Matheus Cunha akan menghadapi salah satu pertandingan paling emosional dalam kariernya ketika Manchester United bertandang ke markas Atletico Madrid pada fase Liga Champions 2026/2027. Penyerang asal Brasil tersebut kembali ke stadion yang pernah menjadi tempat kegagalan terbesarnya sebelum menemukan kebangkitan di Inggris.
Pertandingan Atletico Madrid melawan Manchester United pada Selasa, 13 Oktober 2026, menghadirkan cerita menarik mengenai perjalanan Matheus Cunha yang pernah kesulitan mendapatkan kepercayaan Diego Simeone. Kini, pemain berusia 27 tahun itu datang sebagai bagian penting lini serang Setan Merah.
Perjalanan Matheus Cunha memperlihatkan bahwa kualitas individu tidak selalu menjamin keberhasilan seorang pemain ketika bergabung dengan klub besar Eropa. Perbedaan filosofi permainan, ketatnya persaingan internal, dan terbatasnya kesempatan tampil dapat menentukan arah karier seorang pesepak bola berbakat.
Sebelum bergabung dengan Manchester United, Matheus Cunha sempat menjalani periode mengecewakan di Atletico Madrid pada 2021 hingga awal 2023. Ia kemudian membangun kembali reputasinya bersama Wolverhampton Wanderers hingga akhirnya mendapatkan kesempatan memperkuat salah satu klub terbesar di Inggris.
Kini, Matheus Cunha menghadapi tantangan membuktikan bahwa perkembangan kariernya bukan sekadar hasil perubahan lingkungan atau kesempatan bermain lebih banyak. Pertemuan dengan Atletico menjadi panggung untuk menunjukkan kematangan yang tidak sempat diperlihatkannya selama berada di bawah arahan Simeone.
Mengapa Matheus Cunha Gagal Bersinar di Atletico Madrid?
Kepindahan Matheus Cunha ke Atletico Madrid pada Agustus 2021 sebenarnya disambut dengan harapan besar karena klub baru saja memenangkan gelar La Liga. Manajemen membutuhkan tambahan kekuatan menyerang sekaligus mempersiapkan regenerasi setelah Luis Suarez memasuki fase akhir kariernya.
Namun, Matheus Cunha bukan pilihan utama Atletico sejak awal bursa transfer karena klub lebih dahulu mempertimbangkan Dusan Vlahovic dan Rafa Mir. Ketika kedua rencana tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, Atletico akhirnya mengalihkan perhatian kepada penyerang muda milik Hertha Berlin.
Atletico Madrid mengeluarkan dana sekitar 30 juta euro untuk mendapatkan Matheus Cunha setelah pemain tersebut menunjukkan perkembangan cukup menjanjikan di Bundesliga. Bersama Hertha Berlin, ia mencatatkan 13 gol dan lima assist dalam sekitar satu setengah musim kompetisi.
Kemampuan Matheus Cunha bermain sebagai penyerang tengah, gelandang serang, maupun penyerang sayap membuatnya dinilai sesuai untuk memperkuat kedalaman skuad Atletico. Fleksibilitas tersebut memberikan pilihan tambahan bagi Simeone yang biasa menggunakan beberapa pendekatan berbeda ketika menghadapi lawan.
Dalam wawancara pertamanya bersama media resmi Atletico Madrid, Matheus Cunha menyampaikan kebahagiaan karena akhirnya mendapatkan kesempatan bermain di salah satu klub elite Eropa. Ia bahkan menganggap kepindahan tersebut sebagai pencapaian penting dalam perjalanan profesional yang sebelumnya berkembang melalui sepak bola Jerman.
“Saya selalu bermimpi bermain di level setinggi mungkin, dan di sinilah saya ingin berada,” ujar Matheus Cunha ketika diperkenalkan sebagai pemain Atletico Madrid.
Harapan tersebut ternyata tidak berjalan sesuai rencana karena Matheus Cunha harus menghadapi persaingan ketat dengan sejumlah penyerang yang lebih dahulu dipercaya Simeone. Suarez tetap menjadi pilihan utama, sementara Antoine Griezmann kembali dari Barcelona pada pengujung bursa transfer musim panas.
