Jose Mourinho kembali menjadi pusat perhatian setelah serial dokumenter terbaru Netflix mengungkap sisi personal dari perjalanan kariernya. Salah satu cerita paling emosional adalah percakapannya dengan Sir Alex Ferguson ketika menolak kesempatan menggantikan sang legenda di Manchester United.
Dokumenter berjudul Mourinho itu juga membahas hubungan panas Jose Mourinho dengan Roman Abramovich, pemilik Chelsea ketika dirinya pertama kali bekerja di Stamford Bridge. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana keputusan besar dalam kariernya sering dipengaruhi emosi, loyalitas, dan kebutuhan merasa dihargai.
Serial itu tayang pada Selasa, bertepatan dengan persiapan Mourinho menjalani periode kedua bersama Real Madrid. Pelatih berjuluk The Special One tersebut kembali ke Santiago Bernabeu sekitar 13 tahun setelah meninggalkan klub dalam situasi penuh konflik.
Ketika berpisah dengan Real Madrid pada 2013, Mourinho meninggalkan ruang ganti yang tidak lagi sepenuhnya mendukungnya serta hubungan tegang dengan media. Pada musim panas yang sama, ia sebenarnya sempat menyepakati kemungkinan menjadi penerus Ferguson di Old Trafford.
Jose Mourinho Nyaris Jadi Penerus Sir Alex Ferguson
Ferguson mengatakan Jose Mourinho memang ditawari pekerjaan sebagai manajer Manchester United setelah dirinya memutuskan pensiun. Menurutnya, pembicaraan berlangsung serius dan ia sempat memahami bahwa Mourinho akan menerima tawaran tersebut sebelum keputusan itu berubah hanya beberapa jam kemudian.
Jose Mourinho mengaku sangat tersanjung karena Manchester United memiliki daya tarik luar biasa dalam sepak bola dunia. Ia bahkan mengatakan klub tersebut sangat dekat dengan Real Madrid ketika membicarakan ukuran, sejarah, gengsi, dan pengaruh global.
Namun, bagi Jose Mourinho, keputusan karier tidak hanya ditentukan kecintaan terhadap sepak bola secara umum. Ia merasa hubungan emosional dengan klub tertentu dapat jauh lebih kuat, dan setelah meninggalkan Madrid dirinya membutuhkan tempat yang membuatnya merasa benar-benar dicintai.
Ferguson tidak menutupi kekecewaan ketika rencana tersebut akhirnya batal, terlebih karena sebelumnya sudah ada kesepahaman awal. Namun, Mourinho juga tidak menjalani keputusan itu dengan mudah karena harus menyampaikan penolakan kepada sosok yang sangat dihormatinya.
Menangis Saat Menelepon Ferguson
Ferguson mengenang Mourinho menelepon pada awal malam dalam kondisi menangis dan menjelaskan bahwa dirinya sudah memberikan janji kepada Chelsea. Ia menyatakan tidak ingin mengingkari komitmen tersebut, alasan yang dapat dipahami Ferguson meskipun tetap membuatnya kecewa.
Jose Mourinho kemudian menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan tersebut meski kehilangan peluang besar menggantikan Ferguson. Baginya, memilih Chelsea merupakan keputusan yang diambil berdasarkan hati, walaupun kesempatan menjadi penerus salah satu manajer terbesar dunia terasa sangat berat untuk dilepaskan.
Kepulangan Jose Mourinho ke Chelsea juga menarik karena hubungan sebelumnya dengan klub tidak selalu berjalan mulus. Persoalan terbesar terutama terletak pada hubungannya dengan Roman Abramovich, yang memburuk sebelum periode pertamanya berakhir pada 2007.
Meski begitu, ikatan emosional dengan Chelsea ternyata lebih kuat dibandingkan kesempatan mengambil alih Manchester United. Berdasarkan dokumenter Netflix tersebut, keputusan kembali ke Stamford Bridge menjadi bukti bahwa perasaan diterima memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan kariernya.
Dendam kepada Roman Abramovich
Ketegangan itu kembali terasa ketika Mourinho datang ke Stamford Bridge sebagai pelatih Inter Milan pada babak 16 besar Liga Champions 2010. Pertandingan tersebut menjadi pertemuan pertamanya melawan Chelsea sejak meninggalkan klub lebih dari dua tahun sebelumnya.
Jose Mourinho mengatakan secara pribadi dirinya merasa bukan sedang menghadapi Chelsea, melainkan menghadapi Abramovich. Ia menegaskan pertandingan tersebut terasa sangat personal karena pemecatannya masih meninggalkan luka dan keinginan membuktikan bahwa keputusan sang pemilik telah keliru.
Ironisnya, gol penentu kemenangan Inter pada leg kedua dicetak Samuel Eto’o, pemain yang pernah diinginkan Jose Mourinho ketika masih menangani Chelsea. Namun, Abramovich ketika itu justru mengambil keputusan mendatangkan Andriy Shevchenko, transfer mahal yang kemudian gagal memenuhi harapan.
Bagi Mourinho, kemenangan atas Chelsea pada malam itu menghadirkan kepuasan yang sangat pribadi. Ia menggambarkan pertandingan tersebut sebagai sesuatu yang indah karena berhasil mengalahkan orang yang sebelumnya memecatnya dan membuat Abramovich pulang dengan kekecewaan.
