Sunderland menjadi salah satu cerita paling mengejutkan Premier League 2025-26 setelah kembali dari delapan tahun pengasingan dan langsung finis di posisi ketujuh. Semusim kemudian, Black Cats kembali menghadapi keraguan meski baru menghasilkan pencapaian yang sulit dipercaya.
Tim asuhan Regis Le Bris mendapatkan promosi melalui play-off Championship pada Mei 2025, lalu justru menembus zona Eropa dalam musim pertamanya. Premier League mencatat Sunderland menjadi tim promosi kelima yang langsung lolos ke kompetisi Eropa melalui posisi liga.
Kepastian itu datang secara dramatis pada pekan terakhir ketika kemenangan atas Chelsea membawa Sunderland melonjak dari posisi kesepuluh menjadi ketujuh. Hasil tersebut mengantar mereka menuju Liga Europa dan mengakhiri penantian lebih dari setengah abad untuk kembali bermain di Eropa.
Namun, BBC Sport mencatat Sunderland kembali ditempatkan di antara kandidat degradasi oleh pasar taruhan, selain tiga tim promosi Hull City, Coventry City, dan Ipswich Town. Keraguan tersebut terutama bersumber dari statistik dasar, ancaman musim kedua, dan tambahan jadwal Eropa.
Sunderland Hebat di Klasemen, tetapi Statistik Berkata Lain
Posisi ketujuh menunjukkan Sunderland mampu mengumpulkan hasil jauh lebih baik dibandingkan hampir semua ekspektasi sebelum musim dimulai. Masalahnya, angka performa di balik hasil tersebut memberikan gambaran bahwa keberhasilan mereka mungkin lebih sulit dipertahankan daripada terlihat.
Menurut analisis BBC Sport, hanya Burnley dan Wolverhampton Wanderers yang mempunyai selisih expected goals lebih buruk daripada Sunderland sepanjang Premier League 2025-26. West Ham United, yang memiliki angka xG keseluruhan terburuk keempat, juga akhirnya harus turun kasta.
Expected goals atau xG pada dasarnya mengukur kualitas peluang yang dibuat dan diberikan sebuah tim berdasarkan karakteristik setiap tembakan. Dalam jangka panjang, statistik tersebut sering digunakan untuk melihat apakah hasil pertandingan sejalan dengan kualitas performa sebenarnya.
Sunderland merupakan salah satu pengecualian terbesar musim lalu karena berhasil mencetak sekitar tiga gol lebih banyak daripada nilai xG mereka. Black Cats juga kebobolan sekitar enam gol lebih sedikit dibandingkan perkiraan berdasarkan jumlah dan kualitas tembakan yang diterima.
Hanya Manchester City dan Aston Villa yang mencatat overperformance lebih besar terhadap angka expected goals mereka menurut data BBC Sport. Artinya, efisiensi penyelesaian peluang serta kemampuan bertahan Sunderland menghasilkan poin jauh lebih banyak daripada gambaran statistik dasarnya.
Situasi tersebut tidak otomatis berarti Sunderland beruntung, sebab sepak bola tidak dimainkan berdasarkan xG dan kemampuan mengeksekusi peluang merupakan sebuah kualitas. Namun, mempertahankan tingkat overperformance serupa selama dua musim beruntun merupakan tantangan yang jauh lebih besar.
Ada Alasan Angka Sunderland Memburuk
Data sepanjang musim juga tidak menceritakan keseluruhan situasi karena Sunderland mengalami periode yang sangat berbeda ketika Piala Afrika berlangsung. Enam pemain mereka meninggalkan klub untuk mengikuti turnamen pada Desember dan Januari, dua kali lebih banyak dibandingkan tim Premier League lainnya.
Kehilangan enam pemain sekaligus datang ketika performa Sunderland sebenarnya sudah mulai menurun setelah mengawali musim dengan sangat kuat. Kedalaman skuad kemudian semakin teruji, sehingga kualitas permainan dan angka underlying performance mereka ikut merosot selama periode tersebut.
Ketika seluruh pemain kembali, data BBC menunjukkan performa Sunderland secara bertahap kembali membaik hingga akhir musim. Mereka menutup kampanye dengan underlying numbers yang lebih menyerupai tim papan tengah daripada klub yang semestinya bertarung menghindari degradasi.
