Barcelona kembali membuat dunia sepak bola mengernyit ketika Anthony Gordon, Karim Adeyemi, dan Rodri datang pada musim panas 2026, sementara João Cancelo menyusul sebagai agen bebas. Di tengah cerita utang besar, keuangan Barcelona justru kembali memberi ruang untuk belanja elite.
GOAL melansir ketiga pemain pertama menghabiskan lebih dari €150 juta, sekitar £130 juta atau $177 juta, sebelum seluruhnya berhasil didaftarkan menjelang laga pembuka La Liga menghadapi Elche. Situasi itu menghidupkan lagi pertanyaan lama: dari mana keuangan Barcelona menemukan ruang untuk bergerak?
Pertanyaan tersebut semakin menarik karena tim berjuluk Blaugrana juga masih memburu Julián Álvarez, penyerang Atletico Madrid yang berpotensi membutuhkan biaya sembilan digit. Jika transfer itu terwujud, keuangan Barcelona akan kembali diuji oleh kombinasi biaya transfer, amortisasi, gaji, dan batas pengeluaran La Liga.
Namun, membaca angka utang Barca memerlukan konteks agar tidak menyesatkan, sebab angka lebih dari €1,5 miliar yang sering dikutip memasukkan kewajiban luas dan pembiayaan stadion. Laporan resmi klub sebelumnya menyebut utang klub turun menjadi €469 juta, sehingga definisi utang yang digunakan sangat menentukan.
Perbedaan angka itu tidak menghapus persoalan, tetapi menunjukkan bahwa keuangan Barcelona kini jauh lebih kompleks daripada sekadar membandingkan saldo kas dengan harga pemain. Ada kewajiban Espai Barça, hak siar yang sudah dimonetisasi, amortisasi transfer, tagihan gaji, serta pemasukan stadion yang terus berubah.
Karena itu, kisah Joan Laporta bukan cerita tentang presiden yang menemukan uang secara ajaib, melainkan tentang manajemen arus kas dengan risiko tinggi. Strategi keuangan Barcelona menukar sebagian pemasukan masa depan demi fleksibilitas sekarang, lalu mengandalkan kemenangan, pertumbuhan komersial, dan Camp Nou baru.
Warisan Mahal Bartomeu
Warisan terberat datang dari masa Josep Maria Bartomeu, yang meninggalkan jabatan pada Oktober 2020 ketika klub berada dalam kekacauan finansial dan institusional. Meski meraih empat gelar liga serta treble 2014-2015, keuangan Barcelona akhirnya terbebani mahalnya biaya mempertahankan daya saing.
Antara Juli 2015 hingga Oktober 2020, keuangan Barcelona membiayai 29 perekrutan dengan pengeluaran sedikit di atas €1 miliar, tetapi hampir tidak ada transfer yang sepenuhnya bebas masalah. Ousmane Dembélé, Philippe Coutinho, dan Antoine Griezmann menjadi simbol mahal dari strategi belanja tidak efisien.
Masalah itu membesar karena beban gaji melampaui tingkat yang dianggap sehat, sementara skuad berisi banyak pemain senior dengan kontrak besar dan nilai jual menurun. Ketika pandemi menghantam, keuangan Barcelona kehilangan bantalan yang seharusnya melindungi klub dari kejatuhan pendapatan mendadak.
Bartomeu berulang kali menegaskan pandemi Covid-19 sebagai penyebab utama krisis, karena stadion, museum, toko, sekolah sepak bola, tiket, dan pemasukan hari pertandingan praktis berhenti. Penjelasan itu benar sebagian, tetapi pandemi lebih tepat disebut pemicu yang membuka kerentanan lama keuangan Barcelona.
Laporta kembali menjadi presiden pada Maret 2021 dan segera menghadapi keputusan yang secara emosional paling berat: Lionel Messi tidak bisa dipertahankan setelah kontraknya habis. Keputusan itu memang memangkas beban, tetapi keuangan Barcelona terlalu rusak untuk disembuhkan hanya dengan kepergian satu megabintang.
Pilihan strategis Laporta kemudian mengerucut pada dua jalur yang sama-sama menyakitkan: memangkas skuad secara agresif dan menerima penurunan prestasi, atau mencari pemasukan besar secepat mungkin. Ia memilih jalur kedua, sehingga lahirlah tuas ekonomi yang kemudian identik dengan krisis keuangan Barcelona.
Keuangan Diselamatkan Tuas Laporta
Langkah paling besar terjadi pada 2022 ketika Blaugrana melepas total 25 persen hak siar La Liga selama 25 tahun kepada struktur investasi yang melibatkan Sixth Street. GOAL menghitung langkah itu menghimpun €582 juta dan memberi keuangan Barcelona oksigen untuk menata skuad tanpa menunggu pemulihan alami.
