Ster Habibzadeh pernah harus memotong rambutnya agar terlihat seperti anak laki-laki ketika bermain sepak bola di jalanan Teheran, Iran. Puluhan tahun kemudian, perempuan berusia 36 tahun tersebut justru berdiri di pinggir lapangan Liga Champions Wanita sebagai pelatih kepala klub Belgia, OH Leuven.
Perjalanan hidup Ster Habibzadeh menghadirkan kisah luar biasa tentang keberanian menghadapi batasan sosial, meninggalkan tanah kelahiran, dan membangun karier di negara asing. Ia pernah kehilangan hampir seluruh kenyamanan sebagai pesepak bola profesional sebelum menemukan jalan baru menuju panggung tertinggi sepak bola perempuan Eropa.
Tidak banyak yang membayangkan anak perempuan yang dahulu harus menyembunyikan identitasnya demi bermain sepak bola kini memimpin sebuah klub menghadapi raksasa Eropa. Bahkan, Habibzadeh sendiri mengaku akan menganggapnya sebagai lelucon apabila seseorang meramalkan masa depannya ketika ia masih kecil.
Kisah tersebut semakin menarik karena keberhasilannya tidak datang melalui jalur yang mudah, sekalipun ia memiliki pengalaman sebagai pemain tim nasional Iran. Ketika pindah ke Belanda pada usia 23 tahun, Habibzadeh justru menghadapi kenyataan pahit yang hampir menghentikan perjalanan karier sepak bolanya.
Namun, keputusan untuk tidak menyerah membawanya memasuki dunia kepelatihan, mulai dari membangun tim perempuan di kasta bawah hingga meraih kepercayaan klub profesional. Kini, Ster Habibzadeh menjadi salah satu pelatih perempuan yang mendapat perhatian dalam persaingan Liga Champions Wanita musim 2026/2027.
Ster Habibzadeh, dari Jalanan Teheran hingga Melawan Batasan bagi Perempuan
Bagi Ster Habibzadeh, kecintaan terhadap sepak bola muncul jauh sebelum dirinya memahami bahwa olahraga tersebut dapat menjadi jalan hidup. Sejak kecil, ia menghabiskan waktu bermain bola bersama saudara laki-lakinya di jalanan Teheran, meskipun lingkungan sosial tidak selalu menerima aktivitas tersebut.
Tumbuh sebagai anak perempuan yang menyukai sepak bola di Iran menghadirkan tantangan tersendiri karena olahraga tersebut lebih sering diasosiasikan dengan laki-laki. Habibzadeh harus mencari cara agar tetap dapat bermain tanpa menarik perhatian orang-orang yang mempertanyakan kehadirannya.
Salah satu keputusan paling berani dalam masa kecilnya adalah memotong rambut hingga pendek supaya penampilannya menyerupai anak laki-laki. Langkah sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana kecintaan terhadap sepak bola membuatnya berusaha melewati batasan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam wawancara dengan GOAL yang dipublikasikan pada 28 Oktober 2026, Habibzadeh mengenang bahwa bermain bersama anak laki-laki bukan sesuatu yang lazim bagi perempuan seusianya. Namun, kecintaannya terhadap sepak bola membuat ia tidak ingin menyerah hanya karena lingkungan memiliki pandangan berbeda.
“Saya memotong rambut agar orang-orang mengira saya laki-laki,” ungkap Habibzadeh ketika mengingat masa kecilnya di ibu kota Iran. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa sejak usia muda ia telah memiliki keberanian untuk mempertahankan sesuatu yang benar-benar dicintainya.
Habibzadeh juga mengenang bahwa dirinya berbeda dari gambaran anak perempuan yang umum dijumpai dalam lingkungan sosial ketika itu. Alih-alih menghabiskan waktu bermain boneka, ia lebih memilih mengejar bola dan mengembangkan kemampuan bersama anak-anak laki-laki.
Meski menghadapi berbagai hambatan, kecintaan tersebut akhirnya membuka jalan menuju sepak bola profesional ketika bakatnya mulai mendapatkan pengakuan. Pada usia 17 tahun, Ster Habibzadeh berhasil menandatangani kontrak profesional pertama dan memulai perjalanan yang membawanya menuju tim nasional Iran.
