Liga Inggris musim 2026/27 baru berjalan empat pertandingan, tetapi tekanan terhadap sejumlah pelatih sudah mulai terasa sebelum kompetisi benar-benar memasuki periode sibuk. Frank Lampard, Roberto De Zerbi, Pierre Sage, hingga Alvaro Arbeloa menjadi nama yang paling banyak mendapat sorotan karena hasil awal klub mereka.
Situasinya semakin menarik karena tekanan tersebut muncul ketika wajah kepelatihan Liga Inggris berubah drastis, dengan banyak klub menyerahkan kendali tim kepada figur baru. Bahkan sejumlah pelatih yang baru beberapa bulan bekerja sudah harus menghadapi tuntutan hasil, ekspektasi pemilik, serta tekanan dari suporter.
ESPN memetakan kondisi 20 kursi pelatih berdasarkan keamanan pekerjaan mereka setelah empat pertandingan awal. Analisis itu menempatkan Mikel Arteta sebagai sosok paling aman, sedangkan Frank Lampard berada di ujung lain daftar.
Daftar tersebut bukan sekadar berbicara mengenai posisi klasemen, sebab performa statistik, struktur kepemilikan, investasi transfer, durasi kontrak, hingga ekspektasi klub ikut diperhitungkan. Karena itulah beberapa pelatih Liga Inggris tetap relatif aman meski hasil awal belum sempurna, sementara lainnya langsung berada dalam tekanan besar.
Era Pelatih Liga Inggris Berubah, Jabatan Makin Mudah Berganti
Model manajer tradisional yang mengendalikan transfer, perekrutan staf, pencarian pemain, hingga keputusan teknis semakin jarang ditemukan di Liga Inggris. Banyak klub kini memiliki direktur olahraga dan departemen perekrutan sendiri, sementara sosok di pinggir lapangan lebih difokuskan sebagai kepala pelatih.
Perubahan struktur tersebut membuat klub tidak lagi harus membangun seluruh proyek berdasarkan satu figur sehingga pergantian pelatih dapat dilakukan tanpa merombak organisasi secara keseluruhan. Dampaknya, posisi pelatih Liga Inggris semakin mudah diganti ketika performa tidak memenuhi target yang telah ditetapkan manajemen.
ESPN mencatat hanya satu dari 20 pelatih musim ini yang telah bekerja setidaknya empat tahun bersama klubnya, yakni Mikel Arteta di Arsenal. Hanya sembilan pelatih telah menjabat setidaknya satu tahun, sedangkan separuh lainnya belum bekerja selama 200 hari.
Musim sebelumnya memperlihatkan gambaran lebih ekstrem karena sepuluh pelatih kehilangan pekerjaan sepanjang kompetisi dan enam lainnya meninggalkan posisi setelah musim berakhir. Angka itu menjelaskan mengapa pembicaraan mengenai “kursi panas” sudah muncul meskipun musim 2026/27 baru menjalani empat pertandingan.
Data resmi Premier League juga memperlihatkan besarnya perubahan tersebut, dengan Xabi Alonso, Marco Rose, Pierre Sage, Andoni Iraola, Enzo Maresca, Matthias Jaissle, hingga Oliver Glasner memulai pekerjaan baru pada 2026. Arteta masih menjadi pelatih dengan masa kerja terpanjang sejak Desember 2019.
20. Mikel Arteta — Arsenal
Sulit menemukan pelatih Liga Inggris yang mempunyai posisi lebih kokoh dibanding Mikel Arteta setelah Arsenal mempertahankannya melewati periode sulit pada awal proyeknya. Kesabaran itu akhirnya terbayar ketika Arsenal berkembang menjadi juara Liga Inggris sekaligus salah satu tim paling kompetitif di Eropa.
Arteta juga mempunyai pengaruh yang jauh lebih luas dibanding mayoritas kepala pelatih modern karena keterlibatannya dalam pembangunan skuad dan arah perekrutan Arsenal. ESPN melihat posisi tersebut sebagai sesuatu yang semakin langka ketika klub-klub modern justru membatasi kekuasaan pelatih melalui struktur direktur olahraga.
