Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Sepak Bola Jadi Rumah Baru bagi Imigran di Amerika

Sepak Bola Jadi Rumah Baru bagi Imigran di Amerika

  • Juli 10, 2026
Sepakbola

Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar pertandingan selama 90 menit. Di Portland, Maine, lapangan beraspal Kennedy Park menjadi ruang aman bagi imigran dan pengungsi yang sedang membangun kehidupan baru di Amerika Serikat.

Jauh dari gemerlap stadion Piala Dunia, pertandingan sepak bola informal di taman tersebut mempertemukan pemain dari puluhan negara. Mereka datang dengan bahasa, budaya, dan pengalaman hidup berbeda, tetapi dapat berkomunikasi melalui satu hal yang sama, yakni sepak bola.

Dilansir BBC Sport Africa, komunitas Kennedy Park telah berkembang sejak pertandingan informal mulai rutin digelar pada 2021. Lapangan sederhana itu kemudian berubah menjadi tempat membangun pertemanan, mencari dukungan, dan mengatasi rasa asing setelah tiba di negara baru.

Namun, ikatan yang terbentuk di Kennedy Park mendapat ujian berat ketika pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat kebijakan imigrasi pada masa jabatan keduanya. Operasi penindakan oleh Immigration and Customs Enforcement atau ICE menimbulkan ketakutan besar di kalangan imigran Maine.

George Lusolo Menemukan Rumah lewat Sepak Bola

George Lusolo merupakan salah satu pemain yang menemukan rasa aman di Kennedy Park. Pemuda berusia 19 tahun tersebut tiba di Amerika Serikat bersama ibunya pada 2018 setelah meninggalkan Republik Demokratik Kongo untuk mencari perlindungan.

Ketika pertama kali tiba, George belum mampu berbahasa Inggris dan tidak mengenal siapa pun. Sebagai seorang anak yang harus berpindah negara bersama ibunya, hampir seluruh proses adaptasi terasa sulit baginya.

George sempat berada di pusat penahanan di Texas sebelum dipindahkan ke tempat penampungan di New York. Setelah permohonan suakanya disetujui, ia akhirnya menetap di Portland dan mulai berusaha membangun kehidupan baru.

Kesempatan untuk kembali bermain sepak bola datang setelah George melihat informasi mengenai pertandingan di Kennedy Park melalui media sosial. Ia tertarik karena menemukan banyak pemain dengan latar belakang serta pengalaman hidup yang hampir serupa.

George mengatakan sepak bola telah menjadi bagian dari hidupnya sejak masih tinggal di Kinshasa. Bermain bersama orang-orang yang memahami perjuangan sebagai pendatang membuatnya merasa diterima dan tidak lagi sendirian.

Baginya, sepak bola juga berfungsi sebagai terapi. Ketika berada di lapangan, tekanan akibat perjalanan panjang, proses suaka, dan kesulitan beradaptasi dapat dilupakan untuk sementara.

Pengalaman serupa dirasakan Deji Kuribanza, imigran asal Republik Demokratik Kongo yang tiba di Amerika Serikat melalui Angola. Pemuda berusia 18 tahun itu menilai sepak bola menjadi bahasa universal yang dapat dipahami tanpa percakapan panjang.

Pemain tidak harus menguasai bahasa yang sama untuk menjalankan pertandingan. Mereka cukup menunjuk ke arah kaki, ruang kosong, atau bagian lapangan tertentu untuk meminta bola dan membangun serangan.

Kesederhanaan komunikasi tersebut membantu para pemain baru menyesuaikan diri dengan cepat. Mereka yang awalnya merasa canggung bisa langsung terlibat tanpa harus memikirkan perbedaan bahasa maupun asal negara.

Dari pertandingan rutin di lapangan beraspal, hubungan antarpemain semakin kuat. Komunitas tersebut berkembang menjadi jaringan sosial yang saling mendukung ketika salah satu anggotanya menghadapi kesulitan.

Solidaritas Kennedy Park menghadapi ujian ketika operasi ICE mengguncang komunitas imigran di Maine. Sejumlah pemain dan keluarga mereka bahkan takut meninggalkan rumah karena khawatir ditangkap oleh petugas imigrasi.

BBC Sport Africa mengutip perkiraan Migration Policy Institute yang menyebut sedikitnya 400.000 orang telah ditangkap ICE sejak Januari 2025. Analisis lain yang diterbitkan Brookings juga menggunakan estimasi sekitar 400.000 penahanan dari operasi domestik antara 20 Januari 2025 dan 9 April 2026.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut menyasar orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan publik dan nasional. Department of Homeland Security, lembaga yang membawahi ICE, mengatakan orang yang tinggal secara legal tidak perlu merasa khawatir.

Sebaliknya, kelompok pembela hak asasi manusia berpendapat operasi tersebut turut menjerat orang-orang yang tidak memiliki catatan kejahatan serius. Perdebatan mengenai sasaran dan metode penegakan imigrasi terus menguat seiring meningkatnya operasi ICE di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Anthony Fiori, koordinator pertandingan sepak bola di Kennedy Park, mengatakan operasi tersebut menciptakan ketakutan luas. Beberapa pemain bersama keluarganya memilih bertahan di rumah, sementara sejumlah pelajar tidak masuk sekolah selama sekitar dua pekan.

Situasi itu mendorong komunitas sepak bola mengambil tindakan. Para pemain dan relawan mengatur lebih dari 70 pengiriman bahan makanan kepada keluarga yang takut keluar rumah selama operasi sedang berlangsung.

Perjuangan Membebaskan Joel Andre

Solidaritas Kennedy Park terlihat jelas ketika Joel Andre dan keluarganya ditahan petugas imigrasi. Joel merupakan pemain sepak bola berusia 17 tahun yang dikenal aktif dalam pertandingan informal di taman tersebut.

