Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Real Madrid Menang Dramatis, tetapi Mourinho Langsung Temukan Masalah Besar di Laga Pertama

Real Madrid Menang Dramatis, tetapi Mourinho Langsung Temukan Masalah Besar di Laga Pertama

  • Agustus 24, 2026

Jose Mourinho akhirnya kembali memimpin Real Madrid dalam pertandingan resmi setelah penantian selama 4.380 hari, tetapi malam pertamanya jauh dari kemenangan nyaman. Los Blancos membutuhkan gol Carlos Espí pada menit ke-90 untuk menaklukkan Espanyol 2-1 di RCDE Stadium.

Kemenangan tersebut memberikan tiga poin pertama, sekaligus memperlihatkan mengapa pekerjaan Mourinho pada periode keduanya di Real Madrid tidak akan sesederhana menyatukan kumpulan pemain mahal. Ada kemenangan, kelegaan, tetapi juga alarm mengenai intensitas permainan dan keseimbangan trio penyerang mereka.

The Guardian menggambarkan Mourinho terlihat jauh lebih tenang ketika bangku cadangan Real Madrid berhamburan merayakan gol penentu Espí di sudut lapangan. Pelatih Portugal itu hanya mengepalkan tangan, berjalan menyusul stafnya, kemudian menarik kapten Federico Valverde untuk menyampaikan beberapa kata.

Sikap tersebut sangat berbeda dengan Mourinho yang pernah menghabiskan tiga musim penuh emosi bersama Madrid pada periode pertamanya antara 2010 dan 2013. Ia kini kembali membawa reputasi besar, tetapi juga menghadapi tantangan membangun kultur pemenang yang mulai dipertanyakan.

Real Madrid Menang, tetapi Carlos Espí Justru Jadi Penyelamat

Jude Bellingham memberikan pembukaan sempurna ketika membawa Real Madrid unggul pada menit kesembilan melalui sundulan setelah menerima kiriman Arda Guler. Gol tersebut bermula dari pelanggaran terhadap Vinicius Junior di sisi kiri, sebelum Guler mengirim bola mati akurat ke kotak penalti. 

Skema itu sekaligus memberikan gambaran mengenai peran Bellingham dalam sistem Mourinho, karena gelandang Inggris tersebut ditempatkan sebagai pemain nomor 10. Mourinho ingin Bellingham berada lebih dekat dengan penyerang dan kotak penalti, bukan terlalu dalam sebagai gelandang nomor enam atau delapan.

AS bahkan mencatat situasi bola mati mulai menjadi salah satu senjata yang dikerjakan Real Madrid, dengan Guler sebagai pengirim dan Bellingham memanfaatkan kekuatan duel udara. Kombinasi serupa kembali menghasilkan peluang ketika sundulan Bellingham mengenai mistar pada babak kedua. 

Namun, dominasi awal tidak bertahan lama karena intensitas pressing Madrid perlahan menurun dan Espanyol mulai menemukan jalur keluar dari tekanan. Momentum pertandingan berubah setelah Dean Huijsen membutuhkan perawatan karena luka, kemudian tuan rumah semakin berani membawa permainan mendekati pertahanan lawan.

Thibaut Courtois terlebih dahulu menggagalkan peluang Riedel sebelum Roberto Fernández gagal memaksimalkan bola lanjutan, tetapi tekanan Espanyol akhirnya menghasilkan gol. Tyrhys Dolan dan Javi Hernández membangun serangan yang diselesaikan Álex Calatrava untuk membuat kedudukan kembali seimbang.

Situasi bahkan hampir memburuk bagi Real Madrid sebelum jeda ketika Omar El Hilali mengirim umpan silang berbahaya dari kanan ke jantung pertahanan. Dolan gagal menjangkaunya dengan sempurna, sedangkan Fernández tidak mampu mengarahkan sundulan yang berpotensi membawa Espanyol berbalik unggul.

