Chelsea mulai bergerak mengantisipasi kemungkinan kepergian Enzo Fernandez dengan menyiapkan beberapa kandidat gelandang baru pada bursa transfer musim panas 2026. Salah satu nama yang paling serius dipantau adalah Alex Scott, motor lini tengah Bournemouth berusia 22 tahun.
Menurut The Guardian, Chelsea mempertimbangkan Alex Scott sebagai salah satu opsi jika Enzo Fernandez akhirnya dilepas ke Manchester City. Situasi itu membuat masa depan gelandang Bournemouth tersebut menjadi sorotan, terutama setelah performanya melonjak signifikan sepanjang musim 2025/26.
Minat Chelsea bukan sekadar penjajakan biasa karena klub London tersebut sudah mengajukan tawaran sekitar 64 juta poundsterling kepada Bournemouth. Namun, proposal itu ditolak karena The Cherries disebut mematok harga Alex Scott mendekati 80 juta poundsterling.
Nilai tersebut sangat tinggi untuk pemain yang belum menjadi langganan timnas senior Inggris, tetapi Bournemouth mempunyai alasan kuat menolak Chelsea dan mempertahankannya. Alex Scott masih terikat kontrak hingga 2028 dan menjadi salah satu pemain paling penting dalam sistem Andoni Iraola.
Alex Scott Menempuh Jalan Panjang Menuju Premier League
Alex Scott lahir di Guernsey pada 21 Agustus 2003 dan menjalani jalur karier yang jauh dari pola akademi elite Inggris. Ia sempat berada di Southampton dan Bournemouth sebelum kembali ke Guernsey, tempat karier seniornya justru mulai terbentuk.
Perjalanan Scott berubah ketika Bristol City membawanya dari sepak bola non-liga dan memberi kesempatan berkembang di lingkungan profesional. Bakat teknisnya segera terlihat, sementara keberaniannya menerima bola di ruang sempit membuatnya cepat menembus tim utama Championship.
Pada musim 2021/22, Scott sudah mencatat 35 penampilan sebagai starter di Championship meski usianya masih sangat muda. Semusim berikutnya, ia meningkatkan jumlah itu menjadi 40 starter dan mulai dipandang sebagai salah satu gelandang muda terbaik Inggris.
Performa tersebut membawanya meraih Championship Young Player of the Season 2022/23 dan masuk Team of the Season, catatan yang menarik Chelsea. Pencapaian itu kemudian membuka jalan menuju Bournemouth, yang merekrut Alex Scott dengan biaya sekitar 25 juta poundsterling pada 2023.
Chelsea sekarang melihat pengalaman itu sebagai nilai tambah karena Alex Scott sudah melewati berbagai level kompetisi tanpa kehilangan identitas permainannya. Ia bukan produk instan, melainkan gelandang yang berkembang melalui tuntutan fisik Championship sebelum diuji langsung di Premier League.
Dua musim pertamanya bersama Bournemouth sebenarnya tidak berjalan mulus karena Scott berulang kali terganggu cedera lutut. Namun, musim 2025/26 menjadi titik balik besar ketika kondisi fisiknya stabil dan ia hanya absen satu pertandingan sepanjang kampanye liga.
Alex Scott Berkembang Menjadi Gelandang Serbabisa
Kepercayaan Iraola membuat Alex Scott berkembang menjadi gelandang komplet yang sanggup bekerja di banyak zona, kualitas yang dibutuhkan Chelsea. Ia dimainkan sebagai nomor enam, nomor delapan, dan nomor sepuluh, bahkan memiliki pengalaman sebagai wing-back ketika masih membela Bristol City.
Fleksibilitas seperti itu menjadi alasan Chelsea tertarik karena skuad modern membutuhkan gelandang yang mampu beradaptasi terhadap beberapa struktur permainan. Alex Scott dapat dimainkan dalam double pivot, sebagai gelandang box-to-box, atau sedikit lebih maju untuk membantu pressing.
