Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Ruud Gullit, Maestro Serbabisa yang Pernah Disejajarkan dengan Maradona

Ruud Gullit, Maestro Serbabisa yang Pernah Disejajarkan dengan Maradona

  • September 9, 2026

Ruud Gullit adalah salah satu anomali terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa, karena sulit memasukkan permainannya ke satu kotak posisi yang sederhana. Ia pernah tampil sebagai libero, gelandang, winger, penyerang kedua, hingga striker tanpa kehilangan pengaruh.

Tubuh tinggi, akselerasi kuat, teknik lembut, dan keberanian membawa bola membuat Ruud Gullit berbeda dari pemain Belanda lain pada akhir 1970-an. Kombinasi fisik dan kecerdasannya memungkinkan ia mengubah pertandingan dari berbagai area, bahkan ketika perannya berganti dalam satu musim.

Mengutip laporan GOAL, Ruud Gullit digambarkan sebagai pemain yang nyaris tidak memiliki batas posisi, penilaian yang juga muncul dari mantan rekan setimnya. Roberto Donadoni dan Rene van der Gijp sama-sama menekankan kemampuan langka tersebut.

George Best bahkan menilai kegembiraan Ruud Gullit ketika menguasai bola sebagai kualitas istimewa, sementara Ronald Koeman mengingat periode ketika ia bersaing dengan Diego Maradona. Perbandingan itu menunjukkan betapa tinggi statusnya menjelang puncak karier pada akhir dekade 1980-an.

Namun perjalanan menuju level tersebut tidak dimulai sebagai penyerang glamor, melainkan sebagai bek remaja di Amsterdam yang menunggu kesempatan besar. Ruud Gullit justru berkembang melalui jalur yang tidak terduga setelah Ajax tidak segera datang membawanya.

Ruud Gullit dari Bek Remaja Menjadi Senjata Serbabisa

Barry Hughes, pelatih asal Wales yang lama bekerja di Belanda, melihat bakat Ruud Gullit ketika masih bermain untuk DWS dan berusaha membawanya ke HFC Haarlem. Ayahnya berharap Rinus Michels dari Ajax datang, tetapi Hughes mengambil pendekatan berbeda.

Hughes meyakinkan keluarga dengan memperhatikan pendidikan sang pemain, kemudian kembali tepat setahun setelah kunjungan pertamanya sebagaimana pernah ia janjikan. Strategi itu berhasil, dan Ruud Gullit akhirnya memilih Haarlem untuk memulai perjalanan profesionalnya.

Ruud Gullit melakukan debut ketika berusia 16 tahun 245 hari dan saat itu menjadi pemain termuda dalam sejarah Eredivisie, meski musim pertamanya berakhir pahit. Haarlem terdegradasi, sementara ia masih banyak dimainkan sebagai sweeper di lini belakang.

Perubahan penting terjadi pada musim kedua ketika Haarlem mendorongnya ke posisi lebih menyerang, keputusan yang kemudian membentuk seluruh kariernya. Pengalaman sebagai bek membuat Ruud Gullit memahami gerakan yang paling tidak disukai pemain bertahan ketika menghadapi seorang penyerang.

Ia lalu melatih sentuhan pertama dan penyelesaian secara rutin setelah sesi tim, sambil belajar bahwa akurasi sering lebih berharga daripada kekuatan tembakan. Hasilnya segera terlihat karena ia mencetak 14 gol dan membantu Haarlem kembali ke kasta tertinggi.

Setelah promosi, Ruud Gullit kembali menghasilkan 14 gol dari peran gelandang serang dan sayap sambil semakin banyak menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Haarlem finis keempat, tetapi level sang pemain sudah melampaui lingkungan klub sebelum petualangan Eropa pertama mereka.

Alih-alih pindah ke Ajax seperti harapan keluarganya, Ruud Gullit memilih Feyenoord yang baru saja finis keenam, keputusan yang sempat mengundang pertanyaan publik. Ia menjawab kritik dengan keyakinan bahwa klub Rotterdam itu memiliki potensi untuk menjadi juara.

