Transfer Savinho dari Manchester City menuju Tottenham Hotspur langsung memancing perdebatan karena nilai kesepakatannya sangat besar untuk pemain yang belum benar-benar mapan. Spurs membayar £75 juta di muka, dengan tambahan bonus yang dapat membawa totalnya hingga £85 juta.
Angka tersebut semakin menarik karena performa Savinho selama dua musim di Manchester City belum menunjukkan produksi gol yang sesuai label pemain elite. Karena itu, pertanyaan paling relevan bukan apakah ia berbakat, melainkan apakah Tottenham Hotspur membayar terlalu mahal untuk potensi.
Sky Sports melaporkan £5 juta dari total bonus £10 juta dinilai nyaris pasti terpenuhi, sehingga Manchester City diperkirakan menerima minimal £80 juta. Bagi Tottenham Hotspur, struktur itu membuat transfer ini secara praktis sudah berada sangat dekat dengan valuasi maksimum.
Transfer Savinho ke Tottenham Hotspur Jadi Bisnis Besar
Tottenham Hotspur sebenarnya sudah mencoba mendapatkan Savinho pada musim panas 2025, tetapi Manchester City menolak pendekatan mereka dan kemudian memperpanjang kontraknya hingga 2031. Kontrak panjang tersebut membuat posisi tawar City sangat kuat ketika Spurs kembali datang setahun kemudian.
Manchester City merekrut winger Brasil itu dari Troyes pada 2024 dengan biaya sekitar £30,8 juta setelah sang winger tampil menonjol bersama Girona. Dua tahun kemudian, City berpeluang hampir melipatgandakan investasi tersebut meski pemain Brasil itu belum menjadi starter reguler.
Secara bisnis, kesepakatan ini jelas terlihat sangat menguntungkan Manchester City karena mereka menjual aset muda ketika valuasinya masih ditopang potensi. Sebaliknya, Tottenham Hotspur menerima sebagian besar risiko perkembangan sang winger setelah membayar harga yang sudah menyerupai pemain bintang.
Benarkah Savinho Gagal di Manchester City?
Jika hanya melihat dua musim Premier League, alasan skeptisisme terhadap harga Savinho memang cukup kuat dan sulit diabaikan. Opta mencatat ia membuat 53 penampilan liga bersama Manchester City dengan hanya dua gol dan sembilan assist dalam 2.592 menit.
Musim pertamanya sebenarnya jauh lebih positif daripada kesan kegagalan total yang sering muncul ketika transfer ini dibicarakan. Savinho bermain 29 kali di Premier League 2024/2025, mencetak satu gol, menghasilkan delapan assist, dan mengumpulkan 1.772 menit.
Manchester City bahkan mencatat Savinho menutup musim debutnya dengan 48 pertandingan, tiga gol, dan 13 assist di semua kompetisi. Angka kreativitas tersebut memperlihatkan bahwa masalah utama sang winger bukan kemampuan menciptakan peluang, melainkan konsistensi serta kualitas keputusan terakhir.
Opta juga menunjukkan Savinho menghasilkan 6,1 expected assists pada musim liga pertamanya, tertinggi kedua di antara pemain Manchester City. Data itu membantu menjelaskan mengapa Tottenham Hotspur tetap melihat kualitas besar yang tidak sepenuhnya tercermin dalam jumlah gol.
Penurunan justru datang pada musim kedua, ketika Savinho hanya mencatat 24 penampilan Premier League dan tujuh kali menjadi starter. Ia mengumpulkan sekitar 820 menit, mencetak satu gol, memberikan satu assist, dan lebih sering digunakan sebagai pemain pengganti.
Bagi pemain yang sudah memasuki musim kedua di Inggris, statistik tersebut jelas mengecewakan dan memperkuat kesan bahwa perkembangannya mengalami stagnasi. Tottenham Hotspur karena itu tidak membeli Savinho berdasarkan momentum performa, tetapi berdasarkan keyakinan bahwa penurunan tadi masih bisa dibalik.