Dokumen resmi klub mencatat transaksi 10 persen hak siar menghasilkan keuntungan akuntansi €267 juta, sedangkan penjualan tambahan 15 persen menghasilkan sekitar €400 juta. Secara keseluruhan, keuangan Barcelona mendapat kekuatan segera dengan mengorbankan sebagian pendapatan media masa depan untuk mengurangi tekanan saat itu.
Dengan ruang baru tersebut, Barcelona merekrut Robert Lewandowski dari Bayern Munich seharga €45 juta, kemudian Raphinha dan Jules Koundé dengan total sekitar €108 juta. Investasi itu segera menghasilkan gelar La Liga, memberi pembenaran olahraga bagi perjudian keuangan Barcelona meskipun risiko jangka panjang tetap melekat.
Keberhasilan di lapangan menjadi bagian penting dari model ini karena tim yang menang menghasilkan tiket, sponsor, bonus kompetisi, penjualan merchandise, dan daya tarik global lebih besar. Bagi keuangan mantan tim Lionel Messi, prestasi bukan sekadar tujuan olahraga, melainkan mesin yang dibutuhkan untuk menjaga siklus pemulihan tetap hidup.
Masalahnya, tuas tidak menghapus batas pengeluaran La Liga, sehingga hampir setiap musim panas keuangan Barcelona tetap berkutat dengan pendaftaran pemain dan penyesuaian tagihan gaji. Kasus Dani Olmo menjadi simbol paling memalukan karena ketidakpastian administratif kembali memperlihatkan rapuhnya margin klub.
Kemarahan kemudian berkembang menjadi tekanan politik terhadap Laporta, terutama ketika kelompok anggota Som un Clam menilai dewan terlalu banyak menjual aset strategis dan gagal memberi kepastian jangka panjang. Mereka bahkan meminta presiden serta dewan mundur karena menganggap masa depan model kepemilikan klub ikut dipertaruhkan.
Serangan tersebut penting karena Barcelona bukan perusahaan biasa yang dapat menyelesaikan tekanan melalui pemilik kaya, melainkan klub berbasis anggota dengan tanggung jawab institusional besar. Setiap keputusan tentang keuangan Barcelona akhirnya memiliki dimensi olahraga, ekonomi, politik, dan identitas yang berjalan secara bersamaan.
La Masia Mengubah Peta Keuangan
Laporta bertahan, lalu mendapat bantuan dari sumber daya yang selama puluhan tahun menjadi keunggulan klub, yakni La Masia. Akademi tidak hanya melahirkan Lamine Yamal dan Pau Cubarsí, tetapi juga memberi keuangan Barcelona pemain muda bernilai jual tinggi dengan biaya pembukuan sangat rendah.
Secara akuntansi, penjualan pemain akademi sangat berharga karena nilai bukunya biasanya kecil, sehingga sebagian besar biaya transfer yang diterima dapat dicatat sebagai keuntungan. Inilah alasan keuangan Barcelona semakin bergantung pada kemampuan La Masia menghasilkan pemain untuk tim utama sekaligus pasar transfer.
Bagi keuangan Barca, Menchen memperkirakan klub dan Real Madrid masing-masing menginvestasikan €20 juta hingga €30 juta per tahun pada akademi, lalu memanen hasilnya melalui tim utama dan penjualan. Madrid menjalankan pola serupa lewat La Fábrica, yang membantu membiayai pembelian Yan Diomande dan nama besar lain.
Musim lalu, Barca membatasi belanja besar dengan hanya melakukan satu perekrutan signifikan, Joan García, melalui klausul rilis €25 juta dari Espanyol. Pada saat bersamaan, penjualan sejumlah lulusan La Masia menghasilkan hampir dua kali biaya tersebut dan menciptakan ruang finansial sebelum agresif lagi pada 2026.
Strategi itu terlihat ketika Gordon datang dari Newcastle, Adeyemi dari Dortmund, dan Rodri dari Manchester City. Forbes memperkirakan biaya masing-masing sekitar €80 juta, €22 juta, dan hingga €76,5 juta, membuat total keuangan Barcelona untuk trio tersebut melampaui angka €150 juta.
Barcelona kemudian menambah João Cancelo secara bebas transfer setelah kontraknya dengan Al Hilal berakhir, sehingga Hansi Flick memperoleh bek berpengalaman tanpa biaya transfer. Walau gratis, pemain seperti Cancelo tetap memengaruhi keuangan Barcelona melalui gaji, bonus, komisi, dan biaya skuad yang dihitung La Liga.
