Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Siapa François Letexier? Wasit yang Dituding ‘Bantu’ Argentina Singkirkan Mesir

Siapa François Letexier? Wasit yang Dituding ‘Bantu’ Argentina Singkirkan Mesir

  • Juli 8, 2026
François Letexier

François Letexier mendadak menjadi salah satu nama paling banyak dibicarakan setelah pertandingan Argentina melawan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Wasit asal Prancis tersebut berada di tengah kontroversi menyusul sejumlah keputusan krusial yang melibatkan Video Assistant Referee atau VAR.

Pertandingan di Atlanta Stadium, Atlanta, Selasa, 7 Juli 2026 waktu setempat, berakhir dengan kemenangan dramatis Argentina 3-2. Sang juara bertahan bangkit setelah tertinggal dua gol dan mencetak tiga gol dalam sebelas menit terakhir pertandingan.

Namun, kebangkitan Lionel Messi dan kawan-kawan bukan satu-satunya cerita besar dari pertandingan tersebut. Keputusan membatalkan gol Mesir serta tidak memberikan penalti kepada Mohamed Salah membuat kepemimpinan François Letexier diperdebatkan luas.

Mesir bahkan sempat merasa telah mencetak salah satu gol serangan balik terbaik dalam turnamen melalui Mostafa Ziko. Gol itu kemudian dianulir karena VAR menemukan dugaan pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez pada awal rangkaian serangan.

Pelanggaran yang diperiksa terjadi sekitar 21 detik sebelum bola masuk dan hampir sepanjang lapangan dari gawang Argentina. Jarak waktu serta lokasi kejadian itulah yang memunculkan pertanyaan mengenai batas penelusuran VAR dalam sebuah attacking possession phase.

Profil François Letexier, Wasit Argentina vs Mesir

François Letexier merupakan wasit berkebangsaan Prancis yang lahir di Bédée pada 23 April 1989. Ia memulai kiprahnya di Ligue 1 pada 2016 sebelum masuk dalam daftar wasit internasional FIFA pada 2017.

Letexier menjalani pertandingan internasional senior pertamanya pada Maret 2018 ketika memimpin laga persahabatan Bulgaria melawan Bosnia dan Herzegovina. Perkembangan kariernya berlangsung cepat hingga dirinya ditempatkan dalam kategori elite UEFA.

Selain bekerja sebagai wasit profesional, François Letexier diketahui juga berprofesi sebagai petugas pengadilan atau court bailiff di Prancis. Latar belakang tersebut membuatnya dikenal mempunyai kemampuan komunikasi, ketegasan, dan ketelitian dalam menghadapi situasi penuh tekanan.

Karakter kepemimpinannya cenderung tenang dan tidak terburu-buru mengeluarkan kartu kepada pemain. Letexier lebih sering mencoba mengendalikan pertandingan melalui komunikasi langsung sebelum memberikan hukuman disipliner.

Pendekatan tersebut membuat banyak pertandingan yang dipimpinnya berjalan relatif mengalir. Namun, toleransi terhadap kontak ringan juga dapat memunculkan kontroversi ketika standar pelanggaran berubah setelah intervensi VAR.

Salah satu pencapaian terbesar François Letexier terjadi ketika dirinya dipercaya memimpin final Euro 2024 antara Spanyol dan Inggris. Pertandingan tersebut berlangsung di Olympiastadion Berlin pada 14 Juli 2024 dan berakhir dengan kemenangan Spanyol 2-1.

Letexier saat itu berusia 35 tahun dan menjadi wasit termuda yang pernah memimpin final Kejuaraan Eropa. Ia memecahkan catatan Anders Frisk, yang berusia 37 tahun ketika bertugas pada final Euro 2000.

Penunjukan tersebut memperlihatkan besarnya kepercayaan UEFA terhadap kualitas dan kepemimpinan Letexier. Sebelum final Euro 2024, ia telah menangani puluhan pertandingan resmi UEFA di Liga Champions, Liga Europa, UEFA Youth League, dan kompetisi internasional lainnya.

Prestasinya semakin lengkap ketika International Federation of Football History and Statistics menobatkannya sebagai wasit pria terbaik dunia 2024. Penghargaan itu diberikan setelah Letexier menjalani periode penting di kompetisi domestik maupun internasional.

Pengalaman panjang tersebut menjadi modal besar ketika François Letexier terpilih sebagai salah satu perangkat pertandingan Piala Dunia 2026. Sebelum laga Argentina melawan Mesir, ia juga telah memimpin pertandingan pada fase grup turnamen.

Dalam pertandingan babak 16 besar, Letexier didampingi asisten wasit Cyril Mugnier dan Mehdi Rahmouni. Sementara itu, Jérôme Brisard bertugas sebagai VAR dengan dukungan Willy Delajod serta Hamza El Fariq.

