Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Dulu Bintang Ajax, Begini Kejatuhan Quincy Promes hingga Terjerat Kokain Vonis 7,5 Tahun

Dulu Bintang Ajax, Begini Kejatuhan Quincy Promes hingga Terjerat Kokain Vonis 7,5 Tahun

  • Agustus 24, 2026

Quincy Promes pernah memiliki hampir semua yang diimpikan seorang pesepak bola: membela Belanda, menjadi bintang Ajax, dan mencapai status idola di Spartak Moscow. Kini namanya justru identik dengan dua perkara pidana yang menghasilkan vonis total tujuh setengah tahun penjara.

Perjalanan tersebut menjadi salah satu kejatuhan karier paling dramatis dalam sepak bola modern karena berlangsung ketika Quincy Promes masih tampil di level tinggi. Ia telah divonis dalam perkara penikaman anggota keluarga dan penyelundupan kokain, meski kedua putusan tersebut masih dalam proses banding.

Mantan pemain internasional Belanda itu kini berada dalam tahanan di negaranya setelah diekstradisi dari Uni Emirat Arab pada Juni 2025. Pengadilan sebelumnya menolak permintaannya menunggu proses banding dalam keadaan bebas karena mempertimbangkan risiko melarikan diri. 

Kasus Quincy Promes menjadi semakin menarik karena garis antara masa kejayaan dan awal persoalan hukumnya nyaris berjalan bersamaan. Ketika publik melihatnya mencetak gol di Rusia dan Belanda, penyidik sebenarnya sudah menelusuri perkara yang kemudian mengubah seluruh arah kehidupannya.

Quincy Promes, dari Akademi Ajax hingga Menjadi Raja di Rusia

Bakat Quincy Promes sudah terlihat sejak kecil ketika ia bergabung dengan akademi Ajax pada usia sekitar 10 tahun, tetapi perjalanan pertamanya di Amsterdam berakhir buruk. Ia dikeluarkan pada usia 16 tahun setelah perilakunya dianggap mengganggu perkembangan di lingkungan akademi.

Promes kemudian mengakui bahwa dirinya terlalu percaya diri, sering mengatakan apa yang dipikirkan, dan tidak selalu memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Pemecatan tersebut sempat membuatnya terpukul hingga mempertimbangkan meninggalkan sepak bola sebelum akhirnya berusaha membangun karier dari awal.

Twente kemudian memberinya kesempatan kedua sebelum meminjamkannya kepada Go Ahead Eagles, yang saat itu diasuh Erik ten Hag, pada musim 2012/13. Promes membantu klub meraih promosi sekaligus mendapatkan pengakuan sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Belanda.

Setelah kembali ke Twente dan membantu klub finis ketiga di Eredivisie, reputasi Quincy Promes mulai menarik perhatian klub-klub luar negeri. Spartak Moscow akhirnya membayar sekitar €15 juta untuk merekrutnya pada musim panas 2014, keputusan yang kemudian terbukti sangat berhasil.

Dua musim pertamanya di Rusia segera mengubah Promes menjadi salah satu pemain asing paling populer di Spartak, bahkan terpilih sebagai pemain terbaik klub secara beruntun. Puncaknya datang pada musim 2016/17 ketika ia mencetak 12 gol dan menghasilkan sembilan assist.

Kontribusi itu membantu Spartak meraih gelar liga Rusia pertama mereka dalam 16 tahun, sekaligus membawa Quincy Promes mendapatkan penghargaan individu bergengsi. Survei terhadap 279 jurnalis kemudian memilih winger asal Belanda tersebut sebagai pemain terbaik Rusia pada 2017.

Musim berikutnya semakin memperkuat statusnya setelah ia menjadi pencetak gol terbanyak sekaligus pemberi assist terbanyak kompetisi meskipun Spartak hanya finis ketiga. Sevilla kemudian membawanya ke Spanyol pada 2018 dengan nilai transfer yang dilaporkan sekitar €20 juta.

Petualangan di La Liga ternyata tidak berjalan mulus karena Promes membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan lebih sering menjadi pemain pengganti pada paruh pertama musim. Setelah hanya semusim bersama Sevilla, ia menerima kesempatan kembali ke klub yang pernah membuangnya, Ajax.

