Liverpool memasuki musim 2026/27 dengan Alexander Isak, Florian Wirtz, Cody Gakpo, dan sejumlah pemain ofensif berkualitas, tetapi pertandingan pertama mereka justru memunculkan pertanyaan lama. Tim Andoni Iraola terlihat berbahaya ketika menyerang, namun masih terlalu mudah dibuka ketika kehilangan bola.
Hasil imbang 2-2 di markas Newcastle United pada akhir pekan lalu memperlihatkan kontradiksi tersebut secara terang-terangan, karena Liverpool menghasilkan banyak peluang tetapi dua kali kebobolan melalui serangan cepat. Dominik Szoboszlai bahkan membutuhkan penalti menit ke-99 untuk menyelamatkan satu poin.
Secara statistik, The Reds sebenarnya tidak bermain buruk karena mereka menguasai 61 persen bola, melepaskan 27 tembakan, dan menghasilkan expected goals sekitar 2,73. Newcastle hanya mencatat 13 percobaan, tetapi kualitas serangan balik mereka membuat setiap kehilangan bola Liverpool terasa berbahaya.
Itulah sebabnya hasil di St James’ Park tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan Liverpool masih membutuhkan winger baru sebelum bursa transfer ditutup. Persoalan yang terlihat justru jauh lebih struktural, terutama bagaimana lini tengah dan pertahanan melindungi ruang ketika serangan mereka gagal menghasilkan peluang.
Liverpool Punya Isak, tetapi Nomor 9 Bukan Masalah Utama
Alexander Isak bukan pembelian biasa karena The Reds mengeluarkan £125 juta ketika membawanya dari Newcastle pada September 2025, memecahkan rekor transfer sepak bola Inggris saat itu. Sang striker datang setelah mencetak 54 gol dalam 86 penampilan Premier League bersama Newcastle.
Liverpool pada dasarnya membeli salah satu finisher terbaik liga, pemain yang mampu bergerak antarlini, menyerang ruang di belakang bek, dan mencetak gol dengan sedikit sentuhan. Karena itu, kebutuhan klub saat ini seharusnya bukan lagi mencari penyerang tengah yang bisa mengubah peluang menjadi gol.
Namun kepulangan Isak ke St James’ Park memperlihatkan bahwa seorang nomor sembilan tetap membutuhkan struktur permainan yang membuatnya menerima bola pada situasi berbahaya. Ia menjalani pertandingan relatif tenang, sementara sebagian besar ancaman Liverpool justru muncul melalui Gakpo, Wirtz, dan pergerakan pemain dari lini kedua.
Michael Owen kemudian menyoroti performa Isak dan menilai masa adaptasi sang striker tidak bisa berlangsung selamanya, terutama setelah ia mendapatkan pramusim penuh. Kritik tersebut wajar, tetapi membebankan seluruh persoalan kepada Isak berisiko menyembunyikan kelemahan yang jauh lebih mendasar.
Liverpool menciptakan cukup banyak peluang untuk memenangkan pertandingan tersebut, sehingga persoalan terbesar sebenarnya bukan jumlah kesempatan menyerang yang mereka hasilkan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana Newcastle hanya membutuhkan beberapa transisi cepat untuk mengubah dominasi bola lawannya menjadi situasi pertahanan darurat.
Anthony Elanga membuka skor pada menit kelima melalui serangan balik, sebelum Joe Willock kembali membawa Newcastle unggul hanya 176 detik setelah Gakpo menyamakan kedudukan. Kedua gol tersebut datang dari situasi yang sangat mirip dan menunjukkan pola kelemahan, bukan sekadar kesalahan individual.
Opta mencatat Liverpool sudah kebobolan sembilan gol dari fast break sejak awal musim lalu, jumlah terbanyak dibandingkan klub Premier League lainnya dalam seluruh kompetisi. Melawan Newcastle, mereka kebobolan dua gol melalui serangan cepat dalam satu pertandingan untuk pertama kalinya sejak pembukaan musim sebelumnya.
Angka tersebut penting karena menunjukkan persoalan ini sudah ada sebelum Iraola datang dan tidak otomatis menghilang bersama perubahan pelatih. Liverpool membutuhkan perbaikan struktur ketika menyerang, sehingga pemain di belakang bola tetap mampu mengendalikan ruang apabila penguasaan bola terputus.
Liverpool Bisa Membeli Barcola, tetapi Siapa yang Menutup Ruang?