Ruang tambahan juga datang dari penjualan Ferran Torres ke Paris Saint-Germain, yang menurut laporan mencapai €48,5 juta, serta peminjaman Ronald Araújo ke Liverpool. Kepergian Robert Lewandowski secara bebas transfer ikut meringankan keuangan Barcelona melalui penurunan beban gaji menjelang musim baru.
Dampaknya terlihat ketika Barcelona berhasil mendaftarkan Rodri, Gordon, Adeyemi, dan Cancelo sebelum pembukaan La Liga 2026-2027, sesuatu yang sebelumnya sering berubah menjadi drama hingga menit terakhir. Keuangan Barca belum sepenuhnya bebas, tetapi kemampuan registrasi itu menunjukkan perbaikan nyata dalam margin operasional.
Keuangan Barcelona Belum Aman, Alvarez Jadi Ujian
Perubahan lain datang dari aturan 1:1 La Liga yang kembali memberi Barcelona kapasitas lebih normal untuk menggunakan pemasukan dan penghematan dalam membentuk skuad. Meski demikian, batas biaya skuad tetap menjadi pagar, sehingga setiap transfer besar masih membutuhkan perhitungan penjualan, gaji, dan amortisasi yang presisi.
Di sinilah nama Julián Álvarez menjadi ujian berikutnya, karena Atletico Madrid tidak memiliki alasan ekonomis untuk menjual murah penyerang yang masih terikat kontrak panjang. Keuangan Barcelona dapat memperoleh ruang melalui penjualan Marc Casadó, tetapi langkah itu kembali menuntut pengorbanan aset bernilai tinggi.
Secara akuntansi, transfer baru tidak selalu dibebankan sekaligus karena biaya pembelian biasanya diamortisasi sepanjang masa kontrak pemain, sehingga pembayaran €100 juta tidak otomatis menjadi beban €100 juta pada satu musim. Mekanisme inilah yang membuat keuangan Barcelona memiliki ruang manuver lebih besar daripada terlihat.
Namun, amortisasi bukan uang gratis karena kewajiban pembayaran tetap ada, sedangkan pemain yang gagal berkembang dapat berubah menjadi aset mahal dengan nilai jual turun. Sejarah keuangan Barcelona bersama Coutinho, Griezmann, dan Dembélé menjadi peringatan agar kesalahan transfer lama tidak kembali terulang.
Harapan terbesar datang dari Spotify Camp Nou yang diproyeksikan menaikkan pendapatan hari pertandingan, hospitality, museum, sponsor, makanan, dan aktivitas komersial lain ketika proyek sepenuhnya beroperasi. Klub sebelumnya menargetkan pendapatan biasa menembus €1,075 miliar, tanda bahwa skala bisnis Barcelona tetap luar biasa besar.
Pemulihan pariwisata Barcelona juga penting karena museum dan kunjungan stadion merupakan sumber pemasukan yang sangat terkait dengan jumlah pengunjung kota. Jika Camp Nou menghasilkan arus kas sesuai proyeksi, keuangan Barcelona dapat bergerak dari sekadar bertahan menuju kemampuan berinvestasi tanpa mengaktifkan tuas baru.
Namun, ada harga yang terus dibayar dari keputusan 2022 karena sebagian hak siar La Liga telah dialihkan untuk periode 25 tahun. Artinya, Barcelona memasuki masa pemulihan dengan potongan pendapatan tertentu, sehingga margin keuntungan masa depan tidak akan sepenuhnya sama dengan klub yang mempertahankan seluruh haknya.
Karena itu, menilai Laporta hanya sebagai penjudi atau penyelamat terlalu menyederhanakan persoalan, sebab langkah berisiko tinggi tersebut memulihkan daya saing sekaligus menciptakan kewajiban jangka panjang. Tiga gelar La Liga dalam empat musim terakhir memperkuat argumen Laporta, tetapi keuangan Barcelona tetap membutuhkan disiplin belanja.
Keuangan Barcelona kini berada jauh dari situasi 2021 ketika kehilangan Messi dan bahkan kesulitan mendaftarkan pemain, tetapi belum sepenuhnya bebas dari konsekuensi masa lalu. Jika pendapatan Camp Nou meningkat, La Masia terus produktif, dan transfer lebih selektif, masa terburuk krisis bisa benar-benar berakhir.
Itulah mengapa musim panas 2026 terasa seperti titik balik: Barcelona tidak lagi sekadar menarik tuas agar bisa bertahan, tetapi mulai menggunakan pemulihan untuk membangun tim juara. Jika Álvarez akhirnya menyusul, keuangan Barcelona akan menjalani ujian terakhir tentang apakah kebebasan baru itu benar-benar berkelanjutan.



