Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Manchester City Habiskan Lebih dari Rp7 Triliun, tetapi Bayang-Bayang Rodri Belum Hilang

Manchester City Habiskan Lebih dari Rp7 Triliun, tetapi Bayang-Bayang Rodri Belum Hilang

  • September 4, 2026

Manchester City melakukan operasi besar-besaran untuk membangun lini tengah baru setelah era Pep Guardiola berakhir dan Rodri memutuskan bergabung dengan Barcelona. Namun, uang ratusan juta poundsterling ternyata belum otomatis menghadirkan seorang pemain yang benar-benar mampu menggantikan peran gelandang Spanyol tersebut.

Enzo Maresca kini mempunyai Enzo Fernandez, Elliot Anderson, dan Ayyoub Bouaddi sebagai fondasi utama proyek barunya di Etihad Stadium. Ketiganya membawa kemampuan berbeda, tetapi justru perbedaan karakter itulah yang mengungkap strategi Manchester City setelah kehilangan pemain terpentingnya.

Dilansir Opta Analyst, pembangunan kembali tersebut memang tidak dirancang untuk mencari salinan Rodri karena tugas semacam itu hampir mustahil dilakukan. Manchester City memilih membentuk lini tengah berbeda dengan membagi fungsi bertahan, progresi bola, kreativitas, dan pergerakan menyerang kepada beberapa pemain.

Perubahan besar terjadi setelah Rodri resmi meninggalkan Etihad untuk Barcelona pada Agustus 2026, mengakhiri tujuh musim yang menghasilkan 298 penampilan dan 14 trofi utama. Manchester City kehilangan pemain yang selama bertahun-tahun menjadi pusat hampir seluruh mekanisme permainan mereka.

Rodri bukan hanya gelandang bertahan yang memenangkan duel dan merebut bola, karena pengaruh terbesarnya muncul ketika Manchester City mengendalikan pertandingan. Ia menentukan arah sirkulasi, mengatur tempo, memberikan keseimbangan, sekaligus menjadi penghubung antara lini belakang dengan pemain-pemain kreatif di depan.

Pentingnya Rodri pernah terlihat sangat jelas ketika cedera ACL membuatnya melewatkan sebagian besar musim 2024/25 dan performa Manchester City menurun tajam. Setelah empat kali berturut-turut menjadi juara Liga Inggris, mereka bahkan gagal finis dalam dua besar.

Karena itu, kepergian Rodri bukan sekadar kehilangan satu posisi dalam starting XI, melainkan hilangnya pusat kendali sebuah sistem. Maresca harus menemukan mekanisme baru ketika pemain yang biasa menyederhanakan pekerjaan seluruh tim sudah tidak lagi berdiri di depan empat bek.

Manchester City Tidak Mencari Rodri Baru

Manchester City menjawab persoalan tersebut dengan investasi luar biasa besar di lini tengah, dimulai dari perekrutan Elliot Anderson dari Nottingham Forest. Pemain timnas Inggris berusia 23 tahun itu mendapatkan kontrak lima tahun setelah berkembang menjadi salah satu gelandang muda paling menonjol di Liga Inggris.

Berikutnya datang Ayyoub Bouaddi dari Lille, gelandang berusia 18 tahun yang sudah mengumpulkan 96 pertandingan bersama klub Prancis tersebut. Manchester City mengikat pemain internasional Maroko itu sampai 2031 dan memberinya nomor punggung 32 untuk memulai perjalanan di Etihad.

Operasi terbesar akhirnya terjadi pada deadline day ketika Enzo Fernandez meninggalkan Chelsea dan bergabung dengan Manchester City. Reuters melaporkan transfer tersebut bernilai £125 juta, menyamai rekor transfer Inggris, sementara gelandang Argentina itu menandatangani kontrak lima tahun.

Nilai tersebut menjadi semakin mencolok karena sebelumnya Manchester City juga mengeluarkan sekitar £116 juta untuk mendapatkan Anderson. Total belanja mereka sepanjang musim panas mencapai sekitar £457,5 juta setelah Maresca menerima mandat untuk meremajakan skuad warisan Guardiola.

Namun, besarnya investasi tidak berarti Manchester City membeli tiga pemain untuk menjalankan tugas serupa, karena karakter mereka sangat berbeda. Anderson merupakan perebut bola agresif, Fernandez unggul melalui progresi dan kreativitas, sedangkan Bouaddi paling mendekati profil pengatur permainan dari area dalam.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa Maresca mungkin tidak berniat menggantungkan permainan kepada satu gelandang sentral seperti Guardiola bersama Rodri. Sebaliknya, Manchester City dapat membagi pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan satu pemain elite kepada dua atau bahkan tiga gelandang sekaligus.

Pendekatan itu masuk akal karena mencari pengganti Rodri secara langsung hampir mustahil, terlebih pemain Spanyol tersebut memiliki kombinasi atribut sangat langka. Musim lalu, ia mencatat rata-rata 86,7 umpan sukses per 90 menit, tertinggi di Liga Inggris menurut data Opta.