19. Keith Andrews — Brentford
Keith Andrews berada dalam situasi relatif aman karena Brentford tidak membangun proyek klub bergantung kepada satu pelatih, melainkan menggunakan sistem perekrutan dan identitas permainan yang sudah ditentukan organisasi. Pendekatan tersebut membuat perubahan pelatih tidak otomatis berarti perubahan besar terhadap filosofi tim.
Brentford pada dasarnya mencari pelatih yang cocok dengan kerangka permainan klub, bukan kemudian membangun klub mengikuti seluruh keinginan pelatih tersebut. Menurut analisis ESPN, struktur seperti itu justru memberi Andrews perlindungan karena manajemen memahami bahwa performa tidak selalu ditentukan oleh satu figur.
18. Fabian Hurzeler — Brighton
Fabian Hurzeler memiliki perlindungan serupa bersama Brighton, klub yang selama beberapa musim membangun reputasi melalui perekrutan berbasis data dan regenerasi pemain. Karena sistem klub sudah terbentuk, pekerjaan Hurzeler lebih berfokus mengembangkan pemain serta menjalankan kerangka permainan yang sesuai identitas Brighton.
Model tersebut tidak berarti pelatih Liga Inggris menjadi tidak penting, tetapi membuat penilaian terhadap mereka lebih berorientasi proses daripada beberapa pertandingan buruk. Brighton juga terbiasa memiliki daftar calon pengganti apabila pelatih mereka direkrut klub lain, sehingga organisasi tidak bergantung kepada individu tertentu.
17. Enzo Maresca — Manchester City
Enzo Maresca termasuk pelatih baru yang relatif jauh dari ancaman setelah mengambil alih Manchester City dari Pep Guardiola pada 29 Juni 2026. Ia sebelumnya pernah bekerja di lingkungan City sebagai pelatih Elite Development Squad dan asisten Guardiola sebelum membangun karier sebagai pelatih utama.
Empat pertandingan pertama juga memperlihatkan City masih mampu bersaing di level atas meskipun perubahan besar terjadi di kursi pelatih. ESPN menilai performa mereka setara dengan Arsenal pada periode pembuka sehingga belum terdapat alasan kuat untuk mempertanyakan posisi Maresca.
16. Andoni Iraola — Liverpool
Situasi Andoni Iraola sedikit lebih menarik karena Liverpool sebelumnya dikenal sebagai klub yang relatif sabar, tetapi keputusan berpisah dengan Arne Slot setelah hanya satu musim usai gelar Liga Inggris mengubah persepsi tersebut. Iraola datang ketika klub sekaligus menjalani pembangunan kembali skuad.
Empat pertandingan pertama Liverpool memang belum sepenuhnya meyakinkan, tetapi ESPN melihat manajemen memahami bahwa proyek tersebut membutuhkan waktu dan tidak dirancang hanya untuk hasil instan. Karena alasan itu, posisi Iraola belum berada dalam tekanan serius kecuali performa Liverpool mengalami penurunan drastis.
Emery hingga Jaissle, Hasil Belum Sempurna tetapi Masih Punya Ruang
15. Unai Emery — Aston Villa
Unai Emery menjadi kasus menarik karena pengalaman dan rekam jejaknya memberikan perlindungan besar, sementara performa Aston Villa pada empat laga pembuka justru mengkhawatirkan. ESPN mencatat Villa berada paling bawah berdasarkan adjusted goal differential setelah mengalami perubahan besar terhadap komposisi pemain pada musim panas.
Konteks menjadi penting karena Villa juga mengawali musim sebelumnya dengan pola hampir serupa sebelum akhirnya mampu menyelesaikan kompetisi di posisi keempat. Emery karena itu memperoleh benefit of the doubt lebih besar dibanding pelatih Liga Inggris yang baru tiba tanpa rekam jejak keberhasilan.
