AC Milan menghabiskan uang besar untuk membangun kembali sebuah tim yang diharapkan bisa mengejar Scudetto, tetapi kejutan terbesar mereka justru datang tanpa gemerlap transfer. Namanya Alphadjo Cissè, pemain 19 tahun yang bahkan belum menjadi pembicaraan utama sebelum musim dimulai.
Di tengah kehadiran Gonçalo Ramos, Diego Moreira dan Mario Gila, seharusnya salah satu rekrutan mahal itulah yang menghiasi cerita pembuka era Ruben Amorim. Namun setelah kemenangan 2-1 atas Torino, sorotan terbesar malah berhenti pada pemain muda kelahiran Treviso tersebut.
Itulah yang membuat cerita Alphadjo Cissè terasa berbeda dari kisah wonderkid pada umumnya, sebab Milan tidak memasuki musim baru dengan ekspektasi rendah. Rossoneri sedang mencoba kembali ke papan atas setelah hanya menempati posisi kelima pada musim terakhir Massimiliano Allegri.
Ruben Amorim juga datang bukan untuk sekadar memperbaiki posisi satu atau dua tingkat, melainkan membawa gagasan sepak bola yang berbeda sekaligus mengejar Scudetto. Karena itu, memberikan tempat kepada pemain minim pengalaman seperti Cissè sebenarnya merupakan keputusan berisiko sejak awal.
Akan tetapi, Amorim sepertinya melihat sesuatu yang belum terlihat oleh kebanyakan orang ketika berkali-kali menunjukkan antusiasmenya kepada Alphadjo Cissè. Bahkan sebelum pertandingan kompetitif pertamanya, pelatih asal Portugal tersebut sudah terang-terangan mengatakan betapa ia menyukai sang pemain.
Kalimat itu awalnya terdengar seperti candaan ringan dalam konferensi pers, terutama karena Amorim menyampaikannya dengan bahasa tubuh yang begitu ekspresif. Beberapa hari kemudian, perkataan tersebut berubah menjadi semacam petunjuk bahwa Milan mungkin menyimpan pemain istimewa.
Alphadjo Cissè, Senjata Rahasia yang Tak Dibeli dengan Harga Fantastis
Ironinya, Milan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membangun skuad baru, termasuk sekitar €74 juta demi Gonçalo Ramos dari Paris Saint-Germain. Mereka juga membayar €50 juta untuk Diego Moreira dan €30 juta demi merekrut Mario Gila dari Lazio.
Tiga pemain tersebut datang membawa harga, reputasi dan ekspektasi, sementara Alphadjo Cissè memasuki musim baru dari jalur yang jauh lebih sunyi. Ia direkrut dari Verona pada Februari, kemudian baru bergabung setelah menyelesaikan masa peminjaman bersama Catanzaro di Serie B.
Bersama Catanzaro, Alphadjo Cissè menghasilkan enam gol dalam 22 pertandingan sebelum cedera paha mengganggu paruh kedua musimnya. Sebelumnya, pengalaman sepak bola kasta tertingginya bahkan hanya berjumlah 14 menit dari tiga penampilan sebagai pemain pengganti Verona.
Latar belakang tersebut membuat keputusannya menjadi starter melawan Torino semakin menarik, apalagi Ramos langsung berada di depan sebagai penyerang utama. Cissè ditempatkan di belakang dan sedikit ke kiri penyerang Portugal itu dalam sistem dasar 3-4-2-1 Amorim.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat mengapa sang pelatih mempercayainya, karena baru sekitar 75 detik laga berjalan Cissè sudah menciptakan percobaan pertama. Ia berlari menyambut umpan Ruben Loftus-Cheek sebelum melepaskan bola dari sudut sulit ke samping gawang.
Tindakan sederhana tersebut sebenarnya menggambarkan karakter Alphadjo Cissè lebih jelas daripada statistik mana pun: ia tidak terlihat takut berada dalam tim sebesar Milan. Sang pemain justru bermain seolah status starter di pertandingan pembuka Serie A merupakan sesuatu yang sudah biasa.