Istilah gagal tetap perlu digunakan secara hati-hati karena Savinho tidak sepenuhnya tampil buruk selama berada di Manchester City. Musim pertamanya memperlihatkan kreativitas kuat, sedangkan musim keduanya lebih tepat disebut gagal berkembang menjadi pemain inti dan produsen gol konsisten.
Masalah terbesar Savinho memang berada pada end product, terutama kemampuan mengubah penetrasi menjadi gol secara rutin. Dua gol dalam 53 pertandingan Premier League terlalu rendah untuk pemain ofensif yang kini dibeli Tottenham Hotspur dengan paket mencapai £85 juta.
Mengapa Tottenham Hotspur Berani Bayar Mahal Savinho?
Di sisi lain, Savinho memiliki kemampuan satu lawan satu yang sulit ditemukan dan memiliki nilai tinggi di pasar modern. Opta menilai kemampuan dribel, progressive carries, serta penciptaan peluang dari pergerakannya menjadi alasan kuat mengapa Tottenham Hotspur berani mengambil risiko.
Pada musim 2024/2025, Savinho termasuk winger Premier League paling aktif dalam membawa bola melewati lawan dan menyerang ruang terbuka. Karakter tersebut sangat cocok dengan Tottenham Hotspur yang membutuhkan pemain sayap untuk memecah pertahanan ketika kombinasi umpan tidak lagi efektif.
Roberto De Zerbi juga terang-terangan menyukai profil Savinho karena energi, imajinasi, dan kemampuannya menciptakan sesuatu dari area lebar. Tottenham Hotspur percaya pelatih asal Italia itu dapat mengubah dribbler eksplosif menjadi penyerang sayap dengan keputusan akhir lebih matang.
Inilah faktor yang membuat harga Savinho tidak dapat dinilai hanya dari dua gol Premier League selama membela Manchester City. Tottenham Hotspur membayar karakteristik yang langka, usia muda, pengalaman liga, dan kemungkinan perkembangan di bawah sistem pelatih yang lebih cocok.
Savinho baru berusia 22 tahun ketika menyelesaikan kepindahannya, sehingga Tottenham Hotspur masih memiliki jendela perkembangan yang sangat panjang. Jika ia mencapai puncak pada usia 25 atau 26 tahun, nilai £85 juta bisa terlihat jauh lebih masuk akal.
Usia juga memberi Tottenham Hotspur peluang mempertahankan nilai jual apabila sang winger berkembang sesuai harapan dalam dua atau tiga musim. Berbeda dengan membeli winger berusia 28 tahun, Spurs masih memiliki potensi resale value ketika kontrak pemain Brasil itu memasuki pertengahan.
Namun potensi tidak sama dengan prestasi, dan di sinilah harga Savinho tetap sulit dibenarkan apabila memakai standar performa sekarang. Tottenham Hotspur membayar angka yang biasanya diberikan kepada pemain dengan produktivitas gol atau assist jauh lebih stabil.
Transfer ini bahkan menjadi penjualan termahal Manchester City apabila seluruh paket £85 juta terpenuhi, melewati rekor penjualan Julian Alvarez sebelumnya. Fakta tersebut menunjukkan betapa agresif Tottenham Hotspur mengejar pemain itu meski sang pemain belum pernah menjadi bintang utama di Etihad.
Dari sudut pandang Manchester City, waktu menjual pemain tersebut nyaris sempurna karena kontraknya masih panjang dan Tottenham Hotspur sangat membutuhkan winger. City tidak berada dalam tekanan finansial atau kontraktual, sehingga mereka dapat menuntut premium yang akhirnya bersedia dibayar Spurs.
Situasi skuad Tottenham Hotspur juga membantu menjelaskan mengapa negosiasi berkembang menuju angka sangat tinggi menjelang penutupan bursa. De Zerbi membutuhkan tambahan kualitas di sisi lapangan, sementara opsi alternatif semakin terbatas dan kebutuhan memperbaiki serangan menjadi semakin mendesak.