Ia kemudian memperkuat Malavan sebelum melanjutkan karier bersama Shiraz, dua klub yang memberikan kesempatan mengembangkan kemampuannya sebagai pemain. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting karena ia tidak hanya memperoleh kesempatan berkompetisi, tetapi juga merasakan kehidupan sebagai pesepak bola profesional.
Prestasinya semakin berkembang setelah Habibzadeh dipercaya memperkuat tim nasional perempuan Iran dan mencatatkan 21 penampilan internasional. Kesempatan tersebut menjadi pencapaian istimewa mengingat perjalanan awalnya dimulai dari jalanan Teheran dengan berbagai keterbatasan sosial.
Namun, pengalaman bermain di level tertinggi dalam negeri tidak membuat Habibzadeh berhenti bermimpi mengenai kesempatan lebih besar di luar Iran. Ia mulai melihat Eropa sebagai tempat yang dapat memberikan perkembangan karier, akses pelatihan, dan kehidupan sepak bola perempuan yang lebih menjanjikan.
Harapan tersebut akhirnya mendorong keputusan besar ketika ia meninggalkan Iran pada usia 23 tahun untuk memulai kehidupan baru di Belanda. Sayangnya, kenyataan yang ditemukannya justru sangat berbeda dari gambaran kehidupan sepak bola profesional yang selama ini dibayangkan.
Meninggalkan Iran demi Eropa, Ster Habibzadeh Justru Harus Memulai dari Bawah Nol
Ketika memutuskan pindah ke Belanda, Ster Habibzadeh sudah memiliki pengalaman bermain di kompetisi tertinggi Iran dan membela tim nasional. Ia berharap kepindahan tersebut akan mempertemukannya dengan sistem sepak bola perempuan yang lebih berkembang serta lingkungan profesional yang mendukung kariernya.
Namun, Habibzadeh justru menemukan bahwa sepak bola perempuan di Belanda pada periode tersebut belum sepenuhnya memberikan kesempatan bekerja sebagai pemain profesional penuh waktu. Kondisi itu menjadi kejutan besar karena sebelumnya ia memperoleh fasilitas dan dukungan yang cukup baik selama bermain di Iran.
Perbedaan paling terasa berkaitan dengan kebutuhan ekonomi karena pendapatan sebagai pemain sepak bola tidak mencukupi biaya kehidupan sehari-hari di negara barunya. Ia harus memikirkan pekerjaan, biaya tempat tinggal, kebutuhan makanan, serta pengeluaran rumah tangga yang sebelumnya tidak menjadi hambatan sebesar itu.
Bagi pemain yang masih tinggal bersama orang tua, menerima penghasilan beberapa ratus euro setiap bulan mungkin cukup untuk melanjutkan karier sepak bola. Namun, keadaan berbeda bagi Habibzadeh karena ia harus memenuhi seluruh kebutuhan hidup sendiri tanpa dukungan keluarga yang berada di dekatnya.
Situasi tersebut membuat pilihan bermain di divisi teratas menjadi sulit dipertahankan apabila ia juga harus bekerja penuh waktu. Jadwal latihan dan pertandingan tidak selalu dapat disesuaikan dengan kebutuhan mencari penghasilan sehingga Habibzadeh harus mempertimbangkan masa depannya secara realistis.
Keputusan meninggalkan Iran ternyata bukan hanya berarti kehilangan kedekatan dengan keluarga, melainkan juga mengorbankan posisi yang telah dibangunnya sebagai pemain profesional. Pada usia yang seharusnya menjadi periode produktif dalam karier, Habibzadeh justru harus menyusun kembali seluruh rencana hidupnya.
Ia menggambarkan masa tersebut sebagai pengalaman yang jauh lebih berat daripada sekadar memulai karier dari titik awal. Menurut Habibzadeh, dirinya bahkan harus memulai dari posisi di bawah nol karena tidak memiliki jaringan maupun pengakuan di lingkungan sepak bola Eropa.
