Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Awal Musim Manchester United Terburuk Terulang, Apa yang Bisa Dipelajari dari Era Van Gaal?

Awal Musim Manchester United Terburuk Terulang, Apa yang Bisa Dipelajari dari Era Van Gaal?

  • Oktober 2, 2026

Awal musim Manchester United 2026/27 menghadirkan situasi yang sulit diperkirakan setelah peningkatan besar pada penghujung musim sebelumnya, ketika pasukan Michael Carrick mengumpulkan 39 poin dari kemungkinan 51. Jumlah itu bahkan lebih banyak dibanding Arsenal dan Manchester City dalam rentang 17 pertandingan yang sama.

Ekspektasi terhadap United otomatis meningkat karena komposisi utama tim tidak mengalami revolusi besar, dengan Youri Tielemans menggantikan peran Casemiro dan Marcus Rashford kembali mendapatkan tempat penting. Rashford pulang setelah mencatatkan 28 kontribusi gol selama menjalani masa peminjaman bersama Barcelona pada musim sebelumnya.

Namun, awal musim Manchester United justru berjalan tersendat dengan hanya lima poin yang dikumpulkan dari lima pertandingan Premier League pertama. Catatan tersebut menyamai jumlah terendah klub pada tahap yang sama sepanjang era Premier League, setelah sebelumnya terjadi pada musim 2014/15.

Situasinya menarik karena angka lima poin tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang berlangsung di lapangan, terutama ketika beberapa indikator permainan menunjukkan United cukup dominan. Persoalannya terletak pada kemampuan mengubah dominasi wilayah menjadi gol sekaligus mempertahankan konsentrasi pada momen pertandingan yang menentukan.

Awal Musim Manchester United: Lima Laga yang Penuh Poin Terbuang

Masalah awal musim Manchester United sudah terlihat sejak pertandingan pertama ketika mereka dikejutkan Hull City melalui dua situasi bola mati. Kekalahan itu terasa semakin mahal karena Hull kemudian menunjukkan bahwa performa mereka bukan sekadar kejutan satu pertandingan pada pembukaan kompetisi.

Respons United sebenarnya cukup meyakinkan karena mereka kemudian mampu mencetak lima gol ketika menghadapi Ipswich Town, memperlihatkan kapasitas menyerang skuad Carrick. Kemenangan besar itu sempat memberikan kesan bahwa kekalahan pada pertandingan pembuka hanyalah hambatan sementara yang segera berhasil diperbaiki.

Kenyataannya, masalah kembali muncul saat menghadapi Everton ketika United kehilangan kemenangan setelah lawan mencetak gol penyama kedudukan pada fase akhir pertandingan. Pola tersebut memperlihatkan bahwa persoalan awal musim Manchester United bukan hanya menciptakan peluang, melainkan juga mengendalikan pertandingan sampai peluit terakhir.

Derbi melawan Manchester City kemudian menghadirkan persoalan berbeda setelah gol kemenangan City menjadi kontroversi dan belakangan dikonfirmasi berkaitan dengan kesalahan perangkat pertandingan maupun VAR. Situasi tersebut tentu merugikan United, tetapi tidak menghapus kebutuhan Carrick meningkatkan margin performa agar tim tidak terus bergantung pada keputusan tipis.

Pertandingan melawan Fulham semakin memperjelas masalah karena United tampil lambat sekitar 70 menit pertama sebelum mencoba meningkatkan tekanan pada fase akhir. Hasil tersebut membuat akumulasi awal musim Manchester United berhenti pada lima poin dari kemungkinan maksimal 15 angka.

Sports Illustrated mencatat bahwa lima poin tersebut merupakan catatan terendah bersama United setelah lima pertandingan Premier League. Satu-satunya musim lain ketika mereka mengumpulkan jumlah identik adalah 2014/15, musim pertama Louis van Gaal menangani klub.

Namun, terdapat alasan mengapa Carrick belum perlu melihat situasi ini sebagai persoalan yang membutuhkan perombakan besar, terutama jika membaca statistik wilayah permainan. United sebenarnya mampu membawa bola ke area berbahaya dengan frekuensi yang termasuk paling tinggi di kompetisi sejauh lima pertandingan.