Bagi Amorim, keberanian seperti itulah yang dibutuhkan untuk mengubah karakter Milan setelah periode yang lebih hati-hati bersama Allegri. Pelatih baru tersebut ingin Rossoneri mengambil inisiatif, menguasai ruang, menekan lawan, sekaligus menentukan sendiri bagaimana sebuah pertandingan dimainkan.
Gagasan itu terlihat jelas di Turin ketika Milan menguasai lebih dari 70 persen bola sepanjang babak pertama dan unggul 11-1 dalam percobaan. Persoalannya, dominasi besar tersebut belum otomatis membuat mereka mampu menembus struktur pertahanan Torino.
Di sinilah pertandingan kemudian menjadi ujian menarik bagi proyek baru Amorim, karena Milan harus menemukan sesuatu selain dominasi penguasaan bola. Mereka membutuhkan pemain yang berani menyerang ruang ketika pertandingan mulai terbuka, bukan hanya mengedarkan bola di depan pertahanan.
Ketika Torino Mulai Berani, Alphadjo Cissè Justru Menemukan Ruang
Torino perlahan meningkatkan keberanian setelah turun minum dan mencoba menekan lebih tinggi, sebuah keputusan yang membuat pertandingan menjadi lebih terbuka. Namun ruang yang tercipta justru memberikan kondisi ideal bagi gelandang-gelandang Milan untuk membawa bola melewati tekanan pertama.
Pada menit ke-64, Yunus Musah berhasil melewati lawannya di lini tengah sebelum menyerahkan bola kepada Adrien Rabiot di sisi kanan. Rabiot kemudian mengirim umpan kepada Alphadjo Cissè yang menunggu di wilayah paling berbahaya dalam kotak penalti.
Kontrol Cissè menjadi bagian terpenting dari proses gol tersebut karena ia tidak terburu-buru menyelesaikan bola ketika berada dalam tekanan. Setelah menguasainya menggunakan bagian tubuhnya, ia melepaskan half-volley melengkung menuju sudut jauh yang tidak mampu dihentikan penjaga gawang.
Selebrasi meluncur dengan lutut di depan pendukung Milan terlihat seperti pelepasan emosi pemain yang baru saja mewujudkan sesuatu di luar perkiraannya. Alphadjo Cissè kemudian mengakui bahwa menjadi starter sekaligus mencetak gol pada laga pembuka bahkan melampaui mimpinya.
Tidak lama setelah gol tersebut, Rabiot mengubah skor menjadi 2-0 dengan menyelesaikan kiriman Samuel Chukwueze, sehingga pertandingan tampak berada dalam kendali. Torino tetap melawan dan Ché Adams akhirnya memperkecil kedudukan melalui voli spektakuler pada masa tambahan waktu.
Milan tetap membawa pulang tiga poin, tetapi pertandingan itu menyisakan bahan evaluasi karena performa mereka turun menjelang akhir pertandingan. Amorim pun mengakui timnya masih membutuhkan banyak perbaikan, baik dalam membongkar pertahanan maupun mempertahankan intensitas selama 90 menit.
Namun kemenangan pertama memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada kesempurnaan taktik, yakni keyakinan bahwa metode baru mulai bekerja. Lebih penting lagi, Amorim menemukan pemain yang bisa memberikan dimensi berbeda ketika pertandingan tidak berkembang sesuai rencana awal.
Cissè Bukan Sekadar Cerita Satu Malam
Salah satu bahaya terbesar setelah penampilan seperti ini adalah terlalu cepat mengubah Alphadjo Cissè menjadi superstar berikutnya, sesuatu yang sudah berkali-kali terjadi. Sejarah Milan sendiri menyediakan pengingat bahwa awal sensasional tidak selalu berkembang menjadi perjalanan panjang bersama Rossoneri.
