Arsenal menutup bursa transfer musim panas 2026 dengan situasi yang terasa kontradiktif karena sang juara Liga Inggris berhasil memperkuat lini tengah dan pertahanan, tetapi kehilangan beberapa opsi menyerang tanpa mendapatkan bintang besar yang sejak awal menjadi buruan utama.
Situasi transfer Arsenal semakin menarik karena Mikel Arteta sebelumnya menegaskan pentingnya kedalaman skuad untuk bertarung dalam empat kompetisi, tetapi hari terakhir bursa justru berlalu tanpa kedatangan pemain baru untuk menutup kepergian sejumlah penyerang.
Menurut laporan The Guardian, Arsenal membiarkan Gabriel Jesus pergi secara permanen ke Barcelona dan Ethan Nwaneri dipinjamkan ke Borussia Dortmund tanpa merekrut pengganti langsung, sebuah keputusan yang langsung memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan skuad juara Liga Inggris tersebut.
Kekhawatiran bertambah karena Gabriel Martinelli juga diperkirakan menuju Al-Hilal sebelum penutupan bursa Arab Saudi, dengan nilai transfer yang berpotensi mencapai £60 juta, sehingga Arteta dapat kehilangan satu lagi penyerang berpengalaman dalam waktu sangat berdekatan.
Ironisnya, semua itu terjadi ketika Manchester City, salah satu rival utama Arsenal dalam perburuan gelar, menghabiskan lebih dari £300 juta untuk merombak lini tengah dan menyamai rekor transfer Inggris dengan mendatangkan Enzo Fernandez dari Chelsea senilai £125 juta.
Perbedaan pendekatan tersebut membuat transfer Arsenal menjadi salah satu cerita paling menarik setelah penutupan pasar, bukan karena mereka tidak berbelanja, melainkan karena klub memilih berhenti ketika kebutuhan tambahan di lini depan tampak cukup jelas menjelang musim panjang.
Transfer Arsenal Tinggalkan Lubang Besar di Lini Serang
Arteta sebenarnya masih memiliki setidaknya dua opsi pada sebagian besar posisi, termasuk Eberechi Eze dan Christos Tzolis di sektor kiri, sementara kedatangan Bruno Guimaraes memberi pelatih asal Spanyol tersebut banyak pilihan untuk mengatur komposisi lini tengah.
Masalahnya berada pada karakter pemain yang tersedia, khususnya setelah Arsenal kehilangan beberapa penyerang dengan kemampuan berbeda dalam satu musim panas, sementara cedera pada sektor ofensif telah menjadi masalah penting bagi mereka selama dua musim terakhir.
Arteta bahkan telah mengakui pentingnya memiliki skuad sangat dalam ketika tim harus berkompetisi di empat ajang dengan intensitas permainan tinggi, sehingga kegagalan memperoleh tambahan penyerang membuat keputusan transfer Arsenal terlihat bertolak belakang dengan kekhawatiran sang manajer sendiri.
Arsenal sebenarnya mempunyai kesempatan merekrut Malick Fofana, tetapi klub memilih tidak melanjutkan transfer karena Arteta dikabarkan ragu apakah pemain internasional Belgia tersebut benar-benar dapat meningkatkan kualitas skuad yang sudah dimilikinya pada musim ini.
Fofana akhirnya bergabung dengan Sunderland setelah klub tersebut memenangkan persaingan dengan Crystal Palace, sementara Arsenal kembali tanpa tambahan pemain menyerang setelah sepanjang musim panas mengejar beberapa nama yang secara kualitas berada pada kategori jauh lebih tinggi.
Nama terbesar tentu Vinicius Junior, winger Real Madrid yang dipandang sebagai salah satu target impian, sementara Julian Alvarez dari Atletico Madrid juga masuk radar setelah Arsenal sebelumnya kehilangan Morgan Rogers yang akhirnya memilih bergabung dengan Chelsea.
Kenan Yildiz juga disebut sebagai pemain yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi Juventus tidak mempunyai keinginan menjual bintang Turki itu, sedangkan Alvarez dikabarkan menegaskan bahwa Barcelona merupakan satu-satunya tujuan yang diinginkannya apabila meninggalkan Atletico Madrid.
Strategi mengejar pemain kelas elite memang mudah dipahami karena Arsenal telah mencapai level ketika setiap rekrutan baru harus mampu meningkatkan tim juara, tetapi transfer Arsenal menunjukkan risiko besar apabila terlalu banyak waktu digunakan untuk target yang hampir mustahil diperoleh.
