Perjalanan Kolombia di Piala Dunia 2026 tidak hanya ditentukan oleh permainan Luis Díaz dan rekan-rekannya di atas lapangan. Ribuan suporter La Tricolor yang mengikuti tim dari Meksiko hingga Kanada juga menjelma menjadi kekuatan penting di belakang skuad Néstor Lorenzo.
Setelah tampil di Mexico City, Guadalajara, Miami, dan Kansas City, perjalanan Kolombia terus bergerak ke arah utara. Kini, “demam kuning” diperkirakan memenuhi Vancouver ketika mereka menghadapi Swiss pada babak 16 besar, Selasa waktu setempat.
Tim ini mengejar tiket perempat final pertamanya sejak Piala Dunia 2014 di Brasil. Saat itu, dukungan masif para penggemar ikut mengiringi generasi James Rodríguez mencapai pencapaian terbaik sepanjang sejarah tim nasional tersebut.
Dua belas tahun kemudian, pemandangan serupa kembali muncul di Amerika Utara. Stadion, jalanan kota, hotel, hingga pusat transportasi berubah menjadi lautan kuning setiap kali pertandingan Kolombia mendekat.
Dukungan suporter selama Piala Dunia 2026 membuat beberapa lawan merasa bermain di kandang lawan. Jumlah penggemar yang memenuhi stadion memberi atmosfer luar biasa, bahkan di kota-kota yang tidak memiliki komunitas dalam jumlah besar.
Pelatih Portugal, Roberto Martínez, sudah mengakui besarnya pengaruh tersebut sebelum menghadapi Kolombia di Miami. Ia menyebut timnya harus menjaga emosi dan tetap mampu mengendalikan pertandingan di tengah dominasi suporter lawan.
Kekhawatiran Martínez terbukti karena tribun stadion dipenuhi pendukung berbaju kuning. Setiap keberhasilan Kolombia merebut bola, menyerang, maupun menciptakan peluang disambut suara keras yang memberikan tekanan tambahan kepada para pemain Portugal.
Atmosfer serupa kembali terlihat saat bertemu Ghana di Kansas City. Kota tersebut bukan pusat populasi warga Kolombia, tetapi stadion tetap terlihat seperti kandang sendiri bagi tim asuhan Néstor Lorenzo.
Carlos Queiroz, pelatih Ghana yang pernah menangani Kolombia, mengakui pengaruh besar para pendukung tersebut. Ia menilai beberapa pemain Ghana kehilangan ketenangan karena harus menghadapi tekanan dari puluhan ribu penonton yang mendukung lawan.
Queiroz bahkan menyebut tim ini sudah mulai memenangi pertandingan sejak lagu kebangsaan diperdengarkan. Kehadiran sekitar 60.000 suporter menjadi pemain ke-12 yang mampu mengganggu konsentrasi tim Ghana sepanjang pertandingan.
Sambutan luar biasa tidak hanya dirasakan pemain saat berada di stadion. Menjelang pertandingan melawan Ghana, skuad Kolombia keluar ke balkon hotel setelah mendengar para suporter bernyanyi dan memberikan dukungan dari luar bangunan.
Sejumlah pemain terlihat terharu menyaksikan antusiasme tersebut. Luis Díaz kemudian menyampaikan rasa terima kasih melalui media sosial dan menyebut para pendukung tim ini sebagai kelompok suporter yang luar biasa.
Díaz menjadi salah satu pemain paling penting bagi tim ini selama Piala Dunia 2026. Perannya semakin menonjol ketika James Rodríguez belum mampu memberikan pengaruh sebesar yang pernah ditunjukkannya pada turnamen 2014.
James bahkan digantikan pada jeda pertandingan ketika Kolombia menyingkirkan Ghana. Meski begitu, kapten tim ini tersebut tetap memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan kepada suporter sebelum turnamen dimulai.
Ia meminta para penggemar menjaga energi positif dan mendukung tim dengan cara yang benar. Pesan itu disampaikan setelah sempat terjadi masalah yang melibatkan suporter ketika Kolombia tampil di Copa América 2024 di Amerika Serikat.
Tempuh Lebih dari 11.000 Kilometer
Perjalanan Juan Carlos Mila bersama keluarganya menjadi gambaran nyata besarnya pengorbanan suporter Kolombia. Pria berusia 54 tahun itu belum pernah menyaksikan Piala Dunia secara langsung sebelum berangkat ke Amerika Utara tahun ini.
Mila terbang bersama istri, anak-anak, dan pasangan mereka menuju Mexico City untuk menyaksikan pertandingan pembuka melawan Uzbekistan. Mereka kemudian kembali ke Kolombia karena gagal memperoleh tiket pertandingan berikutnya menghadapi Republik Demokratik Kongo di Guadalajara.