Ungkapan tersebut mencerminkan kesulitan yang dihadapi banyak atlet ketika berpindah ke lingkungan baru tanpa dukungan finansial dan sistem profesional yang memadai. Pengalaman internasional tidak selalu menjamin kesempatan karena adaptasi budaya, bahasa, dan kebutuhan ekonomi dapat menjadi hambatan besar.
Habibzadeh akhirnya mengambil keputusan yang mengubah arah kehidupannya dengan bermain di kompetisi kasta bawah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pilihan tersebut memberinya kesempatan tetap terlibat dalam sepak bola karena latihan biasanya berlangsung pada malam hari setelah pekerjaan selesai.
Pada saat bersamaan, ia mulai memusatkan perhatian pada pendidikan kepelatihan dan berusaha mendapatkan lisensi UEFA yang diperlukan untuk membangun karier baru. Ia juga mempelajari bahasa Belanda serta berusaha memahami budaya dan struktur sepak bola di negara tempat tinggalnya.
Proses itu berlangsung tanpa kehadiran keluarga yang dapat memberikan dukungan langsung ketika berbagai kesulitan muncul dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, Habibzadeh bertekad menjadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan mengembangkan kemampuan dan membangun masa depan yang berbeda.
Alih-alih memandang kegagalan rencana awal sebagai akhir perjalanan, Habibzadeh mengubahnya menjadi pintu masuk menuju dunia kepelatihan sepak bola. Keputusan tersebut kelak menjadi langkah paling menentukan dalam perjalanan panjangnya menuju Liga Champions Wanita.
Membangun Tim dari Divisi Lima, Awal Kebangkitan Karier Ster Habibzadeh
Perjalanan Ster Habibzadeh sebagai pelatih mulai menemukan arah ketika ia mendapatkan kesempatan mengembangkan sepak bola perempuan bersama klub Belgia, Patro Eisden. Sebelumnya, ia telah berusaha mengumpulkan pengalaman kepelatihan sambil melanjutkan pendidikan dan meningkatkan kemampuan komunikasi dalam bahasa Belanda.
Habibzadeh awalnya terlibat dalam pembinaan pemain muda sebelum mendapat tanggung jawab yang lebih besar untuk membentuk tim perempuan di klub tersebut. Tantangan itu tidak sederhana karena ia harus membangun fondasi sebuah tim yang belum memiliki pengalaman panjang dalam kompetisi.
Membentuk tim baru membutuhkan lebih dari sekadar menyusun sebelas pemain karena pelatih juga harus membangun budaya kerja, kedisiplinan, serta kepercayaan antarpemain. Bagi Habibzadeh, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan kepelatihan yang diperolehnya selama menjalani proses adaptasi di Eropa.
Hasilnya melampaui harapan ketika tim yang dibangun dari awal tersebut mampu mencatatkan promosi secara beruntun dalam kompetisi sepak bola perempuan Belgia. Patro Eisden akhirnya berhasil naik dari divisi lima hingga mencapai divisi dua, sebuah perkembangan yang memperlihatkan kualitas kepemimpinannya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Habibzadeh bukan hanya memiliki kemampuan melatih secara teknis, melainkan juga memahami proses pengembangan tim. Ia mampu membawa kelompok pemain yang relatif baru menuju tingkat persaingan lebih tinggi melalui pendekatan yang berkelanjutan.
Prestasi bersama Patro Eisden kemudian menarik perhatian Club Brugge, salah satu klub dengan reputasi besar dalam sepak bola Belgia. Pada musim panas 2025, Habibzadeh memperoleh kesempatan bergabung dengan tim perempuan klub tersebut sebagai asisten pelatih.
Kesempatan bekerja di Club Brugge memperluas pengalamannya karena ia dapat mengenal tuntutan profesional yang berbeda dibandingkan ketika membangun tim dari kasta bawah. Ia juga memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pengelolaan pemain dan persiapan menghadapi pertandingan di kompetisi tertinggi.
Perkembangan tersebut memperlihatkan jalur karier yang tidak biasa karena Habibzadeh memulai dari pembinaan usia muda sebelum memperoleh kesempatan di klub besar. Pengalaman membangun tim dari divisi bawah menjadi modal berharga ketika ia akhirnya dipercaya memimpin klub dengan tuntutan lebih tinggi.
