Aston Villa seharusnya menyambut musim 2026/27 dengan optimisme setelah menjuarai Liga Europa dan finis empat besar Liga Inggris. Namun, keberhasilan tersebut justru diikuti musim panas yang muram karena ruang belanja mereka tertekan regulasi finansial dan sejumlah pemain penting pergi.
Situasi berbanding terbalik dengan Tottenham Hotspur yang musim lalu finis ke-17, hanya satu tingkat di atas zona degradasi. Meski menerima sekitar £35 juta lebih sedikit dalam pembayaran merit liga dibanding Aston Villa, Spurs justru mampu bergerak jauh lebih agresif di pasar transfer.
The Guardian mencatat Tottenham telah menghabiskan sekitar £322 juta atau setara dengan Rp13,3 triliun pada musim panas ini. Angka itu belum memasukkan pinjaman Omar Marmoush dari Manchester City, yang disertai kewajiban pembelian £55 juta setelah musim berakhir.
Penjualan pemain memang menekan pengeluaran bersih Spurs menjadi sekitar £140 juta, tetapi skalanya tetap mencolok dibanding Aston Villa. Bahkan kekalahan 0-3 dari Brentford pada laga pembuka tidak mengubah fakta bahwa Tottenham memiliki kapasitas finansial untuk merombak skuad secara besar-besaran.
Belanja itu antara lain ditopang transfer Sandro Tonali sekitar £92,5 juta, Mateus Fernandes £85 juta, serta Sávio dengan biaya awal £75 juta. Angka tersebut memperlihatkan betapa berbedanya fleksibilitas Tottenham dibanding Aston Villa ketika kedua klub sama-sama mencoba menjaga posisi di level elite.
Aston Villa Berprestasi, Tottenham Lebih Bebas Belanja
Di Birmingham, Aston Villa justru kehilangan sejumlah figur utama ketika seharusnya sedang mengonsolidasikan keberhasilan musim sebelumnya. Morgan Rogers, Ezri Konsa, dan Youri Tielemans menjadi kepergian paling menonjol, sedangkan Chelsea telah menyepakati transfer Emiliano Martínez senilai £7,5 juta.
Ollie Watkins juga berada dalam ketidakpastian dan disebut berpotensi menyusul keluar, sehingga Aston Villa menghadapi risiko kehilangan lebih banyak pengalaman. Uang dari penjualan itu diperkirakan membuka jalan untuk mendatangkan Nicolas Jackson dan seorang bek tengah sebelum bursa ditutup.
Ironinya semakin tajam karena pengeluaran bersih Aston Villa selama lima musim terakhir hanya sekitar £3 juta, terendah kedua di Liga Inggris. Hanya Brighton yang memiliki angka lebih rendah dalam periode tersebut, meskipun Villa terus membangun skuad untuk bersaing di papan atas.
Aston Villa bahkan finis di atas Tottenham dalam empat musim terakhir, dengan selisih 11 dan 13 posisi pada dua musim paling baru. Mereka juga baru meraih Liga Europa dan tiket Liga Champions, sementara Tottenham datang dari musim domestik yang nyaris berakhir dengan bencana.
Mantan penyerang sekaligus pendukung Aston Villa, Gabby Agbonlahor, menilai keadaan itu membuat mimpi bersaing memperebutkan gelar terasa semakin sulit. Kegelisahan tersebut masuk akal karena keberhasilan olahraga ternyata tidak langsung berubah menjadi kapasitas investasi yang setara dengan klub mapan.
Pemilik Aston Villa, Nassef Sawiris dan Wes Edens, sebenarnya mempunyai kekuatan modal sangat besar sejak mengambil alih klub pada 2018. Forbes menempatkan Sawiris sebagai orang terkaya Mesir, sedangkan Edens merupakan pemilik Milwaukee Bucks dan juga seorang multijutawan.
Kondisinya berbeda dari era Roman Abramovich di Chelsea atau Sheikh Mansour pada masa awal kepemilikannya di Manchester City. Aston Villa hidup dalam zaman ketika kekayaan pemilik tidak lagi dapat diterjemahkan langsung menjadi belanja pemain tanpa mempertimbangkan batas biaya.