Ketika pintu untuk Vinicius, Alvarez, Yildiz, hingga Rogers akhirnya tertutup, Arsenal tidak mempunyai alternatif kelas menengah yang dianggap cukup meyakinkan, sementara keputusan mundur dari Fofana meninggalkan Arteta dengan opsi serangan lebih terbatas daripada yang dibayangkan sebelumnya.
Andrea Berta dan Strategi Mengejar Pemain Impian
Sorotan terhadap transfer Arsenal kini juga mengarah kepada direktur olahraga Andrea Berta, yang datang dari Atletico Madrid pada Maret 2025 dan sebelumnya mendapat pujian besar setelah membantu klub melakukan investasi agresif untuk memperkuat skuad juara.
Pada musim panas sebelumnya, ketegasan Berta membantu Arsenal mencatat pengeluaran bersih lebih dari £250 juta melalui perekrutan pemain seperti Eberechi Eze, Viktor Gyokeres, dan Martin Zubimendi, investasi yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan mereka menuju gelar Liga Inggris.
Arsenal memenangkan Liga Inggris 2025/26 setelah menunggu 22 tahun, sehingga Josh Kroenke bahkan menegaskan sebelum musim berakhir bahwa klub tidak boleh berhenti berkembang setelah mencapai puncak, sebuah pesan yang membuat ekspektasi terhadap aktivitas musim panas berikutnya semakin tinggi.
Pada awal jendela 2026, transfer Arsenal sebenarnya berjalan cukup menjanjikan karena Christos Tzolis didatangkan sebagai pengganti Leandro Trossard, sebelum Bruno Guimaraes dan Ezri Konsa menyusul untuk memperkuat dua area penting dalam struktur permainan Arteta.
Data resmi Liga Inggris memperlihatkan alasan Arsenal tertarik kepada Tzolis karena winger Yunani tersebut datang setelah menghasilkan 17 gol dan 23 assist di Belgian Pro League bersama Club Brugge, catatan yang menggambarkan potensi kreativitas sekaligus produktivitasnya.
Bruno Guimaraes juga merupakan pembelian besar karena Arsenal mengeluarkan sekitar £75 juta untuk mendapatkan gelandang Newcastle United, sedangkan Ezri Konsa direkrut sekitar £51 juta dari Aston Villa untuk memberi perlindungan setelah cedera panjang William Saliba.
Daftar transaksi yang dihimpun Football365 mencatat Arsenal juga mendapatkan Illan Meslier secara gratis, sementara Piero Hincapie menjadi bagian dari pergerakan masuk dengan nilai sekitar £34,5 juta, menegaskan bahwa klub sebenarnya tidak pasif sepanjang musim panas.
Tetapi fokus perdebatan bukan berapa banyak uang yang telah dikeluarkan, melainkan apakah transfer Arsenal menghasilkan komposisi terbaik, sebab penguatan signifikan pada sektor tengah dan belakang tidak sepenuhnya mengimbangi pengurangan jumlah serta variasi pemain di lini serang.
Gabriel Jesus merupakan salah satu pemain dengan gaji tinggi sehingga kepergiannya mengurangi beban upah, sedangkan potensi penjualan Martinelli sebagai rekor penjualan klub disebut dapat menurunkan net spend Arsenal menjadi sekitar £78 juta pada musim panas ini.
Angka tersebut jauh di bawah Manchester City yang disebut memiliki net spend sekitar £162 juta setelah menghabiskan lebih dari £300 juta untuk merombak lini tengah, sementara Arsenal bahkan tercatat berada di bawah Brentford apabila kepindahan Martinelli akhirnya terealisasi.
Arsenal juga mempertimbangkan Iliman Ndiaye sebelum akhirnya tidak mengambil opsi tersebut, lalu Manchester City membayar sekitar £65 juta untuk merekrut pemain Everton itu, memperlihatkan lagi bagaimana dua rival juara menjalankan filosofi berbeda ketika menghadapi peluang di pasar.
Transfer Arsenal, Bukayo Saka dan Taruhan pada Kontinuitas
Secara finansial, sulit menyebut pemilik Arsenal tidak mendukung tim karena Kroenke Sports & Entertainment telah mencatat net spend lebih dari £680 juta selama lima musim terakhir, jumlah yang menurut laporan menempatkan klub pada posisi kedua tertinggi dalam periode tersebut.
Namun, beberapa pendukung memperhatikan bahwa tepat pada deadline day muncul konfirmasi mengenai rencana KSE membeli klub Major League Baseball Los Angeles Angels dengan nilai sekitar $4 miliar, meskipun transaksi tersebut tentu merupakan urusan investasi korporasi berbeda.