Peluang besar tersebut datang pada musim panas 2026 ketika Arno Van den Abbeel meninggalkan posisi pelatih kepala tim perempuan OH Leuven. Habibzadeh mengajukan lamaran untuk menggantikannya dan berhasil mendapatkan kepercayaan manajemen klub yang berstatus sebagai juara Belgia.
Penunjukan itu memiliki arti penting karena OH Leuven sebelumnya sudah membangun reputasi sebagai kekuatan baru dalam sepak bola perempuan Belgia. Dalam pengumuman resminya, klub menyoroti filosofi sepak bola modern, dedikasi, dan kemampuan pengembangan pemain yang dimiliki Habibzadeh.
Bagi Habibzadeh, kesempatan tersebut merupakan puncak dari proses panjang yang dimulai ketika ia harus bekerja sambil bermain sepak bola di Belanda. Namun, tanggung jawab baru itu juga menghadirkan tekanan lebih besar karena ia harus mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pendahulunya.
OH Leuven dan Tantangan Mempertahankan Kejutan di Liga Champions Wanita
Ster Habibzadeh tidak mengambil alih tim yang sedang membangun prestasi dari awal, melainkan klub yang telah mencatatkan kesuksesan penting. OH Leuven baru saja mengamankan dua gelar liga Belgia secara beruntun, sekaligus menorehkan sejarah melalui penampilan di Liga Champions Wanita.
Musim sebelumnya, OH Leuven bahkan berhasil mencapai fase gugur kompetisi elite Eropa meskipun tidak memiliki reputasi sebesar klub-klub unggulan. Perjalanan mereka akhirnya dihentikan Arsenal pada babak play-off menuju perempat final, tetapi pencapaian tersebut meningkatkan perhatian terhadap klub Belgia itu.
Situasi menjadi lebih menantang bagi Habibzadeh karena OH Leuven kehilangan sejumlah pemain penting sepanjang bursa transfer musim panas 2026. Pergantian komposisi tersebut memaksanya membangun kembali keseimbangan tim ketika tuntutan mempertahankan prestasi tetap berada pada tingkat tinggi.
OH Leuven juga memiliki skuad dengan rata-rata usia paling muda di antara 18 peserta fase liga Liga Champions Wanita musim 2026/2027. Kondisi tersebut menciptakan tantangan tersendiri karena banyak pemain harus menghadapi lawan berpengalaman dalam kompetisi Eropa.
Namun, pengalaman Habibzadeh dalam membangun tim dari level bawah memberikan bekal penting ketika menghadapi situasi yang menuntut pengembangan pemain muda. Ia memahami bahwa pencapaian tidak selalu dibangun melalui nama besar, tetapi juga disiplin, keberanian, dan kepercayaan terhadap kemampuan pemain.
Perjalanan menuju fase liga dimulai dengan menghadapi TSC Bačka Topola dari Serbia dalam pertandingan kualifikasi yang menjadi pengalaman emosional bagi Habibzadeh. Mendengar lagu Liga Champions ketika berdiri sebagai pelatih kepala membuatnya menyadari betapa jauh perjalanan hidup yang telah ditempuh.
Habibzadeh menggambarkan perasaan tersebut seperti seekor burung yang terbang bebas karena kesempatan itu pernah terlihat mustahil ketika ia masih kecil. Pengalaman tersebut juga menjadi simbol keberhasilan menghadapi berbagai kesulitan yang pernah mengancam kelangsungan kariernya.
OH Leuven kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyingkirkan Czarni Sosnowiec dari Polandia melalui kemenangan agregat 6-2 pada babak kualifikasi berikutnya. Keberhasilan tersebut memastikan klub kembali tampil di fase liga untuk menghadapi beberapa kekuatan terbesar sepak bola perempuan Eropa.
Tantangan pertama datang ketika OH Leuven menjamu AS Roma pada 23 September 2026 dalam pertandingan pembuka fase liga. Meski menghadapi juara Italia, tim asuhan Habibzadeh berhasil mempertahankan hasil imbang tanpa gol sekaligus mengamankan satu poin penting.