14. David Moyes — Everton
David Moyes tidak mempunyai masalah besar mengenai pekerjaannya karena Everton menunjukkan perkembangan dibanding periode ketika mereka terus berjuang menjauh dari degradasi. Statistik expected goals, jumlah tembakan, serta sentuhan di kotak penalti menunjukkan Everton menciptakan peluang hampir sebanyak yang mereka berikan kepada lawan.
Hasil tersebut mungkin belum membawa Everton kembali menjadi kekuatan papan atas, tetapi stabilitas merupakan kemajuan penting setelah beberapa musim penuh ketidakpastian. Selama performa tidak turun tajam, Moyes masih mempunyai cukup kredit untuk melanjutkan pembangunan tim tanpa tekanan pemecatan dalam waktu dekat.
13. Daniel Farke — Leeds United
Daniel Farke menjadi salah satu pelatih Liga Inggris dengan masa kerja paling lama setelah berada di Leeds United sejak Juli 2023. Hanya Arteta dan Emery yang memiliki periode kerja lebih panjang di klubnya masing-masing ketika musim ini dimulai.
ESPN mencatat Leeds berada di posisi kelima dalam adjusted goal differential setelah empat pertandingan, melanjutkan performa kompetitif yang sudah terlihat musim sebelumnya. Pertanyaan mengenai ambisi pemilik mungkin muncul dalam jangka panjang, tetapi bukan persoalan mendesak pada awal musim 2026/27.
12. Regis Le Bris — Sunderland
Regis Le Bris membawa Sunderland melewati ekspektasi pada musim sebelumnya, meskipun keberhasilan mereka ketika itu juga didukung efektivitas penyelesaian peluang yang sulit dipertahankan terus-menerus. Musim ini Sunderland justru memperlihatkan indikator proses yang lebih sehat dengan mampu mengungguli lawan dalam jumlah tembakan.
Mereka bahkan mampu memberikan pertandingan ketat kepada Arsenal, sesuatu yang membuat posisi Le Bris semakin kuat dibanding ketika musim dimulai. Setelah bekerja sejak Juli 2024, pelatih asal Prancis tersebut juga menjadi salah satu figur dengan kontinuitas lebih panjang di Liga Inggris.
11. Marco Rose — Bournemouth
Marco Rose menghadapi situasi yang terlihat buruk apabila hanya membaca klasemen karena Bournemouth mendapatkan tiga poin dari empat pertandingan pembuka. Namun, ESPN menunjukkan mereka masih mampu menghasilkan jumlah tembakan lebih tinggi daripada lawan dan adjusted goal differential berada sekitar rata-rata liga.
Persoalan terbesar bagi Rose adalah meyakinkan pemain dan manajemen bahwa proses tersebut akan menghasilkan kemenangan apabila terus dipertahankan. Dalam sepak bola modern, pekerjaan pelatih Liga Inggris sering ditentukan oleh kemampuan mendapatkan waktu ketika statistik bagus belum berubah menjadi hasil.
10. Matthias Jaissle — Newcastle United
Matthias Jaissle baru mulai bekerja bersama Newcastle United pada 5 Agustus 2026 sehingga terlalu dini mengharapkan struktur permainan langsung sempurna. Newcastle sempat memperoleh empat poin dari dua pertandingan menghadapi Liverpool dan Tottenham sebelum performa mereka menurun dalam dua laga berikutnya.
ESPN menilai Newcastle juga sedang menjalani perubahan arah setelah sejumlah pemain terbaik meninggalkan klub dan digantikan talenta yang masih membutuhkan perkembangan. Selama tim tidak terseret serius menuju pertarungan degradasi, Jaissle diperkirakan masih mempunyai waktu untuk membentuk proyek barunya.