Quincy Promes Kembali ke Ajax, Lalu Semuanya Berubah

Kepulangan Quincy Promes ke Amsterdam pada 2019 sempat terlihat seperti kisah penebusan sempurna karena ia akhirnya menjadi pemain penting klub masa kecilnya. Ia mencetak gol dalam empat dari lima penampilan Liga Champions dan tampil sangat produktif di Eredivisie.

Dalam periode tersebut, Promes menghasilkan 12 gol dari 20 pertandingan liga, termasuk hat-trick melawan Fortuna Sittard dan gol kemenangan menghadapi PSV. Ia juga mencetak gol ketika Ajax bertemu Chelsea, membuat kariernya terlihat kembali bergerak menuju level tertinggi.

Namun pada Desember 2020, publik dikejutkan ketika Quincy Promes ditangkap terkait insiden penikaman terhadap seorang anggota keluarga yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Peristiwa tersebut berlangsung dalam sebuah acara keluarga di Abcoude pada Juli tahun yang sama.

Perselisihan disebut berkaitan dengan konflik lama mengenai perhiasan milik anggota keluarga, sebelum situasi berkembang menjadi perkelahian pada penghujung acara. Pengadilan kemudian menyatakan Promes bersalah melakukan penganiayaan berat setelah korban mengalami luka akibat tusukan pada bagian kaki.

Pada Juni 2023, pengadilan Amsterdam menjatuhkan hukuman 18 bulan penjara kepada Quincy Promes dalam perkara tersebut, sementara ia tidak hadir karena berada di Rusia. Pengadilan menyatakan bukti mencakup keterangan saksi serta komunikasi yang disadap setelah kejadian. 

Perkara itu kemudian mengalami perkembangan signifikan pada Maret 2026 ketika pengacara Promes mengatakan kliennya mengakui telah menusuk anggota keluarganya sekali menggunakan pisau kecil. Namun pembelaan menyatakan tindakan tersebut terjadi di tengah kekacauan dan Promes mengklaim dirinya membela diri. 

Pengakuan tersebut merupakan perubahan besar karena Quincy Promes sebelumnya membantah sebagai pelaku penikaman dan sempat menyebut orang lain bertanggung jawab. Pihak pembela kini berusaha memberikan konteks berbeda terhadap kejadian yang sudah menghasilkan vonis tingkat pertama tersebut.

Banding perkara kekerasan itu belum selesai, sehingga secara jurnalistik vonis 18 bulan tersebut belum boleh digambarkan sebagai akhir proses hukum. Pengadilan banding akan kembali menilai fakta, alat bukti, argumentasi jaksa, dan pembelaan yang diajukan pihak Promes.

Quincy Promes dan Kasus Penyelundupan 1,35 Ton Kokain

Masalah jauh lebih besar muncul ketika penyidik Belanda mengembangkan perkara terpisah mengenai penyelundupan narkotika, yang ternyata telah membuat komunikasi Quincy Promes disadap. Jaksa kemudian mendakwanya terlibat dalam dua pengiriman kokain dari Amerika Selatan menuju Eropa pada 2020.

Barang tersebut disembunyikan dalam pengiriman melalui pelabuhan Antwerp dan jumlah keseluruhannya sekitar 1.350 kilogram kokain, menurut laporan otoritas Belanda. Reuters menyebut dua pengiriman berasal dari Brasil dan kemudian diarahkan menuju Belanda melalui pelabuhan Belgia tersebut. 

Dalam persidangan tingkat pertama, jaksa menuduh Quincy Promes berperan dalam pembiayaan dan pengaturan proses pengambilan narkotika tersebut bersama jaringan lain. Salah satu muatan berhasil dicegat petugas, sedangkan bagian lainnya disebut lolos dari penyitaan dan memiliki nilai pasar sangat besar.

Artikel sumber menyebut salah satu kiriman berisi lebih dari 700 kilogram, sementara sekitar 650 kilogram terdapat dalam pengiriman lainnya. Total nilai kokain dalam operasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar €75 juta, memperlihatkan skala perkara yang jauh melampaui kasus penikaman.

Pada 14 Februari 2024, pengadilan menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepada Quincy Promes atas keterlibatannya dalam penyelundupan kokain tersebut. Ia tidak hadir dalam persidangan dan melalui pengacaranya terus membantah keterlibatan dalam perdagangan narkotika serta mengajukan banding.