Pertandingan tersebut tidak berlangsung mudah karena Roma tampil lebih mengancam pada awal laga dan memaksa pemain OH Leuven bekerja keras. Namun, tim tuan rumah memperlihatkan peningkatan setelah jeda serta mampu menciptakan sejumlah peluang yang hampir menghasilkan kemenangan.
Dalam laporan resmi UEFA, Habibzadeh mengakui pemainnya sempat gugup karena harus menghadapi lawan dengan reputasi besar seperti Roma. Ia sebelumnya telah mengingatkan skuad agar tidak merasa takut terhadap nama besar lawan karena seluruh peserta Liga Champions memiliki kualitas tinggi.
OH Leuven bahkan nyaris kehilangan poin ketika Roma memperoleh penalti pada pengujung pertandingan setelah terjadi pelanggaran handball di kotak terlarang. Namun, Marta Pandini gagal memanfaatkannya karena tembakan sang pemain membentur tiang sehingga pertandingan berakhir tanpa gol.
Hasil tersebut memperlihatkan kemampuan OH Leuven bertahan menghadapi tekanan sekaligus menunjukkan bahwa skuad muda mereka masih memiliki ruang perkembangan. Bagi Habibzadeh, pengalaman melawan Roma memberikan pelajaran tentang pentingnya keberanian sejak menit pertama menghadapi lawan yang lebih berpengalaman.
Jauh dari Keluarga di Iran, Pengorbanan yang Tidak Terlihat
Di balik keberhasilan profesional, Ster Habibzadeh masih menghadapi persoalan pribadi yang tidak mudah karena sebagian besar keluarganya tetap tinggal di Iran. Jarak geografis dan kondisi keamanan membuat kesempatan bertemu secara langsung menjadi sangat terbatas.
Habibzadeh mengungkapkan bahwa dirinya sudah tujuh tahun tidak kembali ke Iran meskipun kerinduan terhadap keluarga terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia terakhir kali bertemu ibunya sekitar dua tahun sebelumnya ketika sang ibu mengunjungi Belgia untuk menghadiri pernikahannya.
Pertemuan tersebut menjadi momen emosional karena ibunya pernah memiliki pandangan berbeda terhadap pilihan Habibzadeh untuk menekuni sepak bola sejak kecil. Sang ibu awalnya lebih berharap putrinya menggeluti olahraga lain seperti tenis, renang, basket, atau voli.
Namun, pandangan tersebut perlahan berubah ketika ibunya menyaksikan keseriusan dan kemampuan Habibzadeh dalam mengembangkan karier sebagai pesepak bola profesional. Setelah putrinya berhasil tampil di kompetisi tertinggi Iran, sang ibu justru menjadi salah satu pendukung terbesarnya.
Kini, keluarga Habibzadeh mengikuti perkembangan kariernya melalui siaran pertandingan, video, serta pesan yang dikirimkan dari jarak jauh. Dukungan tersebut memiliki arti besar karena komunikasi langsung terkadang sulit dilakukan akibat situasi konflik yang berlangsung di Iran.
Kesibukan mempersiapkan pertandingan Liga Champions juga membuat waktu pribadi Habibzadeh semakin terbatas karena pekerjaan sebagai pelatih kepala membutuhkan perhatian besar. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga komunikasi dengan orang tua dan saudara-saudaranya ketika kesempatan memungkinkan.
Baginya, pesan sederhana dari keluarga dapat menjadi sumber kekuatan setelah menjalani hari panjang yang dipenuhi latihan, evaluasi, dan persiapan pertandingan. Dukungan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengorbanan meninggalkan tanah kelahiran tidak berakhir tanpa hasil.
Habibzadeh juga menyadari bahwa keberhasilannya mendapatkan perhatian dari perempuan Iran dan masyarakat diaspora yang melihat perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang membanggakan. Ia mengaku menerima pesan dukungan dari orang-orang yang merasa terinspirasi oleh kehadiran perempuan Iran di panggung sepak bola Eropa.
