Cafu memberikan dukungan terbuka kepada FIFA dan Gianni Infantino ketika kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut sedang mendapat sorotan tajam. Legenda Brasil itu menilai satu dekade terakhir membawa perubahan penting terhadap keterlibatan pemain dalam tata kelola sepak bola.
Melalui media sosial, Cafu menyoroti bagaimana pemain dan mantan pemain kini mempunyai ruang lebih luas untuk menyampaikan pandangan kepada FIFA. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan paling berarti selama Gianni Infantino memimpin organisasi sejak 2016.
Pernyataan Cafu menarik perhatian karena muncul ketika Gianni Infantino menghadapi tekanan politik cukup besar dari sejumlah organisasi sepak bola internasional. European Leagues bahkan mempertanyakan kelayakannya melanjutkan jabatan sebagai presiden FIFA menjelang pemilihan berikutnya.
Namun Cafu memilih melihat kepemimpinan Gianni Infantino dari sisi berbeda, terutama mengenai representasi orang-orang yang pernah bermain di level profesional. Ia merasa FIFA kini lebih terbuka mendengarkan pengalaman pemain ketika merancang kebijakan serta proyek sepak bola.
Cafu Puji Perubahan FIFA di Era Gianni Infantino
Cafu mengatakan satu dekade terakhir menghadirkan kemajuan karena pemain dan mantan pemain memperoleh tempat dalam berbagai komite, proyek, serta kelompok kerja. Mereka tidak lagi hanya diposisikan sebagai simbol atau duta dalam kegiatan seremonial organisasi.
Bagi Cafu, keterlibatan tersebut memberi kesempatan kepada mantan profesional untuk menyampaikan pengalaman langsung dari lapangan kepada para pengambil keputusan. Pendapat mereka kemudian dapat digunakan ketika FIFA membahas perkembangan permainan, kompetisi, teknologi, maupun kebijakan sepak bola global.
Model seperti itu sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun setelah Gianni Infantino mengambil alih kepemimpinan FIFA pada Februari 2016. FIFA Legends Think Tank pada 2017 mempertemukan sekitar 40 mantan pemain dan pelatih untuk membahas persoalan konkret dalam sepak bola.
Cafu termasuk figur yang mengikuti forum tersebut bersama nama besar seperti Ruud Gullit, Peter Schmeichel, Diego Forlan, Javier Zanetti, dan David Trezeguet. Diskusi mereka membahas berbagai isu, termasuk transfer pemain, kalender pertandingan, serta pengembangan teknologi VAR.
FIFA ketika itu menegaskan forum para legenda bukan sekadar acara reuni mantan pemain, tetapi wadah untuk menghasilkan masukan terhadap kebijakan. Gianni Infantino juga menyatakan ide dan pendapat dalam forum tersebut akan diperhitungkan sebelum organisasi menentukan perubahan.
Cafu Merasa Suara Pemain Kini Lebih Didengar
Cafu menilai perubahan terbesar tidak terletak pada banyaknya mantan pemain yang hadir dalam acara FIFA, melainkan pengaruh mereka terhadap pembahasan. Ia mengatakan gagasan, refleksi, rencana, dan pengalaman pemain benar-benar mendapat perhatian dalam berbagai proyek organisasi.
Pandangan tersebut menjadi penting karena pemain selama bertahun-tahun kerap merasa keputusan sepak bola dibuat tanpa cukup mendengar mereka. Cafu melihat era Gianni Infantino memberikan ruang lebih besar agar pengalaman langsung dari lapangan ikut membentuk kebijakan.
Menurut Cafu, orang yang pernah menjalani kehidupan sebagai pesepak bola memiliki pemahaman berbeda terhadap dampak aturan maupun perubahan kompetisi. Pengalaman tersebut dinilai dapat melengkapi pendekatan administratif para pejabat FIFA ketika merancang masa depan permainan.
Legenda Brasil itu juga menekankan kekuatan sepak bola sebagai sarana yang dapat mengubah kehidupan dan membuka peluang sosial. Karena itu, Cafu ingin mantan pemain tetap terlibat memastikan perkembangan FIFA memberikan manfaat kepada masyarakat di berbagai negara.
Rekam jejak Cafu membuat pandangannya memiliki bobot tersendiri dalam sepak bola internasional karena ia pernah merasakan panggung tertinggi permainan. Mantan bek kanan tersebut merupakan satu-satunya pemain yang tampil dalam tiga final Piala Dunia secara beruntun.
Cafu tampil pada final 1994, 1998, dan 2002, serta mengangkat trofi sebagai kapten Brasil ketika mengalahkan Jerman di Yokohama. Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami tekanan pemain sekaligus perubahan yang terjadi dalam sepak bola global.
Gianni Infantino Sudah Memimpin FIFA Selama Satu Dekade
Gianni Infantino pertama kali terpilih sebagai presiden FIFA pada 26 Februari 2016 dalam Kongres Luar Biasa di Zurich. Ia mendapatkan 115 suara pada putaran kedua pemilihan dan menjadi presiden kesembilan sepanjang sejarah organisasi sepak bola dunia.