Dalam debut Eredivisie bersama Feyenoord, Ruud Gullit langsung mencetak gol sundulan saat menang 3-2 atas Excelsior dan kemudian menunjukkan ancaman serupa melawan PSV. Musim pertamanya menghasilkan delapan gol liga ketika Feyenoord mengakhiri kompetisi sebagai runner-up.

Situasi berubah dramatis ketika Johan Cruyff bergabung dari Ajax pada usia 36 tahun setelah berselisih mengenai kontrak dengan klub lamanya. Banyak pihak menganggap Cruyff terlalu tua, tetapi Ruud Gullit justru menemukan mentor yang mengubah pemahamannya tentang sepak bola.

Cruyff mengatur tempo permainan, memberi instruksi kepada rekan setim, ikut menentukan latihan, dan tetap sulit direbut meski usianya sudah jauh melewati puncak. Ruud Gullit kemudian mengakui pengalaman bermain bersamanya membuat ia memahami kecerdasan sepak bola pada level berbeda.

Feyenoord memang sempat dihancurkan Ajax 8-2, tetapi kekalahan itu justru menjadi titik balik karena Cruyff meminta tim tidak panik. Mereka membalas dengan kemenangan 4-1 di De Kuip dan akhirnya merebut gelar liga pertama dalam satu dekade.

Ruud Gullit juga berperan saat Feyenoord menyingkirkan Ajax dalam dua leg KNVB Beker, lalu menutup kompetisi sebagai pencetak gol terbanyak turnamen. Feyenoord menyelesaikan musim dengan gelar ganda, sementara Ruud Gullit terpilih sebagai Pemain Terbaik Belanda pilihan sesama pemain.

Sebelum pensiun, Cruyff memberi pesan bahwa Ruud Gullit harus membuat pemain di sekelilingnya menjadi lebih baik, bukan hanya memikirkan penampilan pribadi. Nasihat itu belum langsung dipahami, tetapi kemudian terasa relevan ketika ia menjalani fase berikutnya bersama PSV dan AC Milan.

Ruud Gullit Menembus Puncak Bersama PSV dan AC Milan

Setelah satu musim lain yang terganggu cedera di Rotterdam, Ruud Gullit pindah ke PSV dalam transfer kontroversial dan langsung menunjukkan kapasitasnya. Ia mencetak dua gol serta membuat satu assist ketika PSV menaklukkan Ajax yang saat itu dilatih Cruyff dengan skor 4-2.

Bahkan ketika dikembalikan ke posisi sweeper, Ruud Gullit tetap rajin menyerbu ke depan dan menghasilkan gol-gol penting dalam perjalanan PSV menuju gelar. Ia mencetak sembilan gol dalam empat laga menjelang akhir musim, termasuk dua ke gawang Feyenoord.

PSV akhirnya menjadi juara dengan keunggulan delapan poin atas Ajax, gelar liga pertama mereka dalam delapan tahun pada periode tersebut. Gullit yang berusia 23 tahun kemudian kembali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Belanda untuk kedua kalinya.

Musim 1986/87 memperlihatkan versi yang semakin komplet karena Gullit mencetak 22 gol dalam 34 pertandingan dan membantu PSV mempertahankan gelar. Namun perubahan posisi yang terus-menerus memicu konflik dengan pelatih Hans Kraay dan mempercepat kepergiannya.

Ketika dimainkan sebagai sweeper melawan Veendam, Gullit menyampaikan ketidakpuasannya kepada dua jurnalis dan membuat hubungan dengan Kraay memburuk. Kees Ploegsma kemudian mengklaim kontroversi tersebut ikut membuka jalan menuju transfer mahal ke AC Milan.

PSV sempat mempermasalahkan pendekatan Milan kepada pemain sebelum akhirnya Silvio Berlusconi datang ke Eindhoven dan menyelesaikan negosiasi. Kesepakatan senilai 17 juta gulden membawa Ruud Gullit ke Italia pada 1987 dan menjadikannya pusat proyek ambisius Rossoneri.

Pada Desember 1987, Gullit memenangi Ballon d’Or setelah tampil luar biasa bersama PSV dan langsung memberi pengaruh dalam bulan-bulan awal di Milan. Penghargaan itu mengukuhkan reputasinya sebagai pemain terbaik Eropa sebelum usia 26 tahun.

