Kyle Walker dan Pep Guardiola menjadi pusat perhatian setelah dokumenter baru membuka kembali ketegangan di ruang ganti Manchester City pada musim 2024/25. Rekaman itu memperlihatkan pertengkaran panas setelah kekalahan 0-2 dari Liverpool di Anfield, ketika Walker merasa terus dijadikan sasaran kritik sang pelatih.
Dokumenter empat bagian berjudul A Beautiful Obsession menyoroti dua musim terakhir Guardiola bersama Manchester City dan dijadwalkan tayang di Prime Video pada 19 Agustus 2026. Salah satu bagian paling emosional memperlihatkan Kyle Walker meluapkan kemarahan sembilan hari setelah Guardiola menandatangani perpanjangan kontrak.
Kyle Walker dan Pertengkaran Panas di Manchester City
Pertengkaran bermula ketika Guardiola membahas kesalahan yang terjadi sebelum gol Liverpool, sementara Kyle Walker menilai namanya kembali diseret dalam evaluasi tim. Mantan kapten Manchester City itu kemudian memprotes bahwa hampir setiap rapat selalu menjadikan dirinya contoh ketika sesuatu berjalan keliru.
Kyle Walker menegaskan dirinya tidak keberatan menerima kritik, tetapi merasa Guardiola terlalu sering mengaitkan kesalahan tim dengan namanya secara pribadi. Ketika sang pelatih menjelaskan kritik itu berkaitan dengan tanggung jawab kapten Manchester City, Walker membalas bahwa Guardiola sebenarnya tidak pernah menginginkannya menjadi kapten.
Ucapan tersebut membuat situasi ruang ganti semakin panas karena Kyle Walker terpilih sebagai kapten melalui pemungutan suara para pemain pada dua musim beruntun. Guardiola kemudian mencoba menjelaskan bahwa pembahasannya menyangkut konsep kehilangan bola dan tanggung jawab kolektif, bukan serangan pribadi terhadap pemain tertentu.
Namun, ketegangan itu telanjur menguras emosi Guardiola yang saat itu menghadapi periode sulit bersama Manchester City, baik secara profesional maupun pribadi. Di depan Kyle Walker dan pemain lain, pelatih asal Catalonia tersebut terlihat berusaha menahan tangis sebelum berbicara mengenai komitmennya terhadap tim.
Guardiola mengatakan jika dirinya dianggap menjadi masalah, Kyle Walker dan para pemain Manchester City harus menyampaikannya secara terbuka tanpa rasa takut. Ia menegaskan bertahan bukan karena uang, melainkan karena masih ingin membantu skuad melewati masa sulit dan berjuang bersama sampai situasi membaik.
Dalam pidato emosional itu, Guardiola juga menekankan rasa sayangnya terhadap para pemain tidak akan berubah hanya karena muncul kritik atau ketidakpuasan. Bagi Kyle Walker, momen tersebut menjadi salah satu titik penting dalam hubungan dengan pelatih yang membawanya meraih banyak trofi bersama Manchester City.
Hubungan keduanya tidak langsung berakhir pada malam di Anfield, tetapi masa depan Kyle Walker di Manchester City mulai bergerak menuju pintu keluar. Setelah laga tersebut, bahan dokumenter menyebut Kyle Walker hanya tampil tujuh kali lagi untuk klub, termasuk tiga pertandingan saat mengenakan ban kapten.
Pada Januari 2025, Guardiola mengungkap Kyle Walker telah meminta kesempatan untuk mengeksplorasi opsi bermain di luar Inggris pada fase akhir kariernya. Permintaan itu membuat Guardiola memilih pemain yang menurutnya masih sepenuhnya fokus kepada Manchester City ketika menghadapi Salford City di Piala FA.
Tidak lama kemudian, Kyle Walker bergabung dengan AC Milan sebagai pemain pinjaman hingga akhir musim 2024/25 setelah meninggalkan skuad utama Manchester City. Kyle Walker kemudian mengakhiri hubungannya dengan City secara permanen pada musim panas 2025 dengan menerima tawaran Burnley.
Kyle Walker meninggalkan Manchester City dengan catatan 319 penampilan di semua kompetisi setelah bergabung dari Tottenham Hotspur pada 2017. Selama periode panjang itu, bek kanan Inggris tersebut menjadi bagian penting dari era dominasi Guardiola dan mengumpulkan 18 trofi utama menurut catatan resmi klub.