Dua Tim Promosi Berbeda Nasib, Jakirovic Jadi Kejutan
9. Sergej Jakirovic — Hull City
Sergej Jakirovic menjadi salah satu cerita paling menarik musim ini setelah Hull City tampil jauh melebihi ekspektasi sebagai tim promosi. ESPN mencatat mereka meraih delapan poin dari empat pertandingan dan berada di posisi ketiga ketika analisis tersebut diterbitkan.
Performa itu semakin menarik karena Hull sebelumnya diproyeksikan menghadapi perjuangan berat untuk bertahan, tetapi justru langsung menciptakan momentum. Jakirovic bahkan memenangkan penghargaan Manager of the Month Agustus setelah Hull mengalahkan Manchester United dan Coventry City dalam dua laga pembuka.
Meski demikian, terdapat peringatan pada angka dasarnya karena Hull mempunyai selisih gol nonpenalti plus tiga dari expected-goal differential minus tiga setelah empat pertandingan. Efektivitas seperti itu belum tentu bertahan sepanjang musim, sehingga Jakirovic masih harus membuktikan bahwa hasil awal bukan sekadar momentum sementara.
8. Gary O’Neil — Ipswich Town
Gary O’Neil juga memberikan awal menjanjikan kepada klub promosi setelah Ipswich memenangkan dua dari empat pertandingan pertamanya. Hasil tersebut membuat prospek mereka untuk bertahan di Liga Inggris terlihat lebih baik dibanding sebelum kompetisi dimulai.
Namun, sejarah memperlihatkan pelatih Liga Inggris di klub promosi hampir tidak pernah benar-benar aman karena beberapa kekalahan beruntun dapat langsung mengubah tekanan. Itulah sebabnya ESPN belum menempatkan O’Neil dan Jakirovic sejajar dengan pelatih klub mapan meskipun awal mereka cukup impresif.
Alonso, Carrick dan Glasner Mulai Masuk Zona Tekanan
7. Xabi Alonso — Chelsea
Xabi Alonso mungkin mempunyai kontrak hingga 2030, tetapi Chelsea merupakan klub dengan ekspektasi yang hampir tidak memberikan ruang panjang ketika performa menurun. ESPN menilai timnya belum menghasilkan permainan meyakinkan selama 90 menit meskipun berada di posisi empat besar setelah empat pertandingan.
Chelsea memulai Agustus dengan dua kemenangan dan Alonso bahkan masuk nominasi Manager of the Month bersama Arteta, Jakirovic, serta Maresca. Namun, hasil imbang 2-2 melawan Hull pada 12 September kembali memperlihatkan masalah kontrol pertandingan setelah Chelsea sempat unggul lebih dahulu.
Alonso sendiri mengakui terdapat bagian permainan yang harus diperbaiki setelah laga tersebut, terutama ketika Chelsea gagal mempertahankan kontrol setelah membuka keunggulan. Cedera Moises Caicedo dan belum siapnya sejumlah pemain baru juga memberi konteks tambahan terhadap proses pembangunan tim.
6. Michael Carrick — Manchester United
Michael Carrick menghadapi tekanan yang berbeda karena Manchester United hanya memperoleh empat poin dari empat laga meskipun statistik dasarnya tidak seburuk hasil tersebut. Mereka menghasilkan nonpenalty expected-goal difference plus 2,5 tetapi justru memiliki selisih gol aktual minus satu.
United juga melakukan 83 tembakan dan hanya menghadapi 41 percobaan lawan, menunjukkan bahwa tim Carrick sebenarnya mampu menciptakan dominasi dalam sejumlah fase pertandingan. Masalahnya, jadwal awal mereka termasuk relatif ringan sehingga poin yang hilang menjadi semakin sulit diabaikan.
Carrick pertama kali kembali menangani United pada 13 Januari 2026 sebelum membawa klub finis ketiga pada musim 2025/26 dan lolos ke Liga Champions. Manchester United kemudian memberinya kontrak permanen pada 22 Mei 2026 yang berlaku sampai 2028.
