Manchester City memasuki musim 2026/27 dengan wajah yang jauh berbeda setelah era Pep Guardiola berakhir dan Enzo Maresca mengambil kendali. Perubahan terbesar bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan arah permainan yang kini terasa lebih agresif, vertikal, dan berani mengambil risiko.
Rekrutmen Iliman Ndiaye pada hari terakhir bursa transfer mempertegas kecenderungan tersebut karena City semakin menumpuk pemain yang kuat dalam duel satu lawan satu. Penyerang Senegal itu datang dari Everton dengan reputasi sebagai penggiring bola yang sulit ditebak di ruang sempit.
Manchester City mengikat Ndiaye dengan kontrak lima tahun setelah menyelesaikan transfer yang dilaporkan bernilai sekitar 65 juta poundsterling. Kehadirannya membuat lini serang Maresca memiliki variasi baru, terutama ketika lawan bertahan rendah dan menutup jalur umpan di sepertiga akhir.
Manchester City Mengumpulkan Raja Dribel Liga Inggris
Menurut Opta Analyst, Manchester City sekarang mengumpulkan tiga pemain dengan percobaan dribel terbanyak di Liga Inggris musim 2025/26. Jérémy Doku mencatat 162 percobaan, Antoine Semenyo 144, sedangkan Iliman Ndiaye berada tepat di belakang mereka dengan 136 percobaan.
Angka tersebut menjadi lebih menarik karena bukan hanya volume percobaan yang tinggi, tetapi juga jumlah dribel sukses para pemain Manchester City. Doku menyelesaikan 84 dribel, Ndiaye 65, Semenyo 59, sementara Rayan Cherki membukukan 51 sepanjang musim lalu.
Jika Elliot Anderson ikut dimasukkan, gambaran pola rekrutmen Manchester City menjadi semakin jelas karena gelandang Inggris itu mencatat 50 dribel sukses. Artinya, Maresca memiliki banyak pemain yang mampu membawa bola sendiri melewati tekanan tanpa selalu menunggu kombinasi umpan panjang.
Transformasi ini tidak berarti Manchester City akan membuang seluruh warisan Guardiola karena fondasi penguasaan bola tetap menjadi bagian penting identitas klub. Namun, skuad baru memberi Maresca lebih banyak cara untuk mempercepat serangan ketika pola operan pendek tidak cukup membuka pertahanan.
Guardiola selama bertahun-tahun membangun Manchester City sebagai mesin posisi yang mengandalkan struktur, jarak antarpemain, sirkulasi cepat, dan kontrol wilayah. Model tersebut menghasilkan dominasi luar biasa, tetapi juga membuat lawan semakin terbiasa bertahan sangat rendah dengan blok rapat di sekitar kotak penalti.
Masalah menghadapi low block menjadi salah satu konteks penting di balik kebutuhan Manchester City terhadap para dribbler. Opta mencatat Manchester City menghabiskan 23,4 persen fase build-up musim lalu menghadapi blok rendah, proporsi tertinggi ketiga di antara klub Liga Inggris.
Melawan pertahanan seperti itu, tambahan lima atau sepuluh operan belum tentu menghasilkan celah jika lawan menjaga kedalaman dengan disiplin. Pemain seperti Ndiaye atau Doku menawarkan jalan lain melalui akselerasi, perubahan arah, dan keberanian menyerang bek secara langsung.
Di sinilah era Maresca mulai tampak berbeda karena Manchester City dapat mempertahankan kontrol tanpa harus selalu menyerang dengan tempo yang sama. Mereka bisa menguasai bola untuk menarik lawan, kemudian meningkatkan kecepatan secara mendadak melalui pemain yang sanggup memecahkan duel individual.
Secara taktik, dribbler bukan hanya berguna untuk melewati seorang bek karena aksi satu lawan satu dapat memaksa struktur pertahanan bergeser. Ketika satu pemain lawan keluar dari posisinya, ruang baru muncul untuk penyerang tengah, gelandang serang, atau full-back yang melakukan overlap.
DNA Manchester City Berubah: Dari Kontrol ke Kekacauan
Jérémy Doku menjadi contoh paling jelas tentang bagaimana profil semacam itu berkembang bersama Manchester City setelah didatangkan dari Rennes pada 2023. Awalnya ia dianggap kurang cocok dengan sepak bola posisional Guardiola, tetapi kemudian tumbuh menjadi salah satu winger satu lawan satu paling berbahaya.
Rayan Cherki menambahkan karakter berbeda karena kreativitasnya tidak hanya muncul dari kecepatan, melainkan juga sentuhan, improvisasi, dan keberanian bermain di ruang antarlini. Musim pertamanya di Liga Inggris memperlihatkan bahwa Manchester City semakin nyaman memberi kebebasan kepada pemain yang sulit diprediksi.
Antoine Semenyo juga memperbesar dimensi fisik dalam pola baru Manchester City sejak bergabung dari Bournemouth pada Januari 2026. Ia mampu membawa bola dengan kekuatan, menyerang ruang terbuka, bermain dari sisi kiri, dan tetap berbahaya ketika pertandingan berubah menjadi duel transisi.
Ndiaye kemudian melengkapi kelompok itu dengan karakter yang lebih licin dan fleksibel karena mampu bermain melebar maupun bergerak ke tengah. Kemampuan menggunakan kedua kaki membuatnya sukar diarahkan bek, terutama saat menerima bola di dekat kotak penalti dengan ruang terbatas.