Faktor itu penting karena tidak terdapat Piala Afrika pada musim 2026-27 yang akan kembali menguras skuad mereka di tengah kampanye. Jika level permainan akhir musim dapat dipertahankan, prediksi degradasi terhadap Black Cats bisa kembali terlihat terlalu pesimistis.
Sunderland Benarkah Terancam Second-Season Syndrome?
Istilah second-season syndrome selalu muncul ketika sebuah tim promosi berhasil membuat kejutan pada tahun pertamanya di Premier League. Teorinya sederhana, lawan mulai memahami kekuatan mereka, ekspektasi meningkat, dan momentum yang sebelumnya mengangkat tim perlahan menghilang.
Namun, sejarah justru menunjukkan fenomena tersebut tidak sesering yang dibayangkan publik karena BBC mencatat hanya 11 dari 52 tim promosi yang bertahan kemudian terdegradasi semusim berikutnya. Persentasenya sekitar 21 persen, sehingga mayoritas justru kembali mampu bertahan.
Sunderland dan Leeds menjadi tim promosi ke-53 dan ke-54 yang berhasil mempertahankan status Premier League pada musim 2025-26. Artinya, sekadar memasuki musim kedua setelah promosi bukan alasan statistik yang cukup kuat untuk langsung menganggap Black Cats akan terdegradasi.
Bahkan sejarah Sunderland sendiri memberikan preseden positif karena mereka finis ketujuh sebagai tim promosi pada musim 1999-2000 di bawah Peter Reid. Semusim berikutnya, mereka kembali mengakhiri Premier League pada posisi ketujuh meskipun ketika itu tidak mendapatkan tiket Eropa.
Tetapi Sunderland Harus Belajar dari Ipswich
Ada sebuah contoh sejarah yang sangat relevan dan semestinya membuat Sunderland berhati-hati, yakni Ipswich Town pada awal milenium. Tim George Burley menghasilkan musim promosi luar biasa pada 2000-01 dengan finis kelima dan mengumpulkan 66 poin.
Musim berikutnya berubah menjadi bencana ketika Ipswich harus membagi konsentrasi antara Premier League dan UEFA Cup sebelum akhirnya terdegradasi. Premier League mencatat mereka hanya memenangi satu dari 17 pertandingan awal dan satu dari 13 pertandingan terakhir.
Penurunan Ipswich terasa semakin ekstrem karena mereka sebelumnya merupakan tim promosi dengan pencapaian terbaik pada era Premier League berformat 38 pertandingan. Ironisnya, Sunderland merupakan salah satu pihak yang mengambil keuntungan ketika selamat satu posisi di atas Ipswich pada 2001-02.
BBC Sport mencatat empat dari 20 tim promosi yang finis di sepuluh besar pada musim pertama akhirnya terdegradasi semusim kemudian. Angkanya kembali sekitar 20 persen, cukup rendah untuk menolak kepastian second-season syndrome tetapi tetap terlalu besar untuk diabaikan.
Liga Europa Jadi Ujian Terbesar Sunderland
Perbedaan terbesar dibandingkan musim lalu adalah Sunderland kini harus mengelola jadwal Eropa untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade. UEFA memastikan Black Cats sudah mendapatkan tempat langsung di fase liga Liga Europa 2026-27.
Format baru membuat Sunderland dijamin memainkan delapan pertandingan fase liga, dengan laga berlangsung mulai September hingga Januari. Jadwal tersebut datang di luar 38 pertandingan Premier League serta kemungkinan perjalanan panjang di Piala FA dan Carabao Cup.
Fase liga dimulai pada 16-17 September sebelum berlanjut hingga pertandingan kedelapan pada 28 Januari 2027, sedangkan undian dijadwalkan 28 Agustus. Jika melaju jauh, jumlah laga tambahan Sunderland tentu bisa meningkat secara signifikan.
Kekhawatiran tersebut cukup logis karena skuad yang mampu menangani satu pertandingan setiap pekan belum tentu mempunyai kedalaman menjalani pertandingan Kamis dan Minggu. Pemulihan, perjalanan internasional, cedera, dan rotasi akan memberikan tantangan baru kepada Le Bris.