Cissè menjadi pemain Italia termuda yang mencetak gol untuk Milan sejak Patrick Cutrone pada 2017, sebuah statistik yang terdengar sangat menjanjikan. Ia juga menjadi pemain Italia pertama sejak Daniel Maldini yang mencetak gol ketika menjalani debut sebagai starter Serie A.
Namun perjalanan Cutrone dan Maldini menunjukkan bagaimana sepak bola dapat berubah cepat setelah seorang pemain muda mendapatkan sorotan besar. Cutrone kesulitan mempertahankan level awalnya, sementara Maldini harus berpindah-pindah klub untuk memperoleh kontinuitas permainan.
Justru karena itulah perkembangan Alphadjo Cissè berikutnya jauh lebih menarik daripada golnya ke gawang Torino, sebab tantangannya sekarang adalah membuktikan keberlanjutan. Amorim harus menentukan bagaimana melindungi pemain muda tersebut tanpa menghilangkan keberanian yang membuatnya menonjol.
Ada pula konteks lebih besar yang membuat keberadaan Cissè menjadi penting bagi sepak bola Italia, bukan hanya bagi Milan. Pemain Italia kategori U-21 hanya memperoleh sekitar 3,9 persen dari seluruh menit bermain Serie A pada musim sebelumnya.
Sebaliknya, pemain asing dalam kategori usia yang sama memperoleh sekitar 8,2 persen menit pertandingan, lebih dari dua kali kesempatan pemain muda lokal. Angka tersebut menggambarkan betapa sulitnya jalur menuju sepak bola senior bagi talenta muda Italia.
Karena itu, ketika Milan menurunkan Alphadjo Cissè sejak menit pertama, keputusan tersebut membawa makna lebih luas daripada sekadar pemilihan susunan pemain. Sebuah klub dengan tekanan sebesar Rossoneri berani memberikan tanggung jawab nyata kepada pemain Italia yang masih berusia 19 tahun.
Pekan pembuka Serie A memang memperlihatkan sejumlah sinyal serupa, termasuk Pio Esposito bersama Inter serta Diego Mascardi dan Alessio Cacciamani di Torino. Matteo Palma, Simone Lontani, Mathis Mout dan Mattia Liberali juga memperoleh kesempatan bersama klub mereka masing-masing.
Tetapi tekanan yang dihadapi Alphadjo Cissè tetap berbeda karena Milan membawa ambisi Scudetto sekaligus menjalani revolusi besar di bawah pelatih baru. Setiap hasil buruk dapat mempersempit ruang eksperimen, terlebih jika persaingan dengan Inter mulai meninggalkan mereka.
Di sinilah kepercayaan Amorim akan benar-benar diuji, sebab mudah memainkan pemain muda ketika semuanya berjalan baik, tetapi jauh lebih sulit mempertahankannya ketika tekanan meningkat. Hubungan antara pelatih dan Cissè karena itu akan menjadi salah satu subplot menarik musim Milan.
Amorim mengatakan Cissè bahkan terlihat seperti salah satu pemain paling berpengalaman di lapangan pada beberapa momen babak pertama menghadapi Torino. Penilaian tersebut menjelaskan mengapa usia dan minimnya pengalaman tampaknya tidak terlalu mengganggu keputusan sang pelatih.
Jika Cissè mampu mempertahankan keberanian, kecerdasan mencari ruang dan kontribusi tanpa bola, Milan mungkin tidak perlu melihatnya sebagai sekadar pelapis. Ia justru berpotensi menawarkan fleksibilitas penting dalam sistem 3-4-2-1 yang membutuhkan pemain kreatif di belakang penyerang.
Dan mungkin di situlah letak ironi paling indah dari proyek baru Rossoneri: pemain paling menarik mereka pada malam pertama bukan pembelian €74 juta. Di tengah proyek mahal Ruben Amorim, Alphadjo Cissè justru muncul sebagai senjata rahasia Milan yang tidak pernah diperhitungkan lawan.