Manchester City Punya Mesin Perebut Bola Bernama Elliot Anderson

Jika Manchester City memerlukan pemain yang mampu membersihkan kekacauan di lini tengah, Anderson menawarkan kualitas paling jelas dibandingkan dua rekrutan lainnya. Opta mencatat ia memenangkan kembali penguasaan bola sebanyak 306 kali musim lalu, sedikitnya 94 lebih banyak daripada pemain Liga Inggris lainnya.

Statistik tersebut menjelaskan mengapa Anderson menjadi kandidat paling realistis untuk mengambil sebagian pekerjaan defensif Rodri di bawah Maresca. Ia memiliki energi, kemampuan melakukan tekel, mobilitas antarruang, dan keberanian menekan lawan yang sangat berguna ketika Manchester City kehilangan penguasaan.

Profil resmi klub juga menggambarkan Anderson sebagai gelandang box-to-box dengan tekel kuat dan kemampuan mengumpan kreatif yang sudah matang. Ia hanya melewatkan satu pertandingan Liga Inggris selama dua musim terakhir bersama Nottingham Forest sebelum pindah ke Manchester.

Maresca bahkan sudah menunjukkan kemungkinan menggunakan Anderson sebagai pemain terdalam dalam beberapa struktur lini tengah berbeda pada awal musim. City dapat membentuk dua gelandang bertahan dalam struktur kotak atau memainkan Anderson sendiri di dasar ketika menggunakan pola menyerupai berlian.

Namun, meminta Anderson menjadi Rodri baru justru berpotensi menghilangkan kekuatan terbaiknya karena keduanya bukan pemain dengan karakter identik. Anderson lebih dinamis ketika mengejar bola dan membawa permainan maju, sementara Rodri mengendalikan pertandingan melalui ketenangan, posisi, dan distribusi.

Itulah sebabnya keberadaan Fernandez menjadi begitu penting karena Manchester City membutuhkan seseorang yang dapat mengambil sebagian pekerjaan progresi setelah kehilangan Rodri. Pemain Argentina tersebut mungkin bukan gelandang bertahan alami, tetapi statistik distribusinya menunjukkan kemampuan luar biasa untuk memecah garis lawan.

Enzo Fernandez Bisa Menjadi Otak Baru Manchester City

Musim terakhir Enzo Fernandez bersama Chelsea memang berakhir mengecewakan secara kolektif, tetapi performa individunya menyimpan banyak indikator menarik. Ia menghasilkan 10 gol dan empat assist di Liga Inggris, sementara angka expected assists mencapai 7,3 atau terbaik keempat di kompetisi.

Untuk expected assists dari operan tanpa memasukkan crossing, Fernandez menghasilkan angka 6,0 dan hanya berada di belakang Bruno Fernandes serta Rayan Cherki. Data tersebut menunjukkan Manchester City membeli pemain yang mampu menciptakan peluang bahkan ketika produksi assist aktualnya terlihat biasa.

Kekuatan terbesarnya muncul ketika mematahkan garis pertahanan melalui umpan progresif, sebuah kualitas penting menghadapi lawan yang bertahan rendah. Fernandez membukukan 19 line-breaking passes yang menghasilkan peluang dan 49 operan pemecah garis menuju area penalti pada musim lalu.

Ia juga mencatat 54 umpan yang menembus garis pertahanan terakhir dan menghasilkan 141 progressive passes, menempatkannya di antara pemain terbaik Liga Inggris. Menariknya, salah satu pemain yang berada di atas Fernandez untuk operan progresif kini menjadi rekan setimnya sendiri, Anderson.

Manchester City dengan demikian memiliki dua pemain yang bisa menggerakkan bola ke depan melalui mekanisme berbeda, sehingga kehilangan Rodri tidak harus ditangani seorang pemain tunggal. Anderson dapat memenangkan penguasaan, sedangkan Fernandez mengambil tanggung jawab membawa serangan menuju wilayah yang lebih berbahaya.

Fernandez bahkan menjadi pemain Liga Inggris dengan secondary assist terbanyak musim lalu, yakni enam, menunjukkan pengaruhnya sering muncul sebelum operan terakhir. Karakter tersebut cocok dengan tim yang memiliki kreator seperti Cherki dan penyelesai akhir kelas dunia seperti Erling Haaland.

Kemampuan tanpa bola gelandang Argentina itu juga tidak boleh diabaikan karena total high-intensity run ketika tim menguasai bola mencapai jarak 20 kilometer. Ia melakukan 376 lari memasuki sepertiga akhir serta 116 pergerakan untuk menawarkan opsi menerima crossing.

Data itu memberikan gambaran bagaimana Maresca dapat menggunakan Fernandez berbeda dibandingkan perannya bersama Chelsea, terutama jika Anderson menjaga keseimbangan di belakang. Fernandez bisa memulai lebih dalam kemudian menyerang ruang terlambat, menciptakan situasi yang sulit dipantau gelandang bertahan lawan.

Kehadiran Cherki semakin menarik karena keduanya mempunyai cara berbeda mengancam pertahanan, dengan pemain Prancis lebih menyukai bola menuju kaki. Fernandez justru aktif bergerak melewati bola, sehingga Manchester City mempunyai kreativitas statis dan dinamis dalam struktur serangan yang sama.

