Tottenham Hotspur menjalani bursa musim panas 2026 dengan pendekatan yang jauh lebih agresif dibandingkan kebiasaan mereka sebelumnya. Transfer Tottenham kali ini memperlihatkan dukungan penuh kepada Roberto De Zerbi untuk membangun tim sesuai gagasan sepak bolanya.
Klub bergerak cepat, menentukan target utama sejak awal, lalu menuntaskan beberapa kesepakatan sebelum pesaing sempat mengganggu. Strategi transfer Tottenham tersebut lahir dari pengalaman buruk ketika mereka terlalu lama bernegosiasi dan kehilangan pemain incaran.
Musim panas lalu, Tottenham disebut berada dalam posisi kuat untuk mendapatkan Morgan Gibbs-White dan Eberechi Eze, tetapi kedua operasi itu gagal. Mereka akhirnya merekrut Xavi Simons, pemain berkualitas yang membutuhkan waktu beradaptasi karena bukan pilihan utama.
Kesalahan serupa tidak ingin diulangi, sehingga enam pemain sudah diumumkan sebelum 6 Juli 2026. Jan Paul van Hecke, Martin Dubravka, Andy Robertson, Marcos Senesi, Mateus Fernandes, dan Sandro Tonali menjadi fondasi proyek baru.
Seluruh pemain tersebut datang dari klub yang tampil di Premier League musim sebelumnya dan memiliki pengalaman terkini di kompetisi Inggris. Van Hecke, Fernandes, serta Tonali menelan biaya gabungan 237 juta pound, sedangkan tiga lainnya direkrut gratis.
Status bebas transfer tidak berarti Dubravka, Robertson, dan Senesi hadir tanpa beban finansial yang berarti. Ketiganya diperkirakan memperoleh gaji cukup besar, sehingga total investasi transfer Tottenham tetap sangat tinggi dan berisiko untuk jangka panjang.
Ubah Total Strategi Transfer
Langkah ini menandai perubahan besar dari strategi perekrutan yang sebelumnya menekankan potensi pemain muda. Sejak musim panas 2024, Tottenham banyak berinvestasi kepada talenta berusia 20 tahun atau lebih muda dengan harapan berkembang menjadi bintang.
Archie Gray, Lucas Bergvall, Wilson Odobert, Mathys Tel, Kota Takai, Luka Vuskovic, dan Souza direkrut dalam rentang biaya lima juta hingga 40 juta pound. Hanya Odobert yang sudah mempunyai pengalaman Premier League, yakni 29 penampilan bersama Burnley.
Tottenham memang turut membeli pemain siap pakai seperti Dominic Solanke, Mohammed Kudus, dan Xavi Simons. Namun, jumlah perekrutan berorientasi masa depan masih lebih dominan, sehingga identitas proyek klub sebelumnya sangat bergantung pada pengembangan pemain muda.
Situasinya berubah pada transfer Tottenham musim panas ini karena hanya Mateus Fernandes yang berusia di bawah 22 tahun. Ia tetap dianggap siap bermain setelah tampil dalam 72 dari kemungkinan 76 pertandingan Premier League selama dua musim terakhir.
Lima pemain baru lainnya setidaknya sudah berusia 26 tahun, sebuah sinyal bahwa klub menginginkan hasil cepat. Tottenham tidak lagi sekadar membangun masa depan, melainkan berusaha menghindari ancaman degradasi dan kembali bersaing di papan atas.
Keputusan tersebut dapat dipahami karena De Zerbi menyelamatkan Tottenham tanpa bantuan rekrutan baru, di tengah skuad yang dihantam cedera. Keberhasilan itu membuat manajemen merasa pantas memenuhi permintaan pelatih, sementara pendukung menyambut proyek ini dengan antusias.
Ingin seperti Brighton
De Zerbi sebelumnya harus meninggalkan sebagian prinsip permainan berbasis penguasaan bola demi memperoleh hasil cepat. Sejak kedatangannya hingga akhir musim, Tottenham hanya mencatat 1,3 rangkaian 10 operan atau lebih yang berakhir dengan tembakan atau sentuhan di kotak penalti.
Hanya dua tim yang membukukan angka lebih rendah, sangat berbeda dari Brighton asuhan De Zerbi pada musim 2023/2024. Ketika itu, Brighton mencatat 4,4 rangkaian per laga, hanya tertinggal dari Manchester City dengan 7,7 dan Arsenal sebanyak 5,6.
Tujuan transfer Tottenham sekarang adalah mendekatkan gaya bermain tim kepada Brighton yang sabar dalam membangun serangan. De Zerbi menginginkan penguasaan bola lebih matang, sirkulasi lebih tenang, dan kemampuan progresi melalui area tengah lapangan.
Pada era Thomas Frank, Tottenham kesulitan membawa bola melewati pusat permainan dan terlalu sering mengoper ke samping atau belakang. Pendukung bahkan menyanyikan sindiran tersebut, sementara tim hanya menempati peringkat ke-15 untuk operan progresif dengan 19 per laga.
