Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Inter Milan Makin Rasa Liga Inggris, Apa Rencana Chivu dengan Stones dan Djed Spence?

Inter Milan Makin Rasa Liga Inggris, Apa Rencana Chivu dengan Stones dan Djed Spence?

  • Agustus 19, 2026

Inter Milan memasuki Serie A 2026/27 yang dimulai 22 Agustus dengan wajah semakin bernuansa Inggris setelah mendatangkan John Stones dan Djed Spence. Manuel Akanji, mantan rekan Stones di Manchester City, juga menjadi bagian penting renovasi pertahanan Cristian Chivu.  

Pola transfer itu bukan kebetulan, terlebih Spence dibeli permanen dari Tottenham Hotspur dengan kontrak sampai Juni 2031 dan biaya yang dilaporkan sekitar 30 juta pound. Dilansir Reuters, bek sayap berusia 26 tahun itu datang setelah empat musim bersama klub London utara.  

Spence juga membawa status pemain timnas Inggris setelah tampil delapan kali pada Piala Dunia 2026 dan membantu negaranya meraih posisi ketiga. Pengalaman tersebut membuat Inter Milan mendapatkan pemain yang sudah terbiasa dengan tekanan kompetisi elite, bukan sekadar proyek jangka panjang.  

Kedatangan Stones menambah lapisan pengalaman berbeda karena bek berusia 32 tahun itu menandatangani kontrak sampai Juni 2028 setelah meninggalkan Manchester City. Inter Milan bahkan mencatat Stones sebagai pemain Inggris keempat dalam sejarah klub setelah Gerry Hitchens, Paul Ince, dan Ashley Young. 

Inter Milan dan Strategi Membawa DNA Liga Inggris

Jika dibaca lebih jauh, pergerakan Inter Milan menunjukkan Chivu tidak hanya mengejar nama besar dari Liga Inggris, tetapi karakter permainan tertentu. Ia sedang mencari pemain yang terbiasa dengan intensitas tinggi, transisi cepat, duel terbuka, serta tuntutan pengambilan keputusan dalam ruang sempit. 

Akanji memberikan gambaran menarik mengenai perbedaan kedua kompetisi setelah semusim bermain di Italia dengan status pinjaman. Bek Swiss itu mengatakan Liga Inggris lebih fisik dan memiliki ruang tengah lebih sempit karena transisi terus terjadi, sedangkan permainan di Italia menghadirkan tuntutan berbeda. 

Bagi Chivu, pengalaman semacam itu berharga karena Inter Milan tidak ingin kehilangan kemampuan bertahan saat permainan berubah menjadi cepat. Stones dan Akanji sudah memahami cara mengelola garis tinggi, penguasaan bola, serta tekanan setelah bertahun-tahun bermain dalam sistem Manchester City. 

Spence membawa elemen berbeda karena kekuatan utamanya berada pada kecepatan, duel satu lawan satu, dan keberanian membawa bola dari sisi lapangan. Laman resmi Liga Inggris mencatat ia pernah mencapai kecepatan 36,62 kilometer per jam, salah satu yang tertinggi pada musim 2025/26. 

Karakter itu sangat relevan setelah Inter Milan melepas Denzel Dumfries ke Real Madrid, kehilangan pemain yang sebelumnya menawarkan daya ledak dari sektor kanan. Stefan de Vrij pindah ke Panathinaikos, sehingga perubahan lini belakang Nerazzurri tidak bersifat kosmetik. 

Djed Spence Bisa Menjadi Kunci Perubahan Chivu

Inter Milan menggambarkan Spence sebagai wing-back bertenaga, memiliki akselerasi kuat, nyaman dalam situasi satu lawan satu, serta mampu memberi kontribusi di kedua arah. Deskripsi itu menjelaskan mengapa pemain seperti Spence sangat masuk akal untuk kebutuhan Inter Milan pada fase transisi skuad. 

Spence juga bukan sosok yang benar-benar asing dengan sepak bola Italia karena pernah dipinjamkan Tottenham ke Genoa pada Januari hingga Juni 2024. Sebelum pindah ke Milan, Tottenham mencatat ia membukukan 85 penampilan dan ikut membawa klub menjuarai Liga Europa 2024/25. 

Nilai tambah lainnya adalah fleksibilitas karena Spence mampu bergerak sebagai bek sayap maupun wing-back dalam struktur yang lebih agresif. Inter Milan dapat memanfaatkan kecepatannya untuk menjaga lebar serangan tanpa harus mengorbankan seluruh keseimbangan ketika kehilangan penguasaan bola. 

