Sepanjang sejarah turnamen putra, hanya delapan pemain berusia di bawah 20 tahun yang pernah menjadi juara Piala Dunia. Daftar langka itu memuat legenda besar, pemain cadangan, hingga remaja yang tampil menentukan pada pertandingan final.
Catatan tersebut kembali relevan setelah Spanyol memastikan tempat di final Piala Dunia 2026 melalui kemenangan 2-0 atas Prancis. Lamine Yamal dan Pau Cubarsí kini berpeluang menambah daftar juara Piala Dunia dari kelompok remaja.
Penghitungan ini menggunakan usia pemain ketika negaranya memastikan gelar, bukan usia saat turnamen dimulai. Pemain tetap dihitung sebagai juara Piala Dunia apabila terdaftar dalam skuad resmi, meskipun tidak memperoleh menit bermain.
Pelé masih memegang rekor sebagai pemain termuda yang mengangkat trofi, sedangkan Ronaldo Nazário menjadi juara tanpa tampil. Giuseppe Bergomi, Kylian Mbappé, dan Rubén Morán justru terlibat langsung dalam pertandingan yang menentukan gelar.
Delapan kisah tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju status juara Piala Dunia tidak selalu sama. Ada pemain yang menjadi pusat permainan, ada pelapis yang belajar dari senior, dan ada remaja yang memanfaatkan satu kesempatan besar.
Daftar Pemain Remaja yang Menjadi Juara Piala Dunia
Data usia, edisi turnamen, jumlah penampilan, dan gol berikut mengacu pada catatan FIFA mengenai pemain termuda yang pernah menjadi juara Piala Dunia. Urutan dimulai dari pemain dengan usia paling muda ketika gelar dipastikan.
| Pemain | Negara | Edisi | Usia saat juara | Main | Gol |
|---|---|---|---|---|---|
| Pelé | Brasil | 1958 | 17 tahun 249 hari | 4 | 6 |
| Ronaldo Nazário | Brasil | 1994 | 17 tahun 298 hari | 0 | 0 |
| Giuseppe Bergomi | Italia | 1982 | 18 tahun 174 hari | 3 | 0 |
| Coutinho | Brasil | 1962 | 19 tahun 6 hari | 0 | 0 |
| Marco Antônio | Brasil | 1970 | 19 tahun 135 hari | 2 | 0 |
| Kylian Mbappé | Prancis | 2018 | 19 tahun 207 hari | 7 | 4 |
| José Altafini | Brasil | 1958 | 19 tahun 309 hari | 3 | 2 |
| Rubén Morán | Uruguay | 1950 | 19 tahun 344 hari | 1 | 0 |
1. Pelé, Juara Piala Dunia Termuda
Pelé menjadi juara Piala Dunia bersama Brasil pada edisi 1958 ketika berusia 17 tahun 249 hari. Ia sempat absen pada dua pertandingan awal karena masalah kebugaran, kemudian masuk ketika Brasil menghadapi Uni Soviet.
Gol pertamanya lahir pada perempat final melawan Wales, sebelum ia mencetak hat-trick menghadapi Prancis. Pelé lalu menghasilkan dua gol dalam kemenangan 5-2 atas Swedia pada final dan menutup turnamen dengan enam gol.
Keberhasilan itu membuat Pelé bukan hanya anggota termuda skuad juara Piala Dunia, melainkan tokoh utama kemenangan Brasil. Rekor usianya saat mengangkat trofi tetap bertahan dan belum pernah didekati secara serius sampai sekarang.
2. Ronaldo Nazário, Juara Piala Dunia Tanpa Menit Bermain
Ronaldo Nazário masuk skuad Brasil pada Piala Dunia 1994 ketika berusia 17 tahun 298 hari. Penyerang yang saat itu dikenal sebagai Ronaldinho tidak dimainkan, tetapi mengikuti seluruh perjalanan tim sampai menjuarai turnamen.
Brasil mengandalkan Romário dan Bebeto di lini depan, sehingga Ronaldo lebih banyak belajar melalui latihan dan kehidupan skuad. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting sebelum ia berkembang menjadi pencetak gol utama Brasil pada edisi berikutnya.
Status juara Piala Dunia 1994 tetap tercatat dalam karier Ronaldo meskipun jumlah penampilan dan golnya sama-sama nol. Delapan tahun kemudian, ia menjadi pusat kemenangan Brasil dengan delapan gol pada turnamen 2002.