Mengapa Aston Villa Tidak Bisa Sekadar Mengandalkan Pemilik
Akar masalahnya berada pada sistem regulasi yang menghubungkan biaya skuad dengan pendapatan klub, bukan sekadar saldo pemilik. Dalam kerangka UEFA, Squad Cost Ratio membatasi pengeluaran terkait skuad maksimal 70 persen dari pendapatan yang diperhitungkan dalam regulasi.
Biaya skuad tersebut mencakup gaji pemain dan pelatih, amortisasi transfer, biaya pinjaman, serta pembayaran kepada agen atau perantara. UEFA menjelaskan rasio itu menggunakan pendapatan operasional yang disesuaikan dan sejumlah unsur keuntungan atau kerugian dari transaksi pemain sebagai denominator.
Amortisasi membuat biaya transfer dicatat sepanjang masa kontrak, sehingga pembelian £50 juta dengan kontrak lima tahun dapat menghasilkan beban sekitar £10 juta per musim. Bagi Aston Villa, penumpukan banyak kontrak mahal tetap meningkatkan tekanan walau pembayaran transfer tidak seluruhnya dibebankan sekaligus.
Sebelum sistem baru berlaku, aturan domestik PSR pada dasarnya mengizinkan klub Liga Inggris mencatat kerugian hingga £105 juta selama tiga tahun dengan penyesuaian tertentu. Perubahan menuju SCR membuat kemampuan menghasilkan pendapatan semakin penting dalam menentukan seberapa agresif klub dapat membangun skuad.
Pendapatan relevan UEFA meliputi tiket, sponsor, iklan, hak siar, aktivitas komersial, hadiah kompetisi, dan kegiatan nonsepak bola yang terkait dengan klub. Sebaliknya, pendapatan luar biasa atau aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan klub dapat dikeluarkan dari perhitungan.
Pendekatan itu juga membatasi manfaat trik akuntansi yang pernah diperdebatkan, termasuk penjualan aset klub kepada entitas lain yang masih terkait pemilik. Dalam konteks Aston Villa, pertumbuhan pendapatan riil menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menciptakan keuntungan akuntansi sesaat.
Selain kontrol biaya, UEFA tetap menerapkan football earnings rule yang menguji kemampuan klub menanggung kerugian dalam periode pemantauan. Pedoman UEFA menyebut deviasi yang dapat diterima pada dasarnya €60 juta selama tiga tahun, dengan ruang tambahan tertentu bagi klub yang sehat.
Premier League kemudian mengganti PSR dengan SCR dan Sustainability and Systemic Resilience mulai musim 2026/27, dengan batas dasar 85 persen. Namun, Aston Villa yang bermain di Eropa tetap harus memenuhi standar UEFA 70 persen, sehingga batas efektif mereka menjadi lebih ketat.
Sistem Liga Inggris juga mengenal green threshold, red threshold, serta negative feedback loop untuk menentukan ruang tambahan dan konsekuensi pelanggaran. Klub dapat memakai allowance multi-musim, tetapi kelebihan di atas batas hijau mengurangi fleksibilitas berikutnya dan pelanggaran batas merah dapat memicu sanksi olahraga.
Perbedaan itulah yang menjelaskan mengapa lolos ke kompetisi Eropa tidak selalu hanya membawa keuntungan finansial bagi Aston Villa. Hadiah UEFA memang menambah pemasukan, tetapi status peserta Eropa sekaligus menghadirkan ambang pengeluaran lebih rendah dan pengawasan yang lebih intensif.
Stadion Tottenham Menjadi Mesin Pendapatan
Tottenham mempunyai keunggulan struktural melalui stadion modern yang bekerja sebagai bisnis hiburan sepanjang tahun, bukan hanya arena pertandingan. NFL, tinju, konser, tur stadion, konferensi, dan aktivitas hospitality menciptakan pendapatan tambahan yang memperbesar basis perhitungan biaya skuad.
Laporan keuangan resmi Tottenham untuk tahun yang berakhir 30 Juni 2025 mencatat total pendapatan dan pemasukan lain sebesar £565,3 juta. Pendapatan komersial dan pemasukan lain mencapai £277,1 juta, sedangkan penerimaan pertandingan £126,5 juta dan pendapatan media £127 juta.
Laporan yang sama memperlihatkan kekuatan komersial Tottenham mampu menutup sebagian dampak buruk finis ke-17 dan menurunnya pemasukan media. Aston Villa belum memiliki bantalan sekuat itu, sehingga penurunan atau lonjakan biaya skuad lebih cepat memengaruhi ruang transfer mereka.