Sejarah Eropa Tidak Selalu Berujung Bencana
Menariknya, sejarah juga memberikan alasan optimistis karena Sunderland menjadi tim promosi kesepuluh pada era Premier League yang langsung mendapatkan tiket Eropa. Dari sembilan pendahulunya, lima kembali finis di sepuluh besar dan hanya dua yang terdegradasi pada musim berikutnya.
Salah satu contoh terbaik adalah Wolverhampton Wanderers pada 2019-20, yang tetap finis ketujuh meski memainkan 17 pertandingan tambahan dalam perjalanan menuju perempat final Liga Europa. Mereka membuktikan kalender Eropa tidak otomatis menghancurkan tim yang baru beberapa musim meninggalkan Championship.
Sebaliknya, Hull City menjadi contoh negatif setelah lolos ke Eropa melalui final Piala FA meskipun hanya finis ke-16 pada 2013-14. Mereka tersingkir setelah empat laga kualifikasi Liga Europa dan kemudian terdegradasi dari Premier League dengan 35 poin.
Perbedaannya terletak pada kualitas skuad, kemampuan rotasi, dan seberapa cepat sebuah klub beradaptasi terhadap beban baru. Karena itulah pekerjaan Sunderland di bursa transfer musim panas menjadi sama pentingnya dengan sistem taktikal yang akan digunakan Le Bris.
Sunderland Tidak Lagi Membutuhkan Revolusi 15 Pemain
Black Cats melakukan transformasi besar sebelum musim lalu dengan mendatangkan sekitar 15 pemain, termasuk Granit Xhaka, Robin Roefs, Noah Sadiki, Habib Diarra, Omar Alderete, Reinildo, Chemsdine Talbi, dan Brian Brobbey. Investasi sekitar £155 juta akhirnya memberikan hasil spektakuler.
Musim panas ini pendekatannya berbeda karena Le Bris tidak lagi membutuhkan pembangunan skuad dari nol, tetapi kedalaman untuk menjalani dua kompetisi besar. The Guardian melaporkan sang pelatih memperkirakan sekitar enam atau tujuh tambahan pemain sebelum jendela transfer ditutup.
Thomas Meunier menjadi rekrutan musim panas pertama setelah meninggalkan Lille dengan status bebas transfer dan menandatangani kontrak dua tahun. Bek kanan Belgia itu secara terbuka menyebut kesempatan bermain di Liga Europa sebagai salah satu faktor besar dalam keputusannya.
Sunderland juga mengejar pemain yang mampu memberikan kompetisi kepada Brobbey, pelapis untuk Xhaka, winger kanan, dan bek kiri. Kebutuhan itu menunjukkan klub memahami bahwa menggunakan kedalaman musim lalu untuk jadwal Eropa berpotensi menjadi perjudian besar.
Mempertahankan Granit Xhaka Sama Pentingnya dengan Transfer
Satu keputusan terpenting musim panas ini mungkin justru bukan pemain yang datang, tetapi keberhasilan mempertahankan Granit Xhaka. Chelsea sempat mengajukan tawaran sekitar £8 juta, tetapi Sunderland menolaknya dan Le Bris menyatakan pembahasan transfer sang kapten sudah selesai.
Xhaka sendiri ingin bertahan dan membantu melanjutkan perkembangan klub setelah menjadi figur fundamental sepanjang musim pertamanya kembali di Inggris. Le Bris bahkan menggambarkannya sebagai pemain yang memberikan kepemimpinan, pengalaman, serta pengaruh besar terhadap rekan setimnya.
Pentingnya pemain Swiss tersebut terlihat ketika The Guardian memilihnya sebagai salah satu rekrutan terbaik Premier League 2025-26. Xhaka datang dengan biaya awal sekitar £13 juta dan kemudian memberikan pengalaman yang sangat dibutuhkan skuad muda Sunderland.
Dalam musim dengan pertandingan Eropa, kualitas kepemimpinan seperti itu mungkin menjadi semakin penting dibandingkan statistik individu. Sunderland membutuhkan pemain yang mampu menjaga kontrol ketika hasil menurun dan mencegah skuad muda kehilangan keyakinan setelah periode pertandingan berat.