Data Opta menunjukkan Manchester United sudah mencatatkan 182 sentuhan di kotak penalti lawan, lebih banyak daripada klub Premier League lainnya pada periode tersebut. Sebaliknya, United hanya membiarkan lawan menyentuh bola 92 kali di kotak penalti mereka sendiri, angka terendah di liga.

Dua angka tersebut memberikan perspektif berbeda mengenai awal musim Manchester United karena tim secara teritorial sebenarnya mampu mendominasi kedua ujung lapangan. Artinya, problem mereka lebih mungkin berkaitan dengan kualitas penyelesaian, detail transisi, konsentrasi, dan efektivitas dibanding ketidakmampuan membawa permainan ke wilayah yang diinginkan.

Situasi seperti ini menjadi penting ketika menilai Carrick karena hasil dan kualitas proses tidak selalu bergerak dalam kecepatan yang sama pada awal kompetisi. Tim dapat bermain buruk tetapi menang, sementara tim yang mendominasi peluang atau wilayah juga bisa kehilangan angka karena sejumlah kejadian kecil.

Awal Musim Manchester United 2014/15 Jadi Cermin Menarik

Perbandingan paling dekat membawa pembahasan menuju musim 2014/15, ketika Louis van Gaal datang setelah periode singkat dan mengecewakan bersama David Moyes. United sebelumnya mengakhiri musim 2013/14 di posisi ketujuh, yang ketika itu merupakan pencapaian terburuk mereka sepanjang era Premier League.

Ekspektasi kepada Van Gaal sangat besar karena rekam jejaknya mencakup gelar liga bersama Barcelona dan Bayern Munchen serta trofi Liga Champions bersama Ajax. Pelatih asal Belanda itu juga baru membawa negaranya finis ketiga pada Piala Dunia 2014 sebelum memulai pekerjaan di Old Trafford.

Manchester United kemudian mengeluarkan investasi besar dengan merekrut Ander Herrera dan Luke Shaw sebelum kedatangan Ángel Di María, Marcos Rojo, serta Daley Blind. Radamel Falcao juga bergabung dengan status pinjaman sehingga secara nama, skuad Van Gaal terlihat memiliki kualitas untuk segera kembali bersaing.

Namun, awal musim Manchester United bersama Van Gaal justru berlangsung jauh dari ekspektasi karena perubahan sistem membutuhkan waktu untuk diterapkan dalam pertandingan kompetitif. United langsung tumbang 1-2 melawan Swansea City pada pertandingan pembuka Premier League di Old Trafford.

Kekalahan tersebut memiliki bobot historis karena menjadi pertama kalinya Manchester United kalah dalam pertandingan kandang pembuka musim liga sejak 1972. Cedera pemain juga membuat Jesse Lingard dan Tyler Blackett mendapatkan kesempatan ketika struktur tim masih dalam proses penyesuaian.

Dua pertandingan berikutnya tidak menghasilkan kemenangan karena United bermain imbang 1-1 melawan Sunderland kemudian 0-0 menghadapi Burnley. Setelah tiga pertandingan, pasukan Van Gaal hanya memiliki dua poin sehingga tekanan meningkat meskipun proyek baru praktis baru saja dimulai.

Situasi bahkan semakin buruk di kompetisi piala ketika MK Dons menghancurkan Manchester United 4-0 pada putaran kedua Piala Liga. Kekalahan tersebut memperbesar keraguan terhadap adaptasi sistem Van Gaal sekaligus menunjukkan bahwa kedalaman skuad United masih belum mampu memberikan kestabilan.

Momentum pertama kemudian datang setelah jeda internasional September melalui kemenangan 4-0 atas Queens Park Rangers di Old Trafford. Di María tampil impresif pada debut kandangnya, sedangkan Ander Herrera ikut mencetak gol dalam penampilan yang tampak seperti titik balik awal musim Manchester United.

Harapan itu hanya bertahan satu pekan karena United kemudian mengalami kekalahan dramatis 3-5 ketika bertandang ke markas Leicester City. Mereka sebenarnya sempat memimpin 3-1, tetapi kehilangan kendali hingga menjadi pertama kalinya United kalah di Premier League setelah unggul dua gol.

Hasil tersebut berarti United mengakhiri lima pertandingan pertama musim 2014/15 dengan satu kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan. Kombinasi itulah yang menghasilkan lima poin, angka sama persis dengan awal musim Manchester United pada 2026/27.