Kontrak dua tahun itu memberikan kesempatan, tetapi sekaligus menunjukkan komitmen yang tidak sepanjang beberapa pelatih rivalnya di klub besar. Beban pertandingan Liga Champions juga membuat Carrick harus segera mengubah performa statistik yang cukup menjanjikan menjadi kemenangan nyata sebelum tekanan semakin meningkat.
5. Oliver Glasner — Nottingham Forest
Oliver Glasner justru menghasilkan performa cukup baik secara statistik karena Nottingham Forest unggul tipis terhadap lawan dalam expected goals, jumlah tembakan, dan sentuhan di area penalti. Identitas permainannya juga cepat terlihat melalui blok rendah, tekanan agresif, dan transisi berbahaya setelah merebut bola.
Faktor yang membuat posisinya tetap dianggap rawan adalah lingkungan klub dan hubungan dengan pemilik, bukan semata kualitas permainan di lapangan. Menurut ESPN, beberapa hasil buruk bisa dengan cepat mengubah situasi sehingga Glasner berada lebih dekat ke zona berbahaya dibanding performanya seharusnya.
Empat Kursi Terpanas: Arbeloa, Sage, De Zerbi dan Lampard
4. Alvaro Arbeloa — Fulham
Alvaro Arbeloa baru mengumpulkan satu poin setelah empat pertandingan bersama Fulham, sementara persoalan di luar lapangan ikut memperbesar tekanan terhadapnya. ESPN juga menyoroti ketegangan yang muncul melalui aktivitas media sosial pemain sehingga situasi ruang ganti menjadi bagian penting dalam penilaian posisinya.
Fulham memang memberikan dukungan melalui perekrutan sejumlah pemain yang sebelumnya pernah bekerja bersama Arbeloa sehingga proyek tersebut belum bisa dianggap gagal sepenuhnya. Dua dari empat pertandingan pertama juga berlangsung melawan Chelsea dan Liverpool, memberikan konteks penting terhadap hasil buruk mereka.
3. Pierre Sage — Crystal Palace
Pierre Sage menghadapi problem yang lebih mudah terlihat melalui angka karena Crystal Palace menjadi salah satu tim dengan pertahanan paling bermasalah pada awal musim. Mereka berada di posisi terbawah untuk gol kebobolan, expected goals lawan, tembakan yang dihadapi, dan sentuhan lawan di kotak penalti.
Sebagian persoalan tersebut dapat dijelaskan oleh perubahan besar di lini belakang setelah tiga dari lima anggota pertahanan era Oliver Glasner tidak lagi berada di klub. Namun, Sage tetap harus menemukan struktur baru sebelum kebocoran pertahanan berubah menjadi masalah permanen.
2. Roberto De Zerbi — Tottenham Hotspur
Roberto De Zerbi menghadapi salah satu situasi paling mengejutkan karena Tottenham melakukan investasi besar untuk memperbaiki skuad tetapi belum memenangi pertandingan liga setelah empat laga. Spurs juga belum mencetak satu gol dan memiliki adjusted goal differential terburuk keempat menurut analisis ESPN.
Mereka memulai musim dengan kekalahan 0-3 dari Brentford, kemudian takluk 0-2 di kandang dari Newcastle sebelum bermain tanpa gol menghadapi Nottingham Forest dan Everton. Empat pertandingan tersebut membuat persoalan produktivitas serangan menjadi sorotan utama meskipun Spurs mampu menciptakan sejumlah peluang.
Melawan Everton pada 12 September, Tottenham menghasilkan 14 percobaan tetapi hanya benar-benar menguji Jordan Pickford sekali sepanjang pertandingan. De Zerbi mengakui keputusan di sepertiga akhir harus diperbaiki dan meminta pemain tetap tenang meskipun kepercayaan diri mulai terpengaruh kegagalan mencetak gol.
Kontrak De Zerbi memang berlangsung sampai 2030, tetapi kontrak panjang tidak selalu menjamin keamanan ketika investasi besar tidak segera menghasilkan peningkatan. Jika masalah mencetak gol terus berlangsung, tekanan terhadap salah satu pelatih Liga Inggris paling terkenal secara taktikal tersebut berpotensi semakin besar.
