Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Manchester United Punya 11 Lawan 10 tapi Tetap Kalah, Masalah Carrick Lebih Besar dari VAR?

Manchester United Punya 11 Lawan 10 tapi Tetap Kalah, Masalah Carrick Lebih Besar dari VAR?

  • September 14, 2026

Manchester United boleh merasa dirugikan oleh keputusan VAR yang mengesahkan gol Erling Haaland dalam derby Manchester, tetapi kekalahan 0-1 dari Manchester City menyimpan persoalan lebih besar. Tim Michael Carrick bermain melawan 10 orang selama lebih dari satu jam dan tetap gagal mencetak gol.

Pro Ref, badan yang menaungi wasit elite Inggris, bahkan mengakui terjadi kesalahan penilaian dalam proses pengesahan gol Haaland pada menit ke-60. VAR dinilai seharusnya meminta wasit Michael Oliver melakukan on-field review karena posisi Enzo Fernández berpotensi memengaruhi reaksi Lisandro Martínez.

Keputusan di lapangan semula menyatakan Haaland offside sebelum pemeriksaan VAR menunjukkan penyerang Manchester City itu sebenarnya berada dalam posisi sah. Persoalannya muncul karena Fernández berada dalam posisi offside, bergerak menuju bola, dan membuat Martínez harus bereaksi terhadap pergerakannya.

Dalam pernyataan yang dilansir The Guardian, Pro Ref mengakui VAR “tidak mengenali kemungkinan dampak dari posisinya” dan seharusnya merekomendasikan pemeriksaan monitor lapangan. Badan tersebut telah menghubungi Manchester United dan memastikan insiden itu akan ditinjau kembali setelah pertandingan.

Michael Carrick punya alasan untuk marah karena interpretasi mengenai pemain yang mengganggu permainan terlihat sangat menentukan hasil pertandingan. Pelatih Manchester United menyebut situasinya “sejelas yang bisa dibayangkan”, terutama karena Fernández bergerak dekat bola dan memaksa Martínez mengambil keputusan defensif.

Namun, jika seluruh analisis berhenti pada VAR, Manchester United justru berisiko kehilangan pelajaran paling penting dari derby tersebut. Kesalahan wasit dapat menjelaskan mengapa gol Haaland seharusnya dianulir, tetapi tidak menjelaskan mengapa United gagal menghukum City yang kehilangan Phil Foden sejak menit ke-23.

Manchester City bermain dengan 10 orang setelah Foden mendapat kartu merah karena menendang Bruno Fernandes dalam sebuah insiden panas. Enzo Maresca menerima kartu merah tersebut, meski ia menilai Fernandes juga layak diusir karena tindakannya lebih dahulu memicu reaksi Foden.

Situasi itu seharusnya memberikan Manchester United keuntungan taktis besar di kandang sendiri, terutama dengan dukungan Old Trafford dan waktu pertandingan yang masih panjang. Namun, City justru bertahan dengan tenang, tetap berani memainkan bola, dan akhirnya menemukan satu momen yang cukup untuk menentukan derby.

Manchester United sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa ancaman karena Marcus Rashford dan Kobbie Mainoo sama-sama mengenai tiang gawang. Gianluigi Donnarumma juga melakukan penyelamatan penting pada fase akhir, tetapi tekanan tersebut tidak pernah berubah menjadi dominasi yang benar-benar mencekik City.

Manchester United Gagal Memanfaatkan Keunggulan 11 Lawan 10

Kegagalan memanfaatkan keunggulan pemain semakin terasa karena Carrick pernah berada dalam situasi serupa pada Februari 2026 dan mendapatkan hasil berbeda. Ketika Tottenham kehilangan Cristian Romero pada menit ke-29, Manchester United menang 2-0 melalui Bryan Mbeumo dan Bruno Fernandes.

Perbandingan itu penting karena masalah melawan City bukan sekadar Manchester United belum belajar menghadapi lawan dengan 10 orang. Tim ini pernah menunjukkan kemampuan mengontrol situasi tersebut, tetapi kali ini menghadapi lawan yang jauh lebih terorganisasi, percaya diri, dan berani mengambil risiko.

Maresca tidak segera mengubah City menjadi tim yang hanya bertahan setelah kehilangan Foden, dan keputusan itu menjadi salah satu aspek menarik dari derby. City tetap menyerang sehingga Manchester United tidak sepenuhnya bebas menumpuk pemain di sepertiga akhir tanpa memikirkan ancaman transisi.

Gol Haaland memang lahir dari keputusan kontroversial, tetapi proses serangannya juga menunjukkan City masih mampu membawa bola ke area berbahaya saat kekurangan pemain. Josko Gvardiol mengirim umpan silang, Patrick Dorgu menyentuh bola, lalu Haaland menyelesaikan peluang yang akhirnya menjadi pembeda pertandingan.

Bagi Manchester United, persoalan yang lebih mengganggu adalah tidak adanya gol meski bermain lebih dari satu jam dengan keunggulan jumlah pemain. Ketika sebuah tim sedang membangun proyek untuk kembali menjadi penantang gelar, situasi tersebut seharusnya menjadi kesempatan memperlihatkan kematangan menyerang.