Awal Drama Argentina Melawan Mesir

Mesir memasuki pertandingan sebagai tim yang tidak lebih diunggulkan dibandingkan Argentina. Namun, The Pharaohs justru tampil berani dan membuka keunggulan melalui sundulan Yasser Ibrahim pada menit ke-15.

Argentina kemudian memperoleh peluang emas untuk menyamakan skor melalui tendangan penalti Lionel Messi. Eksekusi sang kapten berhasil ditepis Mostafa Shobeir, yang tampil gemilang menjaga gawang Mesir sepanjang pertandingan.

Kegagalan tersebut menjadi penalti kedua Messi yang tidak menghasilkan gol sepanjang Piala Dunia 2026. Meski demikian, pemain berusia 39 tahun itu kemudian menebus kesalahannya dengan berperan penting dalam kebangkitan Argentina pada pengujung pertandingan.

Mesir tetap disiplin menjaga keunggulan dan beberapa kali mengancam melalui serangan balik cepat. Mohamed Salah, Mostafa Ziko, dan Haissem Hassan menjadi sumber ancaman utama bagi pertahanan Argentina.

Kontroversi terbesar kemudian muncul ketika Ziko menyelesaikan sebuah serangan balik dan mengirim bola melewati Emiliano Martínez. Gol tersebut awalnya diperkirakan membawa Mesir unggul dua gol atas sang juara bertahan.

Mengapa Gol Mostafa Ziko Dianulir VAR?

Rangkaian serangan bermula ketika Lisandro Martínez mencoba merebut bola di wilayah pertahanan Mesir. Bek Argentina itu kehilangan penguasaan setelah mendapat tekanan dari sejumlah pemain lawan, sebelum Mesir melancarkan serangan balik cepat.

Mohamed Salah kemudian mengirimkan umpan yang membantu Ziko mendapatkan ruang untuk menyelesaikan peluang. Para pemain Mesir merayakan gol tersebut, sedangkan bangku cadangan Argentina langsung mengajukan protes kepada perangkat pertandingan.

Tim VAR lalu menelusuri awal rangkaian serangan dan menemukan kontak Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez. Tayangan ulang menunjukkan adanya injakan ringan serta kontak pada tubuh pemain Argentina sebelum Mesir merebut penguasaan bola.

François Letexier dipanggil menuju monitor di tepi lapangan untuk melakukan on-field review. Setelah melihat beberapa sudut tayangan ulang, ia menyatakan terjadi pelanggaran dan membatalkan gol Mesir.

Keputusan tersebut dianggap masih berada dalam ruang lingkup protokol VAR karena pelanggaran terjadi dalam fase penguasaan yang sama. Mesir tidak sempat kehilangan bola sebelum serangan tersebut berakhir menjadi gol Ziko.

Mantan wasit Premier League, Andy Davies, menilai pelanggaran Attia menghasilkan keuntungan langsung bagi Mesir dalam membangun serangan balik. Karena itu, keputusan membatalkan gol dapat dibenarkan berdasarkan konsep attacking possession phase.

Meski demikian, masalah utama bukan hanya mengenai ada atau tidaknya kontak. Kritik muncul karena insiden tersebut berlangsung lebih dari 20 detik sebelumnya serta terjadi sangat jauh dari gawang Argentina.

VAR Dinilai Terlalu Jauh Mengintervensi  

Mantan wasit internasional Spanyol, Eduardo Iturralde González, menilai kontak yang terjadi sebenarnya dapat dianggap sebagai pelanggaran. Namun, ia mempertanyakan keputusan VAR yang terlalu intrusif dalam mencari kesalahan jauh sebelum gol tercipta.

Menurut Iturralde, pelanggaran semacam itu lebih tepat diputuskan langsung oleh wasit di lapangan. Apabila tidak terlihat dalam permainan terbuka, kontak minimal tersebut biasanya tidak cukup kuat untuk memicu intervensi VAR.

Kritik serupa datang dari pengamat VAR Dale Johnson, yang menyoroti standar toleransi kontak sepanjang turnamen. Ia menilai aneh apabila benturan ringan dibiarkan dalam banyak kejadian, tetapi kemudian digunakan untuk membatalkan gol penting.

Perdebatan tersebut memperlihatkan persoalan lama dalam penggunaan VAR, yakni menentukan kapan sebuah fase serangan dimulai dan berakhir. Semakin panjang rangkaian permainan yang diperiksa, semakin besar pula kemungkinan ditemukannya kontak kecil.

Di sisi lain, pendukung keputusan Letexier menilai tim VAR harus mengoreksi pelanggaran yang jelas apabila masih berada dalam satu penguasaan bola. Tidak melakukan intervensi justru dapat dianggap mengabaikan pelanggaran yang berpengaruh langsung terhadap terciptanya gol.

