Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Gareth Southgate Ungkap Sisi Gelap Jadi Pelatih Inggris, Menang Tak Lagi Bahagia hingga Enggan Menonton Sepak Bola

Gareth Southgate Ungkap Sisi Gelap Jadi Pelatih Inggris, Menang Tak Lagi Bahagia hingga Enggan Menonton Sepak Bola

  • Oktober 16, 2026

Gareth Southgate membuat pengakuan mengejutkan mengenai kehidupannya setelah meninggalkan jabatan pelatih timnas Inggris, dengan mengungkap bahwa sepak bola tidak lagi memberikan kebahagiaan seperti dahulu. Bahkan, kemenangan yang sebelumnya menjadi sumber kepuasan hanya mampu membuatnya senang selama beberapa menit.

Mantan pelatih berusia 56 tahun tersebut kini hampir tidak pernah menyaksikan pertandingan sepak bola dan belum memiliki keinginan kembali bekerja di pinggir lapangan. Keputusan itu memperlihatkan bagaimana tekanan berkepanjangan dapat mengubah hubungan seseorang dengan profesi yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Pernyataan Gareth Southgate sekaligus memberikan gambaran berbeda mengenai kehidupan seorang pelatih elite yang selama ini identik dengan ambisi, kemenangan, dan perebutan trofi. Di balik pencapaian bersama Inggris, terdapat tekanan emosional yang perlahan mengikis kenikmatannya terhadap permainan.

Dalam wawancara program The Amol Rajan Connection, Gareth Southgate mengungkap perubahan besar dalam pandangannya terhadap sepak bola. Ia mengakui bahwa menjelang akhir masa kepemimpinannya bersama Inggris, kemenangan tidak lagi memberikan kepuasan seperti sebelumnya.

Southgate bahkan mengungkap bahwa dirinya hampir tidak pernah menonton pertandingan setelah meninggalkan tim nasional, sebuah perubahan mencolok bagi sosok yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di sepak bola. Ketika ditanya mengenai kemungkinan kembali melatih klub Liga Inggris, jawabannya juga memperlihatkan keengganan yang kuat.

“Saya tidak melihat kemungkinan itu terjadi,” ujar Gareth Southgate ketika ditanya mengenai peluang kembali melatih klub Liga Inggris.

Pernyataan tersebut bukan sekadar penolakan terhadap tawaran pekerjaan, melainkan mencerminkan perubahan prioritas yang dialaminya setelah bertahun-tahun berada dalam lingkungan kompetitif. Southgate merasa kehidupannya sekarang menawarkan pengalaman lebih luas dibandingkan tekanan yang harus ditanggung seorang pelatih.

Keletihan emosional itu terlihat dari pengakuannya mengenai bagaimana kemenangan perlahan kehilangan makna ketika tekanan pekerjaan terus meningkat dan tuntutan publik tidak pernah berhenti. Pada tahap tertentu, hasil positif bahkan tidak lagi memberikan kegembiraan yang cukup untuk mengimbangi beban tanggung jawabnya.

“Menjelang akhir masa saya bersama Inggris, saya berhenti menikmatinya,” ungkap Southgate dalam wawancara tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kemenangan sempat menjadi alasan untuk terus bertahan, tetapi perasaan bahagia yang muncul semakin singkat seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, keberhasilan dalam pertandingan hanya memberinya kepuasan beberapa menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi tuntutan berikutnya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan yang kerap luput dari perhatian ketika publik menilai keberhasilan seorang pelatih hanya berdasarkan kemenangan dan jumlah trofi. Tekanan berulang dapat membuat pencapaian besar terasa biasa, sementara kegagalan justru meninggalkan dampak emosional lebih panjang.

Dalam konteks kepelatihan modern, kondisi semacam ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara tuntutan profesional, kehidupan pribadi, dan kesempatan menikmati keberhasilan. Namun, pengakuan Southgate sendiri tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya diagnosis gangguan kesehatan mental tertentu.

Tekanan Timnas Inggris dan Prestasi Besar yang Tidak Berujung Trofi

Gareth Southgate memimpin timnas Inggris sejak September 2016 sebelum memutuskan mundur pada Juli 2024 setelah kekalahan dari Spanyol dalam final Euro 2024. Selama hampir delapan tahun, ia membawa perubahan signifikan terhadap konsistensi penampilan Inggris di berbagai turnamen internasional.

Berdasarkan catatan resmi Asosiasi Sepak Bola Inggris atau FA, Southgate menangani 102 pertandingan dengan 61 kemenangan, 24 hasil imbang, dan 17 kekalahan. Inggris juga mencetak 213 gol serta kebobolan 72 kali sepanjang periode kepemimpinannya.