Kemenangan Inter Terasa seperti Pembalasan
Jose Mourinho bahkan menyebut dirinya membutuhkan pembalasan karena mengetahui betapa besar kecintaan Abramovich terhadap Chelsea dan kemenangan. Ia kemudian menegaskan sepak bola pada dasarnya milik pemain, pelatih, dan suporter, bukan mereka yang hanya hadir dari ruang rapat.
Pernyataan itu menunjukkan masih adanya rasa kesal terhadap kelompok pemilik klub atau eksekutif yang dianggap terlalu jauh dari kehidupan sepak bola sehari-hari. Sepanjang dokumenter, Mourinho digambarkan sebagai sosok yang hampir seluruh identitasnya dibentuk oleh permainan, kompetisi, dan hubungan dengan tim.
Bagi Jose Mourinho, kemenangan Inter atas Chelsea bukan sekadar keberhasilan melewati babak 16 besar Liga Champions. Hasil tersebut memberinya kepuasan karena mampu menyingkirkan klub milik orang yang pernah memecatnya lebih dari dua tahun sebelumnya.
Inter akhirnya melanjutkan perjalanan hingga menjuarai Liga Champions pada musim tersebut dan melengkapi treble bersejarah. Namun, bagi Mourinho, pertandingan di Stamford Bridge tetap mempunyai dimensi personal yang berbeda dibandingkan kemenangan lainnya sepanjang kampanye tersebut.
Jose Mourinho Akhirnya Berdamai dengan Abramovich
Hubungan Jose Mourinho dan Abramovich akhirnya membaik cukup jauh sehingga ia kembali ke Chelsea untuk periode kedua. Dalam masa tersebut, ia kembali membawa klub menjuarai Liga Inggris dan menambah koleksi gelarnya bersama The Blues.
Meski demikian, hubungan keduanya kembali memburuk setelah periode sukses tersebut dan berujung pada perpisahan lebih cepat dari yang direncanakan. Pola itu memperlihatkan karakter karier Jose Mourinho yang penuh keberhasilan besar, tetapi juga kerap diikuti konflik dengan manajemen atau ruang ganti.
Kembalinya Mourinho ke Chelsea membuktikan bahwa konflik personal tidak selalu menjadi penghalang permanen dalam sepak bola. Kedua pihak sempat memperbaiki hubungan dan kembali bekerja bersama meskipun luka dari perpisahan pertama belum sepenuhnya hilang.
Periode kedua itu bahkan menghasilkan gelar Liga Inggris ketiga bagi Jose Mourinho bersama Chelsea. Namun, keberhasilan tersebut kembali diikuti keretakan hubungan internal hingga akhirnya sang pelatih meninggalkan Stamford Bridge sebelum menyelesaikan proyek yang dibangunnya.
Kembali ke Real Madrid untuk Mencari Penebusan
Kini Jose Mourinho mencoba membuka babak penebusan lain dengan kembali ke Real Madrid pada musim panas ini. Tantangannya bukan hanya membangun tim kompetitif, tetapi juga menjaga hubungan dengan presiden klub Florentino Perez agar periode keduanya tidak mengulang akhir buruk sebelumnya.
Kembalinya Mourinho ke Bernabeu datang pada fase karier yang sangat berbeda dibandingkan 2010. Ia membawa pengalaman lebih panjang, sederet trofi, konflik, keberhasilan, dan kegagalan yang membuat pendekatannya terhadap pemain serta manajemen berpotensi ikut berubah.
Hubungan dengan Florentino Perez akan menjadi faktor penting karena Real Madrid memiliki tuntutan kemenangan yang sangat tinggi. Pengalaman masa lalu menunjukkan keberhasilan Jose Mourinho tidak hanya bergantung kepada taktik, tetapi juga kemampuannya menjaga dukungan pemain dan jajaran pimpinan.
Real Madrid pernah menjadi salah satu periode paling intens dalam perjalanan kariernya, baik dari sisi prestasi maupun konflik. Kini, kesempatan kedua memberikan ruang bagi The Special One untuk menulis akhir berbeda dari perpisahan pahit pada 2013.
Dokumenter Ungkap Sisi Lain The Special One
Dokumenter Netflix tersebut pada akhirnya memperlihatkan sisi Jose Mourinho yang tidak selalu tampak dalam konferensi pers atau pertandingan. Di balik citra keras dan penuh provokasi, ada keputusan yang diambil karena loyalitas, kebutuhan diterima, rasa sakit, serta dorongan kuat untuk membuktikan diri.
Kisah penolakan terhadap Manchester United menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai cara Jose Mourinho melihat kariernya. Kesempatan menggantikan Ferguson sangat besar, tetapi janji kepada Chelsea dan kebutuhan emosional untuk kembali ke Stamford Bridge ternyata lebih menentukan.
Sementara itu, perseteruannya dengan Abramovich menunjukkan bagaimana Mourinho dapat membawa konflik pribadi menjadi bahan bakar kompetitif. Kemenangan bersama Inter pada 2010 tidak hanya berarti lolos di Liga Champions, tetapi juga menjadi bentuk pembuktian terhadap mantan pemilik yang pernah memecatnya.
Kini perhatian kembali tertuju kepada Real Madrid dan hubungan Jose Mourinho dengan Florentino Perez. Jika ingin membuat periode keduanya lebih sukses, ia harus mempertahankan kualitas taktik sekaligus mengelola politik ruang ganti dan hubungan dengan pimpinan klub secara lebih hati-hati.



