Paul Pogba pernah berdiri di puncak sepak bola sebagai juara dunia dan pemain dengan nilai transfer termahal dunia, tetapi perjalanan kariernya kini berbelok drastis. Pada usia 33 tahun, masa depannya kembali dipertanyakan setelah proyek kebangkitan bersama AS Monaco nyaris berakhir sebelum waktunya.
Monaco dilaporkan ingin mengakhiri kontrak Paul Pogba yang sebenarnya masih berlaku hingga Juni 2027, dengan pembicaraan mengenai penyelesaian finansial sedang berlangsung. Le Parisien menyebut keputusan berpisah sudah muncul sebelum gelandang Prancis tersebut kembali mengalami cedera paha kiri pada latihan 11 Agustus 2026.
Jika kesepakatan tercapai, mantan bintang Juventus ini akan kembali berstatus pemain bebas transfer hanya sekitar 14 bulan setelah Monaco memberinya kesempatan menghidupkan karier. Situasinya terasa ironis karena kedatangannya pada Juni 2025 sempat dipandang sebagai salah satu kisah comeback paling menarik di sepak bola Eropa.
Comeback yang Selalu Gagal
AS Monaco mendatangkan Paul Pogba secara gratis pada 28 Juni 2025 dengan kontrak dua musim sampai 30 Juni 2027. Sang juara dunia datang setelah meninggalkan Juventus dan menyelesaikan masa hukuman doping yang sebelumnya membuatnya kehilangan sepak bola kompetitif dalam waktu panjang.
Harapannya saat itu sangat besar karena Monaco menawarkan lingkungan relatif stabil untuk mengembalikan kondisi seorang gelandang dengan kemampuan teknis luar biasa. Namun, satu musim kemudian Paul Pogba hanya menghasilkan enam penampilan Ligue 1 dengan total 115 menit dan cuma sekali menjadi starter.
Angka tersebut berarti Paul Pogba hanya berada di lapangan sekitar 19 menit per penampilan selama musim pertamanya bersama Monaco. Lima dari enam penampilannya bahkan dimulai dari bangku cadangan, memperlihatkan betapa sulitnya tubuh sang gelandang mencapai kondisi untuk memainkan pertandingan secara reguler.
Debutnya baru terjadi pada November 2025 melawan Rennes, mengakhiri penantian lebih dari dua tahun sejak pertandingan kompetitif terakhirnya. Akan tetapi, masalah paha, pergelangan kaki, betis, lutut, dan kebugaran kemudian berulang sehingga momentum yang sangat dibutuhkan Paul Pogba tidak pernah benar-benar terbentuk.
Bukan Kemampuan yang Hilang
Menariknya, statistik resmi Monaco menunjukkan masalah bintang Timnas Prancis ini tidak sesederhana kehilangan kemampuan bermain sepak bola setelah absen panjang. Dalam kesempatan yang sangat terbatas, ia masih menyelesaikan 88 dari 106 operan dengan tingkat keberhasilan sekitar 83 persen.
Paul Pogba juga memenangkan 10 dari 15 duel, merebut kembali bola sebanyak 18 kali, serta mencatat empat tekel dalam 115 menitnya. Sampel tersebut memang terlalu kecil untuk menyimpulkan performanya, tetapi memberikan indikasi bahwa kualitas teknis bukan persoalan utama dalam proyek comeback ini.
Masalah sebenarnya adalah availability, sesuatu yang semakin penting dalam sepak bola modern ketika klub membutuhkan pemain tersedia hampir setiap tiga hari. Monaco mendapatkan nama besar dan kualitas elite, tetapi hampir tidak pernah memiliki Paul Pogba dalam kondisi siap digunakan secara konsisten.
Bahkan pada Februari 2026, Monaco mencoret Paul Pogba dari skuad Liga Champions untuk fase gugur demi memberikan tempat kepada rekrutan Januari. Ketika itu ia sudah tidak bermain sejak awal Desember dan masih berusaha pulih dari rangkaian persoalan fisik.
