Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan gol, kejutan, dan pertandingan dramatis. Turnamen ini juga memperlihatkan betapa besar pengaruh VAR alias Video Assistant Referee, sensor di dalam bola, serta interpretasi baru terhadap sejumlah pelanggaran.
Keputusan penting kini tidak selalu berawal dari apa yang dilihat wasit di lapangan. Tayangan ulang dari ruang VAR dan data teknologi dapat mengubah kartu, membatalkan gol, bahkan menentukan tim yang bertahan di turnamen.
Swiss, Jerman, Kroasia, Mesir, dan Norwegia sama-sama merasakan dampaknya. Setiap kasus memiliki dasar aturan berbeda, tetapi seluruhnya memunculkan pertanyaan mengenai batas intervensi teknologi dan masa depan sepak bola.
Kartu Merah Breel Embolo Mengubah Laga Swiss
Kontroversi terbaru terjadi pada perempat final antara Swiss dan Argentina. Breel Embolo mendapat kartu kuning kedua setelah wasit Joao Pinheiro menilai penyerang Swiss tersebut melakukan simulasi saat berduel dengan Leandro Paredes.
Pada awalnya, Paredes justru menerima kartu kuning karena dianggap melanggar Embolo. Namun, tim video melihat tayangan ulang dan menilai penyerang Swiss itu menjatuhkan diri tanpa pelanggaran yang cukup.
Paredes sudah mendapat kartu, dan hal itu menjadi kunci intervensi VAR. Berdasarkan aturan salah identitas, VAR dapat membantu ketika wasit menghukum tim yang keliru atas insiden yang menghasilkan kartu kuning atau kartu merah.
Pinheiro kemudian melihat monitor di sisi lapangan. Setelah pemeriksaan VAR, kartu untuk Paredes tidak lagi menjadi keputusan utama, sedangkan Embolo dinilai melakukan simulasi yang jelas.
Embolo menerima kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan. Secara teknis, kasus tersebut ditempatkan dalam kategori “mistaken identity”, meski identitas Embolo tidak tertukar dengan pemain Swiss lainnya.
Maksud aturan itu adalah wasit telah menghukum pihak yang salah. Paredes semula dianggap sebagai pelaku pelanggaran, tetapi pemeriksaan ulang menyimpulkan Embolo yang sebenarnya melakukan pelanggaran berupa simulasi.
Kartu merah tersebut muncul lima menit setelah Swiss menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Argentina kemudian memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan menang 3-1 setelah perpanjangan waktu.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, menilai keputusan itu merusak permainan timnya. Ia juga merasa cara Swiss tersingkir membuat kekalahan tersebut jauh lebih menyakitkan.
Simulasi Aturan Salah Identitas
Bayangkan pemain A terjatuh setelah berduel dengan pemain B. Wasit menganggap pemain B melakukan pelanggaran dan memberikan kartu kuning.
Setelah memeriksa rekaman, VAR menemukan pemain A sengaja menjatuhkan diri. Karena kartu sudah dikeluarkan kepada pemain B, VAR dapat meminta wasit meninjau ulang insiden tersebut.
Kartu pemain B dapat dibatalkan, sedangkan pemain A dihukum karena simulasi. Apabila pemain A sebelumnya sudah mendapat kartu kuning, hukuman baru otomatis membuatnya diusir.
Simulasi tersebut menjelaskan mengapa VAR dapat berperan dalam kartu kedua Embolo. Tanpa kartu awal kepada Paredes, ruang koreksinya akan menjadi lebih terbatas.
Jerman Kehilangan Gol Penting
Jerman juga merasakan keputusan besar teknologi video ketika menghadapi Paraguay pada babak 32 besar. Jonathan Tah sempat mencetak gol yang berpotensi menjadi penentu kemenangan dalam perpanjangan waktu.
Gol tersebut dibatalkan setelah tayangan ulang memperlihatkan Waldemar Anton mendorong kiper Paraguay, Orlando Gill, sebelum bola masuk. Kontaknya terlihat minimal sehingga keputusan itu memicu kritik.
Kepala Wasit FIFA Pierluigi Collina menjelaskan ofisial mendapat instruksi lebih ketat untuk menghukum pemain yang menghalangi lawan tanpa berusaha memainkan bola, khususnya ketika korbannya adalah penjaga gawang.
Dalam situasi tersebut, besar atau kecilnya benturan bukan satu-satunya ukuran. VAR juga menilai tujuan gerakan pemain dan apakah tindakan itu menghambat kiper mendatangi bola.