Mengapa Sejarah Van Gaal Tidak Bisa Dibaca Terlalu Sederhana?

Hal menarik dari perjalanan 2014/15 adalah Manchester United tidak terus terperosok setelah lima pertandingan pertamanya, melainkan perlahan menemukan stabilitas permainan. Pada November, mereka memulai rangkaian enam kemenangan beruntun yang membawa posisi tim melonjak dari peringkat kesembilan menuju tiga besar.

Periode tersebut menjadi bagian dari catatan tidak terkalahkan selama sekitar dua bulan dan mencapai sepuluh pertandingan Premier League. Peningkatan itu memperlihatkan bagaimana adaptasi sistem, kombinasi pemain, dan kepercayaan diri dapat mengubah arah sebuah musim setelah pembukaan yang sangat tidak meyakinkan.

United kembali memiliki periode kuat antara pertengahan Januari hingga pertengahan April dengan hanya satu kekalahan dalam sepuluh pertandingan liga. Di dalam periode tersebut terdapat enam kemenangan berturut-turut yang kembali membawa mereka berada di posisi ketiga dan membuka pembicaraan mengenai persaingan papan atas.

Namun, kisah itu sekaligus menjadi peringatan bahwa kebangkitan setelah awal musim Manchester United yang buruk tidak otomatis menghasilkan tantangan gelar. United hanya memenangkan satu dari enam pertandingan terakhir dan akhirnya menyelesaikan kompetisi di posisi keempat, bukan mendekati Chelsea sebagai juara.

Ketika tersisa enam pertandingan, jarak Manchester United dengan Chelsea masih delapan poin sehingga secara matematis peluang mengejar masih terbuka. Pada akhir musim, selisih tersebut membesar menjadi 17 angka setelah United finis dengan 70 poin, sementara Chelsea mengakhiri kompetisi dengan 87 poin.

Meski demikian, posisi keempat tetap penting karena membawa Manchester United kembali menuju Liga Champions setelah kegagalan pada musim sebelumnya. Data FBref mencatat tim Van Gaal mengakhiri liga dengan 20 kemenangan, 10 hasil imbang, delapan kekalahan, 62 gol, dan 37 kebobolan.

Konteks tersebut membuat perbandingan dengan awal musim Manchester United saat ini harus digunakan secara hati-hati, bukan sebagai jaminan sejarah akan berulang. Lima poin merupakan indikator adanya persoalan, tetapi tidak memiliki kemampuan sendirian untuk menentukan posisi yang akan ditempati sebuah klub pada Mei.

Awal Musim Manchester United Tidak Selalu Menentukan Akhir

Era Sir Alex Ferguson bahkan menyediakan banyak contoh bahwa kehilangan poin pada lima pertandingan awal tidak selalu berakhir dengan kegagalan. Dalam delapan musim ketika United hanya mencatatkan angka satu digit setelah lima pertandingan, enam di antaranya tetap berakhir dengan gelar Premier League.

Contohnya terlihat pada musim 1996/97 ketika Manchester United memperoleh sembilan poin dari lima pertandingan tetapi akhirnya menjadi juara. Musim treble 1998/99 bahkan dimulai hanya dengan delapan poin dari kemungkinan 15, sebelum tim Ferguson berkembang menjadi kekuatan dominan sepanjang kompetisi.

Pada 2002/03, United juga memiliki delapan poin setelah lima pertandingan dan kembali menjadi juara pada akhir musim. Cerita serupa terjadi pada 2007/08 dan 2008/09, ketika delapan poin dari lima pertandingan tidak mencegah United mengangkat trofi Premier League.

Sebaliknya, start luar biasa juga tidak menjamin gelar, sesuatu yang paling jelas terlihat pada musim 2011/12 ketika Manchester United memenangkan lima pertandingan pertama. Koleksi sempurna 15 poin tetap tidak cukup karena Manchester City akhirnya merebut gelar melalui selisih gol dalam penutup musim yang dramatis.

Pola lainnya terlihat pada 2021/22 ketika United meraih 13 poin dari lima pertandingan pertama di bawah Ole Gunnar Solskjaer. Performa kemudian jatuh signifikan, Solskjaer kehilangan pekerjaannya, dan Manchester United menyelesaikan musim tersebut hanya di posisi keenam.