Menghadapi 10 pemain sering kali justru menuntut kualitas teknis dan struktur posisi lebih disiplin karena lawan mempersempit ruang di sekitar kotak penalti. Manchester United membutuhkan sirkulasi cepat, pergantian sisi, pergerakan tanpa bola, serta kehadiran di kotak penalti yang lebih konsisten.

Manchester City mampu bertahan karena jarak antarpemain tetap terjaga dan mereka tidak kehilangan ancaman ketika merebut bola. Kondisi itu membuat Manchester United terus mempertimbangkan risiko transisi sehingga keunggulan satu pemain tidak pernah berubah menjadi tekanan tanpa henti yang melelahkan City.

Situasi tersebut menjadi kemenangan taktis penting bagi Maresca karena timnya tidak sekadar bertahan hidup dengan sepuluh pemain. Manchester City tetap mempertahankan cukup banyak ancaman sehingga Manchester United tidak berani sepenuhnya mengorbankan keseimbangan demi mengejar gol.

Kegagalan ini juga terasa kontras dengan kemenangan Manchester United atas Tottenham pada Februari, ketika kartu merah Romero langsung menggeser momentum pertandingan. Mbeumo mencetak gol sembilan menit setelah Spurs kehilangan pemain, sedangkan Fernandes memastikan kemenangan pada fase akhir pertandingan.

Derby kali ini menunjukkan bahwa keunggulan jumlah pemain tidak banyak berarti jika sebuah tim tidak mampu menciptakan superioritas posisi. Manchester United mempunyai satu pemain tambahan secara numerik, tetapi Manchester City sering terlihat tidak kekurangan pemain pada zona-zona yang benar-benar menentukan pertandingan.

Masalah Manchester United Sudah Terlihat sebelum Derby

Awal musim memperkuat alasan untuk tidak menjadikan VAR sebagai satu-satunya kambing hitam atas kekalahan derby. Manchester United baru mengumpulkan empat poin dari empat pertandingan Liga Inggris, dengan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan setelah start yang jauh dari ideal.

Carrick sebenarnya memasuki musim dengan modal kepercayaan cukup besar setelah mengantar Manchester United finis ketiga musim lalu. Reuters mencatat ia meraih 12 kemenangan dalam 17 pertandingan sejak kembali sebagai pelatih interim sebelum kemudian mendapatkan pekerjaan tersebut secara permanen.

Ekspektasi kemudian meningkat karena keberhasilan tersebut membuat publik berharap pola positif berlanjut ketika Carrick mendapatkan pramusim penuh dan kesempatan membentuk tim. Namun, kekalahan dari Hull City pada pekan pembuka langsung mengingatkan Manchester United bahwa performa musim sebelumnya tidak otomatis terbawa.

Manchester United memang merespons dengan kemenangan atas Ipswich Town dan kemudian bermain imbang melawan Everton sebelum derby. Mereka juga menghantam Sabah 4-0 di Liga Champions, tetapi hasil besar di Eropa belum mampu menciptakan konsistensi yang sama di kompetisi domestik.

Ada pola defensif yang sudah terlihat sebelum menghadapi City karena Manchester United kebobolan sedikitnya dua gol dalam masing-masing tiga pertandingan liga pertama. Catatan tersebut hanya pernah terjadi sekali dalam 50 tahun sebelumnya, sehingga keseimbangan tim sudah bermasalah sebelum kontroversi derby.

Ironisnya, pertahanan hanya kebobolan sekali dalam derby, tetapi serangan Manchester United kehilangan ketajaman ketika ruang dan waktu seharusnya lebih tersedia. Kondisi tersebut menunjukkan Carrick menghadapi masalah yang berpindah-pindah, bukan satu kelemahan tunggal yang selesai dengan mengganti satu pemain.

Bruno Fernandes tetap menjadi pusat kreativitas, sementara Rashford, Mainoo, Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Benjamin Sesko memberi variasi profil di sekitar area serang. Namun, banyaknya opsi Manchester United belum otomatis menghasilkan mekanisme konsisten untuk membongkar blok lawan ketika pertandingan membutuhkan kesabaran.

Ini menjadi tantangan taktikal terbesar bagi Carrick karena lawan tidak selalu memberikan ruang transisi yang dapat dieksploitasi melalui kecepatan. Manchester United harus mempunyai pola serangan posisi yang lebih matang ketika dipaksa menguasai bola dan menghadapi banyak pemain di sekitar kotak penalti.

Haaland pada akhirnya mencatat gol kesembilannya dalam derby Manchester, memperpanjang rekam jejaknya sebagai ancaman besar bagi tuan rumah. Gol tersebut kontroversial, tetapi keberadaan Haaland memaksa pertahanan Manchester United tetap berhati-hati meski City hanya mempunyai sembilan pemain lapangan selain Donnarumma.