Koleksi Kyle Walker mencakup enam Premier League, dua Piala FA, empat Piala Liga, dua Community Shield, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Kyle Walker juga memimpin Manchester City ketika menjuarai liga untuk keempat kalinya secara beruntun pada musim 2023/24.
Akhir Era Guardiola dan Jejak Kyle Walker
Kepergian Kyle Walker kemudian menjadi bagian dari perubahan besar yang terjadi di Manchester City menjelang berakhirnya era Guardiola. Sang pelatih akhirnya meninggalkan Etihad pada akhir musim 2025/26 setelah satu dekade, dengan Enzo Maresca dipilih untuk memimpin fase berikutnya.
Guardiola pergi setelah mengoleksi enam gelar Premier League dan membawa Manchester City meraih satu trofi Liga Champions yang selama bertahun-tahun menjadi target terbesar klub. Pada musim terakhirnya, ia masih menambah Piala FA dan Piala Liga sebelum berhenti karena merasa energi untuk melanjutkan mulai berkurang.
Keputusan Guardiola diumumkan menjelang pertandingan terakhir musim 2025/26, ketika Manchester City sudah kehilangan peluang mempertahankan persaingan gelar liga. Bagi Kyle Walker, keputusan itu menutup satu dekade penuh trofi, perubahan taktik, dan standar baru yang turut membentuk kariernya sebagai bek kanan elite.
Setelah mengumumkan kepergiannya, Guardiola mengakui kemungkinan kembali melatih dalam waktu dekat terasa sulit karena membutuhkan ruang untuk memulihkan kehidupan pribadi dan profesional. Dokumenter tersebut juga memperlihatkan tekanan emosional yang dialaminya ketika hubungan dengan Cristina Serra mengalami masalah di tengah periode sulit Manchester City.
Guardiola dan Serra berpisah pada awal 2025 setelah menjalani hubungan panjang, sementara laporan berikutnya menyebut keduanya berupaya memperbaiki hubungan. Cristina kemudian hadir bersama anak-anak mereka pada laga perpisahan Guardiola, momen yang disebut mantan pelatih Manchester City tersebut sangat berarti secara pribadi.
Tangis De Bruyne dan Regenerasi Manchester City
Bukan hanya Kyle Walker yang menghadirkan momen emosional dalam A Beautiful Obsession, karena Kevin De Bruyne juga kesulitan menahan tangis ketika membicarakan kepergiannya. Gelandang Belgia itu meninggalkan Manchester City pada 2025 setelah klub memutuskan tidak menawarkan perpanjangan kontrak baru.
Seperti Kyle Walker, De Bruyne mengatakan keputusan tersebut terasa berat karena keluarganya telah menjadikan Manchester sebagai rumah selama satu dekade dan anak-anaknya tidak ingin pergi. Ia menegaskan pilihan karier pada tahap tersebut tidak lagi hanya mempertimbangkan dirinya sebagai pemain, tetapi juga kebutuhan seluruh keluarga.
De Bruyne bergabung dengan Manchester City dari Wolfsburg pada Agustus 2015, menjalani satu musim bersama Manuel Pellegrini dan sembilan musim di bawah Guardiola. Ia memenangkan enam Premier League, menjadi bagian skuad treble 2022/23, serta berperan dalam empat gelar liga beruntun.
Gelandang Belgia itu juga meninggalkan Manchester City sebagai salah satu pencipta peluang terbaik yang pernah tampil di Premier League. Ketika waktunya di Etihad berakhir, De Bruyne berada di urutan kedua daftar pemberi assist sepanjang masa liga, mempertegas besarnya pengaruh selama satu dekade.
Kepergian De Bruyne setelah Kyle Walker menjadi simbol Manchester City mulai membangun generasi baru dengan pemain lebih muda, lebih segar, dan berorientasi jangka panjang. Mantan direktur sepak bola Txiki Begiristain menilai regenerasi diperlukan karena skuad pemenang tidak mungkin dipertahankan selamanya tanpa perubahan.