Kehadiran Griezmann membuat persaingan semakin sulit karena Atletico juga memiliki Joao Felix yang didatangkan dengan investasi besar beberapa musim sebelumnya. Akibatnya, Matheus Cunha lebih sering menjadi pemain pengganti dan baru memperoleh kesempatan pertama sebagai starter pada Desember 2021.
Keterbatasan menit bermain membuat Matheus Cunha kesulitan membangun konsistensi, terutama karena ia membutuhkan kebebasan bergerak dan keterlibatan intensif dalam serangan. Ketika mendapatkan kesempatan singkat, pemain Brasil tersebut terkadang terlalu memaksakan aksi individu sehingga kehilangan penguasaan bola.
Masalah tersebut semakin terlihat karena pendekatan Simeone menuntut kedisiplinan posisi, kerja kolektif, serta kemampuan mengambil keputusan secara efektif dalam situasi tertentu. Pemain menyerang tidak hanya dinilai melalui kreativitas, tetapi juga kesediaan mengikuti struktur pertahanan dan memanfaatkan peluang.
Menurut analisis James Westwood yang diterbitkan GOAL pada 13 Oktober 2026, perbedaan karakter permainan merupakan salah satu faktor yang menghambat perkembangan Matheus Cunha. Penyerang Brasil tersebut memiliki kecenderungan mengambil risiko, sedangkan Simeone lebih mengutamakan pengendalian ruang dan keseimbangan tim.
Musim pertama Matheus Cunha bersama Atletico Madrid berakhir dengan catatan tujuh gol dari 38 penampilan di seluruh kompetisi. Namun, statistik tersebut perlu dilihat berdasarkan jumlah kesempatan bermain karena hanya sebagian kecil penampilannya berlangsung sejak menit pertama.
Enam dari tujuh gol Matheus Cunha pada musim 2021/2022 tercipta ketika ia mendapatkan delapan kesempatan menjadi starter dalam pertandingan La Liga. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa produktivitasnya tidak sepenuhnya buruk apabila dibandingkan dengan keterbatasan menit bermain yang diterima.
Selain persoalan persaingan, Matheus Cunha juga sempat mengalami cedera lutut yang membuatnya harus menjalani pemulihan selama sekitar enam pekan. Kondisi tersebut semakin menghambat kesempatan mendapatkan tempat reguler ketika Atletico berusaha mempertahankan konsistensi dalam persaingan kompetisi domestik.
Pada musim tersebut, Atletico Madrid hanya mampu menyelesaikan La Liga di peringkat ketiga setelah sebelumnya berhasil menjadi juara. Mereka juga tersingkir pada babak 16 besar Copa del Rey serta perempat final Liga Champions setelah dikalahkan Manchester City.
Kehilangan Tempat, Kegagalan ke Piala Dunia Jadi Pukulan Terbesar
Meski musim pertamanya tidak berjalan mulus, Atletico Madrid sempat memperlihatkan kepercayaan kepada Matheus Cunha setelah kepergian Luis Suarez. Klub memberikan nomor punggung sembilan kepada pemain Brasil tersebut, nomor yang sebelumnya pernah dikenakan Fernando Torres dan David Villa.
Matheus Cunha menyambut tanggung jawab tersebut dengan optimisme karena merasa memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan peran penting dalam skuad. Ia bahkan mempersiapkan diri secara khusus selama pramusim melalui pendampingan fisioterapis dan ahli gizi pribadi untuk meningkatkan kebugaran.
Persiapan tersebut menghasilkan beberapa penampilan positif, termasuk ketika Matheus Cunha mencetak gol dalam kemenangan pramusim 4-0 menghadapi Numancia dan Juventus. Performa itu sempat memberikan harapan bahwa musim 2022/2023 akan menjadi titik balik perjalanan kariernya di Atletico.
Namun, situasi kembali berubah setelah Alvaro Morata pulang dari Juventus dan mendapatkan kepercayaan Simeone untuk memimpin lini depan Atletico Madrid. Morata langsung mencetak dua gol ketika menghadapi Getafe pada pekan pembuka, sementara Matheus Cunha hanya dimainkan selama tujuh menit.
Keberhasilan Morata memperkuat posisinya sebagai penyerang utama, sedangkan Griezmann dan Felix juga tetap menjadi pilihan alternatif dalam sistem permainan Simeone. Matheus Cunha akhirnya kembali menghadapi persaingan yang membuat kesempatan tampil sebagai starter semakin terbatas sepanjang awal musim.
