Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Deretan Pemain Bintang Singapura yang Pernah Merumput di Liga Indonesia

Deretan Pemain Bintang Singapura yang Pernah Merumput di Liga Indonesia

  • Agustus 5, 2026
Daftar pemain Singapura yang bermain di Liga Indonesia.

Hubungan sepak bola Singapura dan Liga Indonesia sudah terjalin sejak era Galatama, jauh sebelum regulasi pemain ASEAN kembali populer. Sejumlah nama kemudian datang sebagai bintang tim nasional, pemain naturalisasi, ataupun talenta muda yang mencari tantangan baru.

Jejak mereka tidak selalu berakhir dengan trofi, tetapi beberapa pemain tersebut meninggalkan pengaruh kuat melalui gol, kepemimpinan, dan loyalitas. Fandi Ahmad membuka jalan, sedangkan Noh Alam Shah serta Muhammad Ridhuan menikmati puncak kesuksesan bersama Arema.

Daftar ini memuat sedikitnya lima belas pemain berkewarganegaraan Singapura yang tercatat membela klub Indonesia di berbagai level. Cakupannya meliputi Galatama, Liga Indonesia, Liga Primer Indonesia, Divisi Utama, Indonesia Super League, Liga 1, dan Super League.

Daftar Pemain Singapura di Liga Indonesia

1. Fandi Ahmad

Fandi Ahmad menjadi pelopor utama ketika menerima tawaran NIAC Mitra Surabaya pada musim Galatama 1982/83. Penyerang muda Singapura itu hanya bertahan semusim, tetapi langsung membantu klub tersebut menjadi juara dan memperoleh tempat khusus di hati publik Surabaya.

Kecepatan, teknik, serta keberanian Fandi membuat pertahanan lawan kesulitan sepanjang musim tersebut. Pengaruhnya di Liga Indonesia semakin dikenang setelah NIAC Mitra mengalahkan Arsenal 2-0 dalam laga persahabatan, dengan Fandi menyumbangkan salah satu gol.

2. David Lee

David Lee datang bersama Fandi dan menjaga gawang NIAC Mitra pada musim 1982/83. Penjaga gawang tersebut memberikan kestabilan di belakang, membantu klub mencatat pertahanan kuat, dan ikut merasakan gelar Galatama pada akhir kampanye singkatnya.

Kiprah Fandi dan David berakhir setelah kebijakan kompetisi membatasi penggunaan pemain asing. Meski hanya sekitar satu musim, keduanya membuktikan pemain Singapura mampu bersaing, berprestasi, dan memberi nilai besar bagi klub Liga Indonesia.

3. Ahmad Latiff Khamaruddin

Ahmad Latiff Khamaruddin menjadi salah satu penerus generasi awal ketika bergabung dengan Persikabo Bogor pada 2001. Pemain menyerang Singapura itu menjalani petualangan luar negeri pertamanya selama sekitar satu musim sebelum kembali ke panggung Liga Indonesia.

Periode Ahmad Latiff di Liga Indonesia tidak menghasilkan gelar besar dan dokumentasi statistiknya cukup terbatas. Namun, kepindahannya penting karena berlangsung ketika arus pemain negara tetangga menuju Indonesia belum seramai akhir dekade 2000-an.

4. Itimi Dickson

Itimi Dickson memperkuat Persitara Jakarta Utara pada 2007 hingga 2009, kemudian kembali ke Liga Indonesia bersama Persidafon Dafonsoro pada 2011/12. Winger naturalisasi Singapura tersebut dikenal cepat, agresif, dan mampu dimainkan sebagai penyerang pendamping.

Catatan yang tersedia menempatkan Itimi dengan 17 penampilan serta dua gol selama periode Persitara. Ia tidak memenangkan trofi bersama kedua klub, tetapi pengalamannya memperlihatkan keberanian pemain tersebut menghadapi perjalanan panjang dan atmosfer pertandingan Liga Indonesia.

5. Fahrudin Mustafic

Fahrudin Mustafic datang ke Persija Jakarta pada musim 2009/10 bersama Baihakki Khaizan. Bek sekaligus gelandang bertahan Singapura tersebut tampil 25 kali, memberikan kekuatan duel, ketenangan mengeksekusi penalti, dan pengalaman internasional bagi lini tengah Macan Kemayoran.