Aktivitas Liverpool di pasar transfer justru sejauh ini lebih banyak mengarah kepada pemain sayap, terutama Bradley Barcola dan Yankuba Minteh. Iraola sendiri mengakui skuad masih membutuhkan tambahan pemain, dengan area lebar menjadi salah satu prioritas menjelang penutupan jendela transfer.
Barcola menjadi target paling mewah, tetapi perbedaan valuasi dengan Paris Saint-Germain membuat negosiasi rumit, sementara angka permintaan sekitar £120-125 juta terus muncul. Liverpool jelas melihat kecepatan, kemampuan satu lawan satu, dan produktivitas winger Prancis tersebut sebagai solusi kehilangan daya ledak di sisi lapangan.
Minteh menawarkan profil berbeda dengan kekuatan pada direct running, agresivitas menyerang ruang, dan pengalaman Premier League bersama Brighton. Liverpool awalnya mengajukan sekitar £50 juta, kemudian tawaran kedua senilai £60 juta juga ditolak, dengan Brighton menginginkan jumlah yang lebih tinggi.
Harga yang beredar untuk Minteh kemudian bergerak menuju £70 juta hingga £80 juta, membuat Liverpool harus menentukan apakah winger tersebut benar-benar layak dibeli dengan premium besar. Situasinya menjadi menarik karena kebutuhan paling jelas dari laga Newcastle justru terlihat pada keseimbangan lini tengah.
Mendatangkan Barcola tentu akan membuat Liverpool lebih menakutkan ketika menguasai bola, sedangkan Minteh bisa menambah ancaman vertikal dari sisi kanan. Namun keduanya tidak secara otomatis menyelesaikan masalah ketika lima atau enam pemain Liverpool sudah berada di depan bola dan serangan gagal.
The Times menyoroti kelemahan serupa setelah pertandingan Newcastle, terutama bagaimana dua serangan balik lawan menembus struktur pertahanan Liverpool dengan terlalu mudah. Analisis tersebut menilai permainan Iraola terlihat cepat dan menarik, tetapi sekaligus terlalu longgar ketika tim kehilangan penguasaan.
FourFourTwo bahkan melihat masalah utama berada pada posisi gelandang bertahan, area yang belum benar-benar memiliki spesialis seperti Fabinho pada periode terbaik Liverpool. Gravenberch, Szoboszlai, Wirtz, dan Mac Allister memiliki kualitas tinggi, tetapi profil mereka tidak sepenuhnya identik dengan gelandang pemutus transisi.
Situasi itu menciptakan pertanyaan transfer yang lebih penting: apakah Liverpool membutuhkan winger seharga £120 juta, atau justru gelandang nomor enam elite yang memberi fondasi bagi para penyerangnya? Pertanyaan tersebut akan semakin keras apabila pola kebobolan serangan balik terus muncul pada pertandingan berikutnya.
Iraola Membawa Intensitas, tetapi Liverpool Belum Menemukan Rem
Iraola dipilih setelah Liverpool menjalani musim 2025/26 yang mengecewakan, finis kelima dan tertinggal 25 poin dari Arsenal meski sebelumnya menjadi juara. Ia membawa reputasi sepak bola agresif, pressing tinggi, tempo cepat, dan keberanian menyerang dengan banyak pemain.
Karakter tersebut langsung terlihat melawan Newcastle karena Liverpool bermain progresif, menekan tinggi, dan mengirim banyak pemain menuju sepertiga akhir lapangan. Masalahnya, filosofi seperti itu membutuhkan koordinasi rest defence yang sangat baik agar kehilangan bola tidak berubah menjadi sprint panik menuju gawang sendiri.
Rest defence pada dasarnya adalah struktur pemain yang tetap berada dalam posisi aman ketika tim sedang menyerang, sehingga serangan balik lawan bisa dihentikan sebelum berkembang. Liverpool belum menunjukkan mekanisme tersebut secara konsisten, terutama ketika gelandang maju bersamaan dan bek sayap berada terlalu tinggi.
Gol pertama Newcastle memperlihatkan bagaimana satu kesalahan distribusi segera membuka ruang besar, sedangkan gol kedua kembali menunjukkan Liverpool gagal menghentikan transisi meski mempunyai jumlah pemain cukup. Persoalannya karena itu bukan selalu kekurangan personel, melainkan posisi, jarak, dan respons beberapa detik setelah bola hilang.
Iraola sendiri mengakui masalah transisi tersebut membutuhkan penyelesaian kolektif dan bukan hanya menunjuk satu pemain sebagai penyebab. Pendekatan itu masuk akal, karena menambahkan seorang gelandang bertahan pun tidak akan sepenuhnya berhasil apabila jarak antarlini masih terlalu renggang.