Kekuatan utama Scott adalah kontrol bola rapat ketika menerima umpan dalam tekanan serta kemampuan memutar badan dengan cepat. Ia mampu melewati lawan menggunakan sentuhan pendek, perubahan arah, dan akselerasi, bukan semata mengandalkan umpan aman ke samping.
Sky Sports mencatat Alex Scott melakukan 431 carries di Premier League musim lalu, kedelapan tertinggi di antara para gelandang dan menarik perhatian Chelsea. Sekitar separuh dari aksi tersebut dikategorikan sebagai progressive carries, menunjukkan kemampuannya membawa Bournemouth naik menuju area serang.
Alex Scott Bukan Salinan Enzo Fernandez
Karakter itu menjadi pembeda penting jika Chelsea benar-benar menjadikannya pengganti Enzo Fernandez pada musim 2026/27. Enzo lebih menonjol sebagai distributor dari area dalam, sedangkan Alex Scott lebih sering memecahkan tekanan melalui dribel, akselerasi, dan pergerakan vertikal.
Artinya, Chelsea tidak akan mendapatkan salinan langsung Enzo Fernandez jika transfer Alex Scott benar-benar diselesaikan. Mereka justru memperoleh gelandang dengan profil lebih atletis dan agresif, yang mampu mempercepat transisi sekaligus membawa bola melewati garis tekanan lawan.
Perkembangan fisik Alex Scott juga sangat menonjol setelah awal kariernya sering dianggap terlalu ringan untuk duel Premier League. Musim lalu, persentase kemenangan duel daratnya mencapai 56 persen, meningkat dari 47 persen pada musim pertamanya bersama Bournemouth.
Peningkatan serupa terjadi dalam duel udara karena Scott mencatat tingkat keberhasilan sekitar 54 persen pada musim 2025/26. Angka itu naik sepuluh poin dibandingkan musim pertamanya, memperlihatkan bagaimana tubuh dan keberaniannya berkembang di bawah arahan staf Bournemouth.
Dalam merebut kembali penguasaan, Alex Scott sudah berada di kelompok gelandang terbaik Premier League dan menawarkan kualitas penting bagi Chelsea. Sky Sports mencatat hanya Elliot Anderson dan Andre yang lebih sering merebut bola musim lalu.
Statistik tersebut sangat relevan bagi Chelsea jika mereka ingin mempertahankan intensitas pressing tinggi tanpa Enzo Fernandez. Alex Scott bukan hanya nyaman ketika menguasai bola, tetapi juga aktif mengejar lawan dan melakukan pekerjaan defensif ketika struktur tim kehilangan penguasaan.
Daya Jelajah Alex Scott Menjadi Senjata Utama
Daya jelajah Alex Scott menjadi salah satu atribut menonjol dalam permainan Bournemouth musim lalu, aspek yang membuat Chelsea semakin tertarik. Data Opta menunjukkan ia mencatat supporting runs terbanyak keenam dan high-speed runs terbanyak ketiga di antara seluruh pemain Premier League.
Scott juga menempuh sekitar 27,6 kilometer dalam kecepatan tinggi, menunjukkan kapasitas fisik yang sangat cocok untuk permainan transisi Chelsea. Lebih impresif lagi, tidak ada pemain Premier League yang melakukan tracking runs kembali ke posisi bertahan lebih banyak dibandingkan dirinya.
Bagi Chelsea, profil tersebut menawarkan keseimbangan antara kemampuan membawa bola, pressing, dan keberanian berlari tanpa bola. Alex Scott dapat membantu tim menyerang ruang, tetapi juga mempunyai stamina untuk kembali menutup area ketika bek sayap atau gelandang lain maju.
Salah satu contoh terbaik muncul ketika Bournemouth mengalahkan Arsenal di Emirates pada April 2026. Alex Scott membaca ruang dari lini kedua, berlari menembus tengah, menerima flick Evanilson, kemudian menyelesaikan serangan yang menghasilkan gol kemenangan bagi timnya.
