Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pembelaan terbuka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino yang sedang menghadapi tekanan besar setelah kontroversi bisnis Piala Dunia. Trump menilai FIFA akan melakukan kesalahan besar apabila mempertimbangkan pergantian pemimpin organisasi sepak bola dunia tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Donald Trump melalui Truth Social pada Senin, 10 Agustus 2026, ketika posisi Infantino sedang mendapat sorotan internasional. Trump bahkan menyebut kepemimpinan sahabatnya tersebut berperan dalam kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
“FIFA akan melakukan kesalahan besar apabila, dengan alasan apa pun, mereka mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino,” tulis Donald Trump. Ia kemudian menggambarkan Infantino sebagai figur luar biasa yang baru saja memimpin penyelenggaraan Piala Dunia paling sukses.
Donald Trump bahkan mengklaim Piala Dunia terakhir empat kali lebih sukses dibandingkan turnamen sebelumnya, meski tidak menjelaskan tolok ukur yang digunakan. Menurut Trump, FIFA tidak akan pernah mendapatkan tingkat keberhasilan dan keuntungan serupa apabila Infantino meninggalkan jabatannya.
Donald Trump Bela Gianni Infantino di Tengah Tekanan
Pembelaan Donald Trump datang ketika Gianni Infantino berada di tengah kontroversi besar terkait rencana pembentukan perusahaan komersial baru FIFA. Entitas tersebut awalnya dirancang untuk membuka sebagian kepemilikan kepada investor swasta dengan nilai transaksi bernilai miliaran dolar.
Menurut laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini, FIFA sebelumnya berencana menghimpun dana hingga 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 3,1 miliar poundsterling. Dana tersebut akan diperoleh dengan melepas sekitar 20 persen kepemilikan dalam bisnis komersial baru tersebut.
Perusahaan itu disebut memiliki valuasi sekitar 20 miliar dolar AS atau setara 14,8 miliar poundsterling. Rencana tersebut langsung memunculkan kritik karena menyangkut aset komersial dari kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia yang memiliki nilai global sangat besar.
Kontroversi semakin tajam setelah muncul laporan mengenai calon investor dalam proyek tersebut. Salah satu pihak yang dikaitkan adalah Thrive Capital, perusahaan investasi yang dipimpin Joshua Kushner, adik Jared Kushner yang merupakan menantu Donald Trump.
Hubungan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai kedekatan antara dunia bisnis, politik Amerika Serikat, dan kepemimpinan FIFA. Namun, laporan sumber tidak menyebut Donald Trump memiliki keterlibatan langsung dalam negosiasi maupun struktur transaksi yang direncanakan FIFA.
Proyek FIFA Forward Enterprise Akhirnya Dibatalkan
Gianni Infantino akhirnya mengumumkan sekitar satu setengah pekan lalu bahwa proyek FIFA Forward Enterprise tidak akan dilanjutkan. Keputusan tersebut diambil setelah muncul penolakan dan kekhawatiran dari berbagai pihak mengenai arah komersialisasi organisasi sepak bola dunia.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Infantino mengatakan dirinya telah mendengarkan secara saksama seluruh pandangan mengenai proyek tersebut. Ia mengakui proposal itu menciptakan perpecahan yang tidak lagi sesuai dengan tujuan awal pembentukannya.
Infantino kemudian menegaskan bahwa rencana tersebut tidak akan diteruskan meskipun mungkin masih mendapatkan dukungan dari sejumlah anggota. Pembatalan itu terjadi setelah tekanan semakin besar terhadap transparansi, tata kelola, dan keterlibatan investor swasta dalam aset FIFA.
Pembelaan Donald Trump muncul sesudah keputusan tersebut dan memperlihatkan dukungan politik yang sangat kuat kepada Infantino. Presiden Amerika Serikat itu tidak membahas rincian kontroversi proyek, tetapi lebih menekankan pencapaian Infantino selama memimpin Piala Dunia 2026.
Donald Trump Soroti Kesuksesan Piala Dunia 2026
Donald Trump menilai keberhasilan Piala Dunia menjadi alasan utama mengapa posisi Gianni Infantino tidak seharusnya dipertanyakan. Turnamen 2026 digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan format 48 peserta untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Menurut Donald Trump, kesuksesan komersial turnamen tersebut menunjukkan kemampuan kepemimpinan Infantino dalam mengembangkan bisnis sepak bola dunia. Ia bahkan memperingatkan tingkat keuntungan dan keberhasilan FIFA dapat menurun apabila organisasi mengganti presidennya.
Pernyataan tersebut tentu mencerminkan penilaian pribadi Trump dan bukan keputusan resmi mengenai masa depan kepemimpinan FIFA. Organisasi sepak bola dunia mempunyai mekanisme internal dan proses pemilihan sendiri yang melibatkan asosiasi anggota dari berbagai negara.
Meski demikian, dukungan Donald Trump berpotensi memiliki bobot politik karena Amerika Serikat baru saja menjadi tuan rumah utama Piala Dunia. Hubungan dekat antara Trump dan Infantino juga beberapa kali terlihat sepanjang rangkaian penyelenggaraan turnamen tersebut.
