tanpa tambahan uang semakin jarang terjadi dalam sepak bola modern. Johnson pindah menuju Everton, sedangkan McNeil meninggalkan The Toffees untuk memulai perjalanan baru bersama Crystal Palace.
ESPN sebelumnya melaporkan kedua klub mencapai kesepakatan pertukaran pada 10 Agustus 2026 sebelum para pemain menjalani pemeriksaan medis. Proses transfer kemudian bergerak menuju penyelesaian dengan kontrak jangka panjang sudah dipersiapkan bagi Johnson maupun McNeil.
Dalam swap deal tersebut, Johnson yang berusia 25 tahun meninggalkan Palace hanya beberapa bulan setelah bergabung dari Tottenham Hotspur. Sementara McNeil, 26 tahun, menutup perjalanan empat musim bersama Everton untuk mencari tantangan berbeda di London.
Kesepakatan ini menjadi salah satu transaksi paling menarik menjelang bergulirnya musim baru Liga Inggris. Tidak seperti sebagian besar transfer modern, Everton dan Palace tidak perlu mengirimkan pembayaran tambahan untuk menyeimbangkan nilai kedua pemain.
Johnson sebelumnya direkrut Crystal Palace dari Tottenham pada Januari 2026 dan diharapkan menjadi salah satu kekuatan baru sektor sayap. Namun, perjalanannya bersama Palace berlangsung singkat sehingga peluang pindah menuju Everton akhirnya terbuka pada musim panas.
McNeil memiliki pengalaman lebih panjang di Liga Inggris setelah bermain bersama Burnley sebelum bergabung dengan Everton pada 2022. Kemampuan kaki kiri, umpan silang, dan fleksibilitas bermain membuat winger Inggris tersebut menjadi tambahan menarik bagi lini serang Palace.
Bagi Everton, kehadiran Johnson menawarkan karakter berbeda karena pemain timnas Wales tersebut mempunyai kecepatan dan kemampuan menyerang ruang. Profil itu bisa memberikan variasi lebih besar ketika The Toffees melancarkan serangan balik maupun membangun serangan dari sisi lapangan.
Mengapa Swap Deal Murni Sangat Jarang Terjadi?
Istilah swap deal memang sering muncul di bursa transfer, tetapi pertukaran langsung satu pemain dengan pemain lain tanpa pembayaran tambahan relatif jarang terjadi. Nilai pasar, gaji, durasi kontrak, bonus, hingga pencatatan akuntansi biasanya membuat sebuah transaksi menjadi jauh lebih kompleks.
Karena itulah swap deal Johnson-McNeil menarik perhatian meski tidak melibatkan pemain dengan nilai transfer terbesar pada musim panas ini. Everton dan Palace berhasil menemukan kebutuhan berbeda yang dapat diselesaikan menggunakan aset pemain tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Sepanjang sejarah sepak bola Eropa terdapat beberapa kesepakatan serupa yang menghasilkan dampak sangat berbeda untuk klub masing-masing. Sebagian berhasil menciptakan legenda baru, sedangkan beberapa lainnya dikenang sebagai pertukaran yang justru merugikan salah satu pihak.
Salah satu swap deal paling terkenal di Liga Inggris terjadi pada Januari 2018 ketika Arsenal melepas Alexis Sanchez kepada Manchester United. Sebagai bagian kesepakatan, Henrikh Mkhitaryan bergerak menuju arah sebaliknya dan bergabung dengan The Gunners.
Sanchez sebenarnya sempat berada di ambang kepindahan menuju Manchester City, tetapi klub tersebut tidak memenuhi harga yang diminta Arsenal. Manchester United kemudian masuk dan menawarkan Mkhitaryan sebagai bagian pertukaran untuk mendapatkan bintang timnas Chile tersebut.
Arsene Wenger ketika itu menggambarkan transaksi tersebut sebagai pertukaran dua pemain kelas dunia. Kenyataannya, baik Sanchez maupun Mkhitaryan gagal memberikan pengaruh sebesar yang diharapkan setelah swap deal tersebut selesai.
Sanchez hanya mencetak lima gol dalam 43 pertandingan bersama Manchester United selama sekitar dua setengah tahun. Mkhitaryan juga hanya bertahan sekitar dua tahun di Arsenal dengan catatan sembilan gol dari 59 penampilan.
Menariknya, keduanya kemudian bertemu kembali sebagai rekan setim di Inter Milan setelah meninggalkan Liga Inggris. Sanchez dan Mkhitaryan bahkan menjadi bagian dari periode sukses Nerazzurri, termasuk perjalanan menuju gelar Serie A.
Arsenal Pernah Tukar Reyes dengan Baptista
Arsenal sebenarnya sudah melakukan swap deal jauh sebelum pertukaran Sanchez dan Mkhitaryan. Pada 2006, The Gunners dan Real Madrid bertukar pemain melalui kesepakatan peminjaman Jose Antonio Reyes dengan Julio Baptista selama satu musim.
Arsenal sudah menginginkan Baptista sejak musim panas sebelumnya, tetapi penyerang Brasil tersebut ketika itu memilih bergabung dengan Real Madrid. Kesulitan mendapatkan tempat di Santiago Bernabeu akhirnya membuka kesempatan baginya mencoba tantangan bersama klub London utara.
Reyes berada dalam situasi berbeda karena dirinya ingin kembali bermain di Spanyol setelah dua musim bersama Arsenal. Pertukaran tersebut akhirnya dinilai masuk akal karena kedua pemain membutuhkan lingkungan baru untuk mendapatkan kesempatan bermain lebih besar.