Operan progresif dalam analisis itu berarti umpan sukses dari permainan terbuka di dua pertiga wilayah menyerang yang mendekatkan bola sedikitnya 25 persen menuju gawang. Kelemahan tersebut menjelaskan mengapa De Zerbi meminta pengaruh lebih besar dalam transfer Tottenham.
Rekrut Dua Bek Spesialis Umpan Progresif
Senesi menjadi pemain dengan operan progresif terbanyak di Premier League musim lalu, yakni 233 atau rata-rata 6,3 per 90 menit. Van Hecke menempati posisi ketiga dengan 191 operan progresif atau 5,4 per 90 menit.
Van Hecke juga memimpin liga dengan 459 operan pemecah garis, sedangkan Senesi berada tepat di belakangnya dengan 420. Keduanya bukan sekadar mengirim bola kepada gelandang terdekat, tetapi sanggup membongkar beberapa lapisan struktur pertahanan lawan.
Senesi mencatat 72 umpan yang memecah dua garis permainan dan Van Hecke menghasilkan 51 umpan serupa. Senesi juga menjadi pemain terbaik liga untuk operan yang menembus tiga garis sekaligus, dengan total delapan percobaan sukses.
Karakter tersebut sangat sesuai dengan pendekatan De Zerbi yang menginginkan serangan dimulai secara berani dari pertahanan. Kedua bek baru itu dapat membantu Tottenham melewati tekanan lawan tanpa selalu mengandalkan umpan panjang yang mudah kehilangan sasaran.
Mateus Fernandes Jadi Senjata Baru Tottenham
Mateus Fernandes menghadirkan karakter gelandang tahan tekanan yang berani meminta bola di ruang sempit. Ia menyelesaikan 87,5 persen operan Premier League musim lalu, dan angkanya hanya turun menjadi 86,5 persen ketika lawan berada dalam jarak dua meter.
Dari 156 pemain dengan sedikitnya 2.000 menit, hanya 13 yang mencatat akurasi lebih baik saat menerima tekanan tinggi. Lima di antaranya merupakan bek tengah, sedangkan hanya Andre dari Wolverhampton yang juga membela tim di bawah peringkat ke-11.
Di antara 94 pemain nonbek dengan sedikitnya 2.000 menit, Fernandes menempati urutan ke-15 untuk operan pemecah garis dengan 6,5 per 90 menit. Catatan itu istimewa karena timnya hanya memiliki rata-rata penguasaan bola 42,3 persen, terendah di liga.
Fernandes diproyeksikan menjadi penghubung penting antara pertahanan dan lini serang dalam sistem baru Tottenham. Kemampuannya menerima bola di bawah tekanan dapat mengurangi kesalahan sekaligus membantu tim keluar dari jebakan pressing lawan.
Sandro Tonali Tambah Kekuatan Lini Tengah
Tonali menambahkan kekuatan fisik dan ketahanan setelah Tottenham memutuskan tidak mempermanenkan peminjaman Joao Palhinha. Ia mungkin tidak sekuat Palhinha dalam merebut bola, tetapi menawarkan kualitas teknis dan progresi yang lebih baik.
Dari 156 pemain dengan sedikitnya 2.000 menit, Tonali masuk 20 besar untuk operan progresif dengan 3,3 per 90 menit. Conor Gallagher menjadi gelandang Tottenham terdekat, tetapi hanya mencatat 2,1 per 90 menit dalam jumlah penampilan lebih sedikit.
Kedatangan Tonali membuat Tottenham memiliki gelandang yang mampu bertahan, membawa bola, dan mengirimkan umpan vertikal. Karakter tersebut memberi De Zerbi lebih banyak pilihan dibandingkan ketika tim bergantung kepada gelandang dengan profil permainan yang serupa.
Robertson memberikan kedalaman, pengalaman, dan mentalitas juara kepada skuad yang sebelumnya sangat muda. Meski telah berusia 32 tahun dan masa terbaiknya mungkin berlalu, ia masih dapat berkontribusi melalui rotasi seperti beberapa musim terakhirnya di Liverpool.
Masalah Terbesar Tottenham Justru Ada di Lini Depan
Masalah terbesar transfer Tottenham justru belum disentuh karena tidak ada pembaruan berarti di lini serang. Tottenham hanya mencetak 48 gol pada musim 2025/2026, angka terendah mereka dalam satu musim Premier League sejak 2008/2009.
Catatan itu sangat mengkhawatirkan karena Tottenham selalu mencetak sedikitnya 61 gol dalam masing-masing dari 10 musim sebelumnya. Cedera memang berpengaruh, tetapi kondisi tersebut sekaligus menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap tambahan penyerang yang lebih dapat diandalkan.
Odobert, Kudus, Simons, James Maddison, dan Dejan Kulusevski masih mengalami cedera serius atau berada dalam proses pemulihan. Kondisi itu menyisakan Solanke, Richarlison, dan Tel sebagai pilihan bugar, padahal dua nama pertama juga sering bermasalah dengan kebugaran.