Perhatian itu terasa semakin istimewa karena Habibzadeh termasuk dalam kelompok kecil pelatih perempuan yang memimpin tim pada fase liga Liga Champions Wanita. Pada musim 2026/2027, hanya lima perempuan yang tercatat menjadi pelatih kepala dari keseluruhan 18 peserta kompetisi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesempatan perempuan untuk mendapatkan posisi kepelatihan tertinggi masih menjadi persoalan penting, bahkan dalam sepak bola perempuan. Keberhasilan Habibzadeh memperlihatkan bahwa kemampuan dan pengalaman dapat membuka peluang meskipun perjalanan menuju posisi tersebut tidak selalu mudah.
Lebih dari Sekadar Pelatih, Ster Habibzadeh Menjadi Simbol Perjuangan
Perjalanan Ster Habibzadeh memberikan gambaran tentang bagaimana sepak bola dapat menjadi sarana perubahan kehidupan ketika seseorang memiliki kesempatan mengembangkan kemampuannya. Namun, kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalur yang sejak awal direncanakan.
Habibzadeh meninggalkan Iran dengan harapan memperluas karier sebagai pemain profesional, tetapi justru menemukan masa depan yang lebih besar melalui dunia kepelatihan. Keputusan mengubah arah karier ketika menghadapi kesulitan akhirnya membawanya menuju level yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Pengalaman hidup tersebut berpotensi memengaruhi pendekatannya terhadap pemain muda yang kini menjadi bagian penting dari skuad OH Leuven. Ia memahami bahwa perkembangan seorang pemain tidak hanya bergantung pada kemampuan teknik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi tantangan.
Keberhasilan membawa Patro Eisden naik dari divisi lima menuju divisi dua menunjukkan kemampuannya membangun proses yang membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, kesempatan menangani OH Leuven menjadi ujian apakah pendekatan tersebut dapat diterapkan pada level kompetisi tertinggi.
Tanggung jawabnya kini semakin besar karena klub Belgia tersebut harus menghadapi lawan seperti Paris Saint-Germain, Chelsea, Juventus, dan AS Roma. Pertandingan melawan tim-tim tersebut menghadirkan kesempatan belajar sekaligus mengukur perkembangan skuad muda dalam persaingan antarklub Eropa.
Bagi Habibzadeh, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir karena setiap pertandingan memberikan pengetahuan baru bagi pemain dan staf. Ia ingin memastikan OH Leuven dapat menikmati kesempatan berkompetisi sambil terus memperbaiki kualitas permainan sepanjang musim.
Sikap tersebut menjadi penting karena klub dengan sumber daya lebih terbatas tidak selalu dapat bersaing melalui kekuatan finansial atau kedalaman skuad. Mereka membutuhkan organisasi permainan, pengembangan pemain, serta kemampuan memanfaatkan kesempatan untuk menghadapi lawan yang lebih diunggulkan.
Habibzadeh kini berada dalam posisi untuk membuktikan bahwa pengalaman panjang menghadapi keterbatasan dapat menjadi modal berharga ketika memimpin sebuah tim. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan reputasi OH Leuven, tetapi juga memastikan perjalanan klub di Liga Champions terus memberikan perkembangan positif.
Bagi perempuan yang dahulu harus memotong rambut demi bermain bersama anak laki-laki di Teheran, berdiri sebagai pelatih kepala di Liga Champions merupakan pencapaian luar biasa. Setiap pertandingan menjadi pengingat bahwa jalan hidupnya telah berubah jauh dari masa ketika sepak bola terasa sebagai mimpi yang sulit diwujudkan.
Ster Habibzadeh mungkin belum memiliki koleksi trofi Eropa atau reputasi sebesar pelatih-pelatih ternama, tetapi perjalanan kariernya sudah menghadirkan inspirasi tersendiri. Ia membuktikan bahwa kegagalan rencana awal tidak harus mengakhiri mimpi karena terkadang justru membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar.
Kini, ketika musik Liga Champions berkumandang dan pemain OH Leuven bersiap menghadapi klub-klub elite, Habibzadeh tidak lagi harus menyembunyikan identitasnya. Perempuan asal Iran tersebut justru berdiri sebagai pemimpin tim, membawa pengalaman, pengorbanan, dan keyakinan yang telah membentuk perjalanan hidupnya.


