Franco Baresi dan Kabar Duka AC Milan
Sepak bola Italia berduka setelah sang legenda Franco Baresi meninggal dunia pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam usia 66 tahun. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang kapten yang identik dengan AC Milan dan tim nasional Italia.
Baresi bukan hanya bek hebat, melainkan lambang kesetiaan, kecerdasan, serta keberanian menghadapi perubahan zaman. Selama dua dekade, Rossoneri menjadi satu-satunya klub profesional yang dibelanya sejak masih remaja sampai akhirnya pensiun.
Profil sang kapten memperlihatkan bagaimana pemain bertubuh tidak terlalu besar mampu menguasai pertahanan melalui membaca permainan. Ia mengembangkan posisi libero menjadi pusat komando AC Milan sekaligus titik awal serangan dari lini belakang.
Perjalanannya berlangsung dari lapangan sederhana di Travagliato, akademi Rossoneri, masa degradasi, hingga puncak Eropa. Bersama Italia, Franco Baresi juga merasakan gelar dunia, peringkat ketiga, dan kekalahan dramatis dalam final bersejarah.
Masa Kecil di Travagliato
Baresi lahir pada 8 Mei 1960 di Travagliato, sebuah wilayah di Provinsi Brescia, Italia utara. Ia mulai mengenal sepak bola melalui klub pemuda paroki setempat sebelum keberaniannya diuji oleh kehilangan kedua orang tuanya.
Ketika berusia sekitar 16 tahun, sang bek telah kehilangan ayah dan ibunya dalam rentang dua tahun. Pengalaman berat tersebut membentuk pribadi pendiam, disiplin, serta mandiri yang kelak menjadi ciri kepemimpinannya di AC Milan.
Pada 1976, Baresi mengikuti seleksi Inter Milan bersama kakaknya, Giuseppe Baresi, yang berusia dua tahun lebih tua. Giuseppe diterima, sedangkan Franco ditolak karena tubuhnya dianggap terlalu ramping untuk menjadi pemain bertahan.
Franco Baresi Masuk Akademi AC Milan
Penolakan itu mengubah sejarah sepak bola Kota Milan karena Franco kemudian mendapat kesempatan dari AC Milan. Ia masuk lingkungan pembinaan Rossoneri dan mengikuti program olahraga serta pendidikan selama empat tahun di pusat latihan Milanello.
Di level akademi, sang remaja dikenal tidak banyak berbicara, tetapi memiliki etos latihan sangat tinggi. Para pelatih Rossoneri melihat konsentrasi, keberanian, serta kemampuan membaca arah bola yang jauh melampaui pemain seusianya.
Nils Liedholm akhirnya membawa Baresi ke tim utama pada musim 1977/1978 ketika usianya masih remaja. Debut Serie A terjadi menghadapi Hellas Verona pada 23 April 1978 dan berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk AC Milan.
Kesempatan tersebut bukan sekadar penampilan simbolis karena Liedholm segera mempercayainya sebagai libero utama pada musim berikutnya. Franco Baresi menjawab keyakinan itu dengan membantu AC Milan merebut Scudetto 1978/1979 ketika baru berusia 18 tahun.
Gelar tersebut merupakan kejuaraan liga kesepuluh Rossoneri dan menghadirkan bintang pertama di atas lambang klub. Bagi sang pemain, keberhasilan awal itu menjadi fondasi sebelum perjalanan AC Milan memasuki masa yang jauh lebih sulit.
Bertahan dalam Masa Sulit Rossoneri
AC Milan kemudian terdegradasi ke Serie B akibat skandal taruhan pada 1980, tetapi Franco Baresi memilih bertahan. Ia kembali menunjukkan kesetiaan ketika Rossoneri turun kasta secara olahraga dua tahun kemudian setelah menjalani musim buruk.
Baresi membantu AC Milan kembali ke Serie A pada kedua kesempatan tersebut dan tidak mencari jalan keluar. Sikap itu membuat pendukung melihatnya sebagai pemain yang hadir ketika klub terluka, bukan hanya saat mengangkat trofi.