Selepas turun minum, Madrid menciptakan beberapa kesempatan tetapi berkali-kali gagal menemukan sentuhan terakhir yang dibutuhkan untuk kembali memimpin. Bellingham mengenai mistar, Valverde menghantam tiang, sementara Kylian Mbappe membuang peluang dari jarak sangat dekat setelah bola jatuh di dekat gawang.

Mbappe sebenarnya dua kali mampu lolos dan memaksa Marko Dmitrovic melakukan penyelamatan, tetapi ketajamannya belum mencapai level terbaik. Reuters menilai Mbappe dan Vinicius terlihat kekurangan ritme setelah keduanya terlambat bergabung dari liburan seusai Piala Dunia. 

Ketika jalan menuju kemenangan semakin sempit, Mourinho menggunakan kedalaman skuad dengan memasukkan Marc Cucurella, Yan Diomande, Eduardo Camavinga, Trent Alexander-Arnold dan Espí. Pergantian terakhir akhirnya menghasilkan pembeda yang tidak mampu diberikan barisan superstar Real Madrid sepanjang sebagian besar pertandingan.

Espí masuk sekitar sepuluh menit sebelum pertandingan berakhir dan menjadi penentu setelah rangkaian serangan yang tidak berjalan sempurna di area penalti. Bola terlepas dari penguasaan Mbappe, kemudian penyerang berusia 21 tahun tersebut bereaksi untuk memaksanya melewati garis gawang pada menit ke-90. 

Gol itu terasa semakin menarik karena Espí bukan nama terbesar dalam revolusi skuad Real Madrid, bahkan enam bulan sebelumnya ia relatif belum dikenal luas. Ia direkrut dari Levante setelah gol-golnya membantu klub tersebut menghindari degradasi pada musim lalu.

Mourinho memang menginginkan tipe penyerang seperti Espí, seorang striker klasik dengan keberadaan kuat di kotak penalti dan karakter berbeda dibanding penyerang lainnya. Sang pemain bahkan masih tinggal di kompleks latihan Valdebebas, tempat Mourinho juga menetap dan keduanya kerap bertemu saat sarapan.

Real Madrid Punya Trio Mahal, Mengapa Masih Terlihat Bermasalah?

Pertanyaan paling menarik setelah kemenangan tersebut justru datang dari bagaimana Mourinho menyatukan Mbappe, Vinicius dan Bellingham dalam struktur serangan Real Madrid. Ketiganya memiliki kualitas individu luar biasa, tetapi kecenderungan bergerak menuju ruang serupa masih berpotensi mengganggu keseimbangan permainan.

Mourinho sebelumnya mengakui Prancis, Brasil dan Inggris mampu mendapatkan performa terbaik dari Mbappe, Vinicius serta Bellingham secara individual bersama tim nasional masing-masing. Tantangannya berbeda ketika ketiga bintang tersebut berada bersama, karena Bellingham sendiri pernah mengakui mereka terkadang memasuki ruang serupa.

Solusi awal Mourinho adalah mempertahankan Vinicius melebar, menempatkan Bellingham sebagai nomor 10 dan memberikan Mbappe area paling depan. Struktur tersebut bekerja pada gol pertama, tetapi pertandingan melawan Espanyol memperlihatkan bahwa koordinasi pergerakan dan konsistensi pressing masih membutuhkan penyempurnaan.

Ini menjadi isu penting karena masa depan Vinicius sebelumnya sempat menghadirkan ketidakpastian, sementara kini statusnya sudah lebih jelas dalam rencana klub. Mourinho membutuhkan stabilitas tersebut agar perhatian pemain sepenuhnya diarahkan kepada bagaimana membangun hubungan baru di lini depan Real Madrid.

Skuad yang tersedia juga jauh lebih dalam dibanding sekadar tiga nama tersebut, karena klub melakukan investasi besar pada musim panas. Yan Diomande bahkan dikontrak selama tujuh musim hingga Juni 2033 setelah didatangkan dari RB Leipzig sebagai bagian dari proyek baru Madrid. 