Pertanyaan utama transfer Arsenal tetap berada di lapangan, terutama mengenai beban Bukayo Saka setelah sang winger mengalami musim-musim yang terganggu cedera, sementara klub tidak berhasil menambah pemain menyerang dengan kualitas superstar untuk berbagi tanggung jawab tersebut.
Risikonya semakin terlihat ketika mengingat Arsenal sempat kesulitan membongkar pertahanan lawan pada paruh kedua musim lalu dan menjadi sangat bergantung kepada efektivitas bola mati, meskipun Martin Odegaard kini mengawali musim baru dengan penampilan yang disebut kembali menjanjikan.
Martinelli memang belum mampu mengulang musim Liga Inggris 2022/23 ketika mencetak 15 gol, tetapi kecepatannya tetap memberikan dimensi berbeda sebagai pemain pengganti ketika menghadapi lawan yang mulai meninggalkan ruang karena mengejar kedudukan.
Menurut analisis sumber utama, opsi Arteta yang tersisa tidak mempunyai karakter kecepatan seperti Martinelli dalam kadar serupa, meskipun Tzolis telah memperlihatkan kemampuan menciptakan peluang dan mencetak gol sebelum mengalami babak pertama yang sulit ketika menghadapi Aston Villa.
Situasi transfer Arsenal berpotensi memberi kesempatan jauh lebih besar kepada Eberechi Eze, yang ikut berperan dalam terciptanya gol kemenangan Saka melawan Aston Villa setelah masuk menggantikan Tzolis pada pertandingan tersebut.
Eze memiliki kualitas yang sudah teruji, bahkan mencetak lima gol melawan Tottenham pada musim lalu, tetapi ia belum benar-benar mengamankan tempat utama dalam pertandingan terbesar dan sebelumnya gagal mengeksekusi penalti pada adu penalti final Liga Champions menghadapi Paris Saint-Germain.
Pemain lain yang dapat memperoleh manfaat adalah Max Dowman, talenta berusia 16 tahun yang belum tampil musim ini, karena berkurangnya jumlah pemain menyerang berpotensi membuka jalur lebih cepat menuju menit bermain bersama skuad senior Arsenal.
Di satu sisi, keberanian memberi ruang kepada pemain yang sudah berada dalam tim dapat mempertahankan kontinuitas, kimia permainan, dan hierarki skuad, terutama setelah Arsenal menjalani musim juara dan tidak membutuhkan revolusi sebesar klub-klub pesaing mereka.
Di sisi lain, transfer Arsenal berisiko terlihat terlalu konservatif apabila cedera kembali menyerang lini depan karena empat kompetisi akan menghasilkan kalender sangat padat, sedangkan pertandingan Liga Champions dan perburuan mempertahankan gelar membutuhkan solusi berbeda sepanjang musim.
Pasar musim panas 2026 sendiri mencapai level luar biasa karena klub-klub Liga Inggris menghabiskan lebih dari £3,4 miliar, meningkat sekitar 11,9 persen dibandingkan musim sebelumnya, memperbesar kontras antara kehati-hatian Arsenal dan agresivitas sejumlah rival utama.
Karena itu, kegagalan mendapatkan Vinicius Junior atau Julian Alvarez tidak otomatis menjadikan transfer Arsenal buruk, sebab Guimaraes, Konsa, dan Tzolis memberikan kualitas nyata, tetapi keputusan tidak mengambil alternatif penyerang membuat margin kesalahan Arteta menjadi semakin tipis.
Jika Saka tetap sehat, Tzolis cepat beradaptasi, Eze berkembang menjadi starter penting, Odegaard mempertahankan kebangkitannya, dan pemain muda seperti Dowman mampu memberikan kontribusi, strategi mempertahankan kontinuitas bisa terlihat sebagai keputusan matang daripada kepanikan membeli pemain.
Sebaliknya, apabila lini serang kembali dilanda cedera atau kehilangan ketajaman ketika memasuki fase terpadat musim, kegagalan transfer Arsenal mendapatkan satu penyerang tambahan akan kembali dibicarakan dan pengejaran panjang terhadap pemain impian berpotensi dianggap sebagai kesalahan strategis.
Arteta pada akhirnya memilih mempercayai fondasi tim juara ketimbang memaksakan pembelian yang tidak diyakininya, sebuah keputusan yang mempunyai logika kuat tetapi sekaligus membawa risiko besar karena para pesaing justru menggunakan musim panas untuk meningkatkan kekuatan secara agresif.
Itulah pertaruhan terbesar transfer Arsenal setelah bursa musim panas 2026 ditutup: bukan soal berapa banyak pemain yang mereka beli, melainkan apakah kontinuitas cukup untuk mempertahankan keunggulan ketika Manchester City dan para rival lain terus menaikkan standar persaingan.