Komunitas Kennedy Park kemudian memimpin kampanye untuk mendesak pembebasan Joel dan keluarganya. Mereka menggalang dukungan publik, membantu biaya hukum, dan terus menyuarakan kasus tersebut selama keluarga itu berada dalam penahanan.

Joel bersama ibu dan saudara perempuannya akhirnya dibebaskan setelah menjalani penahanan selama empat bulan di Texas. Pengadilan mengizinkan mereka kembali ke Portland sambil melanjutkan proses hukum mengenai status imigrasi keluarga tersebut.

Kepulangannya disambut para pemain dan pendukung Kennedy Park. Joel kembali ke lapangan yang selama ini membantunya belajar bahasa Inggris, memperoleh teman, dan menemukan lingkungan yang dapat dianggap sebagai keluarga.

Todd Pomerleau, pengacara yang menangani perkara tersebut, mengatakan pengalaman di pusat penahanan meninggalkan luka psikologis mendalam. Menurut keterangannya kepada BBC, makanan di fasilitas tersebut tidak memadai dan beberapa ruangan memiliki suhu sangat dingin.

Ia menggambarkan Joel sebagai pemain sepak bola berbakat dan pelajar cerdas yang memiliki harapan besar terhadap masa depan. Namun, pengalaman selama berbulan-bulan dalam penahanan diyakini akan terus memengaruhi kondisi emosionalnya.

Permohonan suaka awal keluarga Joel dari Republik Demokratik Kongo sebelumnya ditolak di Amerika Serikat. Mereka kemudian pergi ke Kanada untuk mengajukan perlindungan tanpa memahami adanya kesepakatan yang membatasi pencari suaka memilih salah satu dari kedua negara.

Perjalanan ke Kanada tersebut menyebabkan keluarga Joel ditahan ICE ketika berusaha kembali. Mereka kini melanjutkan perjuangan agar permohonan suakanya dapat diperiksa melalui pengadilan federal Amerika Serikat.

Lapangan yang Mengubah Pandangan tentang Imigran

Bagi para pemain Kennedy Park, terlihat bermain sepak bola juga menjadi cara untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap imigran. Deji merasa sebagian orang masih melihat pendatang sebagai kelompok yang datang tanpa tujuan dan tidak memberikan kontribusi.

Pandangan tersebut perlahan dapat berubah ketika warga melihat para imigran bercanda, berbicara, dan bermain bersama. Suasana positif di lapangan menunjukkan bahwa mereka juga ingin membangun persahabatan serta menjadi bagian dari masyarakat.

Anthony Fiori memahami pentingnya ruang pertemuan tersebut. Keluarganya telah tinggal di Maine selama sembilan generasi, sehingga ia dapat melihat langsung manfaat kehadiran komunitas yang mempertemukan berbagai latar belakang.

Maine secara keseluruhan bukan negara bagian dengan keragaman penduduk sebesar sejumlah wilayah lain di Amerika Serikat. Karena itu, Kennedy Park menjadi tempat istimewa ketika orang dari budaya, negara, usia, dan pengalaman berbeda dapat saling mengenal.

Sepak bola membuat batas sosial tersebut menjadi lebih tipis. Pemain tidak dinilai berdasarkan asal negara, status ekonomi, atau kemampuan berbahasa, melainkan melalui kebersamaan ketika mengejar bola di lapangan.

Piala Dunia Membuat Mereka Berani Bermimpi

Amerika Serikat mungkin belum sepenuhnya menjadi tempat ideal seperti yang dibayangkan para imigran ketika pertama kali datang. Namun, keberadaan Piala Dunia 2026 membuat sebagian pemain Kennedy Park kembali berani menyimpan mimpi besar.

Deji merasa antusias karena pertandingan Piala Dunia digelar hanya beberapa negara bagian dari tempat tinggalnya. Kedekatan tersebut menumbuhkan keinginan kuat untuk suatu hari tampil dalam pertandingan sepak bola tingkat dunia.

George juga menyimpan ambisi menjadi pemain profesional. Ia berharap dapat mewakili Republik Demokratik Kongo, negara kelahirannya, dalam kompetisi internasional.

Keberhasilan Kongo mencapai babak 32 besar dalam penampilan Piala Dunia pertamanya setelah lebih dari setengah abad memberi kebahagiaan tersendiri bagi komunitas Kennedy Park. Para pemain dapat merayakan perjalanan tim tersebut bersama-sama meskipun berada ribuan kilometer dari Afrika.

Bagi George, Deji, Joel, dan puluhan pemain lainnya, sepak bola tidak hanya menyediakan hiburan. Permainan tersebut membantu mereka belajar bahasa, membangun pertemanan, memperoleh dukungan, dan menemukan rumah baru di tengah perjalanan hidup yang tidak mudah.

Lapangan Kennedy Park mungkin tidak memiliki rumput hijau, tribun besar, maupun lampu stadion. Namun, semangat yang hidup di sana tidak berbeda dengan yang terlihat di panggung Piala Dunia.

Pada akhirnya, sepak bola tetap menjadi permainan yang sama di mana pun dimainkan. Baik di stadion megah maupun lapangan beraspal, olahraga tersebut mampu menyatukan manusia tanpa memandang negara asal, bahasa, maupun status imigrasi.

Thailand di Piala AFF.

Daftar Pemain Thailand yang Sering Bobol Gawang Indonesia di Piala AFF

23 Jul 2026
Roulette Game

Roulette

22 Jul 2026
5 negara favorit juara Piala AFF 2026.

5 Negara Favorit Juara Piala AFF 2026, Indonesia Nomor Berapa?

22 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.