Kekecewaan akibat gol yang dianulir tidak langsung menghentikan perlawanan Mesir. Ziko akhirnya benar-benar mencetak gol kedua pada menit ke-68 setelah menyelesaikan umpan silang mendatar dari Haissem Hassan.

Keunggulan 2-0 membuat Mesir semakin dekat menciptakan salah satu kejutan terbesar pada Piala Dunia 2026. Argentina bahkan masih tertinggal dua gol ketika pertandingan memasuki sebelas menit terakhir waktu normal.

Cristian Romero kemudian membuka harapan Argentina melalui sundulan pada menit ke-79. Gol tersebut tercipta setelah Messi mengirimkan bola mati yang diarahkan menuju area pertahanan Mesir.

Empat menit kemudian, Messi menyamakan skor melalui sepakan voli yang tidak mampu dihentikan Shobeir. Argentina berubah dari tim yang hampir tersingkir menjadi kesebelasan yang kembali menguasai momentum pertandingan.

Puncak kebangkitan terjadi pada masa tambahan waktu ketika Enzo Fernández mencetak gol kemenangan melalui sundulan. Argentina akhirnya menang 3-2 setelah mencetak tiga gol hanya dalam rentang sebelas menit.

Pelanggaran ke Mohamed Salah yang Diabaikan

Kontroversi lain terjadi beberapa saat sebelum gol kemenangan Argentina. Mohamed Salah terjatuh di kotak penalti setelah terlibat duel dengan Julián Álvarez dalam upaya mengejar bola.

Pemain dan staf Mesir meminta François Letexier memberikan penalti atau setidaknya meninjau tayangan ulang. Namun, pertandingan tetap dilanjutkan dan Argentina langsung membangun serangan balik yang berakhir dengan gol kemenangan.

Situasi tersebut membuat kubu Mesir semakin marah karena VAR sebelumnya menelusuri pelanggaran ringan yang terjadi jauh sebelum gol mereka. Sebaliknya, kontak terhadap Salah tidak menghasilkan on-field review maupun pembatalan serangan Argentina.

Andy Davies menilai keputusan tidak memberikan penalti masih dapat dibenarkan karena benturan terjadi akibat momentum kedua pemain. Kontak tersebut dianggap sebagai pertemuan sepatu dengan sepatu, bukan tindakan menjegal yang jelas.

Iturralde González juga menilai insiden terhadap Salah tidak cukup kuat untuk menghasilkan penalti. Menurutnya, tidak terdapat injakan yang jelas maupun pelanggaran yang memenuhi ambang batas intervensi VAR.

Namun, pendukung Mesir mempertanyakan konsistensi standar yang digunakan perangkat pertandingan. Mereka menilai kontak terhadap Salah setidaknya tidak lebih ringan dibandingkan pelanggaran yang membuat gol Ziko dibatalkan.

Protes keras kemudian terjadi di area bangku cadangan Mesir setelah Enzo Fernández mencetak gol. Salah satu anggota staf kepelatihan Mesir mendapatkan kartu merah, sedangkan beberapa pemain menerima kartu akibat memprotes keputusan wasit.

Kekecewaan terhadap kepemimpinan François Letexier memunculkan tuduhan bahwa Argentina mendapatkan perlakuan istimewa. Ziko dan pelatih Hossam Hassan termasuk pihak yang menyampaikan kritik keras setelah pertandingan berakhir.

Sebagian komentar bahkan menyebut pertandingan telah “diatur” untuk memastikan Argentina melaju ke perempat final. Tuduhan tersebut berkembang cepat di media sosial, terutama setelah rekaman dua insiden kontroversial beredar luas.

Meski demikian, tidak terdapat bukti yang menunjukkan François Letexier sengaja membantu Argentina atau memanipulasi hasil pertandingan. Tuduhan keberpihakan masih berupa reaksi emosional, bukan kesimpulan dari investigasi resmi.

Keputusan wasit lebih tepat diperdebatkan dari sisi interpretasi protokol VAR dan konsistensi standar pelanggaran. Letexier tetap mengambil keputusan setelah mendapat rekomendasi dari tim VAR dan meninjau tayangan ulang di monitor lapangan.

Argentina juga tetap harus mencetak tiga gol untuk membalikkan keadaan setelah tertinggal 0-2. Romero, Messi, dan Enzo Fernández menjadi pencetak gol yang memastikan sang juara bertahan lolos ke perempat final.

Thailand di Piala AFF.

Daftar Pemain Thailand yang Sering Bobol Gawang Indonesia di Piala AFF

23 Jul 2026
Roulette Game

Roulette

22 Jul 2026
5 negara favorit juara Piala AFF 2026.

5 Negara Favorit Juara Piala AFF 2026, Indonesia Nomor Berapa?

22 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.