Secara taktis, kehadiran Spence juga memberi Chivu opsi mengubah tinggi garis pertahanan atau titik awal tekanan tanpa mengganti terlalu banyak pemain. Ia dapat menyerang ruang di belakang full-back lawan, tetapi mempunyai kecepatan pemulihan ketika Inter Milan harus bertahan menghadapi serangan balik. 

Inilah perbedaan penting dibanding sekadar membeli pemain berlabel Liga Inggris karena Spence memiliki atribut yang langsung menjawab kebutuhan posisi. Transfer sekitar 30 juta pound terlihat sebagai investasi besar, tetapi kontrak sampai 2031 memberikan Inter Milan ruang pemanfaatan jangka panjang. 

Stones dan Akanji Bukan Sekadar Nama Besar

John Stones menawarkan sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam statistik, yakni kemampuan mengatur tempo pembangunan serangan dari lini belakang dan keberanian masuk ke area tengah. Pengalaman panjangnya bersama Manchester City membuat Inter Milan memiliki bek yang terbiasa memainkan lebih dari satu fungsi. 

Koneksi Stones dengan Akanji juga dapat mempercepat proses pembentukan koordinasi karena keduanya pernah bermain bersama di Manchester City. Dua mantan pemain City tersebut, bersama Spence, diproyeksikan menjadi fondasi baru pertahanan Inter Milan setelah beberapa pemain senior meninggalkan klub. 

Bagi Chivu, keuntungan terbesar mungkin bukan sekadar kualitas individu, melainkan kemampuan ketiganya memahami instruksi kompleks dalam waktu singkat. Inter Milan sedang melakukan regenerasi sambil mempertahankan target juara, sehingga ruang untuk menjalani proses adaptasi panjang menjadi jauh lebih sempit. 

Stones bahkan langsung mencetak gol penentu ketika menjalani debut pramusim melawan Real Betis setelah masuk pada menit ke-75. Inter Milan mencatat bek Inggris tersebut mencetak gol pada menit ke-82, sebuah awal positif menjelang dimulainya kompetisi resmi musim baru. 

Akanji sendiri telah melalui proses adaptasi lebih dulu setelah datang sebagai pemain pinjaman dari Manchester City pada September 2025. Inter Milan kemudian mempertahankannya secara permanen, menjadikan pengalamannya sebagai jembatan yang berpotensi membantu Stones dan Spence memahami tuntutan Chivu. 

Regenerasi Inter Milan Bukan Berarti Membongkar Semuanya

Pergeseran menuju pemain baru terjadi ketika Inter Milan berusaha mempertahankan Scudetto dan Coppa Italia yang mereka menangi musim lalu. Sang juara masih dipandang sebagai favorit Serie A, tetapi Chivu harus mengelola transisi generasi tanpa merusak stabilitas yang menjadi kekuatan utama. 

Yann Sommer telah meninggalkan klub, sementara Ivan Provedel datang dari Lazio dan diperkirakan menjadi pelapis Josep Martinez pada awal musim. Pada lini belakang Inter Milan, Stones, Akanji, dan Spence hadir untuk mengimbangi kepergian Dumfries serta De Vrij dalam perubahan yang cukup signifikan. 

Namun Inter Milan tidak mengubah seluruh kerangka tim karena Lautaro Martinez dan Marcus Thuram tetap diproyeksikan memimpin lini depan. Strategi tersebut memperlihatkan regenerasi yang selektif, yakni memperbarui bagian tertentu sambil mempertahankan poros serangan yang telah memberikan hasil. 

Pendekatan itu masuk akal setelah Chivu membawa Inter Milan meraih gelar Serie A dan Coppa Italia pada musim pertamanya sebagai pelatih. Kontrak pelatih asal Rumania tersebut juga telah diperpanjang sampai 2028 setelah ia dinobatkan sebagai pelatih terbaik Serie A musim lalu. 

Keberhasilan musim lalu juga lahir ketika Napoli dan AC Milan mengalami penurunan performa pada pertengahan musim, memberi ruang bagi sang juara menjaga ritme. Inter Milan memanfaatkan stabilitas itu untuk melakukan rotasi dan akhirnya mengamankan dua trofi domestik. 

Mengapa Pemain Liga Inggris Menarik bagi Klub Italia?

Dalam konteks lebih luas, pemain yang berpengalaman di Liga Inggris menawarkan kombinasi fisik, kecepatan, dan kematangan dalam pertandingan berintensitas tinggi. Bagi Inter Milan dan klub Italia yang tetap mengutamakan struktur taktis, kemampuan tersebut dapat menjadi bahan dasar untuk membangun pemain yang lebih komplet. 

Inter Milan bahkan memiliki keuntungan khusus karena target mereka tidak datang sebagai pemain yang harus mempelajari sepak bola Eropa dari awal. Stones dan Akanji mempunyai pengalaman Liga Champions panjang, sedangkan Spence sudah merasakan sepak bola Italia serta turnamen internasional bersama Inggris. 