Dalam 17 pertandingan di seluruh kompetisi sejak Agustus hingga awal November 2022, Matheus Cunha hanya dua kali mendapatkan kesempatan sebagai starter. Ia juga gagal mencetak gol sepanjang periode tersebut, sehingga posisinya semakin sulit ketika Atletico membutuhkan kontribusi langsung.
Dampak dari keterbatasan kesempatan bermain tersebut tidak hanya dirasakan pada level klub, tetapi juga memengaruhi peluangnya memperkuat tim nasional Brasil. Matheus Cunha akhirnya tidak masuk skuad Brasil untuk Piala Dunia 2022 di Qatar yang berlangsung pada pertengahan musim.
Kegagalan tersebut menjadi pengalaman emosional yang kemudian diakui Matheus Cunha sebagai salah satu periode paling sulit sepanjang perjalanan karier profesionalnya. Kepada BBC Sport, ia menceritakan bagaimana kehilangan kesempatan bermain di Piala Dunia membuatnya mempertanyakan seluruh kerja keras sebelumnya.
“Ketika saya pulang, saya menangis dan meluapkan semua perasaan kepada orang-orang yang benar-benar peduli kepada saya,” ungkap Matheus Cunha mengenai kekecewaannya.
Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya arti Piala Dunia bagi Matheus Cunha yang sejak kecil memiliki ambisi membela Brasil pada turnamen terbesar sepak bola. Meski sebelumnya ikut memenangkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020, kesempatan tampil bersama tim senior tetap mempunyai makna berbeda.
Pertandingan terakhir Matheus Cunha bersama Atletico Madrid terjadi pada 6 November 2022 ketika menghadapi Espanyol dalam laga yang berakhir imbang 1-1. Ia hanya bermain selama 17 menit sebagai pemain pengganti sebelum masa depannya mulai menjadi pembahasan serius manajemen.
Pada saat bersamaan, Atletico Madrid menghadapi tekanan finansial setelah tersingkir dari fase grup Liga Champions dan membutuhkan pemasukan dari penjualan pemain. Situasi tersebut membuat Matheus Cunha menjadi salah satu kandidat yang dipertimbangkan untuk dilepas pada bursa transfer Januari.
Atletico masih mempunyai Morata, Griezmann, Felix, dan Angel Correa sebagai pilihan menyerang, sehingga keberadaan Matheus Cunha dianggap tidak lagi menjadi kebutuhan utama. Kondisi tersebut memperbesar peluang kepindahan pemain Brasil itu meskipun sebelumnya mendapatkan nomor punggung penting dalam skuad.
Wolverhampton Wanderers akhirnya mencapai kesepakatan dengan Atletico Madrid pada 26 Desember 2022 untuk mendatangkan Matheus Cunha melalui skema peminjaman. Kesepakatan tersebut mencakup kewajiban pembelian dengan nilai sekitar 50 juta euro, sebelum kepindahannya resmi berlaku pada awal Januari 2023.
Keputusan tersebut kemudian memunculkan perbedaan pandangan mengenai apakah Atletico Madrid terlalu cepat menyerah terhadap Matheus Cunha yang belum mendapatkan kesempatan konsisten. Simeone menegaskan kedua pihak telah memberikan kemampuan terbaik, tetapi pemain Brasil itu menyampaikan pesan perpisahan dengan nada berbeda.
Matheus Cunha menyinggung keberadaan orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan menentukan keputusan penting dalam organisasi sepak bola melalui unggahan media sosial. Pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pelatih, meskipun ia tidak secara langsung menyebut Simeone sebagai pihak yang disalahkan.
Pengamat sepak bola Spanyol sekaligus mantan pemain Manchester United, Terry Gibson, menilai Atletico sebenarnya kehilangan pemain dengan kemampuan menyerang yang menjanjikan. Ia berpendapat tawaran finansial Wolves terlalu menarik untuk diabaikan, sementara Matheus Cunha belum memperoleh kesempatan bermain secara adil.
Ayah Matheus Cunha, Carmelo, juga pernah mengkritik pendekatan permainan Simeone yang menurutnya menyulitkan penyerang untuk berkembang secara maksimal. Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan keluarga pemain dan tidak otomatis menjelaskan seluruh alasan keputusan taktis yang dibuat Atletico Madrid.