Tottenham Hotspur tidak sekadar membeli pemain yang mampu menjaga lebar, karena Savinho juga terbiasa bergerak masuk dari sisi kanan dengan kaki kiri. Fleksibilitas itu memberi De Zerbi opsi untuk memainkannya pada kedua sayap maupun dalam struktur serangan yang lebih cair.
Savinho Pernah Memperlihatkan Level Tinggi di Girona
Pengalaman Savinho bersama Girona juga menjadi bagian penting dalam evaluasi karena periode tersebut menunjukkan level tertinggi yang pernah ia capai. Pada La Liga 2023/2024, ia mencetak sembilan gol dan sepuluh assist dalam 37 pertandingan ketika Girona finis ketiga.
Catatan Girona membuktikan pemain Brasil itu pernah menghasilkan kombinasi penetrasi dan produktivitas pada level yang jauh lebih tinggi daripada dua musimnya bersama City. Tottenham Hotspur tentu berharap mendapatkan kembali versi tersebut, kali ini dengan pengalaman Premier League dan kematangan tambahan.
Meski demikian, mengharapkan performa Girona muncul otomatis di Tottenham Hotspur tetap mengandung risiko karena tuntutan kompetisi Inggris jauh berbeda. Ia harus meningkatkan penyelesaian, pemilihan umpan terakhir, pergerakan tanpa bola, dan konsistensi ketika menghadapi blok rendah setiap pekan.
Untuk harga £85 juta, Tottenham Hotspur tidak cukup hanya mendapatkan pemain yang menyenangkan ketika menggiring bola atau menciptakan momen spektakuler. Savinho harus berkembang menjadi winger yang secara rutin menghasilkan sedikitnya belasan kontribusi gol dalam satu musim liga.
Jika ia mampu mencapai kisaran 10 gol dan 10 assist secara konsisten, narasi transfer ini dapat berubah sangat cepat. Tottenham Hotspur kemudian akan terlihat membeli Savinho sebelum mencapai puncak, bukan membayar terlalu mahal untuk pemain yang gagal di Manchester City.
Sebaliknya, jika produktivitas Savinho bertahan mendekati angka musim keduanya, transfer ini akan menjadi masalah serius bagi Tottenham Hotspur. Harga £75 juta tetap dan bonus yang mudah tercapai akan terlihat tidak sebanding dengan dampak seorang pemain rotasi ofensif.
Apakah Savinho Benar-benar Pantas Dihargai £85 Juta?
Berdasarkan performa yang sudah terbukti, valuasi sekitar £50 juta sampai £60 juta terasa lebih rasional untuk Savinho saat ini. Tottenham Hotspur masih wajar membayar premium tambahan karena usia, kontrak panjang, status internasional Brasil, dan kebutuhan spesifik sistem De Zerbi.
Premium hingga sekitar £65 juta masih dapat dipahami, tetapi paket maksimum £85 juta berarti Tottenham Hotspur membayar skenario perkembangan terbaik. Dengan kata lain, mereka membeli Savinho berdasarkan proyeksi mengenai pemain yang mungkin muncul dua tahun mendatang.
Kesimpulan akhirnya cukup tegas bahwa Savinho belum pantas dihargai £85 juta apabila penilaian hanya didasarkan pada prestasinya bersama Manchester City. Dua musim dengan dua gol liga, terutama penurunan tajam pada tahun kedua, belum mencerminkan level harga tersebut.
Namun Tottenham Hotspur jelas tidak membuat keputusan berdasarkan statistik masa lalu saja, melainkan kualitas satu lawan satu, usia 22 tahun, dan kecocokan taktik. Jika De Zerbi berhasil meningkatkan end product Savinho, transfer mahal ini masih memiliki jalur menuju keberhasilan.
Untuk saat ini, Manchester City layak disebut pemenang awal karena mereka menghasilkan keuntungan besar dari pemain yang belum pernah menjadi starter permanen. Tottenham Hotspur baru dapat membalik penilaian tersebut apabila Savinho berkembang dari winger potensial menjadi pemain penentu pertandingan.