Pada usia 22 tahun, Franco Baresi menerima ban kapten dan mempertahankan tanggung jawab itu selama sekitar 15 musim. Kepemimpinannya tenang, tetapi setiap gerakan mampu mengatur jarak, garis pertahanan, serta keberanian seluruh pemain AC Milan.
Era Kejayaan Bersama Arrigo Sacchi
Era baru dimulai setelah Silvio Berlusconi mengambil alih klub Rossoneri pada 1986 dan menunjuk Arrigo Sacchi sebagai pelatih. Franco Baresi menjadi fondasi revolusi taktik yang mengandalkan tekanan kolektif, garis tinggi, serta jebakan offside.
Bersama Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, dan Paolo Maldini, sang kapten membentuk salah satu pertahanan terbaik dalam sejarah. Koordinasi mereka membuat AC Milan mampu menyerang tanpa kehilangan keseimbangan, sekaligus membatasi ruang lawan secara agresif.
Keunggulan Baresi tidak terutama berasal dari tinggi badan, kecepatan murni, atau kekuatan fisik yang luar biasa. Ia unggul melalui antisipasi, penempatan posisi, keberanian merebut bola, serta kemampuan mengirim operan progresif dari belakang.
Pada musim 1987/1988, sang kapten membawa AC Milan merebut gelar Serie A setelah bersaing ketat dengan Napoli. Scudetto tersebut membuka periode kejayaan Rossoneri di Italia dan Eropa bersama generasi besar akhir 1980-an.
AC Milan kemudian menjuarai Piala Champions Eropa 1988/1989 dengan mengalahkan Steaua Bucuresti 4-0 pada final. Franco Baresi mengangkat trofi sebagai kapten setelah menjadi pengatur utama pertahanan serta transisi permainan Rossoneri.
Dominasi berlanjut ketika AC Milan mempertahankan Piala Champions pada musim 1989/1990 melalui kemenangan atas Benfica. Franco Baresi juga mengangkat Piala Interkontinental 1989 dan 1990, menegaskan kedudukan Rossoneri sebagai kekuatan dunia.
Kejayaan pada Era Fabio Capello
Di bawah Fabio Capello, sang kapten tetap menjadi pemimpin ketika Rossoneri menjalani 58 pertandingan Serie A tanpa kekalahan. Tim tersebut dijuluki Gli Invincibili karena konsistensi, kedalaman skuad, dan organisasi pertahanannya yang luar biasa.
Puncak berikutnya hadir pada final Liga Champions 1994 ketika AC Milan menghancurkan Barcelona dengan skor 4-0. Meski Franco Baresi absen akibat skorsing, kepemimpinannya sepanjang musim tetap menjadi bagian penting keberhasilan Rossoneri.
Prestasi Franco Baresi Bersama AC Milan
Sepanjang kariernya, Franco Baresi memenangi enam gelar Serie A pada 1979, 1988, 1992, 1993, 1994, dan 1996. Ia juga mengoleksi tiga Piala Champions atau Liga Champions selama membela klub Rossoneri.
Koleksi prestasi Franco Baresi dilengkapi dua Piala Interkontinental, tiga Piala Super Eropa, dan empat Piala Super Italia. Ia juga membantu AC Milan memenangi dua gelar Serie B serta Piala Mitropa 1982.
Catatan resmi AC Milan menempatkan Franco Baresi dengan 719 pertandingan kompetitif dan 33 gol untuk klub. Sebanyak 470 penampilannya terjadi di Serie A, menunjukkan daya tahan luar biasa selama dua puluh musim.
Franco Baresi Bersama Tim Nasional Italia
Perjalanan bersama Italia dimulai di tingkat senior pada awal 1980-an, tetapi Franco Baresi harus bersaing dengan Gaetano Scirea. Ia masuk skuad juara Piala Dunia 1982 meskipun tidak memperoleh menit bermain selama turnamen.
