Derby Madrid antara Atletico Madrid dan Real Madrid seharusnya menjadi simbol perubahan besar dalam sistem perwasitan Spanyol. Namun, sejarah yang ingin ditulis melalui penunjukan Miguel Ángel Ortiz Arias justru tenggelam dalam tiga keputusan besar yang memicu kontroversi.
Atletico akhirnya mengalahkan Real Madrid 2-1 di Riyadh Air Metropolitano, Minggu, 20 September 2026. Alejandro Grimaldo mencetak gol penalti pada menit ke-53 sebelum Jonathan David menggandakan keunggulan enam menit kemudian, sementara Antonio Rüdiger memperkecil ketertinggalan pada menit ke-89.
Namun, skor bukan menjadi pembicaraan terbesar setelah pertandingan. Sorotan justru tertuju pada Ortiz Arias dan VAR setelah sejumlah insiden melibatkan Cristian Romero, Lee Kang-in, Jude Bellingham, Federico Valverde hingga Dean Huijsen.
AS menggambarkan pertandingan tersebut sebagai penunjukan bersejarah yang berubah menjadi “mimpi buruk perwasitan”. Ortiz Arias dipilih memimpin derby yang untuk pertama kalinya mendobrak tradisi pembatasan teritorial wasit dalam pertandingan antara dua klub ibu kota Spanyol.
Selama bertahun-tahun, sepak bola Spanyol menerapkan kebiasaan tidak memberikan pertandingan klub tertentu kepada wasit yang berasal dari wilayah otonom yang sama. Kebijakan itu secara bertahap mulai dilonggarkan oleh Komite Teknis Wasit atau Comité Técnico de Árbitros (CTA).
Penunjukan Ortiz Arias sebenarnya bukan eksperimen acak. Sejumlah sumber perwasitan yang dikutip AS menilai performanya dalam beberapa musim terakhir cukup baik sehingga ia pantas mendapatkan pertandingan sebesar Derby Madrid.
Ortiz Arias memang belum berstatus wasit FIFA dan sebelumnya tidak rutin mendapatkan pertandingan terbesar di Spanyol. Namun, di lingkungan perwasitan domestik ia dikenal sebagai wasit berkarakter kuat yang cenderung memberikan toleransi terhadap kontak fisik.
Di sinilah masalah mulai muncul. Gaya membiarkan pertandingan berlangsung dengan kontak lebih keras membutuhkan konsistensi penilaian, sementara Derby Madrid menghadirkan intensitas yang jauh berbeda dibandingkan pertandingan liga biasa.
Tiga Insiden yang Mengubah Derby Madrid
Kontroversi pertama melibatkan Cristian “Cuti” Romero dan Jude Bellingham. Dalam perebutan bola, bek Atletico melakukan tekel keras terhadap gelandang Real Madrid, tetapi Ortiz Arias pada awalnya justru mengeluarkan kartu kuning kepada Bellingham.
VAR kemudian mengintervensi karena terjadi kesalahan identitas pemain. Kartu tersebut akhirnya dialihkan kepada Romero, tetapi Real Madrid meminta hukuman lebih berat dan menilai bek Argentina itu seharusnya mendapatkan kartu merah.
Rekaman komunikasi VAR yang kemudian dipublikasikan CTA memperlihatkan adanya pembahasan mengenai insiden-insiden utama pertandingan. Namun, mekanisme intervensi VAR menjadi salah satu bagian yang terus diperdebatkan setelah laga berakhir.
AS menyebut situasi Romero sebagai salah satu insiden yang masih perlu dijelaskan lebih mendalam melalui program tinjauan perwasitan Tiempo de Revisión. Karena intervensi awal berkaitan dengan salah identitas, proses tersebut tidak otomatis berubah menjadi pemeriksaan penuh kemungkinan kartu merah.
Kontroversi kedua bahkan dianggap lebih jelas. Lee Kang-in melakukan tekel keras terhadap Federico Valverde, tetapi Ortiz Arias tidak mengeluarkan kartu merah dan VAR juga tidak melakukan koreksi yang menghasilkan pengusiran.
Menurut laporan AS yang mengutip penilaian internal CTA, Lee Kang-in seharusnya mendapatkan kartu merah. Insiden tersebut menjadi salah satu keputusan yang paling sulit dipertahankan karena tingkat bahaya tekel terhadap Valverde dinilai memenuhi kriteria serious foul play.