Keberadaan Promes di Rusia saat putusan dijatuhkan membuat pelaksanaan hukuman menjadi rumit karena ia belum kembali ke Belanda untuk menghadapi proses hukum. Situasi geopolitik juga membuat peluang ekstradisi langsung dari Rusia ketika itu dianggap sangat kecil.

Promes masih bermain produktif untuk Spartak dan bahkan kembali memperoleh pengakuan ketika pendukung memilihnya sebagai pemain terbaik pada musim 2022/23. Ia mencetak 25 gol dalam 37 pertandingan, memperlihatkan kontras ekstrem antara performa sepak bola dengan persoalan hukumnya.

Situasi berubah ketika Quincy Promes berada di Dubai bersama Spartak pada 2024 dan kemudian ditahan oleh otoritas setempat, sebelum perjalanan kariernya di Rusia berakhir. Ia setelah itu bergabung dengan United FC di Dubai sambil menghadapi proses terkait permintaan ekstradisi Belanda. 

Pada Juni 2025, proses tersebut akhirnya menghasilkan ekstradisi dan Quincy Promes diterbangkan dari Uni Emirat Arab ke Belanda menggunakan penerbangan yang diatur otoritas. Setelah mendarat di Schiphol, ia langsung dibawa aparat dan ditempatkan dalam tahanan. 

Nasib Quincy Promes Kini: Banding dan Tuntutan €8 Juta

Kembalinya Quincy Promes ke Belanda tidak langsung mengakhiri perkara karena ia mengajukan banding terhadap kedua vonis, sementara prosesnya kini digabung. Permintaannya untuk menunggu sidang dalam keadaan bebas juga telah ditolak karena pengadilan menilai masih terdapat risiko pelarian. 

Secara keseluruhan, pengadilan tingkat pertama menjatuhkan hukuman 18 bulan dalam perkara penikaman dan enam tahun dalam perkara narkotika, atau tujuh setengah tahun bila dijumlahkan. Namun total tersebut masih diperiksa di tingkat banding dan belum menjadi akhir proses peradilan. 

Sidang substantif banding Quincy Promes telah dijadwalkan berlangsung pada 30 November serta 2 dan 4 Desember 2026 di Amsterdam. Jadwal itu akan menjadi tahap penting untuk menentukan apakah dua putusan sebelumnya dipertahankan, diubah, atau mendapatkan penilaian berbeda. 

Persoalan keuangan juga membayangi mantan winger Ajax tersebut setelah kejaksaan Belanda membuka proses untuk mengambil sekitar €8 juta yang dianggap sebagai hasil kriminal. Perhitungan jaksa dikaitkan dengan dugaan keuntungan dari perdagangan kokain yang menjadi dasar perkara sebelumnya. 

Pihak Quincy Promes tetap membantah keterlibatan dalam perdagangan narkotika, sementara pembelaannya dalam perkara penikaman kini berubah setelah ia mengakui melakukan tusukan tetapi menyampaikan klaim pembelaan diri. Karena banding masih berjalan, kedua perkara tersebut tetap menjadi sengketa hukum aktif.

Pengacaranya juga pernah meminta pemeriksaan psikologis atau psikiatris dengan alasan terdapat persoalan kepribadian yang perlu diteliti dan pengalaman selama penahanan di Dubai mungkin relevan. Tim pembela menyatakan Promes kini bersedia memberikan penjelasan mengenai peristiwa yang menjeratnya. 

Permintaan pembebasan untuk memungkinkan Quincy Promes kembali bekerja dan membantu lima anaknya juga belum berhasil, sehingga mantan pemain internasional tersebut tetap ditahan. Artikel sumber menyebut kondisi finansialnya kini diklaim sangat buruk meskipun ia memiliki sejumlah properti.

Kisah Quincy Promes akhirnya menjadi pengingat tentang betapa cepat reputasi seorang atlet elite dapat berubah ketika persoalan di luar lapangan mengambil alih kehidupan. Pemain yang pernah mengoleksi 50 penampilan untuk Belanda kini menunggu keputusan pengadilan yang jauh lebih menentukan daripada pertandingan apa pun.

Dari akademi Ajax, kejayaan bersama Spartak, kembali menjadi idola di Amsterdam, hingga berada dalam tahanan menjelang sidang banding, perjalanan Quincy Promes penuh perubahan ekstrem. Bab terakhirnya pun belum ditulis karena proses hukum masih akan berlanjut pada akhir 2026.

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.