Dari sudut pandang taktik, Serie A juga dapat memberikan konteks baru bagi pemain Liga Inggris untuk memaksimalkan kemampuan membaca ruang dan posisi. Akanji sendiri mengakui perbedaannya, sehingga perpindahan kompetisi bukan sekadar perubahan tempo tetapi juga perubahan cara memecahkan pertandingan. 

Kasus Inter Milan menunjukkan klub Italia kini bisa memburu pemain Liga Inggris karena kebutuhan spesifik, bukan semata mencari nama yang tersisih. Mereka mengambil profil yang sudah teruji secara fisik, lalu memasukkannya ke lingkungan yang menuntut organisasi dan disiplin posisi lebih detail. 

Rival Berubah, Inter Milan Tidak Bisa Diam

Urgensi perubahan Inter Milan membesar karena para rival juga merombak tim menjelang musim baru, membuat perebutan Scudetto lebih terbuka. AC Milan menunjuk Ruben Amorim usai memecat Allegri, lalu merekrut Goncalo Ramos untuk memperbaiki minimnya gol Rafael Leao dan Christian Pulisic. 

Milan masih mempertahankan Luka Modric dan menambah Mario Gila dari Lazio, sedangkan Napoli kini ditangani Allegri setelah Antonio Conte pergi. Romelu Lukaku pindah ke Fenerbahce setelah musim yang terganggu cedera, sehingga Rasmus Hojlund diproyeksikan mengambil tanggung jawab sebagai penyerang utama. 

Pergantian di Napoli menimbulkan tanda tanya karena klub itu sebelumnya identik dengan daya serang melalui Khvicha Kvaratskhelia, Victor Osimhen, Scott McTominay, dan Lukaku. Cara Allegri meramu Hojlund tanpa kehilangan daya serang akan menjadi salah satu ancaman baru bagi Inter Milan. 

Juventus memilih melanjutkan proyek Luciano Spalletti meski musim sebelumnya mengecewakan dan membawa kembali Randal Kolo Muani sebagai perekrutan utama. Sementara itu, Como mempertahankan Nico Paz di tengah ketertarikan Real Madrid serta mendatangkan Trevoh Chalobah dari Chelsea. 

Como di bawah Cesc Fabregas bahkan bersiap menjalani Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah melampaui ekspektasi musim lalu. Nico Paz tetap menjadi pusat taktik mereka, membantu transisi, menciptakan keunggulan jumlah pemain di sisi lapangan, serta membuka ruang antarlini. 

Roma, sementara itu, menutup musim lalu dengan finis di posisi ketiga setelah mencatat tujuh pertandingan tanpa kekalahan. Di bawah Gian Piero Gasperini, mereka kini menargetkan perjalanan panjang di Liga Champions, menambah tekanan terhadap Inter Milan. 

Apa Rencana Besar Chivu?

Jika seluruh potongan transfer tersebut disatukan, rencana Chivu tampaknya mengarah pada Inter Milan yang lebih atletis tanpa meninggalkan kecerdasan taktis. Stones memberi kontrol, Akanji membawa fleksibilitas dan pengalaman, sedangkan Spence menyediakan kecepatan yang dibutuhkan untuk memperbesar ancaman dari area lebar. 

Komposisi itu memungkinkan Inter Milan tetap nyaman memainkan struktur tiga bek, tetapi mempunyai personel yang lebih siap menghadapi lawan dengan permainan cepat. Chivu memperoleh bek tengah yang mampu membawa bola dan wing-back eksplosif, dua karakter penting ketika tim ingin menyerang tanpa kehilangan pengamanan. 

Ada pula keuntungan psikologis dari membangun kelompok pemain yang telah memiliki hubungan sebelumnya, terutama Stones dengan Akanji serta Stones dengan Spence di timnas Inggris. Integrasi ruang ganti bisa berlangsung lebih cepat ketika beberapa pemain sudah memahami kebiasaan dan standar kompetitif satu sama lain.

Karena itu, kesan Inter Milan semakin “rasa Liga Inggris” sebenarnya hanya permukaan dari strategi yang lebih dalam. Chivu sedang memakai pengalaman sepak bola Inggris sebagai bahan untuk memperbarui juara Italia, sambil tetap mempertahankan identitas struktural yang membuat Nerazzurri sulit dikalahkan. 

Langkah tersebut belum tentu otomatis menjamin Scudetto kembali ke Giuseppe Meazza karena rival-rival juga membangun proyek baru dengan agresif. Namun jika Stones, Akanji, dan Spence mampu menerjemahkan pengalaman Liga Inggris ke Serie A, Inter Milan mempunyai fondasi pertahanan yang sangat menarik. 

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.