Kedatangannya bertepatan dengan pembangunan salah satu tim paling revolusioner dalam sejarah modern, ketika Arrigo Sacchi menyatukan Gullit, Marco van Basten, Carlo Ancelotti, Roberto Donadoni, Paolo Maldini, dan Franco Baresi. Milan langsung merebut Scudetto pada musim pertama proyek tersebut.

Ruud Gullit banyak beroperasi dari sisi kanan, tetapi perannya tidak pernah sesederhana winger konvensional karena ia terus bergerak di antara lini. Kekuatan membawa bola dan kemampuan menyerang ruang membuat struktur pressing serta transisi Milan menjadi semakin sulit diprediksi.

Puncak kontinental datang pada European Cup 1988/89 ketika Milan menghancurkan Real Madrid 5-0 di semifinal setelah bermain 1-1 pada leg pertama. Gullit mencetak satu gol dalam kemenangan besar itu, menegaskan dominasi Rossoneri atas salah satu raksasa Eropa.

Cedera meniskus sempat mengancam partisipasinya di final melawan Steaua Bucuresti, tetapi ia pulih cukup cepat untuk bermain di Camp Nou. Milan menang 4-0, sementara Ruud Gullit dan Van Basten masing-masing mencetak dua gol dalam pertunjukan menyerang yang monumental.

Catatan resmi AC Milan mengonfirmasi Gullit mencetak gol pada menit ke-18 dan 39 dalam final tersebut, sedangkan Van Basten menambah dua gol lainnya. Kemenangan itu mengembalikan Milan sebagai juara Eropa setelah penantian panjang sejak 1969.

Ruud Gullit dan Malam Abadi Euro 1988

Sebelum kejayaan Eropa bersama klub mencapai puncaknya, Ruud Gullit sudah membawa Belanda menulis sejarah pada Euro 1988 di Jerman Barat. Ia datang sebagai kapten tim yang sebelumnya gagal lolos ke Piala Dunia 1982, Euro 1984, dan Piala Dunia 1986.

Belanda kalah 0-1 dari Uni Soviet pada laga pembuka dan Gullit mendapat kritik dari Rinus Michels karena dianggap belum membantu tim secara optimal. Responsnya muncul saat menghadapi Inggris, ketika pergerakan serta kreativitasnya menopang hat-trick Marco van Basten.

Setelah melewati Republik Irlandia dan menaklukkan Jerman Barat di semifinal, Belanda kembali bertemu Uni Soviet dalam partai puncak. Ruud Gullit membuka skor melalui sundulan keras sebelum Van Basten mencetak voli ikonik untuk memastikan kemenangan 2-0.

UEFA mencatat Gullit menjadi kapten pertama Belanda yang mengangkat trofi internasional utama, sebuah pencapaian yang sampai sekarang tetap menjadi bagian penting identitas Oranje. Ia juga masuk Team of the Tournament dan menyumbangkan dua assist sepanjang putaran final.

Gelar Euro 1988 memperlihatkan perkembangan Gullit dari individu spektakuler menjadi pemimpin yang mampu bekerja untuk sistem dan partner serangnya. Pesan Cruyff tentang membuat pemain lain lebih baik akhirnya menemukan bentuk konkret dalam hubungannya dengan Van Basten dan rekan setim.

Setelah Frank Rijkaard bergabung ke Milan, trio Belanda itu menjadi fondasi penting dominasi Rossoneri di Eropa pada akhir 1980-an. Gullit dan Rijkaard sebenarnya telah saling mengenal sejak level junior, bahkan Rijkaard menjadi pemain yang digantikannya saat debut internasional 1981.

Cedera kemudian mengubah arah karier Ruud Gullit secara signifikan, terutama setelah masalah lutut membuatnya hanya tampil dua kali di Serie A pada musim berikutnya. Ia tetap bermain pada final European Cup 1990 ketika Milan mengalahkan Benfica 1-0 melalui gol Rijkaard.