Begiristain menjelaskan pemain seperti Kyle Walker yang membawa Manchester City meraih banyak trofi akhirnya harus memberi ruang bagi tenaga dan energi baru. Strategi itu kemudian terlihat melalui perekrutan pemain muda, termasuk Rayan Cherki yang datang untuk membantu mengisi kekosongan kreativitas setelah De Bruyne pergi.
Rayan Cherki, Taruhan Terakhir Guardiola
Cherki bergabung dari Lyon pada Juni 2025 ketika berusia 21 tahun, meski manajemen Manchester City sempat memiliki keraguan mengenai reputasi dan mentalitasnya. Hugo Viana mengakui informasi awal tentang pemain Prancis tersebut tidak seluruhnya positif, sementara Ferran Soriano menyebut ada anggapan karakternya cenderung kacau.
Pemeriksaan lanjutan kemudian mengubah pandangan Manchester City karena salah satu laporan negatif tentang Cherki ternyata berasal dari periode ketika sang pemain masih sangat muda. Soriano mengatakan klub mulai meyakini reputasi perilaku buruk tersebut mungkin lebih menyerupai mitos daripada gambaran dirinya saat dewasa.
Guardiola tetap mendorong Manchester City menuntaskan transfer setelah berbicara langsung dengan Cherki dari sebuah restoran di Manchester dan merasa yakin dengan kemampuannya. Sang pemain menyambut kepercayaan itu dengan menyebut Guardiola sebagai pelatih terbaik dunia sebelum akhirnya bekerja langsung bersamanya di Etihad.
Cherki tampil menonjol bersama Prancis melawan Spanyol di UEFA Nations League hanya beberapa hari sebelum resmi pindah ke Manchester City. Guardiola bahkan bergurau performa tersebut membuat CEO Ferran Soriano kesal karena nilai sang pemain seolah bertambah sekitar 10 juta pound.
Manchester City akhirnya merekrut Cherki dengan biaya yang dilaporkan sekitar 40 juta euro, atau kira-kira 34 juta pound ketika transfer diselesaikan. Ia datang setelah musim terbaik bersama Lyon, mencatat 12 gol dan 20 assist di semua kompetisi sebelum mengambil tantangan baru di Inggris.
Cherki segera memberikan dampak dengan mencetak gol di Piala Dunia Antarklub, kemudian kembali mencatatkan gol pada debut Premier League bersama Manchester City. Dalam musim pertamanya di Inggris, bahan dokumenter mencatat ia menghasilkan 10 gol, 15 assist, serta membantu klub memenangi dua trofi domestik.
Perjalanan Cherki memperlihatkan keputusan Guardiola pada fase akhir bersama Manchester City bukan hanya berkaitan dengan mempertahankan pemain lama, tetapi juga menyiapkan wajah baru. Proses itu berjalan bersamaan dengan kepergian figur besar seperti Kyle Walker dan De Bruyne yang selama bertahun-tahun membentuk identitas tim.
Perubahan juga terjadi di jajaran manajemen ketika Begiristain menyerahkan jabatan direktur sepak bola kepada Hugo Viana setelah 13 tahun bekerja di klub. Setelah Guardiola pergi, Manchester City kemudian memecahkan rekor transfer mereka untuk mendatangkan gelandang Inggris Elliot Anderson yang berusia 23 tahun.
Rangkaian cerita tersebut membuat A Beautiful Obsession tidak sekadar berbicara tentang kemenangan, karena kamera turut menangkap konflik, keputusan sulit, dan perpisahan besar. Pertengkaran Kyle Walker dengan Guardiola menjadi contoh bagaimana periode keemasan Manchester City tetap menyimpan tekanan besar di balik keberhasilan lapangan.
Bagi Kyle Walker, perdebatan di Anfield tidak menghapus statusnya sebagai salah satu pemain penting dalam sejarah modern Manchester City. Rekaman Kyle Walker itu justru memberi gambaran baru tentang hubungan pemain dan pelatih yang bisa berubah cepat ketika hasil buruk, tuntutan kepemimpinan, dan tekanan personal bertemu.
Pada akhirnya, Manchester City memasuki era baru tanpa Guardiola, Kyle Walker, dan De Bruyne sebagai figur utama yang dahulu identik dengan dominasinya. Dokumenter tersebut menempatkan Kyle Walker sebagai bagian penting babak penutup, sekaligus menunjukkan akhir sebuah dinasti sering lebih rumit daripada pergantian pemain.