Sejak pindah dari White Hart Lane, pendapatan komersial Tottenham melonjak dari sekitar £59 juta menjadi sekitar £277 juta pada 2024/25. Daniel Levy, mantan chairman yang kerap dikritik, kini terlihat visioner karena proyek stadion tersebut memberi fondasi bisnis jauh melampaui pertandingan sepak bola.
Pada musim pembanding itu Tottenham bermain di Liga Europa, sedangkan Aston Villa tampil di Liga Champions dengan eksposur yang secara olahraga lebih tinggi. Meski demikian, pemasukan komersial Villa hanya sekitar £98 juta, jauh di bawah Tottenham yang memaksimalkan stadion untuk berbagai kegiatan.
Kesenjangan juga terlihat pada pemasukan rata-rata per penonton, ketika Tottenham menghasilkan lebih dari £82 untuk setiap fan per pertandingan. Aston Villa berada di sekitar £38, memperlihatkan dampak lokasi London, harga premium, hospitality, dan kemampuan monetisasi stadion terhadap daya belanja.
Dalam sistem berbasis rasio, setiap tambahan pendapatan memperbesar jumlah nominal yang dapat dialokasikan kepada skuad tanpa melanggar batas. Karena itu, stadion Tottenham secara tidak langsung berfungsi seperti mesin transfer yang mengubah konser dan NFL menjadi kapasitas membeli serta menggaji pemain.
Inilah bagian yang membuat perbandingan dengan Aston Villa terasa tidak seimbang, meski persentase regulasinya sama untuk semua peserta Eropa. Klub dengan stadion besar dan bisnis komersial matang memperoleh batas nominal lebih tinggi karena mereka memulai dari basis pendapatan yang jauh lebih besar.
Keuntungan serupa juga menjelaskan tantangan Newcastle United, Nottingham Forest, Leeds United, dan Everton ketika mencoba mengejar kelompok mapan. Aston Villa bukan satu-satunya klub ambisius yang menghadapi jarak antara kemampuan pemilik, prestasi olahraga, dan pendapatan yang diakui regulasi.
Aston Villa Membayar Harga Pertumbuhan Cepat
Aston Villa memang telah menaikkan skala operasional secara drastis untuk mengejar elite, tetapi pertumbuhan itu dibarengi lonjakan biaya. Tagihan gaji disebut naik dari £108 juta pada 2019/20 menjadi sekitar £273 juta pada 2024/25 setelah bonus Liga Champions ikut masuk.
Ketika terakhir tampil di Liga Champions, pendapatan Aston Villa mencapai sekitar £378 juta, sehingga 70 persennya setara kira-kira £265 juta. Angka tersebut masih tertinggal jauh dari rata-rata kapasitas SCR kelompok tradisional Big Six yang disebut mencapai sekitar £445 juta.
Aston Villa juga bukan sekadar menghadapi risiko teoritis karena UEFA telah mengambil tindakan langsung terhadap klub tersebut. Pada 2025, Aston Villa menyepakati settlement tiga tahun setelah gagal memenuhi football earnings rule, dengan denda total potensial €20 juta termasuk €5 juta tanpa syarat.
Kesepakatan itu membatasi pendaftaran pemain baru di List A UEFA kecuali keseimbangan transfer daftar tersebut tetap positif. Pembatasan berlaku tanpa syarat pada 2025/26 dan dapat berlanjut secara kondisional, sehingga Aston Villa harus menjadikan penjualan pemain sebagai instrumen penting untuk menciptakan ruang rekrutmen.
Tekanan berlanjut pada 2026 ketika UEFA menyatakan Aston Villa melampaui batas Squad Cost Ratio 70 persen untuk kalender 2025. Klub dijatuhi denda €22,5 juta, termasuk €15 juta bersyarat, serta pembatasan registrasi pemain baru untuk kompetisi UEFA musim 2026/27.
Dengan konteks tersebut, musim panas pasif Aston Villa bukan semata kegagalan direktur olahraga mencari pemain atau keengganan pemilik membelanjakan uang. Klub harus menyeimbangkan biaya amortisasi, gaji, agen, serta syarat registrasi sambil memastikan struktur finansial kembali memenuhi target regulator.