Dampaknya juga tidak berhenti pada perdebatan kartu. Reuters melaporkan Valverde mengalami cedera pergelangan kaki serius setelah insiden tersebut, membuat keputusan wasit semakin menjadi perhatian kubu Real Madrid.
Situasi ketiga justru berlangsung berbeda karena VAR akhirnya memperbaiki keputusan lapangan. Dean Huijsen menarik Giuliano Simeone di kotak penalti ketika pemain Atletico berusaha menuju gawang Real Madrid.
Ortiz Arias dengan benar memberikan penalti, tetapi awalnya tidak mengusir Huijsen. VAR kemudian meminta wasit meninjau kembali insiden tersebut karena bek Real Madrid tidak berusaha memainkan bola ketika menghentikan Giuliano.
Setelah melihat monitor, hukuman dinaikkan menjadi kartu merah. Real Madrid harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain, sedangkan Grimaldo mengeksekusi penalti untuk membawa Atletico unggul pada menit ke-53.
Situasi inilah yang kemudian membuat kemarahan Madrid semakin besar. Dari sudut pandang mereka, dua pemain Atletico tetap berada di lapangan setelah pelanggaran keras, sementara Huijsen akhirnya diusir melalui bantuan VAR.
Harus digarisbawahi bahwa tidak semua interpretasi tersebut otomatis berarti terdapat keberpihakan. Perdebatan utama berada pada konsistensi penerapan Laws of the Game dan kapan VAR mempunyai dasar untuk melakukan intervensi terhadap keputusan wasit.
Mourinho Meledak setelah Pertandingan
José Mourinho tidak berusaha menyembunyikan ketidakpuasannya. Pelatih Real Madrid bahkan membawa gambar sejumlah insiden ketika berbicara kepada media seusai pertandingan dan secara terbuka mempertanyakan kualitas keputusan perwasitan.
“Saya pikir saya akan menemukan liga yang berbeda dari ketika saya pergi. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya sudah diatur, dan saya tidak ingin berpikir seperti itu,” kata Mourinho.
Kalimat tersebut berhenti sebelum menjadi tuduhan langsung mengenai manipulasi pertandingan. Namun, pilihan kata Mourinho cukup kuat untuk menggambarkan tingkat ketidakpercayaannya terhadap keputusan yang terjadi selama Derby Madrid.
Mourinho kemudian mempertanyakan penunjukan Ortiz Arias dengan menyoroti usia sang wasit dan ketiadaan pengalaman internasional. Pelatih asal Portugal tersebut mengaitkan dua faktor itu dengan kapasitas menangani pertandingan sebesar derby.
“Anda menunjuk wasit yang pada usia 41 tahun tidak memiliki pengalaman internasional. Ya, itu tentu bukan karena dia wasit hebat,” ujar Mourinho sebagaimana dikutip AS.
Namun, terdapat konteks menarik yang membuat argumen tersebut tidak sepenuhnya sederhana. Pakar statistik sepak bola Spanyol MisterChip mencatat tiga dari empat laga tandang Mourinho menghadapi Atletico pada periode pertamanya di Madrid juga dipimpin wasit berusia lebih dari 40 tahun yang bukan wasit FIFA.
Nama-nama tersebut adalah Turienzo Álvarez, Delgado Ferreiro dan Pérez Lasa. Real Madrid bahkan memenangkan ketiga pertandingan tersebut, sehingga status internasional atau usia wasit tidak otomatis menentukan kualitas sebuah derby.
Diego Simeone mengambil sikap berbeda. Pelatih Atletico meminta semua pihak menjaga penghormatan kepada wasit dan lebih menyoroti bagaimana timnya mengendalikan pertandingan baik ketika jumlah pemain masih seimbang maupun setelah Madrid kehilangan Huijsen.
Perbedaan respons kedua pelatih memperlihatkan persoalan klasik dalam kontroversi perwasitan. Klub yang merasa dirugikan menyoroti keputusan individual, sementara pihak yang memperoleh kemenangan akan lebih mudah mengembalikan pembicaraan kepada aspek permainan.
Mengapa Penunjukan Ortiz Arias Begitu Penting?
