Lionel Messi memasuki salah satu fase paling rapuh dalam perjalanan panjangnya sebagai pesepak bola setelah ayah sekaligus figur terpenting dalam kariernya, Jorge Messi, meninggal dunia. Di tengah duka itu, sang kapten Argentina mengakui mulai meragukan berapa lama lagi dirinya akan terus bermain.
The Guardian melaporkan Jorge Messi meninggal pada usia 68 tahun di Rosario setelah menjalani sakit berkepanjangan, hanya beberapa pekan setelah Piala Dunia 2026. Kehilangan itu terasa lebih dalam karena Jorge hampir selalu hadir di belakang perjalanan karier putranya sejak masa Barcelona.
Dalam penghormatan melalui Instagram, Lionel Messi menyampaikan bahwa dirinya kini memiliki “quite a few doubts” mengenai kelanjutan karier sepak bolanya. Pernyataan singkat tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar: apakah dunia sedang mendekati akhir dari era pemain paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir?
Namun, membaca situasi Lionel Messi hanya dari satu kalimat emosional akan terlalu sederhana karena fakta di lapangan justru memperlihatkan cerita berbeda. Pada usia 39 tahun, ia masih produktif, masih terikat kontrak panjang, dan masih mampu mencetak rekor bersama Inter Miami.
Karena itu, masa depan Lionel Messi kini berada pada persimpangan antara kondisi psikologis, tubuh yang menua, kontrak profesional, dan keinginan pribadi. Faktor-faktor tersebut membuat keputusan pensiun tidak lagi sekadar persoalan kemampuan bermain, melainkan tentang alasan untuk terus menjalani sepak bola.
Lionel Messi dan Duka yang Mengubah Arah Karier
Jorge bukan sekadar ayah yang menyaksikan pertandingan dari tribun, tetapi juga figur yang mendampingi dan mengelola sebagian besar perjalanan profesional putranya. The Guardian mencatat Piala Dunia 2026 menjadi turnamen besar pertama ketika kondisi kesehatannya membuat ia tidak bisa hadir langsung.
Ketiadaan itu dirasakan Lionel Messi sejak pertandingan pembuka Argentina melawan Aljazair, ketika ia mencetak hattrick tetapi terlihat emosional setelah gol pertama. Saat itu, Messi hanya mengatakan sedang melewati hari-hari sulit karena persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan sepak bola.
Belakangan, konteks emosinya menjadi lebih jelas setelah kondisi Jorge memburuk menjelang turnamen dan akhirnya meninggal beberapa pekan kemudian. Lionel Messi mengungkap ayahnya tetap mendorong dirinya tampil membela Argentina meski keluarga mengetahui situasi kesehatan tersebut semakin berat.
Argentina kemudian melaju sampai final sebelum kalah dari Spanyol, menggagalkan upaya mempertahankan gelar dunia yang dimenangi di Qatar empat tahun sebelumnya. Bagi Lionel Messi, kekalahan tersebut juga membawa beban pribadi karena ia mengaku tubuhnya tidak pernah benar-benar terasa baik sepanjang turnamen.
Ia mengatakan tenaga dan kakinya tidak lagi mampu mengikuti keinginannya ketika pertandingan final memasuki fase menentukan. Pengakuan itu penting karena keraguan Lionel Messi terhadap masa depannya muncul bersamaan dengan dua tekanan sekaligus: kehilangan ayah dan batas fisik yang semakin nyata.
Rekor Besar Tak Lagi Menjadi Jawaban
Data FIFA menunjukkan Lionel Messi sempat menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 21 gol setelah mencetak gol ke gawang Mesir. Rekor tersebut kemudian dilewati Kylian Mbappé, yang mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan total 22 gol di turnamen tersebut.
Lionel Messi juga meninggalkan jejak luar biasa bersama Argentina dengan 207 penampilan dan 125 gol, menurut laporan setelah Piala Dunia. Ia sudah memberikan hampir seluruh pencapaian utama untuk negaranya, termasuk gelar Piala Dunia 2022 yang lama menjadi kepingan terakhir karier internasionalnya.
Situasi itu membuat pertanyaan tentang motivasi menjadi relevan, karena Lionel Messi secara kompetitif tidak lagi mengejar legitimasi yang belum dimilikinya. Delapan Ballon d’Or, empat Liga Champions, sepuluh gelar La Liga, Copa América, dan Piala Dunia telah menempatkannya di wilayah sejarah.
Meski begitu, indikasi pensiun tidak otomatis berarti Lionel Messi akan segera meninggalkan lapangan dalam hitungan hari atau pekan. Secara kontraktual, Inter Miami masih memiliki pemain Argentina tersebut sampai akhir musim Major League Soccer 2028 setelah perpanjangan diumumkan pada Oktober 2025.
Ketika memperpanjang kontraknya, Lionel Messi menjelaskan bahwa keputusan bermain selalu bergantung pada perasaan fisik dan mentalnya dari hari ke hari. Pernyataan lama itu kini memperoleh makna berbeda, sebab aspek mental yang pernah ia jadikan ukuran sedang menghadapi salah satu ujian terberat.
Performanya Justru Belum Menunjukkan Akhir
Dari sudut pandang performa, Inter Miami sebenarnya belum mempunyai alasan olahraga kuat untuk menganggap Lionel Messi sudah selesai. Data resmi klub mencatat ia mengoleksi 12 gol dan delapan assist dari 15 penampilan MLS sepanjang 2026 sebelum periode berkabung ini.