Kebangkitan Matheus Cunha di Wolves hingga Menjadi Andalan Manchester United
Kepindahan ke Wolverhampton Wanderers menjadi titik penting karena Matheus Cunha mendapatkan lingkungan baru dengan kesempatan bermain yang lebih besar. Ia mulai memperoleh kebebasan bergerak dalam membangun serangan sekaligus mengembangkan kemampuan membawa bola dan menghadapi pemain bertahan lawan.
Karakter permainan Matheus Cunha terlihat lebih menonjol ketika mendapatkan ruang untuk bergerak dari area tengah menuju pertahanan lawan melalui aksi individu. Kemampuannya menggabungkan dribel, pergerakan tanpa bola, dan penyelesaian akhir membuat Wolves memiliki sumber ancaman serangan yang semakin beragam.
Perkembangan tersebut menghasilkan kontribusi penting selama dua setengah musim memperkuat Wolves sebelum Matheus Cunha akhirnya meninggalkan Molineux pada musim panas 2025. Berdasarkan laporan resmi Wolverhampton Wanderers, ia menutup kariernya bersama klub dengan 33 gol dari 92 penampilan Liga Inggris.
Pada musim 2024/2025, Matheus Cunha menjadi pencetak gol terbanyak Wolves dengan 17 gol di seluruh kompetisi serta mendapatkan penghargaan pemain terbaik. Kontribusinya membantu tim mengamankan keberlangsungan di Liga Inggris sekaligus meningkatkan ketertarikan klub-klub besar terhadap kemampuan penyerang Brasil tersebut.
Salah satu penampilan penting Matheus Cunha bersama Wolves terjadi ketika ia mencetak hattrick menghadapi Chelsea pada Februari 2024. Pencapaian tersebut menunjukkan kualitas penyelesaian akhir yang sebelumnya tidak selalu mendapatkan kesempatan muncul selama ia memperkuat Atletico Madrid.
Manchester United akhirnya merekrut Matheus Cunha pada musim panas 2025 dengan biaya transfer sebesar 62,5 juta pound sterling untuk memperkuat sektor penyerangan. Nilai tersebut mencerminkan perkembangan reputasinya setelah berhasil membangun konsistensi dan menjadi salah satu pemain terpenting Wolverhampton Wanderers.
Musim pertama Matheus Cunha di Old Trafford tidak langsung berjalan lancar karena ia membutuhkan waktu beradaptasi dengan ekspektasi dan tekanan klub. Namun, penampilannya meningkat pada paruh berikutnya ketika Michael Carrick mengambil alih tanggung jawab kepelatihan Manchester United.
Pada akhir musim 2025/2026, Matheus Cunha mencatatkan sepuluh gol dan dua assist dari 33 pertandingan Liga Inggris bersama Manchester United. Kontribusi tersebut membantu Setan Merah menyelesaikan kompetisi di peringkat ketiga sekaligus memastikan tiket kembali tampil di Liga Champions.
Kemampuan Matheus Cunha membawa bola melewati lawan memberikan dimensi tambahan pada lini depan Manchester United yang membutuhkan variasi dalam membongkar pertahanan. Ia juga dikenal aktif memberikan tekanan ketika kehilangan penguasaan bola sehingga membantu tim mempertahankan intensitas permainan.
Kiper Manchester United, Tom Heaton, pernah memberikan pujian terhadap karakter permainan Matheus Cunha dalam podcast Inside Carrington pada Desember 2025. Menurut Heaton, pemain Brasil tersebut mempunyai gaya permainan tidak biasa, tetapi mampu memberikan energi positif di lingkungan ruang ganti.
Perkembangan Matheus Cunha semakin lengkap setelah ia mendapatkan kesempatan tampil pada Piala Dunia 2026 bersama tim nasional Brasil. Pengalaman tersebut menjadi pencapaian emosional karena empat tahun sebelumnya ia gagal mengikuti turnamen serupa ketika masih memperkuat Atletico Madrid.
Pada turnamen tersebut, Matheus Cunha mencatatkan tiga gol dari lima penampilan bersama Brasil dan menunjukkan kemampuan memberikan kontribusi pada level internasional. Pencapaian itu memperkuat gambaran bahwa kegagalannya di Atletico tidak menghentikan perkembangan menjadi penyerang dengan pengalaman pertandingan besar.