Rekor tersebut menghasilkan persentase kemenangan sekitar 59,8 persen, angka yang menggambarkan konsistensi timnas Inggris selama berada di bawah kendalinya. Namun, pencapaian statistik tersebut belum cukup untuk mengakhiri penantian panjang Inggris terhadap gelar juara turnamen besar.

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Southgate berhasil membawa Inggris mencapai semifinal sebelum langkah mereka dihentikan Kroasia melalui pertandingan yang berlangsung hingga perpanjangan waktu. Pencapaian tersebut menjadi semifinal Piala Dunia pertama Inggris sejak turnamen 1990 di Italia.

Tiga tahun kemudian, Inggris kembali mencatat pencapaian penting ketika melaju ke final Euro 2020 yang diselenggarakan pada 2021 akibat pandemi. Namun, harapan mengangkat trofi di Stadion Wembley kandas setelah Italia memenangkan pertandingan melalui adu penalti.

Kesempatan kembali muncul pada Euro 2024 di Jerman ketika Inggris berhasil melewati sejumlah pertandingan sulit sebelum menghadapi Spanyol dalam partai puncak. Kekalahan 1-2 pada pertandingan final akhirnya menjadi laga terakhir Southgate sebagai pelatih tim nasional.

Dua kegagalan final tersebut menghadirkan paradoks dalam penilaian terhadap Gareth Southgate, karena pencapaiannya merupakan salah satu periode paling konsisten dalam sejarah modern Inggris. Meski demikian, absennya gelar membuat keberhasilan tersebut terus dibayangi kritik mengenai pendekatan permainan dan keputusan taktik.

Southgate sering menghadapi tuntutan agar Inggris bermain lebih menyerang, terutama karena timnya diperkuat pemain berkualitas seperti Harry Kane, Jude Bellingham, dan Bukayo Saka. Perdebatan mengenai pilihan pemain, pergantian strategi, serta keberanian mengambil risiko menjadi bagian dari tekanan selama turnamen berlangsung.

Keadaan tersebut memperlihatkan betapa kompleksnya pekerjaan pelatih tim nasional, terutama ketika keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan tetapi juga ekspektasi masyarakat. Bahkan ketika tim mencapai final, kritik dapat terus muncul apabila permainan dianggap belum memenuhi harapan.

Pengakuan Gareth Southgate dan Alasan Tak Ingin Kembali ke Liga Inggris

Keengganan Gareth Southgate kembali melatih klub Liga Inggris semakin menarik karena pengalamannya bersama Middlesbrough masih menjadi satu-satunya periode kepelatihan di level klub. Ia menangani Middlesbrough sejak Juni 2006 hingga Oktober 2009, setelah sebelumnya memperkuat klub tersebut sebagai pemain.

Selama menjalani tiga musim di Teesside, Southgate menghadapi tantangan mempertahankan stabilitas Middlesbrough di kasta tertinggi sepak bola Inggris ketika persaingan semakin ketat. Timnya kemudian terdegradasi pada akhir musim 2008/2009 sebelum dirinya diberhentikan beberapa bulan setelah memasuki Championship.

Salah satu pertandingan paling dikenang dari periode tersebut adalah kemenangan telak Middlesbrough dengan skor 8-1 atas Manchester City pada Mei 2008. Hasil itu menjadi salah satu kemenangan paling mencolok dalam karier Southgate sebagai pelatih klub.

Berdasarkan statistik yang dikutip dalam laporan awal, Southgate membukukan 45 kemenangan dari 151 pertandingan Liga Inggris bersama Middlesbrough selama masa kepemimpinannya. Catatan tersebut menunjukkan perjalanan yang tidak selalu berjalan mulus, meskipun timnya pernah menghasilkan sejumlah penampilan mengesankan.

Pemecatan pada Oktober 2009 menjadi akhir keterlibatan langsung Southgate sebagai pelatih klub hingga sekarang, meskipun kariernya kemudian berkembang melalui struktur pembinaan Inggris. Ketika meninggalkan Middlesbrough, tim tersebut sedang menempati posisi keempat klasemen Championship.

Pengalaman di Middlesbrough kemungkinan memberikan pemahaman mengenai tekanan kompetisi domestik yang berbeda dengan pekerjaan sebagai pelatih tim nasional, terutama terkait jadwal dan konsistensi hasil. Namun, Southgate tidak secara khusus menyatakan pengalaman tersebut sebagai penyebab utama keengganannya kembali melatih klub.

Di Liga Inggris, seorang pelatih harus menghadapi pertandingan hampir setiap pekan, mengelola aktivitas transfer, mempertahankan keharmonisan ruang ganti, dan menjawab kritik publik. Rangkaian tanggung jawab itu dapat terasa semakin berat bagi seseorang yang sudah kehilangan keinginan menikmati persaingan sepak bola.