Monaco Sebenarnya Sudah Memberikan Sinyal
Keraguan terhadap kelanjutan proyek ini tidak muncul mendadak setelah cedera terbaru karena pimpinan Monaco sudah membicarakannya sejak Januari. CEO Thiago Scuro mengatakan kedua pihak bisa duduk bersama pada musim panas apabila upaya mengembalikan Paul Pogba ke level kompetitif tidak berhasil.
Nada tersebut semakin jelas pada Juli ketika Scuro mengakui proyek yang dibangun musim sebelumnya tidak menghasilkan sesuatu sesuai ekspektasi. Monaco masih ingin mengevaluasi perkembangan fisik dan teknis Paul Pogba, tetapi membuka kemungkinan mencari solusi jika tujuan pemain dan klub berbeda.
Paul Pogba sempat memainkan satu babak dalam pertandingan persahabatan melawan Saint-Priest pada 18 Juli, penampilan pertamanya sejak menjadi starter menghadapi Metz pada Mei. Namun, lutut kanannya kembali mengganggu dan membuatnya melewatkan pertandingan pramusim lainnya sebelum cedera paha kiri muncul.
Karena itu, menganggap Monaco ingin melepas Paul Pogba hanya karena cedera terbaru akan memberikan gambaran yang tidak tepat. Le Parisien melaporkan keputusan menuju perpisahan telah muncul sebelumnya, sementara cedera baru menjadi pukulan tambahan terhadap proyek yang memang sudah berada di persimpangan.
Dari £89 Juta hingga Enam Pertandingan
Kontras perjalanan Paul Pogba menjadi luar biasa apabila melihat posisi sang pemain satu dekade lalu ketika Manchester United membawanya kembali dari Juventus. Transfer pada 2016 tersebut bernilai sekitar £89 juta dan ketika itu memecahkan rekor transfer dunia untuk seorang pemain sepak bola.
Pada periode pertama bersama Juventus, Paul Pogba berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik generasinya dengan memenangkan empat gelar Serie A secara beruntun. Secara keseluruhan dalam dua periode bersama Juventus, ia mencatat 190 pertandingan, 34 gol, dan 39 assist.
Manchester United juga bukan periode tanpa keberhasilan meskipun ekspektasi terhadap Paul Pogba sering kali melampaui performa tim secara keseluruhan. Dalam enam musim setelah kembali ke Old Trafford, ia mengoleksi 233 pertandingan, 39 gol, dan 51 assist serta memenangkan Liga Europa 2017.
Puncak karier internasionalnya datang pada Piala Dunia 2018 ketika Paul Pogba menjadi salah satu figur penting Prancis dalam perjalanan menuju gelar. Ia bahkan mencetak gol pada final melawan Kroasia yang dimenangkan Les Bleus 4-2 di Moskow.
Hukuman Doping Merusak Karier
Setelah meninggalkan Manchester United pada 2022, Paul Pogba kembali menuju Juventus dengan harapan menemukan performa terbaiknya lagi. Namun, periode keduanya di Turin justru terganggu cedera sebelum sebuah tes menunjukkan keberadaan DHEA, zat yang dapat meningkatkan kadar testosteron.
Paul Pogba awalnya mendapatkan larangan bermain empat tahun, sebuah hukuman yang berpotensi mengakhiri kariernya di level tertinggi. Court of Arbitration for Sport kemudian memangkas hukuman tersebut menjadi 18 bulan setelah menerima sebagian argumentasi dalam banding sang pemain.
Juventus dan Paul Pogba kemudian berpisah melalui kesepakatan bersama pada November 2024, sebelum Monaco menawarkan jalan kembali menuju sepak bola profesional. Namun, masa tanpa pertandingan dan masalah fisik sebelumnya ternyata membuat proses mengembalikan tubuh ke ritme kompetisi jauh lebih rumit.
Dalam konteks tersebut, kegagalan di Monaco tidak bisa dipisahkan dari akumulasi beberapa musim dengan menit bermain yang sangat sedikit. Opta mencatat periode keduanya di Juventus menghasilkan delapan penampilan liga sebelum ia kemudian hanya membuat enam pertandingan bersama Monaco.