Masalahnya, pemain terbaik sering menjadi aset paling efektif untuk menghasilkan keuntungan akuntansi dan mengurangi beban biaya secara cepat. Aston Villa akhirnya menghadapi paradoks ketika figur yang membantu klub naik level justru menjadi kandidat penjualan untuk menjaga ruang investasi berikutnya.
Brighton telah menunjukkan model beli murah dan jual mahal dapat bekerja secara berkelanjutan, tetapi target Aston Villa berbeda karena mereka mengejar trofi. Jika terlalu sering menjual pemain inti, kualitas skuad berisiko terus direset sebelum mencapai kedalaman yang diperlukan untuk bersaing konsisten.
Apakah Aturan Finansial Mengunci Klub Kaya di Puncak
Pendukung regulasi memiliki argumen kuat bahwa pembatasan dibutuhkan agar klub tidak mengejar ambisi melalui utang berlebihan atau suntikan pemilik tanpa kontrol. UEFA menyebut sistem baru dirancang memperbaiki solvabilitas, stabilitas, dan pengendalian biaya agar sepak bola tidak mengulangi pola belanja berbahaya.
Premier League juga menilai ambang 85 persen bagi klub non-Eropa memberi ruang tambahan untuk mengejar peserta kompetisi UEFA. Sistem baru menyediakan allowance tertentu sebelum sanksi olahraga, sehingga satu musim buruk tidak serta-merta memaksa klub melakukan pemotongan besar dan mendadak.
Namun, kritik terhadap sistem berbasis pendapatan sulit diabaikan karena klub kaya memiliki stadion besar, basis penggemar global, sponsor, dan hospitality premium. Saat pendapatan menentukan izin belanja, keunggulan ekonomi historis otomatis berubah menjadi kemampuan investasi lebih besar untuk mempertahankan posisi olahraga.
Aston Villa menjadi studi kasus kuat karena kesuksesan mereka di lapangan datang lebih cepat daripada pertumbuhan infrastruktur dan pendapatan komersial. Tottenham berada di sisi sebaliknya, sebab musim liga yang buruk dapat diserap oleh model bisnis stadion dengan banyak sumber pemasukan nonpertandingan.
Menyebut aturan itu sepenuhnya tidak adil juga terlalu sederhana, sebab Aston Villa memang telah melampaui batas UEFA dan regulasi diterapkan kepada banyak klub. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem menyediakan mobilitas cukup bagi penantang baru untuk mengejar pendapatan klub mapan.
Jika mobilitas tersebut terlalu lambat, kompetisi dapat terlihat terbuka secara olahraga tetapi tetap kaku secara ekonomi dalam jangka menengah. Aston Villa bisa memenangi trofi, naik peringkat, dan menarik pemain bagus, tetapi belum tentu memperoleh hak belanja setara dalam waktu singkat.
Solusi jangka panjang Aston Villa adalah memperbesar pendapatan berulang tanpa mengorbankan kestabilan skuad melalui pengembangan stadion, hospitality, sponsor global, akademi, dan perdagangan pemain terukur. Jalan ini membutuhkan waktu, tetapi hanya pendapatan permanen yang benar-benar memperbesar batas belanja dari musim ke musim.
Tottenham telah menunjukkan bahwa investasi infrastruktur dapat mengubah struktur kekuatan klub bahkan ketika performa sepak bola sedang menurun tajam. Stadion tidak menjamin kemenangan, tetapi memberi bantalan untuk memperbaiki keputusan transfer buruk tanpa harus segera membongkar skuad demi memenuhi rasio.
Pada akhirnya, musim panas 2026 memperlihatkan paradoks sepak bola modern ketika trofi tidak otomatis menghadirkan kebebasan finansial dan musim buruk tidak selalu menghancurkan daya beli. Aston Villa menang di lapangan, sedangkan Tottenham unggul dalam perlombaan membangun mesin pendapatan yang menentukan kapasitas belanja.
Perdebatan mengenai keadilan regulasi akan terus muncul selama jarak pendapatan menghasilkan jarak besar dalam kemampuan merekrut pemain. Bagi Aston Villa, tantangan terbesarnya kini bukan hanya mempertahankan status elite, melainkan membangun ekonomi elite agar keberhasilan olahraga tidak terasa seperti hukuman.