Jerman akhirnya kalah melalui adu penalti. Tah, yang sempat mengira sudah mencetak gol kemenangan, justru menendang penalti penentu melewati mistar.
Tersingkirnya Jerman menimbulkan dampak besar. Julian Nagelsmann mengundurkan diri dari jabatan pelatih, sementara Jurgen Klopp diperkirakan menjadi kandidat kuat penggantinya.
Contoh Pelanggaran terhadap Kiper
Seorang penyerang boleh berdiri di dekat kiper ketika sepak pojok. Ia juga boleh mempertahankan posisi selama masih berusaha memainkan bola.
Masalah muncul ketika pemain bergerak hanya untuk menutup jalur, mendorong, atau menahan kiper. Jika tim penyerang kemudian mencetak gol, VAR dapat memeriksa tindakan tersebut.
Contohnya, pemain A menghadap kiper dan merentangkan tubuh tanpa memperhatikan arah bola. Jika tindakannya membuat kiper tidak dapat bergerak, VAR bisa menyarankan pembatalan gol meski kontak terlihat ringan.
Sensor Bola Menghukum Kroasia
Istilah connected ball technology kemungkinan akan sulit dilupakan Kroasia. Teknologi itu berperan besar dalam pembatalan gol Josko Gvardiol saat menghadapi Portugal pada babak 32 besar.
Gvardiol sempat merayakan gol pada masa tambahan waktu yang seharusnya mengubah skor menjadi 2-2. Namun, VAR kemudian menemukan Igor Matanovic menyentuh bola sangat tipis dalam proses serangan.
Sentuhan tersebut tidak dapat dipastikan dengan mata telanjang. Rekaman video biasa pun tidak cukup jelas untuk menunjukkan apakah bola benar-benar mengenai Matanovic.
Jawabannya datang dari sensor di dalam bola. Teknologi tersebut merekam data sebanyak 500 kali per detik dan dapat mendeteksi sentuhan yang sangat kecil.
Data itu memastikan adanya kontak Matanovic. Momen sentuhan kemudian digunakan VAR untuk menentukan posisi offside Gvardiol sehingga gol Kroasia dibatalkan.
FIFA menyatakan sensor bola memberi tingkat ketelitian yang belum pernah dimiliki ofisial sebelumnya. Data dapat membantu VAR menentukan waktu kontak secara cepat dan akurat.
Bagi Kroasia, kecanggihan itu terasa kejam. Zlatko Dalic, yang kemudian mundur sebagai pelatih, menilai keputusan semacam itu menghilangkan kegembiraan dari sepak bola.
Simulasi Teknologi Bola Terkoneksi
Bayangkan pemain pertama mengirim bola menuju penyerang yang masih berada dalam posisi sah. Dalam perjalanan, bola menyentuh ujung sepatu pemain kedua dengan sangat tipis.
Saat sentuhan kedua terjadi, penyerang sudah melewati bek terakhir. Posisi offside harus dihitung dari sentuhan pemain kedua, bukan umpan awal.
Tanpa sensor, wasit dan VAR mungkin tidak menyadari kontak tersebut. Dengan teknologi bola terkoneksi, waktu sentuhan dapat terlihat melalui lonjakan data sehingga keputusan offside berubah.
Mesir Kehilangan Peluang Membuat Kejutan
Mesir nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar turnamen ketika menghadapi Argentina pada babak 16 besar. Mereka sempat memimpin 2-0 atas sang juara bertahan.
Namun, Mesir juga memiliki gol Mostafa Zico yang dibatalkan ketika skor masih 1-0. Zico menyelesaikan serangan cepat dan sempat merayakan gol bersama rekan-rekannya.
VAR kemudian kembali ke awal rangkaian serangan. Tayangan ulang memperlihatkan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez jauh di area pertahanan Mesir.
Wasit menyatakan pelanggaran tersebut masih menjadi bagian dari fase penguasaan yang menghasilkan gol. Gol Zico dibatalkan dan Argentina akhirnya bangkit untuk menang 3-2.
Pelatih Mesir Hossam Hassan menyebut timnya mengalami ketidakadilan. Federasi Sepak Bola Mesir juga mempertanyakan konsistensi keputusan yang dinilai langsung memengaruhi pertandingan.
Perdebatan muncul karena jarak antara pelanggaran terhadap Martinez dan gol Zico sangat jauh. Insiden awal terjadi di wilayah Mesir sebelum bola dibawa menuju sisi lain lapangan.