Manchester City bahkan memiliki Elliot Anderson yang memberi kemampuan membawa bola dari area lebih dalam, bukan hanya dari sayap. Karakter itu memungkinkan Maresca memindahkan serangan melewati garis tekanan pertama tanpa bergantung sepenuhnya kepada progresi melalui umpan vertikal.
Rekrutmen musim panas City menunjukkan proyek yang jauh lebih besar daripada sekadar menambah pemain untuk mengganti beberapa nama lama. Reuters melaporkan klub menghabiskan sekitar 458 juta poundsterling pada bursa musim panas, tertinggi di Liga Inggris dalam periode tersebut.
Belanja masif tersebut mencerminkan keberanian Manchester City membangun ulang skuad setelah Guardiola pergi, termasuk mendatangkan Enzo Fernández dan Anderson. Dengan investasi sebesar itu, Maresca tidak hanya menerima warisan lama, tetapi mendapat materi untuk membentuk identitas permainan versinya sendiri.
Manchester City Masih Membawa Warisan Guardiola
Namun, istilah perubahan DNA harus dipahami secara hati-hati karena Maresca sendiri tumbuh dalam lingkungan sepak bola Guardiola dan pernah menjadi bagian staf City. Ia memahami prinsip penguasaan ruang, superioritas posisi, serta pentingnya mengontrol pertandingan melalui struktur ketika menguasai bola.
Perbedaannya kemungkinan terletak pada seberapa cepat Manchester City ingin mengubah kontrol menjadi penetrasi ketika kesempatan muncul. Alih-alih selalu menjaga serangan tetap steril dan aman, skuad baru memberi ruang lebih besar bagi improvisasi individual untuk menciptakan kekacauan terukur.
Konsep kekacauan terukur itu sangat penting karena dribel memiliki risiko kehilangan bola yang lebih tinggi dibandingkan operan sederhana. Karena itu, Maresca membutuhkan struktur rest defence yang kuat agar Manchester City tetap terlindungi ketika Doku, Semenyo, Cherki, atau Ndiaye gagal melewati lawan.
Jika keseimbangan tersebut berhasil, Manchester City bisa menjadi lebih sulit diprediksi dibandingkan beberapa musim terakhir era Guardiola. Lawan tidak cukup hanya menutup jalur umpan dan menjaga kotak penalti karena Manchester City sekarang memiliki banyak pemain yang dapat merusak bentuk pertahanan sendirian.
Variasi itu juga berpotensi membantu Erling Haaland karena dribel sukses di area sayap dapat menarik bek tengah atau gelandang bertahan keluar. Ketika struktur lawan pecah, Haaland mendapatkan ruang lebih besar untuk menyerang tiang dekat, menerima cut-back, atau menyelesaikan umpan mendatar.
Di sisi lain, terlalu banyak pemain yang gemar membawa bola juga dapat menciptakan persoalan jika keputusan akhir tidak efisien. Manchester City harus memastikan dribel menjadi alat untuk mempercepat peluang, bukan sekadar aksi individual yang memperlambat sirkulasi atau memutus koneksi antarpemain.
Maresca karena itu menghadapi tantangan menjaga kebebasan dan disiplin dalam proporsi yang tepat sepanjang musim 2026/27. Ia harus memberi ruang kepada pemain kreatif tanpa kehilangan struktur yang selama bertahun-tahun membuat Manchester City mampu mengontrol pertandingan dengan sangat konsisten.
Perubahan ini sebenarnya juga tidak sepenuhnya bertentangan dengan sejarah Guardiola karena tim juara City beberapa kali memiliki volume dribel tinggi. Pada musim 2017/18, 2018/19, 2020/21, dan 2021/22, Manchester City termasuk enam besar Liga Inggris untuk percobaan dribel.
Artinya, narasi Guardiola tidak menyukai penggiring bola terlalu sederhana karena City pernah mengandalkan pemain yang kuat menghadapi lawan secara langsung. Yang berubah sekarang adalah konsentrasi profil tersebut, karena hampir setiap lini memiliki pemain dengan kemampuan membawa bola progresif.
Masa Depan Manchester City di Tangan Maresca
Manchester City tampaknya sedang menyiapkan tim yang tetap mampu mendominasi penguasaan bola, tetapi lebih siap menghadapi sepak bola modern yang makin cepat. Transisi, duel individual, dan kemampuan melewati tekanan menjadi senjata tambahan tanpa harus menghapus prinsip posisi yang sudah tertanam.
Jika eksperimen Maresca berhasil, City dapat menghadirkan versi baru sepak bola dominan yang tidak lagi identik dengan kesabaran ekstrem. Mereka bisa mengontrol lawan melalui penguasaan bola, lalu menghancurkan struktur pertahanan dengan satu dribel, satu akselerasi, atau satu perubahan tempo.
Karena itu, perekrutan Ndiaye seharusnya tidak dilihat hanya sebagai transfer mahal pada penghujung jendela musim panas. Ia merupakan potongan penting dari proyek Manchester City yang sedang menggabungkan warisan Guardiola dengan kebutuhan baru akan spontanitas, vertikalitas, dan keberanian menyerang.
Musim 2026/27 akan menunjukkan apakah perubahan tersebut benar-benar menghasilkan Manchester City yang lebih berbahaya atau justru membuat mereka kehilangan kontrol. Satu hal sudah terlihat jelas, Maresca sedang membangun tim dengan kemampuan menggiring bola yang mungkin paling terkonsentrasi di Liga Inggris.