Setelah satu musim bersama Persija, Mustafic melanjutkan kariernya di Persela Lamongan pada 2010/11. Ia mencatat sekitar 24 hingga 25 pertandingan dan tiga gol, tetapi dua musimnya di Liga Indonesia berakhir tanpa gelar klub.

6. Baihakki Khaizan

Baihakki Khaizan mengikuti jalur serupa dengan bergabung bersama Persija pada 2009/10, lalu menyeberang ke Persib Bandung. Bek tengah Singapura itu hanya sekitar enam bulan berada di Bandung sebelum menandatangani kontrak dengan Medan Chiefs pada 2011.

Di Persija, Baihakki memperoleh menit bermain reguler dan memberikan ancaman melalui duel udara. Namun, perjalanan bersama Persib serta Medan Chiefs tidak menghasilkan trofi, sehingga warisannya di Liga Indonesia lebih dikenang melalui keberanian menghadapi rivalitas besar.

7. Shahril Ishak

Shahril Ishak direkrut Persib Bandung untuk musim 2010/11, ketika reputasinya sebagai gelandang serang Singapura sedang tinggi. Ia menjalani sekitar setengah musim dan kesulitan menjadi pilihan tetap karena persaingan di lini tengah Maung Bandung sangat ketat.

Shahril kemudian pindah ke Medan Chiefs bersama Baihakki pada 2011 dan bermain di Liga Primer Indonesia. Meski tidak meraih gelar di Liga Indonesia, pengalaman tersebut menambah warna karier pemain yang kemudian menjadi kapten juara Piala AFF 2012.

8. Agu Casmir

Agu Casmir memperkuat Persija pada musim 2010/11 dan menjadi salah satu penyerang Singapura paling produktif di Liga Indonesia. Catatan kariernya menunjukkan 21 pertandingan serta sembilan gol, angka yang menggambarkan kontribusi nyata meskipun Persija tidak menjadi juara.

Penyerang kelahiran Nigeria itu kemudian kembali ke Indonesia ketika direkrut Persebaya menjelang kompetisi 2014. Masa baktinya relatif singkat dan tidak menghasilkan trofi, tetapi kehadirannya menunjukkan klub Liga Indonesia tetap menghargai pengalaman pemain tim nasional Singapura.

9. Khairul Amri

Khairul Amri menjalani satu musim bersama Persiba Balikpapan sejak September 2010 hingga akhir 2011. Penyerang Singapura tersebut mencatat 23 penampilan dan sembilan gol, menghadirkan kecepatan, pergerakan antarlini, serta penyelesaian tajam bagi tim Beruang Madu.

Persiba tidak memperoleh gelar selama periode itu, tetapi Amri meninggalkan catatan individu yang cukup kuat. Produktivitas sembilan gol membuatnya termasuk pemain Singapura dengan rasio kontribusi terbaik dalam satu masa kerja di Liga Indonesia.

10. Noh Alam Shah

Noh Alam Shah menjadi figur Singapura paling membekas setelah bergabung dengan Arema pada 2009. Dalam dua musim kompetitif pertamanya, striker berjuluk Along membantu Singo Edan menjuarai Indonesia Super League 2009/10 dan menjadi runner-up pada musim berikutnya.

Along mencetak 14 gol liga pada musim juara, kemudian tetap menjadi pemimpin serangan dan ruang ganti. Arema juga mencapai final Piala Indonesia 2010, tetapi kalah 1-2 dari Sriwijaya FC dalam pertandingan yang berlangsung penuh ketegangan.

Setelah meninggalkan Arema, Noh Alam Shah membela Persib pada 2012 dan sempat memperkuat PSS Sleman pada 2013. Meski periode berikutnya lebih singkat, namanya sudah terlanjur menjadi simbol keberhasilan pemain Singapura di Liga Indonesia.

11. Muhammad Ridhuan

Muhammad Ridhuan datang ke Arema bersama Along dan langsung menjadi bagian penting sistem Robert Alberts. Winger Singapura tersebut tampil dalam 33 pertandingan liga pada musim pertamanya, membantu klub menjadi juara melalui kecepatan, kerja keras, dan penetrasi sisi kanan.

Ridhuan juga mencetak gol Arema pada final Piala Indonesia 2010, meskipun Sriwijaya akhirnya menang 2-1. Ia bertahan hingga 2013 sebelum menjalani masa singkat bersama Persisam Putra Samarinda, sehingga total petualangannya di Liga Indonesia berlangsung sekitar empat tahun.