Enzo Le Fée Bisa Menjadi Pembeda
Selain Xhaka, Enzo Le Fée menjadi pemain yang dapat menentukan apakah Sunderland mampu meningkatkan kualitas permainan dibandingkan musim lalu. Gelandang Prancis tersebut mempunyai kemampuan mengatur tempo, bermain di antara lini, melakukan pressing, sekaligus menciptakan solusi ketika struktur pertandingan menjadi buntu.
Hubungannya dengan Le Bris juga sudah dibangun sejak jauh sebelum keduanya berada di Stadium of Light, sehingga pemahaman taktikalnya menjadi aset penting. Sunderland diperkirakan akan menolak upaya klub lain mendatangkannya karena perannya semakin besar dalam struktur tim.
Mempertahankan fondasi seperti Xhaka dan Le Fée membuat Sunderland berada pada situasi berbeda dibandingkan klub promosi yang harus kembali membangun tim. Tantangannya kini adalah menambah kualitas di sekitar inti tersebut tanpa merusak keseimbangan ruang ganti yang sudah terbentuk.
Ada Perubahan Skuad yang Tetap Harus Diperhatikan
Eliezer Mayenda, pencetak gol penting dalam perjalanan promosi, disebut meninggalkan Sunderland menuju Rennes dengan nilai sekitar £17,1 juta pada musim panas ini. Kepergiannya meningkatkan kebutuhan menghadirkan pesaing berkualitas untuk Brobbey sebelum jadwal padat benar-benar dimulai.
Di posisi penjaga gawang, Anthony Patterson juga resmi bergabung dengan Wrexham pada 11 Agustus dengan nilai yang dilaporkan menjadi rekor klub Championship tersebut. Perubahan itu semakin menegaskan bahwa Sunderland tetap melakukan penyegaran meskipun tidak menjalankan revolusi seperti musim panas lalu.
Le Bris karena itu membutuhkan keseimbangan antara mempertahankan pemain penting dan menambah opsi yang benar-benar mampu dimainkan dalam pertandingan Premier League. Membeli terlalu banyak pemain kembali berisiko mengganggu chemistry, tetapi skuad terlalu tipis dapat dihukum kalender Liga Europa.
Jadi, Apakah Sunderland Benar-Benar Kandidat Degradasi?
Keraguan terhadap Sunderland tidak sepenuhnya mengada-ada karena underlying numbers mereka sepanjang musim lalu memang memberikan peringatan. Tambahan delapan laga Eropa, kemungkinan cedera, dan kesulitan mempertahankan efektivitas penyelesaian peluang adalah tiga risiko yang tidak bisa diremehkan.
Namun, memasukkan Sunderland langsung ke dalam kelompok kandidat terkuat degradasi juga terasa terlalu sederhana apabila melihat bagaimana musim lalu berakhir. Setelah pemain Piala Afrika kembali, performa mereka membaik dan lebih menyerupai tim papan tengah dibandingkan klub tiga terbawah.
Sejarah second-season syndrome juga jauh dari kutukan karena hanya sekitar seperlima tim promosi yang bertahan kemudian turun pada tahun berikutnya. Bahkan mayoritas tim promosi yang langsung mendapatkan sepak bola Eropa tetap mampu menghindari kehancuran di kompetisi domestik.
Struktur klub menjadi alasan optimisme lainnya karena Sunderland bergerak dari League One menuju Eropa melalui proses pembangunan yang relatif terencana. Le Bris berhasil mendapatkan promosi pada musim pertamanya, kemudian langsung membawa klub finis ketujuh dalam musim debutnya sebagai pelatih Premier League.
Karena itu, target realistis Sunderland bukan kembali finis ketujuh, melainkan memastikan peningkatan kualitas permainan mampu mengejar hasil spektakuler musim lalu. Jika underlying numbers naik dan rotasi Eropa berjalan baik, finis aman di papan tengah sudah menjadi bukti bahwa keberhasilan mereka bukan kebetulan.
Sunderland memang mempunyai semua bahan untuk mengalami musim kedua yang jauh lebih sulit, tetapi mereka juga memiliki alasan kuat untuk kembali membungkam keraguan. Black Cats sudah mengejutkan Premier League sekali, dan tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kejutan tersebut merupakan awal, bukan puncak.