Karena itu, pernyataan Southgate memperkecil kemungkinan dirinya menerima pekerjaan kepelatihan dalam waktu dekat, sekalipun pengalaman internasionalnya masih menjadi nilai penting. Meski demikian, ia belum menyatakan keputusan pensiun permanen dari seluruh bentuk keterlibatan dalam industri sepak bola.

Crystal Palace Jadi Pertandingan Terakhir yang Ditonton Langsung

Salah satu bagian paling menarik dari pengakuan Gareth Southgate adalah keputusan menjauh dari stadion setelah menghadiri final Piala FA pada 17 Mei 2025. Ketika itu, ia datang menyaksikan Crystal Palace, klub yang telah didukungnya sejak kecil, menghadapi Manchester City di Wembley.

Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan bersejarah Crystal Palace melalui skor 1-0, sekaligus menghadirkan gelar Piala FA pertama sepanjang perjalanan klub London tersebut. Eberechi Eze menjadi penentu kemenangan setelah mencetak gol pada babak pertama.

Kemenangan Crystal Palace juga tidak terlepas dari penampilan gemilang penjaga gawang Dean Henderson yang berhasil menggagalkan penalti Omar Marmoush. Manchester City berusaha mengejar ketertinggalan, tetapi pertahanan Palace mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan selesai.

Bagi Gareth Southgate, pertandingan tersebut menjadi pengalaman istimewa karena klub yang didukungnya berhasil meraih salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah mereka. Namun, setelah malam bersejarah di Wembley itu, ia mengaku belum kembali menghadiri pertandingan sepak bola secara langsung.

“Sejak itu, saya belum pernah lagi datang ke stadion sepak bola,” kata Southgate ketika menceritakan pengalamannya menyaksikan Crystal Palace menjuarai Piala FA.

Pengakuan tersebut memberikan gambaran mengenai sejauh mana hubungan Southgate dengan sepak bola telah berubah setelah meninggalkan tim nasional Inggris. Bahkan pertandingan profesional yang tidak melibatkan tanggung jawab kepelatihan kini bukan lagi kegiatan yang secara rutin ingin dinikmatinya.

Meski demikian, kecintaannya terhadap Crystal Palace memperlihatkan bahwa kenangan dan ikatan emosionalnya dengan sepak bola belum sepenuhnya hilang dari kehidupannya. Perubahan yang paling menonjol justru berkaitan dengan keinginannya untuk terus terlibat dalam aktivitas kompetitif tersebut.

Kehidupan Baru Gareth Southgate: Harvard, Dokumenter, dan Dunia Media

Setelah meninggalkan tim nasional Inggris, Gareth Southgate mulai menjelajahi berbagai kegiatan yang sebelumnya sulit dilakukan ketika masih menjalankan tanggung jawab sebagai pelatih. Ia mengembangkan aktivitas di bidang media, pendidikan kepemimpinan, serta pembahasan persoalan sosial yang lebih luas.

Salah satu kegiatan tersebut adalah keterlibatannya dalam dokumenter BBC yang mengangkat tantangan kehidupan anak laki-laki dan pria muda di Inggris. Melalui proyek itu, Southgate menggunakan pengalamannya sebagai pemimpin untuk membahas persoalan yang tidak terbatas pada hasil pertandingan.

Ia juga mendapatkan kesempatan menjadi pengajar tamu di Harvard Business School, Boston, Amerika Serikat, dengan berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan dan pengelolaan tim. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan lingkungan akademis yang memiliki pendekatan berbeda terhadap persoalan organisasi.

Selain kegiatan pendidikan, Southgate mulai terlibat dalam produksi konten media yang membahas berbagai aspek industri sepak bola dari sudut pandang lebih luas. Keterlibatan tersebut memungkinkan dirinya tetap menggunakan pengalaman profesional tanpa harus kembali menanggung tekanan sebagai pengambil keputusan di lapangan.

Perubahan kehidupan ini menunjukkan bahwa keahlian seorang pelatih elite tidak selalu harus diterapkan melalui strategi pertandingan atau pengelolaan pemain. Kemampuan berkomunikasi, membangun kepercayaan, memimpin kelompok, dan menghadapi tekanan juga relevan dalam lingkungan bisnis maupun pendidikan.

Southgate mengakui dirinya menikmati sekitar 18 bulan terakhir yang memberikan kesempatan bertemu tokoh politik, pelaku industri media, dan pemimpin berbagai bidang. Ia juga berkesempatan melakukan perjalanan serta mempelajari berbagai persoalan yang sebelumnya berada di luar aktivitas rutinnya.