The Guardian melaporkan biaya maksimal Diomande dapat mencapai sekitar 135 juta euro atau 115,7 juta pound, menjadikannya transfer termahal dalam sejarah klub. Kehadirannya meningkatkan pilihan Mourinho sekaligus menambah tekanan agar Real Madrid segera kembali menghasilkan trofi besar. 

Laporan resmi klub juga menyebut Denzel Dumfries, Ibrahima Konate dan Bernardo Silva langsung menjadi starter melawan Espanyol. Cucurella, Diomande serta Espí kemudian menjalani debut resmi dari bangku cadangan, dengan nama terakhir memberikan dampak terbesar melalui gol kemenangan. 

Real Madrid Menang, Mourinho Belum Mau Terlena

Mourinho kembali ke Madrid setelah pertandingan terakhir periode pertamanya berakhir dengan kemenangan 4-2 atas Osasuna pada Mei 2013. Lebih dari 12 tahun kemudian, sorotan langsung kembali mengikutinya ketika fotografer meninggalkan posisi di belakang gawang untuk mengelilingi area bangku cadangan.

Hubungannya dengan Florentino Perez menjadi bagian penting dari cerita comeback tersebut, karena presiden Madrid sejak lama menyimpan ketertarikan terhadap kemungkinan membawanya kembali. Mourinho mengatakan Perez bahkan meneleponnya setelah Madrid memenangkan trofi pada tahun-tahun setelah kepergiannya.

Pada periode selepas Mourinho, Real Madrid memang menikmati kesuksesan luar biasa dengan enam gelar Liga Champions dalam 11 tahun. Zidane dan Carlo Ancelotti menjadi dua pelatih yang berhasil pada periode keduanya, sebuah sejarah yang kini memberi Mourinho referensi sekaligus tekanan.

Situasinya berbeda sekarang karena Madrid kembali berada di belakang Barcelona dan memasuki musim setelah dua tahun tanpa gelar utama. Reuters menyebut Perez merespons periode tanpa trofi itu dengan mengembalikan Mourinho sekaligus melakukan pembangunan skuad agresif untuk menantang dominasi Barcelona. 

Karena itu, Mourinho sejak awal menekankan satu aspek yang dianggap tidak boleh hilang dari proyek baru Real Madrid, yakni komitmen. Ia sudah mengubah sejumlah kebiasaan dan meningkatkan tuntutan latihan, bahkan Diomande menyatakan kesiapan memberikan segalanya bagi pelatih barunya.

Tanda awalnya memang positif karena Madrid menunjukkan pressing tinggi dan mampu menciptakan sejumlah peluang di RCDE Stadium. Namun, ketika intensitas menurun mereka kehilangan kontrol, sebuah persoalan lama yang kemungkinan akan dihukum lebih keras ketika menghadapi Barcelona atau lawan Eropa.

Itulah sebabnya kemenangan atas Espanyol lebih tepat dibaca sebagai fondasi daripada pembuktian bahwa seluruh persoalan Real Madrid sudah terselesaikan. Madrid memiliki kedalaman, kualitas individu dan pelatih berpengalaman, tetapi pertandingan pertama menunjukkan bahwa nama besar tidak otomatis menghasilkan struktur permainan sempurna.

Mourinho sendiri menutup malam dengan penilaian yang cukup rendah hati, mengatakan timnya memang layak mendapatkan kemenangan tetapi Espanyol tidak pantas menerima kekalahan. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tiga poin datang bersama kelegaan, bukan keyakinan bahwa Real Madrid sudah mencapai bentuk ideal.

Bagi Real Madrid, gol Espí setidaknya membeli waktu bagi Mourinho untuk membangun koneksi Mbappe, Vinicius dan Bellingham tanpa kehilangan angka pada laga pertama. Namun, kemenangan dramatis 2-1 itu sekaligus menjadi pesan awal bahwa era kedua The Special One masih membutuhkan banyak pekerjaan. 

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.