Kepemimpinannya dimulai ketika FIFA sedang berusaha memulihkan reputasi setelah diterpa krisis tata kelola dan skandal besar. Kongres 2016 sekaligus mengesahkan paket reformasi yang mencakup pembatasan masa jabatan, transparansi kompensasi, dan pemisahan fungsi politik serta manajemen.
FIFA kemudian memperkenalkan sejumlah program baru selama era Gianni Infantino, termasuk FIFA Forward yang meningkatkan pendanaan bagi asosiasi anggota. Organisasi juga memperluas kompetisi, membentuk struktur administrasi baru, serta memperbanyak forum konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
FIFA menyebut investasi pengembangan sepak bola melalui program Forward meningkat berlipat dibanding periode sebelumnya selama kepemimpinan Gianni Infantino. Organisasi tersebut juga menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga internasional untuk menggunakan sepak bola dalam menghadapi persoalan sosial global.
Pada Mei 2026, FIFA bahkan menerbitkan buku khusus yang mengulas perjalanan sepuluh tahun kepemimpinan Gianni Infantino sejak 2016. Publikasi tersebut menggambarkan berbagai perubahan organisasi dan proyek yang dijalankan selama satu dekade terakhir.
Dukungan Cafu Muncul ketika Gianni Infantino Dikritik
Pernyataan Cafu tidak muncul dalam ruang kosong karena Gianni Infantino sedang menghadapi salah satu periode paling sulit selama memimpin FIFA. Sejumlah organisasi mempertanyakan transparansi keputusan serta besarnya pengaruh presiden dalam menentukan arah organisasi.
European Leagues, yang mewakili 53 liga profesional pria dan wanita, bahkan mengatakan keputusan besar FIFA kerap diambil tanpa konsultasi bermakna. Presiden organisasi tersebut, Claudius Schaefer, secara terbuka menyatakan Gianni Infantino seharusnya tidak melanjutkan kepemimpinannya.
Kritik juga meningkat setelah muncul rencana FIFA menjual sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor eksternal. Gagasan tersebut akhirnya ditinggalkan setelah mendapat penolakan, tetapi kontroversinya memperbesar perdebatan mengenai tata kelola di bawah Gianni Infantino.
Sejumlah pemain dan mantan pemain lain bahkan mengambil posisi berlawanan dengan Cafu dengan menyerukan perubahan kepemimpinan FIFA. Mereka menilai pemain dan penggemar justru perlu memperoleh suara lebih besar dalam keputusan yang berpengaruh langsung terhadap masa depan sepak bola.
Kondisi tersebut membuat dukungan Cafu kepada Gianni Infantino menjadi menarik karena memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di kalangan figur sepak bola. Cafu menilai mekanisme representasi sudah membaik, sedangkan kelompok pengkritik menganggap reformasi masih belum cukup.
Roberto Carlos juga mendukung pernyataan Cafu dengan membagikan unggahan mantan rekannya tersebut dan menyatakan sepakat terhadap pandangannya. Dukungan itu memperlihatkan Gianni Infantino masih memiliki pembela dari kalangan legenda sepak bola meski kritik internasional meningkat.
Cafu Ingin Keterlibatan Mantan Pemain Terus Berlanjut
Cafu menegaskan kerja sama antara mantan pemain dan FIFA seharusnya tidak berhenti setelah satu dekade kepemimpinan Gianni Infantino. Ia berharap komite serta kelompok kerja tetap memberi ruang bagi mereka untuk membantu menentukan arah perkembangan sepak bola.
Menurut Cafu, tujuan akhir bukan sekadar meningkatkan representasi pemain di kantor FIFA, tetapi memastikan pertumbuhan sepak bola memberikan dampak nyata. Ia melihat olahraga ini memiliki kemampuan memperluas kesempatan sekaligus meningkatkan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Karena itu, Cafu menyatakan dirinya bersama figur sepak bola lain tetap siap mendukung kemajuan yang telah dicapai dalam sepuluh tahun terakhir. Mereka ingin pengalaman pemain terus digunakan ketika FIFA mengembangkan kompetisi, proyek sosial, maupun program pembangunan internasional.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pembelaan cukup kuat terhadap sebagian warisan kepemimpinan Gianni Infantino menjelang periode politik penting di FIFA. Namun perdebatan mengenai transparansi, kekuasaan presiden, dan reformasi organisasi kemungkinan masih akan berlanjut menjelang pemilihan berikutnya.
Bagi Cafu, setidaknya satu perubahan patut dipertahankan, yakni keberadaan pemain dan mantan pemain di ruang pengambilan keputusan. Ia percaya pengalaman mereka harus terus menjadi bagian dari proses ketika FIFA menentukan arah sepak bola dunia pada masa mendatang.