Liverpool membutuhkan pressing pertama yang lebih efektif, gelandang yang mampu membaca ancaman sebelum terjadi, serta bek tengah yang tidak terus-menerus dipaksa mempertahankan ruang luas. Tanpa tiga elemen tersebut, agresivitas Iraola justru berpotensi menjadi senjata yang digunakan lawan untuk menyerang balik.
Kerentanan ini juga menjadi penting karena Premier League memiliki banyak tim yang nyaman bermain cepat melalui ruang terbuka dibandingkan membangun serangan panjang. Klub seperti Arsenal, Manchester City, Tottenham, Newcastle, dan Chelsea memiliki pemain yang mampu menghukum satu kesalahan posisi dalam hitungan beberapa detik.
Kedalaman Liverpool Memang Tipis, tetapi Transfer Harus Tepat Sasaran
Liverpool tetap memiliki alasan kuat untuk menambah winger karena komposisi skuad berubah drastis setelah kepergian beberapa pemain senior dan cedera Hugo Ekitike. Iraola bahkan secara terbuka mengatakan timnya masih membutuhkan tambahan meski percaya skuad sekarang tetap mampu bersaing.
Mohamed Salah, Andy Robertson, dan Ibrahima Konaté termasuk nama penting yang meninggalkan klub, sementara Curtis Jones juga pindah ke Inter Milan. Pergantian sebanyak itu membuat Liverpool bukan sekadar memasuki era pelatih baru, tetapi sekaligus menjalani perubahan struktur kepemimpinan dan kedalaman skuad.
Karena itu, mengejar Barcola atau Minteh tetap mempunyai logika, terutama untuk menggantikan produktivitas serta ancaman yang hilang dari sisi lapangan. Liverpool tidak mungkin menjalani empat kompetisi hanya dengan mengandalkan Gakpo, Wirtz, Isak, Víctor Muñoz, dan pemain muda sepanjang musim.
Tetapi transfer terakhir Liverpool sebelum tenggat 1 September seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan siapa pemain dengan nama terbesar yang tersedia. Klub perlu memastikan bahwa setiap perekrutan membuat keseluruhan struktur lebih seimbang, bukan sekadar membuat lini depan semakin mahal.
Liverpool pernah mengeluarkan sekitar £400 juta pada musim panas sebelumnya tetapi kemudian finis kelima, sebuah pengingat bahwa total belanja tidak selalu berkorelasi dengan kualitas tim. Iraola sekarang membutuhkan rekrutmen yang menyelesaikan fungsi tertentu, bukan sekadar menambah koleksi pemain ofensif berkualitas.
Pertandingan Newcastle memberikan contoh paling sederhana: Liverpool sudah memiliki Isak, Wirtz, dan Gakpo tetapi tetap membutuhkan penalti pada menit ke-99 untuk menghindari kekalahan. Mereka tidak kekurangan bintang, tetapi masih kekurangan kontrol ketika pertandingan berubah menjadi situasi transisi terbuka.
Jika Barcola akhirnya datang, Iraola akan memiliki salah satu lini serang paling mahal dan eksplosif di Premier League. Namun keberhasilan Liverpool musim ini kemungkinan lebih ditentukan oleh kemampuan mereka mengendalikan lima detik setelah kehilangan bola daripada jumlah superstar yang berada di depan.
Isak tetap dapat menjadi mesin gol, Wirtz mampu menjadi pusat kreativitas, dan Barcola atau Minteh berpotensi memberikan dimensi tambahan dari sayap. Semua senjata tersebut baru benar-benar berbahaya apabila Liverpool menemukan keseimbangan yang membuat mereka menyerang tanpa terus meninggalkan pintu belakang terbuka.
Itulah paradoks terbesar Liverpool menjelang pekan terakhir bursa transfer: mereka masih berburu winger meski tanda bahaya justru datang dari tengah lapangan. Jika Iraola berhasil memperbaiki keseimbangan tersebut, hasil 2-2 melawan Newcastle mungkin hanya menjadi peringatan awal yang datang pada waktu tepat.
Namun jika pola serangan balik itu terus berulang, Liverpool bisa mengalami musim ketika mereka mencetak banyak gol tetapi tetap kehilangan terlalu banyak poin. Dalam kondisi tersebut, kegagalan terbesar bukan tidak mendapatkan Barcola atau Minteh, melainkan salah membaca masalah yang sebenarnya sudah terlihat sejak pertandingan pertama.



