John Halls pernah berada di ruang ganti yang sama dengan Thierry Henry, Dennis Bergkamp, dan Patrick Vieira ketika Arsenal membangun salah satu generasi terbaiknya. Namun jalan hidup lulusan Hale End itu justru membawanya jauh dari stadion, menuju catwalk Giorgio Armani dan industri mode dunia.
Kisah John Halls menarik karena perubahan kariernya bukan sekadar perpindahan profesi, melainkan perpindahan antara dua industri yang sama-sama kejam terhadap kegagalan. Dari sepak bola profesional hingga pemotretan fesyen, ia berkali-kali harus membuktikan diri tanpa pernah mendapat jaminan keamanan karier.
Dalam wawancara terbaru dengan GOAL yang dibuat bersama BritishGambler.co.uk, John Halls mengungkap bahwa ia hanya membutuhkan enam hari setelah pensiun sebelum resmi menjadi model profesional. Cedera Achilles menutup karier sepak bolanya pada usia 30 tahun, tetapi sekaligus membuka pintu menuju kehidupan baru.
John Halls dan Jalan Terjal dari Akademi Arsenal
Sebelum menjadi model, John Halls tumbuh di akademi Arsenal dan menembus tim senior ketika klub London utara tersebut dipenuhi pemain kelas dunia. Ia membuat tiga penampilan senior untuk The Gunners, seluruhnya di League Cup, sebelum menjalani berbagai masa peminjaman.
Data 11v11 mencatat tiga pertandingan Arsenal itu berlangsung menghadapi Manchester United, Grimsby Town, dan Blackburn Rovers pada 2001. John Halls juga memperkuat Inggris di level usia muda, termasuk enam penampilan bersama tim U-20, sehingga reputasinya sebagai prospek memang cukup serius.
Perjalanan berikutnya membawa John Halls ke Colchester United, klub Belgia Beveren, dan Stoke City, sebelum berlanjut bersama Reading. Ia kemudian membela Preston North End, Crystal Palace, Sheffield United, Brentford, Aldershot Town, serta Wycombe Wanderers di berbagai tingkat kompetisi Inggris.
Meski tidak berkembang menjadi bintang Arsenal, John Halls tetap sempat merasakan panggung tertinggi sepak bola Inggris bersama Reading. Planet Football mencatat satu-satunya penampilan Premier League miliknya datang menghadapi Bolton, setelah sebelumnya ia menikmati periode yang lebih stabil bersama Stoke City.
Pada akhirnya, cedera Achilles menjadi titik balik yang tidak bisa ditawar karena John Halls harus menerima bahwa tubuhnya tidak lagi mendukung karier profesional. Ia pensiun pada 2012 setelah memperkuat Wycombe, saat usianya 30 tahun dan masa depan belum memiliki bentuk pasti.
Dunia model sebenarnya bukan wilayah sepenuhnya asing bagi John Halls karena ia pernah bekerja sebagai model anak-anak sekitar usia delapan hingga 11 tahun. Ketika Arsenal merekrutnya, ia meminta kepada ibunya untuk berhenti dari modelling agar dapat memusatkan perhatian kepada sepak bola.
Masa kecil itu bahkan sempat membawanya muncul pada bagian awal sebuah video musik Kylie Minogue yang pengambilannya dilakukan di Camden. John Halls seharusnya menjalani adegan menari menjelang pagi, tetapi memilih pulang bersama ayahnya karena saat itu masih sangat muda.
Enam Hari yang Mengubah Hidup John Halls
Ketika cedera mulai datang menjelang akhir usia 20-an, gagasan kembali menjadi model perlahan muncul sebagai rencana cadangan. Saudara perempuannya mendorong John Halls mendatangi delapan agensi besar di London, tetapi tujuh langsung menolak dan hanya satu membuka kemungkinan.
Agensi terakhir meminta John Halls kembali setelah kontrak sepak bolanya berakhir, sehingga saat itu tidak ada kepastian pekerjaan baru. Setelah Achilles memaksanya pensiun, ia sempat menangis dan menyadari hanya memiliki beberapa hari sebelum menerima pembayaran terakhir sebagai pesepak bola.
Perubahan nasib datang ketika Sarah Vickery menghampirinya secara kebetulan saat berjalan di pusat perbelanjaan Westfield dan menanyakan apakah dirinya seorang model. Vickery, yang kemudian tetap menjadi agennya, mengundang John Halls menjalani sesi foto percobaan di Shoreditch pada hari berikutnya.
Hasil sesi tersebut ternyata cukup meyakinkan agensi untuk mengambil keputusan hampir seketika dan menawarinya kontrak pada hari berikutnya. Enam hari setelah meninggalkan sepak bola, John Halls sudah berstatus model profesional dan memulai karier kedua yang sebelumnya hanya dianggap rencana darurat.