Debut internasional Franco Baresi baru terjadi pada 4 Desember 1982 dalam pertandingan kualifikasi Euro 1984 melawan Rumania. Setelah itu, ia berkembang menjadi libero utama dan mencatat 81 penampilan bersama tim nasional Italia.
Pada Piala Dunia 1990, Franco Baresi memimpin pertahanan Italia yang tidak kebobolan selama 518 menit. Azzurri tersingkir melalui adu penalti melawan Argentina pada semifinal, lalu menutup turnamen sebagai peringkat ketiga.
Empat tahun kemudian, Franco Baresi menjadi kapten Italia pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Cedera lutut melawan Norwegia memaksanya menjalani operasi dan sempat membuat peluang kembali bermain terlihat hampir mustahil.
Pemulihannya berlangsung luar biasa karena bek legendaris tampil 120 menit dalam final menghadapi Brasil hanya 22 hari setelah operasi. Ia bermain sangat disiplin hingga laga berakhir 0-0 dan harus dilanjutkan ke adu penalti.
Franco Baresi gagal mengeksekusi penalti pertama Italia, sebelum Brasil akhirnya memenangkan perebutan gelar dunia. Meski demikian, keberaniannya kembali dalam kondisi belum sempurna tetap dikenang sebagai salah satu penampilan bertahan paling heroik.
Karier internasional Franco Baresi menghasilkan satu gelar Piala Dunia, satu posisi runner-up, dan satu peringkat ketiga. Ia menjadi bagian dari podium Italia pada tiga turnamen berbeda, pencapaian yang sangat jarang dalam sepak bola.
Pensiun dan Kehidupan di Luar Lapangan
Franco Baresi pensiun pada 1997 ketika berusia 37 tahun setelah tubuhnya semakin sulit pulih seusai pertandingan. AC Milan kemudian memensiunkan nomor punggung enam, menjadikannya pemain pertama klub yang menerima penghormatan tersebut.
Setelah gantung sepatu, Franco Baresi memulai perjalanan manajerial di lingkungan AC Milan dan bekerja dalam pengembangan pemain muda. Pada 2002, ia sempat menjadi direktur sepak bola Fulham sebelum meninggalkan jabatan setelah tiga bulan.
Hubungannya dengan klub Rossoneri tetap kuat melalui kegiatan klub, peran duta, serta pertemuan dengan pendukung internasional. Pada 2020, Franco Baresi resmi ditunjuk sebagai wakil presiden kehormatan untuk membawa pengalaman dan nilai Rossoneri.
Pada 2021, Franco Baresi menerbitkan autobiografi berjudul Libero di Sognare yang menceritakan perjalanan dan pandangannya. Tiga tahun kemudian, AC Milan menjadikannya anggota resmi pertama Hall of Fame dalam perayaan ulang tahun ke-125.
Masa Akhir hingga Wafat pada Usia 66 Tahun
Kondisi kesehatan sang legenda menjadi perhatian pada 2025 setelah pemeriksaan menemukan nodul paru-paru. AC Milan menyatakan operasi minimal invasif berjalan baik, kemudian dokter merekomendasikan terapi imun sebagai bagian perawatan lanjutan.
Penampilan publik besar terakhir Franco Baresi berlangsung pada Februari 2026 ketika ia membawa api Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina. Beberapa bulan kemudian, AC Milan mengumumkan sang legenda wafat pada usia 66 tahun.
Kepergian Franco Baresi meninggalkan warisan yang melampaui jumlah pertandingan serta koleksi piala. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan AC Milan dapat dibangun melalui ketenangan, kesetiaan, disiplin, dan tanggung jawab terhadap rekan setim.
Dari akademi kecil di Travagliato hingga menjadi kapten Italia, Franco Baresi menjalani perjalanan yang hampir tidak mungkin diulang. Namanya akan selalu melekat pada nomor enam, kejayaan AC Milan, dan seni bertahan modern.