Infantino Disebut Beri Tenggat kepada 211 Anggota FIFA
Sebelum proyek dibatalkan, Infantino dilaporkan memberikan tenggat sampai 19 September kepada 211 asosiasi anggota FIFA untuk mendukung rencana tersebut. Setiap anggota disebut berpeluang memperoleh pembayaran hingga 40 juta dolar AS apabila skema berhasil dijalankan.
Tawaran tersebut menjadi salah satu bagian paling kontroversial karena muncul ketika federasi nasional diminta memberikan dukungan terhadap perubahan besar. Kritikus kemudian menggambarkan skema tersebut sebagai “suap dengan tenggat waktu” karena insentif finansial dikaitkan dengan keputusan politik organisasi.
Kritik tidak hanya datang dari pihak luar FIFA, melainkan juga disebut muncul dari lingkungan internal organisasi. Rencana penjualan sebagian kepemilikan bisnis Piala Dunia dinilai berpotensi mengubah cara FIFA mengelola aset dan hubungan dengan asosiasi anggotanya.
Bagi para pengkritik, persoalan utamanya bukan semata-mata besarnya investasi, tetapi bagaimana keputusan tersebut disusun dan dikomunikasikan. Mereka mempertanyakan transparansi proses, identitas investor, kepentingan finansial, serta pengaruh modal swasta terhadap kebijakan sepak bola internasional.
Donald Trump Berbeda Sikap dengan Para Pengkritik
Donald Trump mengambil posisi yang berlawanan dengan mereka yang menuntut pertanggungjawaban lebih besar dari Infantino. Ia justru meminta FIFA mempertahankan presidennya dan menilai pergantian kepemimpinan akan berdampak negatif bagi keberhasilan organisasi.
Sikap Donald Trump menunjukkan bahwa kontroversi Infantino kini melampaui persoalan administrasi sepak bola dan menyentuh wilayah politik internasional. Ketika seorang presiden Amerika Serikat secara terbuka membela Presiden FIFA, perhatian terhadap konflik tersebut otomatis semakin besar.
Trump juga tidak menyinggung tudingan mengenai kurangnya transparansi maupun kontroversi pembayaran kepada federasi anggota dalam pernyataannya. Fokus utamanya adalah hasil komersial dan penyelenggaraan Piala Dunia yang menurut dirinya memberikan keuntungan serta kesuksesan luar biasa.
Pendekatan tersebut berbeda dari kelompok yang menilai keberhasilan komersial tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran kepemimpinan FIFA. Mereka menekankan integritas, transparansi, tata kelola, dan hubungan organisasi dengan anggota tetap harus menjadi indikator utama.
Posisi Gianni Infantino Jadi Sorotan Jelang Pemilihan
Kontroversi rencana penjualan sekitar 20 persen kepemilikan bisnis komersial FIFA disebut meningkatkan tekanan terhadap posisi Infantino menjelang pemilihan pada Maret. Pembatalan proposal memang meredakan ketegangan, tetapi belum sepenuhnya menghapus pertanyaan mengenai proses yang sudah berlangsung.
Dukungan Donald Trump dapat memberikan keuntungan simbolis bagi Infantino, terutama setelah sukses penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Utara. Namun, keputusan mengenai kepemimpinan FIFA pada akhirnya berada di tangan struktur organisasi dan asosiasi anggota, bukan pemerintah tertentu.
Tekanan terhadap Infantino juga berpotensi terus berkembang apabila muncul informasi tambahan mengenai proses pembentukan FIFA Forward Enterprise. Pertanyaan mengenai calon investor, pembagian keuntungan, hak komersial, dan pengaruh pemegang saham masih menjadi bagian penting dalam perdebatan.
Sebaliknya, pendukung Infantino dapat menggunakan keberhasilan finansial Piala Dunia sebagai argumen bahwa ia tetap menjadi figur tepat untuk memimpin FIFA. Pandangan inilah yang secara tegas disuarakan Donald Trump melalui pernyataan terbukanya di Truth Social.
Donald Trump Sebut FIFA Bisa Kehilangan Momentum
Donald Trump bahkan memperingatkan bahwa FIFA tidak akan memperoleh keberhasilan maupun keuntungan serupa apabila Infantino diganti. Pernyataan tersebut menunjukkan Trump memandang kesinambungan kepemimpinan sebagai faktor penting dalam menjaga momentum komersial setelah Piala Dunia 2026.
Namun, keberhasilan finansial tidak otomatis menyelesaikan kontroversi tata kelola yang sedang berkembang di tubuh FIFA. Pembatalan FIFA Forward Enterprise justru menunjukkan bahwa tekanan dari pemangku kepentingan mampu memaksa organisasi mengubah keputusan strategis yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Perdebatan kini tidak lagi hanya mengenai proyek investasi yang sudah dibatalkan, tetapi juga posisi dan gaya kepemimpinan Gianni Infantino. Dukungan Donald Trump membuat persoalan tersebut semakin menarik karena menghadirkan dimensi politik dalam konflik internal sepak bola dunia.
Dengan pemilihan kepemimpinan FIFA semakin mendekat, setiap perkembangan berpotensi memengaruhi peta dukungan di antara asosiasi anggota. Donald Trump sudah menyampaikan pilihannya secara jelas, tetapi masa depan Infantino tetap ditentukan oleh dinamika politik di dalam FIFA sendiri.