Data historis tersebut membuat awal musim Manchester United lebih tepat digunakan sebagai alat diagnosis dibanding kesimpulan mengenai keseluruhan kompetisi. Lima pertandingan memberikan sinyal mengenai kelemahan awal, tetapi sampelnya masih terlalu kecil untuk menentukan apakah sebuah tim dapat berkembang atau justru mengalami penurunan.

Poin Manchester United Setelah Lima Laga Premier League

MusimPoinPosisi Akhir
1992/9371
1993/94131
1994/95102
1995/96121
1996/9791
1997/98132
1998/9981
1999/00131
2000/01111
2001/0283
2002/0381
2003/04123
2004/0563
2005/06112
2006/07121
2007/0881
2008/0981
2009/10122
2010/11111
2011/12152
2012/13121
2013/1477
2014/1554
2015/16105
2016/1796
2017/18132
2018/1996
2019/2083
2020/2172
2021/22136
2022/2393
2023/2468
2024/25715
2025/2673
2026/275—

Ada satu tren lain yang patut diperhatikan, yakni semakin jarangnya Manchester United memulai kompetisi dengan setidaknya sepuluh poin dari lima pertandingan. Dalam 14 musim sejak 2012/13 termasuk musim berjalan, catatan dua digit pada tahap tersebut hanya terjadi tiga kali.

Van Gaal memperoleh sepuluh poin pada 2015/16, José Mourinho mengumpulkan 13 pada musim keduanya, sedangkan Solskjaer menyamai 13 poin pada 2021/22. Ironisnya, tidak satu pun dari ketiga musim dengan start kuat tersebut berakhir dengan Manchester United menjadi juara Premier League.

Artinya, persoalan terbesar awal musim Manchester United 2026/27 bukan semata fakta bahwa mereka baru mengumpulkan lima poin. Pertanyaan lebih penting adalah apakah angka performa positif seperti 182 sentuhan di kotak lawan dapat segera diterjemahkan menjadi peluang berkualitas, gol, dan kemenangan.

Jumlah hanya 92 sentuhan lawan di kotak penalti United juga menunjukkan bahwa struktur pertahanan secara wilayah belum menunjukkan tanda-tanda kerusakan besar. Namun, statistik tersebut kehilangan nilai apabila kesalahan bola mati, transisi, penyelesaian, atau konsentrasi terus menghasilkan gol pada momen menentukan.

Carrick pada akhirnya menghadapi pekerjaan yang berbeda dibanding Van Gaal pada 2014 karena fondasi timnya sudah terbentuk dari musim sebelumnya. Dia tidak sedang memperkenalkan revolusi sistem kepada skuad baru, sehingga kebutuhan utamanya adalah meningkatkan efisiensi dari struktur permainan yang sebenarnya sudah menghasilkan sejumlah indikator positif.

Karena itulah, sejarah 2014/15 memberikan harapan sekaligus peringatan bagi awal musim Manchester United sekarang tanpa perlu dianggap sebagai cetak biru. United pernah pulih dari lima poin menjadi penghuni empat besar, tetapi proses tersebut membutuhkan konsistensi berbulan-bulan dan tetap gagal mendekati gelar.

Lima pertandingan memang hanya sekitar 13 persen dari keseluruhan musim Premier League, sehingga masih tersedia ruang besar untuk mengubah arah kompetisi. Namun, setiap poin yang hilang pada September tetap memiliki nilai sama dengan poin yang diperebutkan ketika tekanan perebutan posisi meningkat pada April dan Mei.

Awal musim Manchester United karena itu belum dapat disebut menentukan nasib mereka, tetapi jelas sudah menciptakan kebutuhan untuk segera memperbaiki efektivitas. Data permainan memberikan dasar optimisme, sedangkan sejarah mengingatkan bahwa dominasi statistik hanya berarti apabila pada akhirnya berubah menjadi kemenangan.

Pantai Gading vs Kamerun

Preview Pantai Gading vs Kamerun: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

02 Okt 2026
Kanada vs Peru

Preview Kanada vs Peru: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

02 Okt 2026

Florian Wirtz Mulai Diragukan di Liverpool, Data Justru Ungkap Hal Berbeda

02 Okt 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.