Hasil tersebut membawa Manchester City mengoleksi 12 poin dari empat pertandingan dan berada di posisi kedua, hanya kalah selisih gol dari Arsenal. Sebaliknya, Manchester United tertahan di urutan ke-13 dengan empat poin sehingga perdebatan mengenai progres Carrick menjadi semakin relevan.

Manchester United dan Tekanan yang Makin Besar di Old Trafford

Carrick menolak membiarkan start buruk mengubah keyakinannya terhadap proyek Manchester United dan mengatakan timnya tetap bergerak ke arah yang benar. “Kami akan sampai di sana, saya yakin,” katanya, sembari mengakui jumlah poin yang telah dikumpulkan belum sesuai dengan harapan.

Optimisme pelatih tentu diperlukan, tetapi Manchester United sekarang membutuhkan bukti yang dapat terlihat melalui pertandingan, bukan sekadar keyakinan jangka panjang. Posisi ke-13 setelah empat laga belum menjadi krisis, tetapi cukup menunjukkan bahwa kesalahan-kesalahan kecil sudah menghabiskan terlalu banyak poin.

Tekanan terhadap Carrick juga muncul ketika suasana di sekitar Manchester United tidak sepenuhnya tenang karena sebagian suporter memprotes kebijakan pemberantasan calo tiket. Klub menyatakan 685 akun telah dikenai larangan, sementara 464 pendukung menerima sanksi lebih ringan atau peringatan terakhir.

Di dalam Old Trafford, kelompok The Red Army memasang spanduk bertuliskan “The Way You Treat Us Is A Disgrace” di atas lorong pemain. Spanduk yang biasanya memenuhi Stretford End juga diturunkan, membuat protes suporter menjadi latar emosional tambahan bagi derby tersebut.

Carrick memilih berhati-hati karena mengaku tidak mengetahui seluruh detail kebijakan klub, tetapi menegaskan pentingnya menjaga hubungan dengan pendukung. Menurutnya, suporter merupakan bagian besar Manchester United dan kebahagiaan mereka dipengaruhi oleh apa yang dilakukan klub di dalam maupun luar lapangan.

Konteks tersebut membuat kekalahan derby terasa lebih berat daripada sekadar kehilangan tiga poin, sebab Manchester United sedang berusaha membangun kembali kepercayaan dalam banyak lapisan sekaligus. Tim membutuhkan kemenangan, manajemen membutuhkan hubungan sehat dengan penggemar, dan Carrick membutuhkan bukti proyeknya berkembang.

Permintaan maaf Pro Ref memang penting karena kompetisi elite membutuhkan akuntabilitas ketika teknologi dan perangkat wasit justru menghasilkan keputusan keliru. Pengakuan tersebut juga memperkuat argumen Manchester United bahwa hasil pertandingan dipengaruhi faktor yang berada di luar kendali pemain maupun pelatih.

Namun, klub sebesar Manchester United tidak bisa membangun perjalanan satu musim dengan menunggu keputusan wasit selalu sempurna. Tim yang ingin kembali bersaing di papan atas harus menciptakan margin cukup besar sehingga satu keputusan kontroversial tidak selalu menentukan seluruh hasil pertandingan.

Derby ini karena itu seharusnya menjadi bahan evaluasi lebih luas daripada sekadar klip VAR pada gol Haaland. Carrick perlu menilai mengapa Manchester United tidak mengubah keunggulan pemain menjadi kontrol, mengapa peluang tidak cukup bersih, dan mengapa City tetap terlihat nyaman.

Hal itu semakin penting karena Carrick sudah menunjukkan musim lalu bahwa ia mampu membangkitkan tim dalam waktu relatif singkat. Manchester United memenangi lebih banyak poin dibandingkan klub Liga Inggris lainnya sejak Carrick mengambil alih sampai akhir musim lalu.

Kesuksesan tersebut menjadi alasan Carrick mendapatkan ekspektasi lebih besar sekarang, karena standar penilaiannya bukan lagi sekadar memperbaiki kekacauan peninggalan periode sebelumnya. Manchester United memasuki musim ini dengan pelatih permanen, target lebih tinggi, dan tuntutan agar perkembangan terlihat dalam struktur permainan.

Manchester United selanjutnya akan menghadapi Fulham, dan respons setelah derby jauh lebih berguna daripada perdebatan panjang mengenai permintaan maaf Pro Ref. Jika permainan membaik serta kemenangan datang, insiden Haaland dapat ditempatkan sebagai sebuah kesalahan wasit yang telah berlalu.

Sebaliknya, apabila Manchester United kembali kehilangan poin karena kesulitan mengontrol pertandingan, kontroversi derby akan semakin terlihat seperti gangguan dari persoalan utama. VAR memang salah, tetapi perjalanan Carrick ditentukan oleh kemampuannya memperbaiki hal-hal yang benar-benar berada di dalam kendali tim.

Preview Bayer Leverkusen vs Celje

Preview Leverkusen vs Celje: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

15 Sep 2026
Preview Sunderland vs AZ Alkmaar

Preview Sunderland vs AZ Alkmaar: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

15 Sep 2026
Preview Anderlecht vs Lyon

Preview Anderlecht vs Lyon: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

15 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.