1. Frank Lampard — Coventry City
Frank Lampard berada pada posisi paling tertekan dalam indeks ESPN setelah Coventry City gagal mencetak gol maupun mendapatkan poin dari empat pertandingan pertama. Kombinasi nol poin dan nol gol membuat persoalan mereka terlihat lebih mendesak dibanding klub lain yang sama-sama mengawali musim secara buruk.
Coventry sebenarnya kembali ke Liga Inggris setelah penantian panjang dan Lampard sebelumnya berhasil membawa tim itu mendapatkan promosi, sehingga konteks tersebut tidak boleh diabaikan. Namun, tuntutan kompetisi kasta tertinggi membuat periode adaptasi menjadi jauh lebih singkat ketika kekalahan terus menumpuk.
Kekalahan kandang 0-1 dari sesama tim promosi Hull City menjadi salah satu hasil paling menyakitkan karena Coventry sebenarnya menyelesaikan musim Championship sebelumnya 22 poin di atas Hull. Mereka menciptakan peluang, tetapi penampilan Konstantinos Tzolakis di gawang Hull membuat Coventry kembali gagal mencetak gol.
Situasi Lampard sekaligus menggambarkan betapa cepat tekanan terhadap pelatih Liga Inggris dapat berubah, karena keberhasilan mendapatkan promosi tidak memberikan perlindungan tanpa batas. Coventry membutuhkan gol dan kemenangan pertama sesegera mungkin agar pembicaraan mengenai masa depan pelatihnya tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Empat Laga Sudah Cukup Membuat Kursi Pelatih Memanas
Menariknya, daftar ini memperlihatkan bahwa tekanan seorang pelatih tidak selalu berjalan sejajar dengan posisi klasemen, karena kondisi internal klub memainkan peranan besar. Glasner misalnya mempunyai angka performa cukup baik, sementara Alonso berada di papan atas tetapi tetap menghadapi ekspektasi tinggi karena bekerja untuk Chelsea.
Jakirovic berada di sisi sebaliknya setelah membawa Hull tampil mengejutkan dan memenangkan penghargaan pelatih terbaik Agustus, padahal klubnya sebelumnya diperkirakan menghadapi perjuangan degradasi. Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana ekspektasi awal dapat menentukan tingkat tekanan terhadap seorang pelatih Liga Inggris.
Mikel Arteta memperoleh keamanan melalui kesabaran bertahun-tahun dan keberhasilan membangun Arsenal menjadi juara, sedangkan Carrick, Alonso, Iraola, dan Maresca masih berada dalam fase awal proyek masing-masing. Namun, sejarah Liga Inggris menunjukkan bahwa periode adaptasi tidak selalu diberikan dalam durasi panjang.
Frank Lampard dan Roberto De Zerbi kini menjadi dua nama yang paling menarik dipantau apabila hasil tidak segera berubah, terutama karena Coventry belum mendapatkan poin sementara Tottenham masih mencari gol liga pertamanya. Pierre Sage dan Alvaro Arbeloa juga membutuhkan respons setelah masalah awal mulai terlihat jelas.
Musim masih sangat panjang sehingga empat pertandingan tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah proyek akan berhasil atau gagal, dan ranking ESPN tersebut merupakan gambaran tekanan pada pertengahan September. Namun, di Liga Inggris modern, beberapa pekan buruk saja terkadang sudah cukup mengubah stabilitas sebuah kursi pelatih.
Itulah kenyataan baru bagi pelatih Liga Inggris ketika klub mempunyai direktur olahraga, struktur perekrutan, analisis data, serta rencana permainan yang tidak lagi bergantung kepada satu individu. Pelatih tetap menjadi wajah utama hasil di lapangan, tetapi pada saat bersamaan semakin mudah diganti ketika target organisasi tidak tercapai.