Matheus Cunha Kembali ke Madrid, Manchester United Sedang Tertekan
Meski berhasil membangun reputasi baru, Matheus Cunha kembali menghadapi tantangan berat pada awal musim 2026/2027 bersama Manchester United. Ia baru mencetak satu gol dalam enam pertandingan Liga Inggris ketika Setan Merah mengalami kesulitan menemukan konsistensi hasil.
Manchester United hanya memperoleh enam poin dari enam pertandingan pembuka, yang menjadi salah satu catatan awal musim terburuk klub dalam empat dekade terakhir. Tim asuhan Carrick juga sudah tertinggal cukup jauh dari Manchester City yang memimpin klasemen sementara kompetisi domestik.
Hasil imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur pada 10 Oktober 2026 semakin memperlihatkan masalah konsistensi Manchester United ketika menghadapi lawan yang bermain dengan sepuluh orang. Dalam pertandingan tersebut, Matheus Cunha memberikan assist untuk gol Bryan Mbeumo sebelum Tottenham menyamakan kedudukan melalui Dominic Solanke.
Meski menghadapi tekanan domestik, Manchester United mendapatkan hasil positif pada pertandingan pertama fase liga Liga Champions ketika mengalahkan Sabah FK dengan skor 4-0. Kemenangan tersebut memberikan modal penting sebelum menghadapi Atletico Madrid yang sebelumnya kalah 1-2 dari Liverpool.
Menurut laporan Reuters pada 12 Oktober 2026, Carrick menyatakan keyakinannya bahwa Manchester United mampu keluar dari periode sulit melalui peningkatan permainan kolektif. Namun, persoalan cedera pemain masih menjadi perhatian karena Kobbie Mainoo dan Luke Shaw mengalami masalah kebugaran menjelang pertandingan di Madrid.
Atletico Madrid sendiri mempunyai kondisi berbeda karena berada di papan atas La Liga dan telah memenangkan pertandingan derbi menghadapi Real Madrid musim ini. Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa tim asuhan Simeone masih memiliki kemampuan bersaing menghadapi lawan dengan kualitas individu tinggi.
Bagi Matheus Cunha, pertandingan di Metropolitano menghadirkan kesempatan memperlihatkan kemampuan yang sebelumnya tidak berkembang maksimal ketika ia menjadi bagian dari Atletico Madrid. Namun, nilai pertandingan ini tidak hanya berkaitan dengan masa lalunya karena Manchester United membutuhkan hasil positif untuk memperbaiki momentum.
Perbedaan situasi Matheus Cunha saat memperkuat Atletico dan Manchester United memperlihatkan pentingnya kecocokan pemain dengan struktur permainan sebuah tim. Kemampuan menyerang yang kurang efektif dalam sistem tertentu dapat menghasilkan kontribusi berbeda ketika pemain memperoleh kebebasan dan kepercayaan lebih besar.
Di Atletico Madrid, Matheus Cunha harus menghadapi persaingan internal sekaligus tuntutan pendekatan Simeone yang memberikan prioritas besar pada kedisiplinan taktik. Sementara bersama Wolves dan Manchester United, kemampuannya membawa bola serta menyerang ruang lebih sering menjadi bagian utama strategi.
Namun, pendekatan tersebut tidak berarti sistem Simeone sepenuhnya tidak cocok bagi setiap penyerang kreatif karena Atletico memiliki sejumlah pemain ofensif yang berhasil berkembang. Persoalan Matheus Cunha lebih tepat dipahami sebagai gabungan persaingan skuad, keterbatasan kesempatan bermain, cedera, dan kebutuhan finansial klub.
Kembalinya Matheus Cunha ke Madrid pada akhirnya menjadi gambaran perjalanan seorang pemain yang sempat kehilangan tempat sebelum kembali menemukan kepercayaan diri. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegagalan dalam satu lingkungan tidak selalu menjadi ukuran akhir kualitas maupun potensi seorang pesepak bola.
Kini, tantangan terbesar Matheus Cunha bukan membuktikan bahwa Atletico Madrid pernah membuat keputusan keliru, melainkan membantu Manchester United kembali menemukan stabilitas. Jika mampu memberikan kontribusi penting di Metropolitano, penampilan tersebut akan menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya yang penuh perubahan.