12. Precious Emuejeraye

Precious Emuejeraye memulai perjalanan Liga Indonesia bersama Sriwijaya FC pada 2009/10. Bek tengah naturalisasi Singapura itu tampil dalam 28 pertandingan liga dan menjadi starter ketika Laskar Wong Kito mengalahkan Arema pada final Piala Indonesia 2010.

Setelah meraih trofi tersebut, Precious melanjutkan karier bersama Persija dari 2010 hingga 2012, Persiba Balikpapan pada 2012/13, dan Persidafon berikutnya. Masa kerjanya sekitar empat musim menjadikannya salah satu pemain Singapura paling lama bertahan di Liga Indonesia.

13. Jacob Mahler

Jacob Mahler menghadirkan generasi baru ketika Madura United merekrutnya untuk Liga 1 2023/24. Gelandang bertahan dan bek Singapura tersebut memainkan 34 pertandingan, mencetak satu gol, serta menunjukkan kemampuan distribusi dan duel yang konsisten.

Pencapaian Mahler terasa istimewa karena Madura United mencapai final Championship Series dan menjadi runner-up Liga 1 2023/24. Satu musim yang kuat itu menghidupkan kembali reputasi pemain Singapura di Liga Indonesia setelah beberapa tahun minim kedatangan baru.

14. Song Ui-young

Song Ui-young bergabung dengan Persebaya Surabaya pada Juni 2023 setelah bermain di Thailand. Gelandang serang naturalisasi Singapura tersebut tampil 17 kali dan mencetak satu gol, termasuk tembakan jarak jauh yang menentukan kemenangan atas PSM Makassar.

Perjalanan Song berakhir pada Maret 2024 tanpa trofi setelah kontraknya dihentikan lebih awal. Meski singkat, ia merasakan langsung tekanan suporter Surabaya dan menambah daftar pemain Singapura yang pernah mencoba kerasnya persaingan Liga Indonesia.

15. Zulfahmi Arifin

Zulfahmi Arifin pertama kali datang pada November 2023 untuk memperkuat Bhayangkara FC pada putaran kedua Liga 1. Gelandang Singapura itu kemudian meninggalkan Liga Indonesia, sebelum Persis Solo merekrutnya untuk menghadapi Super League musim 2025/26.

Keunggulan Zulfahmi terletak pada fleksibilitas karena mampu bermain sebagai gelandang tengah, bek tengah, maupun bek sayap. Ia belum mempersembahkan gelar di Liga Indonesia, tetapi pengalaman regionalnya memberi tambahan kedalaman dan kepemimpinan bagi klub yang dibelanya.

Prestasi Pemain Singapura di Liga Indonesia

Arema menjadi klub paling sukses memanfaatkan tenaga pemain Singapura karena duet Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan menghasilkan gelar liga. NIAC Mitra juga memperoleh keuntungan serupa dari Fandi Ahmad dan David Lee di Liga Indonesia era Galatama.

Persija, Persib, Persebaya, dan klub lain lebih sering memperoleh kontribusi individual tanpa trofi. Meski demikian, kehadiran pemain Singapura tetap memperkaya Liga Indonesia melalui karakter fisik, disiplin taktik, pengalaman internasional, dan kemampuan beradaptasi dengan tekanan suporter.

Secara keseluruhan, perjalanan mereka menunjukkan hubungan sepak bola kedua negara tidak hanya dibentuk oleh rivalitas tim nasional. Liga Indonesia menyediakan panggung besar, sedangkan pemain Singapura menawarkan profesionalisme dan kualitas yang pada beberapa periode menghasilkan prestasi bersejarah.

7 pemain bintang dunia yang pernah memperkuat Trabzonspor.

7 Pemain Bintang Dunia Ini Pernah Memperkuat Trabzonspor Sebelum Mohamed Salah

05 Agu 2026
Daftar pemain Singapura yang bermain di Liga Indonesia.

Deretan Pemain Bintang Singapura yang Pernah Merumput di Liga Indonesia

05 Agu 2026
Gianni Infantino diminta mundur dari jabatan Presiden FIFA.

Gianni Infantino Diminta Mundur! Ini 6 Kandidat Calon Presiden FIFA Selanjutnya

05 Agu 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.