Mimpi Kembali ke Timnas Prancis Ikut Menghilang
Ketika menerima tantangan Monaco, Paul Pogba masih menyimpan ambisi kembali memperkuat Prancis dan mengejar tempat menuju Piala Dunia 2026. Namun, enam pertandingan dan 115 menit jelas tidak memberikan cukup bukti kepada staf pelatih untuk membawanya kembali ke level internasional.
Pada Juni 2026, Paul Pogba mengakui ritme pertandingan merupakan sesuatu yang paling kurang dari upayanya kembali ke tim nasional. Meski tidak masuk skuad Piala Dunia, ia masih menyebut kembali mengenakan seragam Prancis sebagai sebuah mimpi yang ingin dikejar.
Catatan internasionalnya sebenarnya luar biasa karena Paul Pogba memiliki 91 penampilan dan 11 gol untuk Prancis sepanjang karier. Selain Piala Dunia 2018, ia juga memenangkan UEFA Nations League 2021 serta menjadi finalis Euro 2016 bersama generasinya.
Kini mimpi tersebut semakin jauh karena persoalan pertama bukan lagi bagaimana merebut tempat di tim nasional, melainkan menemukan klub dan kembali bermain reguler. Paul Pogba harus membuktikan tubuhnya mampu menanggung tuntutan sepak bola profesional sebelum memikirkan kembali panggung internasional.
Apakah Karier Paul Pogba Sudah Mendekati Akhir?
Belum ada dasar kuat menyatakan Paul Pogba akan pensiun apabila kontraknya dengan Monaco benar-benar diputus melalui kesepakatan bersama. Sampai saat ini, laporan yang tersedia juga belum menunjukkan sang pemain telah mengambil keputusan untuk menghentikan karier profesionalnya.
Namun, pertanyaan tersebut menjadi wajar karena Paul Pogba sudah berusia 33 tahun dan hanya bermain sangat sedikit setelah beberapa tahun penuh gangguan. Jurnalis Andy Brassell bahkan menilai opsi pensiun tidak bisa diabaikan apabila tubuhnya terus menghambat usaha kembali ke pertandingan kompetitif.
Di sisi lain, mantan penyerang West Ham Carlton Cole melihat situasi tersebut secara berbeda dan menyarankan mantan klubnya mempertimbangkan Paul Pogba. Cole menilai kemampuan serta pengalaman sang juara dunia tetap menarik apabila kondisi mental dan fisiknya cocok dengan proyek klub.
Saran tersebut belum berarti West Ham sedang melakukan negosiasi karena sejauh ini tidak terdapat laporan kuat mengenai pembicaraan transfer. Begitu pula kemungkinan menuju MLS atau Timur Tengah masih sebatas skenario masuk akal, bukan tujuan yang sudah dipilih Paul Pogba.
Klub Berikutnya Harus Mengambil Pendekatan Berbeda
Apabila ingin terus bermain, Paul Pogba kemungkinan membutuhkan proyek yang sangat berbeda dibandingkan pemain berusia 33 tahun pada umumnya. Klub berikutnya harus bersedia mengelola menit bermain, program latihan, pemulihan, dan target pertandingan secara individual tanpa menuntutnya bermain terus-menerus.
Kualitas umpannya, visi permainan, kekuatan fisik ketika bugar, dan pengalamannya tentu tidak menghilang dalam semalam, tetapi semuanya tidak berarti tanpa ketersediaan. Kasus Monaco menunjukkan tantangan terbesar Paul Pogba sekarang bukan mengalahkan gelandang lawan, melainkan membuat tubuhnya siap setiap pekan.
Ironisnya, ketika Monaco merekrutnya pada 2025, klub mendapatkan seorang pemain yang telah memainkan lebih dari 500 pertandingan sepanjang karier. Setahun kemudian, pembicaraan mengenai masa depannya justru berpusat pada enam pertandingan dan 115 menit yang menjadi simbol betapa sulitnya comeback tersebut.
Karier Paul Pogba belum resmi berakhir, tetapi jalan kembali menuju level elite kini jauh lebih sempit daripada ketika ia pertama datang ke Monaco. Dari sini, keputusan berikutnya akan menentukan apakah kisahnya mendapatkan satu comeback terakhir atau berakhir dengan pertanyaan tentang potensi yang tersisa.