Persoalan Derby Madrid kali ini sebenarnya jauh lebih besar daripada satu pertandingan. Ortiz Arias menjadi simbol kebijakan baru CTA untuk secara bertahap menghapus pembatasan berbasis wilayah dalam penunjukan wasit.
Dalam sistem lama, wasit asal Madrid praktis menghadapi batasan ketika menyangkut pertandingan klub-klub Madrid. Hal serupa berlaku terhadap wasit asal Catalonia ketika berhadapan dengan Barcelona dan klub di wilayah tersebut.
CTA ingin mengubah pendekatan tersebut. Prinsip barunya sederhana: apabila seorang wasit dinilai cukup bagus, asal daerah seharusnya tidak menghalanginya memimpin pertandingan klub terbesar dari wilayah yang sama.
Argumennya memiliki logika profesional. Membatasi penunjukan berdasarkan tempat kelahiran atau wilayah federasi membuat kumpulan wasit untuk pertandingan besar menjadi lebih kecil dan dapat menghambat perkembangan wasit berkualitas.
CTA juga membantah bahwa Ortiz Arias dipilih semata-mata untuk menciptakan simbol perubahan. Menurut sumber komite yang dikutip AS, penunjukan diberikan berdasarkan performa karena dirinya dianggap telah menunjukkan level tinggi selama beberapa tahun.
Masalahnya, perubahan struktural membutuhkan pertandingan pertama yang relatif tenang untuk mendapatkan legitimasi. Yang terjadi justru sebaliknya: pertandingan pertama yang mendobrak kebiasaan lama menghasilkan salah satu kontroversi terbesar awal musim.
Karena itu, kegagalan Ortiz Arias tidak hanya berdampak terhadap penilaian individunya. Peristiwa tersebut berpotensi digunakan oleh kelompok yang sejak awal menentang penghapusan prinsip teritorial sebagai bukti bahwa kebijakan lama masih diperlukan.
Secara logis, dua isu tersebut sebenarnya harus dipisahkan. Kesalahan seorang wasit tidak membuktikan bahwa wasit Madrid tidak dapat memimpin Real Madrid atau Atletico, sebagaimana keputusan tepat seorang wasit juga tidak otomatis membuktikan seluruh kebijakan baru sudah sempurna.
Justru CTA kini mempunyai tantangan komunikasi yang besar. Mereka perlu menjelaskan apakah kesalahan terjadi karena interpretasi Laws of the Game, kegagalan koordinasi VAR, positioning, atau tekanan pertandingan, tanpa mencampurkannya dengan tempat asal wasit.
VAR Kembali Berada di Pusat Persoalan
Derby tersebut juga menunjukkan masalah yang lebih lama dalam penggunaan VAR: teknologi dapat melihat sebuah insiden berulang kali, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan interpretasi manusia.
Dalam kasus Huijsen, mekanismenya berjalan seperti yang diharapkan. VAR menemukan potensi kesalahan jelas, meminta review, dan Ortiz Arias kemudian mengubah keputusan dengan memberikan kartu merah.
Namun, pada tekel Kang-in kepada Valverde, sistem yang sama tidak menghasilkan koreksi. Menurut laporan terbaru AS, CTA menilai pemain Atletico tersebut seharusnya diusir, membuat pertanyaan justru bergeser kepada mengapa VAR tidak melakukan intervensi efektif.
Kasus Romero lebih kompleks karena proses pemeriksaan awal terkait salah identitas pemain. Bellingham sempat mendapat kartu untuk pelanggaran yang sebenarnya dilakukan Romero sebelum VAR membantu memperbaiki siapa pemain yang seharusnya dihukum.
Tiga insiden tersebut memperlihatkan tiga wajah VAR dalam satu pertandingan: memperbaiki keputusan secara penuh, memperbaiki hanya sebagian masalah, serta tidak melakukan koreksi pada insiden yang kemudian dinilai layak mendapatkan hukuman lebih berat.
Inilah yang membuat pembicaraan mengenai konsistensi menjadi lebih penting daripada sekadar jumlah kesalahan. Pemain, pelatih dan penonton pada akhirnya membutuhkan standar yang dapat diperkirakan ketika melihat pelanggaran dengan karakteristik serup