Aksi tersebut menggambarkan kualitas yang tidak selalu tercermin dari statistik assist, yakni kecerdasan menyerang ruang tanpa bola. Bagi Chelsea, kemampuan seperti ini dapat memberi dimensi tambahan ketika Cole Palmer atau penyerang lain menarik perhatian pertahanan lawan.
Kelemahan Alex Scott yang Harus Diperbaiki Chelsea
Meski demikian, Alex Scott masih memiliki kelemahan penting apabila benar-benar diproyeksikan menggantikan Enzo Fernandez di Chelsea. Kekurangan terbesar terletak pada produktivitas akhir karena kontribusi gol dan assistnya belum sebanding dengan gelandang menyerang papan atas Premier League.
Dalam 89 pertandingan Premier League pertamanya, Alex Scott hanya menghasilkan empat gol dan tiga assist. Angka tersebut menunjukkan ia masih harus meningkatkan kualitas tembakan, keputusan di sepertiga akhir, serta ketepatan umpan terakhir jika pindah ke Chelsea.
Masalah produktivitas itu sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak masa Bristol City, ketika staf Chelsea tentu akan menuntutnya meningkatkan angka gol dan assist. Alex Scott mampu menghasilkan aksi kreatif di latihan, tetapi belum selalu menerjemahkannya secara konsisten dalam pertandingan kompetitif.
Aspek lain yang perlu diperhatikan Chelsea adalah kemampuan Scott mengontrol tempo dari posisi lebih dalam. Ia nyaman menerima bola dan menghindari pressing, tetapi belum memiliki variasi umpan panjang serta kontrol ritme setara Enzo Fernandez dalam permainan penguasaan.
Karena itu, Alex Scott akan lebih ideal jika dipasangkan dengan gelandang yang memiliki distribusi kuat daripada dijadikan satu-satunya pengatur permainan. Chelsea dapat memanfaatkan energinya sebagai nomor delapan sambil menjaga pemain lain sebagai pengontrol tempo dari area belakang.
Apakah Alex Scott Layak Dibayar 80 Juta Poundsterling?
Harga juga menjadi persoalan karena Bournemouth tidak berada dalam posisi terpaksa menjual, meskipun Alex Scott disebut menolak tawaran kontrak baru. Chelsea harus mempertimbangkan apakah valuasi sekitar 80 juta poundsterling sebanding dengan kontribusi sekarang dan potensi perkembangan jangka panjang.
Di sisi lain, usia 22 tahun, pengalaman 89 laga Premier League, serta kemampuan memainkan beberapa posisi membuat Alex Scott memiliki nilai investasi tinggi. Ia juga sudah menjuarai Euro U-19 dan Euro U-21 bersama Inggris, memperkuat reputasinya sebagai talenta generasi penting.
Jika Enzo Fernandez benar-benar hengkang, Chelsea membutuhkan pemain yang mampu langsung beradaptasi tanpa proses panjang terhadap intensitas Premier League. Alex Scott memenuhi syarat itu karena sudah terbiasa menghadapi tekanan, duel fisik, dan ritme cepat bersama Bournemouth setiap pekan.
Secara profil, Alex Scott memang bukan pengganti identik Enzo Fernandez, tetapi justru dapat mengubah karakter lini tengah Chelsea menjadi lebih agresif. Ia membawa ball-carrying, pressing, duel, fleksibilitas, dan stamina, sementara aspek kreativitas akhir masih membutuhkan perkembangan.
Keputusan akhirnya akan bergantung pada keberanian Chelsea membayar harga tinggi serta kepastian masa depan Enzo Fernandez sebelum jendela transfer ditutup. Jika transfer terjadi, Alex Scott akan menghadapi tantangan terbesar kariernya sekaligus peluang membuktikan diri di level elite.