Melihat cara De Zerbi memperbarui pertahanan dan lini tengah, Tottenham kemungkinan membutuhkan dua hingga tiga pemain menyerang tambahan. Besarnya dana yang telah dikeluarkan menunjukkan transfer Tottenham belum berhenti, kecuali klub kembali menemukan peluang pemain bebas transfer.
Tottenham Masih Mencari Pengganti Gol Kane dan Son
Menggantikan kontribusi gol Harry Kane dan Son Heung-min memang tidak mudah, meski klub telah menghabiskan 125 juta pound untuk Solanke dan Richarlison. Pasar penyerang nomor sembilan juga tidak menawarkan banyak pilihan siap pakai yang berkualitas serta terjangkau.
De Zerbi tampaknya kurang tertarik menjalani proses panjang bersama pemain muda, terlihat dari penjualan Will Lankshear kepada Middlesbrough. Penyerang akademi berusia 21 tahun itu dilepas dengan nilai yang dapat meningkat hingga 20 juta pound.
Keputusan tersebut menunjukkan Tottenham kemungkinan menginginkan penyerang yang bisa langsung memimpin lini depan. Masalahnya, pemain dengan pengalaman Premier League, produktivitas teruji, dan harga masuk akal sangat sulit ditemukan pada bursa musim panas.
Di sisi kanan, Kudus tetap menjadi pilihan bagus, tetapi Tottenham membutuhkan alternatif dengan kualitas sepadan. Pada sisi kiri, Tel dan Odobert belum memberikan ancaman konsisten di Premier League serta masih memerlukan waktu untuk berkembang.
Tottenham Bidik Marcus Rashford dan Savinho
Laporan menyebut transfer Tottenham mengarah kepada Marcus Rashford dari Manchester United dan Savinho dari Manchester City. Keduanya sedang tidak menjadi pilihan utama di klub masing-masing, tetapi biaya perekrutan mereka dipastikan tidak murah dan negosiasinya belum dekat.
Rashford dapat menawarkan pengalaman, kecepatan, serta kemampuan bermain di sisi kiri maupun sebagai penyerang tengah. Savinho memiliki kreativitas dan keberanian dalam duel satu lawan satu, tetapi Tottenham harus menyiapkan investasi besar untuk meyakinkan Manchester City.
Kehadiran salah satu dari keduanya akan meningkatkan variasi serangan dan mengurangi ketergantungan kepada pemain yang sedang cedera. Namun, perekrutan winger saja belum tentu menyelesaikan persoalan apabila Tottenham tetap tidak mempunyai penyerang tengah yang konsisten.
Tottenham Mengambil Risiko Besar bersama De Zerbi
Gelombang belanja ini memberi harapan baru kepada pendukung setelah proyek Thomas Frank tidak pernah benar-benar meyakinkan. Namun, keputusan memberikan kendali besar kepada De Zerbi membawa risiko karena pelatih Italia tersebut dikenal memiliki karakter kuat dan perjalanan karier yang bergejolak.
De Zerbi gagal menyelesaikan dua musim penuh di enam dari delapan klub sebelumnya. Pada dua klub lainnya, masa kerjanya juga tidak pernah melewati tiga musim, sehingga Tottenham harus mempertimbangkan kemungkinan proyek ini berakhir lebih cepat daripada rencana.
Apabila De Zerbi pergi dalam dua tahun, klub dapat ditinggalkan pemain mahal dengan gaji tinggi yang direkrut khusus untuk kebutuhan taktisnya. Situasi itu membuat transfer Tottenham berpotensi menjadi beban besar bagi pelatih berikutnya dan struktur keuangan klub.
Risiko terhadap proyek muda juga sudah terlihat karena Vuskovic dijual kepada Brighton, sementara Bergvall dikabarkan dapat menyusul. De Zerbi disebut bukan pengagum Gray, yang jarang dimainkan pada akhir musim lalu, sedangkan Pape Sarr juga berpeluang dilepas.
Masa Depan Tottenham Dipertaruhkan
Perubahan dari strategi pengembangan pemain muda menuju pencarian hasil instan berlangsung sangat cepat dan dramatis. Pendekatan tersebut dapat berhasil apabila De Zerbi membawa Tottenham kembali ke papan atas, tetapi kegagalan akan menghasilkan biaya finansial serta olahraga yang besar.
Klub kini memiliki pemain yang lebih matang, berpengalaman, dan cocok dengan tuntutan pelatih. Sebaliknya, Tottenham berisiko kehilangan aset muda yang sebelumnya disiapkan sebagai fondasi jangka panjang serta memiliki nilai jual tinggi.
Berdasarkan analisis The Analyst, Tottenham memang mengambil risiko besar, tetapi penunjukan De Zerbi sejak awal juga merupakan perjudian. Sejauh ini ia memenuhi harapan klub, sehingga manajemen wajar memberinya dukungan penuh sebelum menilai hasil akhirnya.
Tottenham telah memilih jalur yang jelas dengan mendahulukan hasil cepat daripada proses pengembangan bertahap. Apabila proyek De Zerbi berhasil, kebijakan ini akan dipandang visioner, tetapi kegagalan dapat menjadikannya salah satu kesalahan transfer paling mahal dalam sejarah klub.