Collina menjelaskan tidak ada batas waktu maupun jarak yang ditetapkan untuk pemeriksaan VAR dalam satu fase serangan. Selama penguasaan belum terputus, wasit dapat kembali ke pelanggaran sebelumnya.
Ia juga menegaskan integritas perangkat pertandingan Piala Dunia tidak seharusnya dipertanyakan.
Norwegia Terpukul Dua Keputusan
Norwegia memprotes dua keputusan saat kalah 1-2 dari Inggris pada perempat final. Kontroversi pertama muncul dalam proses gol penyama kedudukan Jude Bellingham pada babak pertama.
Pemain dan staf Norwegia yakin bola mengenai kabel penyangga kamera udara. Jika klaim itu benar, permainan seharusnya dihentikan dan gol tidak dapat diteruskan.
FIFA menggunakan sensor bola untuk memeriksa insiden tersebut. Data tidak menunjukkan lonjakan dalam pola yang disebut sebagai “detak jantung bola” ketika bola berada di udara.
Karena tidak ada tanda kontak, FIFA menyimpulkan bola tidak mengenai kabel. VAR tidak memiliki bukti untuk membatalkan proses serangan dan gol Bellingham tetap sah.
Norwegia kembali dirugikan menurut pandangan mereka ketika sebuah gol dianulir pada skor 1-1. VAR melihat Erling Haaland melakukan pelanggaran terhadap Elliot Anderson sebelum sepak pojok ditendang.
Aturan terbaru mengizinkan VAR memeriksa pelanggaran tim penyerang yang terjadi sebelum eksekusi sepak pojok. Tujuannya mengurangi aksi menarik, mendorong, dan memblokir lawan ketika menunggu bola.
Setelah pemeriksaan, pelanggaran Haaland dianggap memengaruhi proses terciptanya gol. Inggris mempertahankan kemenangan 2-1 dan melanjutkan perjalanan di turnamen.
Akurasi Teknologi Belum Tentu Memuaskan Semua Pihak
Tujuan utama VAR dan sensor bola adalah membantu wasit mengambil keputusan secara lebih akurat. Teknologi dapat menemukan sentuhan, posisi offside, atau pelanggaran yang tidak terlihat langsung.
Namun, keputusan yang akurat secara teknis belum tentu mudah diterima secara emosional. Pemain dan suporter tetap menginginkan permainan yang mengalir serta memberikan ruang bagi kontak fisik.
Gol yang dibatalkan karena sentuhan sangat tipis, dorongan minimal, atau pelanggaran jauh sebelumnya mudah dianggap terlalu keras. Situasi itu semakin rumit ketika penonton tidak langsung memahami alasan intervensi VAR.
Istilah seperti salah identitas, fase penguasaan serangan, detak jantung bola, dan teknologi bola terkoneksi masih asing bagi sebagian penggemar.
FIFA perlu menjelaskan keputusan dengan cepat dan sederhana. Tanpa komunikasi yang jelas, pemeriksaan VAR mudah dianggap membingungkan, tidak konsisten, atau terlalu jauh mencampuri pertandingan.
Teknologi Menjadi Bagian Permanen Piala Dunia
Berbagai kontroversi tersebut menunjukkan teknologi sudah menjadi bagian permanen dari sepak bola modern. Perdebatan kini bukan lagi sekadar perlu atau tidaknya VAR.
Pertanyaan yang lebih besar adalah sejauh mana VAR boleh kembali ke insiden sebelumnya dan seberapa kecil kontak yang layak mengubah keputusan pertandingan.
Kasus Embolo menunjukkan VAR dapat mengoreksi kartu kepada pihak yang salah. Gol Jerman membuktikan perlindungan terhadap kiper kini diterapkan lebih ketat.
Kroasia merasakan kemampuan sensor mendeteksi sentuhan terkecil. Mesir melihat VAR meninjau pelanggaran jauh sebelum gol, sedangkan Norwegia menghadapi data bola dan aturan baru sepak pojok.
Teknologi dapat menghadirkan ketepatan, tetapi FIFA tetap harus menjaga karakter permainan. Terlalu sedikit intervensi membiarkan kesalahan besar, sementara pemeriksaan berlebihan berisiko menghilangkan spontanitas.
Piala Dunia 2026 akhirnya menjadi ujian besar bagi aturan dan teknologi tersebut. Data mungkin dapat membuktikan ada atau tidaknya sentuhan, tetapi penerimaan publik tetap bergantung pada transparansi dan konsistensi.