3. Giuseppe Bergomi, Juara Piala Dunia di Usia 18 Tahun
Giuseppe Bergomi menjadi juara Piala Dunia bersama Italia pada 1982 ketika berusia 18 tahun 174 hari. Bek Inter Milan itu baru menjalani debut internasional menjelang turnamen, tetapi cepat mendapatkan kepercayaan dari Enzo Bearzot.
Bergomi tampil tiga kali tanpa mencetak gol, termasuk sebagai pengganti saat Italia menyingkirkan Brasil dan sebagai starter pada final. Tugasnya menjaga Karl-Heinz Rummenigge membantu Italia mengalahkan Jerman Barat dengan skor 3-1.
Perjalanan tersebut menjadikan Bergomi salah satu remaja paling berpengaruh yang pernah menjadi juara Piala Dunia. Ia tidak hadir sebagai simbol masa depan semata, karena langsung menjalankan tugas defensif terbesar pada fase penentuan.
4. Coutinho, Juara Piala Dunia Tanpa Tampil
Coutinho menjadi anggota Brasil ketika mempertahankan gelar pada Piala Dunia 1962 dalam usia 19 tahun enam hari. Penyerang Santos yang terkenal sebagai rekan duet Pelé itu tidak memperoleh penampilan sepanjang turnamen di Chile.
Brasil akhirnya mengandalkan Garrincha, Vavá, Amarildo, dan sejumlah penyerang lain untuk mempertahankan trofi. Meski statistiknya mencatat nol pertandingan dan nol gol, Coutinho tetap menjadi bagian resmi skuad juara Piala Dunia.
Kisah Coutinho memperlihatkan perbedaan antara kontribusi lapangan dan status dalam sejarah turnamen. Ia tetap masuk daftar pemain termuda yang menjadi juara Piala Dunia, walaupun perannya tidak terlihat dalam catatan pertandingan.
5. Marco Antônio, Juara Piala Dunia 1970
Marco Antônio berusia 19 tahun 135 hari ketika Brasil menjadi juara Piala Dunia 1970 di Meksiko. Bek kiri Fluminense tersebut merupakan pelapis Everaldo dalam tim yang sering dianggap sebagai salah satu skuad terbaik sepanjang masa.
Ia tampil dua kali tanpa mencetak gol, termasuk memperoleh kesempatan pada fase grup dan fase gugur. Marco Antônio menyaksikan langsung bagaimana Pelé, Jairzinho, Tostão, Gérson, dan Rivelino membawa Brasil memenangi seluruh pertandingan.
Medali tersebut menjadikannya pemain kelima termuda dalam daftar juara Piala Dunia sebelum berusia 20 tahun. Walaupun bukan starter utama, pengalamannya bersama generasi emas Brasil memberi tempat khusus dalam sejarah turnamen.
6. Kylian Mbappé, Juara Piala Dunia dan Pencetak Gol Final
Kylian Mbappé berusia 19 tahun 207 hari ketika Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia. Berbeda dari beberapa nama lain, ia menjadi pemain utama dengan tujuh penampilan dan empat gol sepanjang kompetisi.
Mbappé mencetak gol kemenangan atas Peru, lalu menghasilkan dua gol saat Prancis menyingkirkan Argentina pada babak 16 besar. Ia kembali mencetak gol ketika Les Bleus mengalahkan Kroasia 4-2 dalam pertandingan final.
Gol tersebut membuat Mbappé menjadi remaja kedua setelah Pelé yang mencetak gol pada final Piala Dunia. Kecepatan dan ketenangannya menjadikan gelar itu awal dari statusnya sebagai salah satu bintang terbesar sepak bola modern.
7. José Altafini, Juara Piala Dunia Bernama Mazzola
José Altafini menjadi juara Piala Dunia bersama Brasil pada 1958 ketika berusia 19 tahun 309 hari. Ia bermain dengan nama Mazzola, mencatat tiga penampilan, dan menghasilkan dua gol dalam pertandingan pembuka menghadapi Austria.
Altafini sempat menjadi pilihan utama sebelum posisi penyerang tengah beralih kepada Vavá pada fase akhir. Ia tidak bermain di semifinal dan final, tetapi kontribusi awalnya membantu Brasil membangun momentum menuju gelar.