Semusim sebelumnya, Lionel Messi bahkan memenangi MLS Golden Boot 2025 setelah membuat 29 gol dalam 28 pertandingan musim reguler. Ia menambahkan 19 assist, kemudian menjadi MVP liga untuk kedua kali beruntun dan membantu Inter Miami merebut MLS Cup pertama dalam sejarah klub.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keraguan yang sekarang muncul bukan semata akibat penurunan performa drastis atau kehilangan tempat di tim utama. Lionel Messi masih menjadi pusat permainan Inter Miami, sehingga keputusan berhenti nantinya lebih mungkin datang dari dirinya sendiri dibanding keterpaksaan olahraga.
Bahkan beberapa hari sebelum duka keluarganya mencapai titik terberat, Lionel Messi masih memperlihatkan ketajaman di Leagues Cup dengan mencetak dua gol melawan Atlético de San Luis. Gol tersebut membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Leagues Cup dengan koleksi 14 gol.
Setelah Jorge meninggal, Lionel Messi pulang ke Rosario untuk menghadiri pemakaman pribadi sebelum kembali ke Amerika Serikat. Pada 12 Agustus, ia sudah kembali masuk sebagai pemain pengganti saat Inter Miami kalah 2-3 dari Club León dalam laga terakhir fase awal Leagues Cup.
Kembalinya Messi begitu cepat setelah pemakaman memperlihatkan bahwa pintu untuk terus bermain sama sekali belum tertutup, meski kondisi emosionalnya tentu sulit diukur dari luar. Kehadiran di lapangan juga tidak otomatis membatalkan keraguan yang ia ungkapkan mengenai masa depan jangka panjang.
Tiga Skenario Masa Depan Sang Megabintang
Di sinilah analisis masa depan Lionel Messi perlu dibedakan antara pensiun segera, pensiun internasional, dan penyelesaian kontraknya bersama Inter Miami. Tiga skenario tersebut mempunyai konsekuensi berbeda, sementara sang pemain sampai sekarang belum mengumumkan keputusan resmi mengenai salah satunya.
Skenario pertama adalah Messi tetap bersama Inter Miami sampai tubuh atau pikirannya mengatakan cukup, tanpa harus menuntaskan kontrak hingga 2028. Kontrak memberi kepastian administratif kepada klub, tetapi tidak pernah menjadi jaminan seorang pemain berusia 39 tahun akan bermain sampai tanggal terakhirnya.
Skenario kedua adalah Lionel Messi mengakhiri karier internasional lebih dahulu, terutama setelah Piala Dunia 2026 menjadi turnamen global keenam sekaligus sangat emosional. Dengan 207 caps dan gelar dunia sudah diraih, ruang untuk menutup perjalanan bersama Argentina sebenarnya terbuka secara alami.
Skenario ketiga adalah ia mempertahankan fokus hanya pada sepak bola klub karena beban perjalanan dan pertandingan MLS relatif dapat dikelola lebih selektif. Inter Miami juga memiliki kepentingan besar mempertahankannya setelah membangun identitas olahraga dan komersial klub di sekeliling kehadiran sang megabintang.
Fakta bahwa kontraknya berjalan sampai 2028 membuat keputusan apa pun akan berdampak besar terhadap rencana Inter Miami beberapa musim ke depan. Namun, kondisi terbaru mengingatkan bahwa masa depan pemain sekaliber Lionel Messi tetap ditentukan oleh manusia di balik angka, trofi, dan kontrak.
Kehilangan Sosok yang Selalu Ada
Kematian Jorge juga memiliki dimensi khusus karena hubungan keduanya tidak pernah terpisah jauh dari perjalanan sepak bola Messi. Sang ayah menjadi sosok yang dimintai penilaian sejak masa kecil, mendampingi proses karier di Barcelona, dan bertahun-tahun bertindak sebagai perwakilan putranya.
Karena itu, kehilangan tersebut dapat mengubah cara Lionel Messi memandang rutinitas yang telah dijalaninya sejak kecil, termasuk alasan untuk terus bertanding. Ketika salah satu orang yang selalu menunggu hasil pertandingan tidak lagi ada, kemenangan dan rekor bisa memiliki arti yang berbeda.
Namun, performa terbaru memberi alasan untuk tidak terburu-buru menulis epilog karena secara teknis Messi belum menunjukkan keruntuhan seperti banyak pemain menjelang pensiun. Ia masih mencetak gol, menciptakan peluang, memecahkan rekor, dan menjadi pemain yang mampu menentukan hasil pertandingan bagi Inter Miami.
Pada akhirnya, Lionel Messi kini tidak sedang berhadapan dengan pertanyaan apakah ia masih cukup bagus untuk bermain di level profesional. Pertanyaannya lebih personal: setelah kehilangan Jorge, apakah sepak bola masih memberikan energi dan tujuan yang cukup besar untuk membuatnya ingin terus melanjutkan perjalanan?
Jawaban itu mungkin tidak datang segera, dan kontrak sampai 2028 tidak menjamin cerita akan berlangsung selama dua tahun lagi. Tetapi setelah lebih dari dua dekade berada di puncak, Lionel Messi tampaknya semakin dekat pada fase ketika keputusan terbesar kariernya tidak lagi ditentukan oleh trofi.