Gullit bertahan dua musim lagi, tetapi perannya berkurang pada era Fabio Capello meski Milan kembali menambah gelar Serie A. Ia kemudian dipinjamkan ke Sampdoria dan mencetak 15 gol, membantu klub finis keempat sebelum sempat dipanggil kembali.

Milan akhirnya bukan lagi tempat yang sama bagi dirinya, karena cedera memaksanya mengubah cara bermain dan aturan tiga pemain asing memperketat persaingan internal. Ruud Gullit mengakui ia harus beradaptasi setelah kehilangan sebagian kemampuan fisik yang dahulu membuatnya dominan.

Warisan Ruud Gullit dari Chelsea hingga Sepak Bola Modern

Pada 1995, Gullit menerima tantangan baru bersama Chelsea dan awalnya kembali ditempatkan di pertahanan oleh Glenn Hoddle sebelum bergerak ke lini tengah. Kemampuannya mengontrol bola sulit dan mengirim umpan progresif segera menunjukkan bahwa naluri menyerangnya belum menghilang.

Eric Cantona mengunggulinya dalam pemilihan Footballer of the Year pada akhir musim, tetapi pengaruh Gullit di Stamford Bridge terus membesar. Ketika Hoddle menjadi pelatih Inggris, Ruud Gullit ditunjuk sebagai player-manager Chelsea dan membuka babak baru.

Ia memainkan dirinya sendiri 24 kali dan mencetak satu gol melawan Tottenham, namun memilih berada di pinggir lapangan ketika final Piala FA 1997 berlangsung. Chelsea mengalahkan Middlesbrough 2-0 dan mengakhiri penantian 26 tahun tanpa trofi utama.

Chelsea mencatat Gullit sebagai manajer kulit hitam pertama di kasta tertinggi Inggris sekaligus orang kulit hitam pertama yang memenangi trofi besar sebagai manajer di negara tersebut. Prestasi itu memperluas warisan Ruud Gullit jauh melampaui pencapaian teknisnya sebagai pemain.

Meski Chelsea berada di posisi kedua liga pada Februari 1998, Gullit kemudian dipecat dan Gianluca Vialli menggantikannya dalam situasi yang kontroversial. Ia melanjutkan karier kepelatihan di Newcastle dan kembali mencapai final Piala FA, tetapi kalah dari Manchester United.

Setelah itu, Ruud Gullit menjalani periode sebagai pelatih Feyenoord, LA Galaxy, dan Terek Grozny sebelum akhirnya menjauh dari pekerjaan manajerial. Ia merasa penilaiannya sebagai pelatih terlalu keras, tetapi tidak pernah meragukan pemahamannya terhadap permainan yang membesarkan namanya.

Jika ditarik ke sepak bola modern, keistimewaan Gullit justru terasa semakin relevan karena pelatih kini sangat menghargai pemain multifungsi yang mampu berpindah peran. Ia sudah melakukan hal tersebut puluhan tahun sebelum istilah hybrid player menjadi bagian umum dari analisis taktik.

Warisan terbesarnya bukan sekadar Ballon d’Or, Euro 1988, gelar Eropa, atau trofi domestik, melainkan cara ia mematahkan definisi posisi tradisional. Ruud Gullit membuktikan pemain dapat menjadi kuat, cepat, teknis, cerdas, kreatif, dan tetap efektif dalam banyak fungsi sekaligus.

Itulah alasan namanya tetap muncul ketika membahas pesepak bola komplet sepanjang masa, bahkan di tengah perubahan besar permainan modern. Ruud Gullit bukan hanya bintang pada zamannya, tetapi prototipe pemain serbabisa yang gagasannya baru sepenuhnya dihargai sepak bola bertahun-tahun kemudian.

Kopa Trophy 2026: Lamine Yamal di Ambang Hattrick Bersejarah, Siapa Bisa Menghentikannya?

09 Sep 2026

Messi vs Lewandowski Akhirnya Bertemu di MLS, Duel Empat Tahun yang Punya Taruhan Besar

09 Sep 2026

West Ham Puncaki Championship, Era Baru Dimulai setelah Degradasi dan Kisruh Klub?

09 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.