Karier internasionalnya kemudian memiliki cerita unik karena ia membela Italia pada Piala Dunia 1962. Namun, status juara Piala Dunia yang diperolehnya tetap berasal dari keberhasilan Brasil di Swedia empat tahun sebelumnya.
8. Rubén Morán, Juara Piala Dunia lewat Maracanazo
Rubén Morán menjadi juara Piala Dunia 1950 bersama Uruguay ketika berusia 19 tahun 344 hari. Ia hanya memainkan satu pertandingan, tetapi kesempatan tersebut hadir pada laga penentu melawan tuan rumah Brasil di Maracanã.
Morán tampil selama 90 menit dalam kemenangan 2-1 yang kemudian dikenal sebagai Maracanazo. Uruguay membalikkan keadaan melalui Juan Alberto Schiaffino dan Alcides Ghiggia, lalu merebut gelar di hadapan pendukung Brasil.
Satu penampilan itu cukup menempatkan Morán dalam salah satu pertandingan terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia. Berbeda dari pemain cadangan tanpa menit, ia memperoleh pengalaman penuh tepat ketika negaranya menciptakan kejutan monumental.
Peluang Yamal dan Cubarsí Menjadi Juara Piala Dunia
Lamine Yamal lahir pada 13 Juli 2007 dan akan berusia 19 tahun enam hari ketika final dimainkan. Winger Barcelona tersebut menjadi starter saat Spanyol menyingkirkan Prancis dan berperan memenangkan penalti untuk gol pembuka.
Pau Cubarsí lahir pada 22 Januari 2007 dan akan berusia 19 tahun 178 hari pada pertandingan final. Bek Barcelona itu juga menjadi starter reguler dan membentuk pertahanan kuat bersama Aymeric Laporte serta Rodri.
Apabila Spanyol menang, Yamal dan Cubarsí akan menjadi pemain kesembilan serta kesepuluh yang meraih status juara Piala Dunia sebelum berusia 20 tahun. Keduanya juga akan menjadi remaja Spanyol pertama dalam daftar tersebut.
Peluang mereka bukan sekadar kemungkinan administratif karena keduanya merupakan bagian penting dari susunan utama. Yamal menjadi sumber kreativitas di kanan, sedangkan Cubarsí membantu Spanyol mengontrol permainan melalui pertahanan dan distribusi dari belakang.
Peluang Pencetak Gol Spanyol di Final Piala Dunia 2026
Pasar pencetak gol pertama final belum sepenuhnya tersedia karena lawan Spanyol masih menunggu pemenang Inggris melawan Argentina. Karena itu, persentase Oyarzabal, Yamal, dan Dani Olmo berikut merupakan proyeksi analitis, bukan harga resmi final.
Mikel Oyarzabal menjadi kandidat terkuat dengan estimasi sekitar 18 persen karena bermain sebagai penyerang tengah dan eksekutor penalti. Ia mencetak gol pembuka semifinal, sedangkan pasar anytime melawan Portugal sebelumnya menempatkannya pada probabilitas 41 persen.
Lamine Yamal diperkirakan mempunyai peluang sekitar 14 persen untuk mencetak gol pertama Spanyol pada final. Pasar anytime sebelumnya memberi probabilitas 38 persen, didukung volume tembakan tinggi dan kemampuannya menusuk dari sisi kanan.
Dani Olmo berada pada estimasi sekitar sembilan persen karena sering datang terlambat dari lini kedua. Referensi pasar anytime melawan Portugal memberinya probabilitas 21 persen, lebih rendah daripada Oyarzabal dan Yamal tetapi tetap menarik.
Perbandingan odds tersebut tidak boleh dibaca sebagai kepastian, terlebih pasar yang tersedia berasal dari pertandingan sebelumnya. Susunan pemain, lawan final, kondisi kebugaran, dan penunjukan eksekutor penalti dapat mengubah harga secara signifikan.
Warisan Para Remaja Juara Piala Dunia
Delapan pemain terdahulu membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menjadi juara Piala Dunia. Pelé dan Mbappé tampil menentukan, Bergomi serta Morán menjawab kepercayaan, sementara Ronaldo dan Coutinho belajar dari bangku cadangan.
Yamal dan Cubarsí sekarang berdiri satu kemenangan dari kelompok yang sangat terbatas tersebut. Apabila Spanyol mengangkat trofi, Piala Dunia 2026 akan menambahkan dua remaja sekaligus ke dalam daftar sejarah yang bertahan puluhan tahun.