Menurut Southgate, selama 37 tahun kehidupannya sangat dipengaruhi hasil pertandingan sehingga kemenangan atau kekalahan kerap menentukan bagaimana dirinya menilai keberhasilan pribadi. Setelah meninggalkan pekerjaan kepelatihan, ia menemukan kepuasan dari pengalaman yang tidak lagi bergantung pada papan skor.

Kesadaran tersebut menjadi perubahan mendasar bagi seseorang yang sejak muda membangun identitas melalui sepak bola, baik ketika menjadi pemain maupun pelatih. Southgate kini memiliki ruang untuk mengembangkan minat pribadi tanpa harus terus menghadapi evaluasi berdasarkan hasil pertandingan.

Perjalanannya juga menunjukkan bahwa meninggalkan pekerjaan bergengsi tidak selalu berarti kehilangan arah kehidupan, terutama ketika seseorang menemukan bidang baru yang memberikan kepuasan. Bagi Southgate, pengalaman tersebut justru membuka kesempatan memahami kepemimpinan dari berbagai sudut pandang yang sebelumnya jarang dijelajahi.

Sisi Lain Tekanan Pelatih Elite dan Masa Depan Gareth Southgate

Pengalaman Gareth Southgate memperlihatkan bahwa kesuksesan olahraga tidak selalu berjalan beriringan dengan kepuasan pribadi, terutama ketika tekanan kompetisi berlangsung dalam jangka panjang. Dalam profesi kepelatihan, keberhasilan sering menjadi kewajiban berikutnya, bukan kesempatan menikmati pencapaian yang telah diraih.

Ketika seorang pelatih memenangkan pertandingan, perhatian publik biasanya segera beralih kepada lawan berikutnya, kondisi pemain, atau target kompetisi yang lebih besar. Sebaliknya, kekalahan dapat memicu perdebatan berkepanjangan mengenai kemampuan, kepemimpinan, dan masa depan pekerjaan.

Pola tersebut berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang sulit memberikan ruang pemulihan emosional karena setiap keputusan dapat menghasilkan penilaian besar dari masyarakat. Namun, pengalaman pribadi Southgate tetap perlu dipahami sebagai kesaksian individual, bukan bukti bahwa seluruh pelatih mengalami kondisi serupa.

Dalam kasus Southgate, delapan tahun memimpin timnas Inggris berlangsung di tengah harapan besar masyarakat untuk mengakhiri penantian gelar turnamen internasional. Keberhasilannya mencapai dua final Euro menunjukkan kualitas kepemimpinan, tetapi juga memperlihatkan betapa tingginya standar penilaian yang harus dihadapinya.

Dari sudut pandang profesional, memilih pekerjaan baru di luar kepelatihan dapat dipahami sebagai upaya membangun hubungan yang lebih sehat dengan pencapaian pribadi. Southgate tidak lagi harus mengukur setiap pekan kehidupannya melalui kemenangan, kekalahan, atau perdebatan publik mengenai susunan pemain.

Keputusan tersebut juga dapat mengubah cara publik memandang karier pelatih sepak bola, yang selama ini sering diasumsikan harus berlangsung selama kesempatan bekerja masih tersedia. Kenyataannya, seseorang dapat memiliki kemampuan tinggi tetapi tidak lagi menginginkan tuntutan pekerjaan yang pernah memberikan identitas profesional.

Bagi klub Liga Inggris yang membutuhkan pelatih berpengalaman, pernyataan terbaru Southgate menjadi sinyal bahwa reputasi dan peluang pekerjaan belum tentu cukup untuk menariknya kembali. Keinginannya menikmati kehidupan di luar lapangan tampaknya jauh lebih kuat dibandingkan dorongan untuk membuktikan kemampuan melalui trofi.

Meski belum terdapat kepastian apakah dirinya akan benar-benar mengakhiri karier kepelatihan, perubahan sikap Southgate mencerminkan babak baru perjalanan hidupnya. Sosok yang dahulu memimpin Inggris di hadapan jutaan penonton kini lebih tertarik mempelajari dunia daripada kembali berdiri di pinggir lapangan.

Pengakuan Gareth Southgate akhirnya menjadi pengingat bahwa pencapaian besar tidak selalu mampu menggantikan kebutuhan seseorang terhadap ketenangan, kebebasan, dan kebahagiaan pribadi. Setelah puluhan tahun hidup mengikuti hasil pertandingan, mantan pelatih Inggris itu kini memilih menikmati kehidupan yang tidak lagi ditentukan oleh sepak bola.

Lecce vs Juventus

Preview Lecce vs Juventus: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
Inter Milan vs Fiorentina

Preview Inter Milan vs Fiorentina: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
Napoli vs AS Roma

Preview Napoli vs AS Roma: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.