Ketika tim imi melanjutkan perjuangan ke Amerika Serikat, keluarga itu memutuskan memberikan dukungan secara total. Mereka menyewa sebuah minivan dan melakukan perjalanan panjang melintasi berbagai negara bagian demi mengikuti setiap pertandingan.
Perjalanan tersebut telah menembus sekitar 7.000 mil atau lebih dari 11.000 kilometer. Mereka menyaksikan pertandingan menghadapi Portugal di Miami sebelum bergerak menuju Kansas City untuk laga fase gugur melawan Ghana.
Perjalanan keluarga Mila tidak berhenti setelah Kansas City. Mereka bahkan berencana menuju New York dengan harapan tim ini mampu melaju hingga pertandingan final Piala Dunia 2026.
Jual Atribut untuk Membiayai Perjalanan
Perjalanan lintas negara tentu membutuhkan biaya besar untuk kendaraan, bahan bakar, makanan, dan penginapan. Demi mengurangi beban tersebut, anak-anak Mila menjual berbagai atribut Kolombia kepada sesama pendukung selama turnamen berlangsung.
Mereka membawa kaus, topi vueltiao, topi biasa, dan bendera Kolombia. Hasil penjualan digunakan untuk membantu membayar biaya sewa minivan, bensin, hotel, serta kebutuhan sehari-hari selama mengikuti perjalanan tim nasional.
Mila sempat bertanya apakah anak-anaknya merasa malu harus berjualan selama Piala Dunia. Mereka menjawab bahwa bekerja secara jujur bukan sesuatu yang memalukan karena rasa malu seharusnya muncul ketika seseorang tertangkap mencuri.
Keluarga tersebut juga menyiapkan bendera Kolombia sepanjang enam meter agar mudah dikenali di stadion. Mereka memotong enam lubang pada bendera itu sehingga setiap anggota keluarga dapat memasukkan kepala dan berdiri bersama.
Tulisan “Colombia Mundial 2026” ditempatkan pada bagian utama bendera. Atribut unik tersebut membuat mereka menonjol di antara ribuan pendukung lain yang memenuhi stadion dengan warna kuning.
Fenomena perpindahan besar suporter Kolombia mengingatkan publik pada Piala Dunia 2014. Saat itu, ribuan pendukung pergi ke Brasil karena jaraknya relatif dekat dan Kolombia baru kembali ke Piala Dunia setelah absen hampir satu generasi.
James Rodríguez kemudian menjadi bintang utama turnamen tersebut. Penampilan gemilangnya membawa Kolombia mencapai perempat final dan melahirkan kenangan yang masih melekat kuat bagi para penggemar hingga sekarang.
Pada 2026, dukungan itu kembali terlihat meski jarak antarkota jauh lebih besar. Para penggemar harus menempuh perjalanan lintas negara dari Meksiko menuju Amerika Serikat, kemudian berlanjut ke Kanada.
Kehadiran mereka membawa suasana ceria di berbagai kota tuan rumah. Pakaian berwarna kuning, tarian, musik, topi tradisional, dan bendera nasional menjadi bagian dari pemandangan menjelang pertandingan Kolombia.
Dukungan tersebut tidak hanya berasal dari warga yang datang langsung dari Kolombia. Komunitas diaspora di Amerika Utara juga bergabung dan membantu menciptakan atmosfer seperti pertandingan kandang.
Jersey Kolombia Sempat Menjadi Kontroversi Politik
Di tengah persatuan yang muncul melalui sepak bola, jersey tim nasional Kolombia sempat menimbulkan polemik politik di dalam negeri. Awal Piala Dunia bertepatan dengan putaran kedua pemilihan presiden negara tersebut.
Abelardo de la Espriella, kandidat sayap kanan yang kemudian menjadi presiden terpilih, muncul di ruang publik menggunakan jersey Kolombia. Tindakan tersebut mendapat kritik dari rival politiknya, Iván Cepeda.
Cepeda menilai tim nasional merupakan milik seluruh rakyat Kolombia. Karena itu, penggunaan jersey untuk kepentingan politik, ideologis, maupun pribadi dianggap sebagai tindakan oportunistis yang perlu diperiksa konsekuensi hukumnya.
Federasi Sepak Bola Kolombia kemudian menyatakan tidak memiliki kapasitas hukum untuk membatasi pemakaian jersey tim nasional. Cepeda pada akhirnya juga terlihat mengenakan jersey tersebut dalam sejumlah kegiatan kampanye.
Terlepas dari polemik itu, tim nasional tetap menjadi salah satu simbol pemersatu terbesar masyarakat Kolombia. Kesuksesan di Piala Dunia membuat perbedaan politik sementara tersisih oleh harapan bersama terhadap tim Néstor Lorenzo.