Baptista tidak mampu menjadi bintang besar Liga Inggris, tetapi sempat mencatat performa luar biasa di Piala Liga. Ia mengemas enam gol hanya dalam tiga pertandingan kompetisi tersebut ketika Arsenal berhasil mencapai partai final.
Reyes membuat 38 penampilan dan mencetak tujuh gol selama memperkuat Real Madrid. Pemain Spanyol tersebut kemudian membela Atletico Madrid, Benfica dan Sevilla sebelum meninggal dunia akibat kecelakaan mobil pada 2019.
Seedorf-Coco Jadi Pertukaran Paling Timpang
Tidak hanya Liga Inggris, kompetisi Italia juga mempunyai sejarah swap deal besar yang kemudian memberikan hasil sangat berbeda. Inter Milan dan AC Milan secara mengejutkan menukar Clarence Seedorf dengan Francesco Coco pada musim panas 2002.
Seedorf sebelumnya menghabiskan dua tahun bersama Inter tanpa berhasil memenangkan trofi, lalu diizinkan pindah menuju rival sekota. Coco yang ketika itu berstatus bek timnas Italia bergerak ke arah berlawanan setelah sebelumnya dipinjamkan AC Milan kepada Barcelona.
Perjalanan selanjutnya membuat swap deal tersebut terlihat sangat menguntungkan Rossoneri karena Seedorf berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah klub. Ia menghabiskan satu dekade di Milan dan memenangkan dua Serie A serta dua Liga Champions.
Karier Coco bersama Inter justru terus terganggu masalah cedera sehingga kontribusinya jauh di bawah ekspektasi. Setelah menjalani beberapa periode peminjaman, bek Italia tersebut akhirnya meninggalkan Inter pada 2007 dan kemudian mengakhiri karier profesionalnya.
Inter Juga Pernah Tukar Cannavaro dengan Carini
Inter kembali terlibat dalam swap deal kontroversial pada 2004 ketika Fabio Cannavaro pindah menuju Juventus. Sebagai gantinya, Bianconeri mengirim penjaga gawang Uruguay Fabian Carini ke Giuseppe Meazza dalam transaksi yang menilai keduanya sekitar 10 juta euro.
Hasil transaksi tersebut kemudian menjadi perdebatan karena Cannavaro berkembang menjadi salah satu bek terbaik dunia. Ia memimpin Italia menjuarai Piala Dunia 2006 dan kemudian memenangkan Ballon d’Or pada tahun yang sama.
Carini tidak mampu memberikan kontribusi sebanding karena hanya membuat empat penampilan bersama Inter selama tiga tahun. Setelah meninggalkan Italia menuju Murcia, masalah punggung kronis akhirnya menjadi salah satu faktor yang mempercepat berakhirnya karier sang kiper.
Cardiff-Stoke Pernah Bertukar Striker
Liga Inggris juga menyaksikan pertukaran pemain ketika Cardiff City dan Stoke City menukar Kenwyne Jones dengan Peter Odemwingie pada pertengahan musim 2013/2014. Kedua striker berpindah klub tanpa biaya tambahan setelah kesulitan mendapatkan performa terbaik di tim sebelumnya.
Jones hanya mencetak satu gol dalam 11 pertandingan selama sisa musim bersama Cardiff sehingga kepindahannya tidak memberikan perubahan besar. Odemwingie tampil sedikit lebih baik dengan menghasilkan lima gol dalam 15 pertandingan pertamanya bersama Stoke.
Namun, performa Odemwingie kemudian menurun dan lima gol tersebut menjadi kontribusi terbaiknya dalam periode panjang bersama klub. Kesepakatan itu kembali memperlihatkan bahwa swap deal tidak selalu menghasilkan solusi sempurna bagi kedua pihak.
Everton atau Palace, Siapa Lebih Untung?
Pertanyaan serupa kini muncul setelah Everton dan Crystal Palace menukar Brennan Johnson dengan Dwight McNeil. Kedua pemain memiliki gaya yang berbeda sehingga pemenang swap deal kemungkinan baru dapat dinilai setelah mereka mendapat kesempatan bermain reguler.
Johnson menawarkan kecepatan serta kemampuan menusuk pertahanan dari sisi kanan maupun kiri, sesuatu yang dapat menambah dimensi serangan Everton. Di sisi lain, McNeil menawarkan kualitas umpan, kreativitas, dan pengalaman panjang menghadapi tekanan pertandingan Liga Inggris.
Bagi Johnson, Everton memberikan kesempatan memulai kembali karier setelah periode bersama Palace tidak berjalan sesuai rencana. Kepindahan tersebut juga menawarkan kemungkinan mendapatkan peranan lebih besar daripada yang diperolehnya selama beberapa bulan terakhir.
McNeil mempunyai kesempatan serupa bersama Crystal Palace setelah masa depannya di Everton mulai menjadi tanda tanya. Palace sebenarnya sudah menunjukkan minat terhadap pemain berkaki kiri itu sebelumnya, sehingga transfer sekarang bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba.
Swap deal Johnson-McNeil akhirnya menjadi contoh bahwa klub Liga Inggris masih dapat menggunakan metode pertukaran pemain meski transaksi modern semakin kompleks. Tidak adanya pembayaran tambahan juga membuat kesepakatan tersebut berbeda dari mayoritas operasi transfer musim panas.
Kini perhatian beralih kepada performa kedua pemain setelah berganti seragam menjelang musim baru Liga Inggris. Jika salah satunya tampil jauh lebih baik, swap deal Everton dan Crystal Palace ini bisa segera masuk daftar pertukaran pemain paling menarik dalam sejarah kompetisi.