Manchester City Menaruh Masa Depan pada Ayyoub Bouaddi

Bouaddi menawarkan profil berbeda lagi karena secara gaya permainan dirinya paling mendekati tipe pengatur tempo yang hilang setelah Rodri pergi. Namun, usianya baru 18 tahun membuat Manchester City harus berhati-hati sebelum memberinya tanggung jawab sebesar pemain terbaik dunia pada posisinya.

Meski sangat muda, pengalamannya sudah luar biasa karena ia menembus tim utama Lille hanya beberapa hari setelah berulang tahun ke-16. Sebelum pindah ke Etihad, Bouaddi telah mencatat 96 pertandingan bersama klub Prancis dan delapan caps internasional bersama Maroko.

Opta menilai Bouaddi sebagai pemain baru yang secara stylistic paling mendekati Rodri, tetapi kualitas tersebut kemungkinan membutuhkan waktu untuk berkembang. Manchester City membayar lebih dari £80 juta untuk potensi besar, bukan jaminan bahwa ia langsung menguasai Liga Inggris.

Situasi itu sebenarnya membuat pembelian Bouaddi sangat strategis karena Maresca tidak harus membebani pemain muda tersebut sejak pertandingan pertama. Anderson dapat menjalankan pekerjaan defensif, Fernandez mengatur progresi, sementara Bouaddi mendapatkan waktu mengembangkan pemahaman posisi dan ritme sepak bola Inggris.

Jika perkembangan berlangsung sesuai harapan, Bouaddi bisa menjadi pusat permainan Manchester City dalam beberapa tahun ke depan ketika pengalamannya bertambah. Namun untuk musim 2026/27, kemungkinan besar tugas Rodri masih akan didistribusikan kepada beberapa pemain sesuai karakter pertandingan.

Di sinilah keberhasilan proyek Maresca akan ditentukan, bukan oleh kemampuan menemukan “Rodri berikutnya”, melainkan membuat kombinasi baru tersebut menghasilkan keseimbangan serupa. Manchester City membutuhkan Anderson, Fernandez, dan Bouaddi saling menutupi kelemahan tanpa mengurangi kualitas terbaik masing-masing pemain.

Biaya transfer yang sangat besar otomatis membuat waktu adaptasi menjadi masalah karena publik tidak akan memberikan kesabaran panjang kepada proyek bernilai ratusan juta poundsterling. Setelah finis kedua musim lalu, Manchester City diharapkan kembali bersaing langsung memperebutkan gelar Liga Inggris.

Tekanan terbesar mungkin berada pada Fernandez setelah City mengeluarkan £125 juta untuk membawanya dari Chelsea, terlebih ia pernah dibeli dengan harga besar sebelumnya. Namun keberhasilan Declan Rice bersama Arsenal menunjukkan biaya transfer cepat terlupakan apabila performa pemain mampu mengangkat level sebuah tim.

Manchester City karena itu memasuki era yang benar-benar baru, bukan hanya karena Guardiola dan Rodri sudah pergi, tetapi karena pusat kekuatan tim ikut berubah. Kendali yang dahulu terkonsentrasi pada satu gelandang kini kemungkinan akan tersebar melalui beberapa pemain dengan keahlian berbeda.

Maresca tidak memiliki Rodri, tetapi ia mempunyai perebut bola terbaik Liga Inggris dalam Anderson, pengumpan pemecah garis elite dalam Fernandez, serta prospek pengatur tempo pada Bouaddi. Jika ketiga fungsi itu menyatu, Manchester City bahkan bisa menemukan identitas yang lebih fleksibel daripada sebelumnya.

Risikonya tetap besar karena lini tengah baru membutuhkan hubungan antarpemain, pemahaman ruang, dan koordinasi yang tidak dapat dibeli melalui harga transfer. Kesalahan kecil di area sentral bisa menghancurkan struktur pressing sekaligus membuka ruang transisi yang selama era Guardiola sering dilindungi Rodri.

Namun Manchester City tampaknya memahami persoalan tersebut sejak awal dan memilih solusi kolektif dibandingkan mengejar replika pemain yang mungkin tidak tersedia. Mereka tidak benar-benar menggantikan Rodri karena mungkin memang tidak ada pemain yang mampu menggantikannya secara utuh.

Lebih dari £300 juta atau setara dengan Rp7,1 triliun untuk Anderson, Fernandez, dan Bouaddi pada akhirnya bukan harga membeli seorang penerus Rodri, melainkan investasi membangun sistem baru. Keberhasilan Manchester City akan ditentukan oleh kemampuan Maresca mengubah tiga karakter berbeda menjadi satu lini tengah yang kembali dominan.

Preview Arsenal vs Chelsea

Preview Arsenal vs Chelsea: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

04 Sep 2026

Kenalan dengan John Halls, Eks Arsenal yang Enam Hari Setelah Pensiun Jadi Model Armani

04 Sep 2026

Gelandang Liga Inggris Makin Mahal, tetapi Kualitasnya Justru Dipertanyakan: Ada Apa?

04 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.