Transisi itu terlihat sederhana dari luar, tetapi pengalaman John Halls menunjukkan sepak bola memberinya modal psikologis penting untuk bertahan di depan kamera. Kepercayaan diri yang dibangun sebagai atlet membuatnya tidak mudah gentar menghadapi fotografer ternama, kru produksi, ataupun penilaian banyak orang.
Berada di depan 20 sampai 50 orang ketika pemotretan terasa lebih ringan setelah bertahun-tahun menghadapi puluhan ribu penonton di stadion. John Halls juga merasa kontrol tubuh dari olahraga membantunya memahami posisi pinggul, postur, sudut berdiri, dan gerakan kecil yang dibutuhkan model.
Meski begitu, dunia fesyen tetap menghadirkan pengalaman yang tidak pernah ia jumpai sebagai pemain, termasuk pemotretan dengan pakaian dalam atau celana renang sangat minim. Kondisi fisik yang selalu dijaga sebagai mantan atlet membantu John Halls mempertahankan kepercayaan diri ketika menghadapi situasi tersebut.
John Halls Menaklukkan Catwalk Giorgio Armani
Karier keduanya kemudian berkembang jauh melampaui ekspektasi karena John Halls berhasil bekerja untuk sejumlah rumah mode paling terkenal di dunia. Giorgio Armani dan Dolce & Gabbana menjadi bagian penting portofolionya, menempatkan mantan pemain Arsenal tersebut pada level tinggi industri model pria.
Catatan Models.com menunjukkan John Halls tampil dalam berbagai peragaan Giorgio Armani pada pertengahan dekade 2010-an dan masih tercantum dalam Fall/Winter 2026 Men’s Show. Fakta itu memperlihatkan daya tahan luar biasa, mengingat ia mengatakan hubungan profesionalnya dengan Armani telah berjalan sekitar 15 tahun.
Profil John Halls di Next Management London juga masih aktif, sementara Models.com mencatat jaringan representasinya mencakup berbagai pusat mode internasional. London, Milan, Paris, New York, Los Angeles, Copenhagen, Hamburg, Cape Town, dan Sydney termasuk kota yang tercantum dalam profil profesionalnya.
Salah satu cerita paling berkesan datang ketika John Halls mengikuti casting Armani di Milan dan melihat ratusan, bahkan mungkin ribuan pria, menunggu di luar gerbang. Mereka dapat menunggu dua hingga tiga jam sebelum gerbang dibuka dan perlombaan menuju antrean dimulai.
John Halls menggambarkan situasi itu seperti sprint sekitar 100 meter karena semua calon model ingin memperoleh posisi sedekat mungkin dengan bagian depan. Ia bahkan harus menggunakan siku untuk bergerak maju, sebuah gambaran kontras dengan citra glamor yang biasanya melekat pada dunia fashion.
Bagi John Halls, tampil untuk Armani kemudian menjadi padanan dunia mode dari mencapai level tertinggi sepak bola profesional. Membuka atau menutup fashion show dipandang sebagai posisi elite, sedangkan hubungan panjang dengan rumah mode tersebut membuatnya sekarang tidak perlu melewati casting serupa.
Ia juga melihat loyalitas Armani sebagai sesuatu yang langka karena industri fashion, seperti sepak bola, dapat berubah sangat cepat terhadap seseorang. Setelah bertahun-tahun bekerja bersama, John Halls menggambarkan lingkungan tersebut semakin menyerupai keluarga dibandingkan sekadar hubungan antara model dan klien.
Kehidupan Model Tak Selalu Seglamor Catwalk
Keberhasilan itu tidak menghapus sisi keras profesi model karena pola penghasilannya sangat berbeda dibandingkan pesepak bola profesional. Pemain tetap menerima gaji mingguan saat tidak dimainkan atau cedera, sedangkan model pada dasarnya hanya memperoleh pemasukan ketika berhasil mendapatkan pekerjaan.
John Halls menjelaskan jadwal seorang model sering baru diketahui sekitar dua atau tiga pekan sebelum pekerjaan berlangsung. Seseorang yang sedang sibuk bisa tiba-tiba memiliki kalender kosong, sehingga menurutnya model yang bekerja baik tetap hanya beberapa pekan dari situasi tanpa pekerjaan.
Struktur bayarannya juga sangat lebar, mulai dari e-commerce, lookbook, kampanye, editorial, runway, hingga iklan parfum. Halls menyebut pekerjaan e-commerce bisa menghasilkan sekitar 500 hingga 7.000 poundsterling, bergantung pada model, klien, negosiasi agen, dan kesepakatan yang dicapai.
Lookbook dan kampanye biasanya memungkinkan tarif lebih tinggi, sementara penggunaan materi selama 12 atau 18 bulan dapat memengaruhi nilai pembayaran. Jika materi kampanye kembali digunakan setelah periode yang disepakati, model dapat memperoleh pembayaran tambahan sesuai perjanjian dengan klien.
Runway justru tidak selalu menghasilkan banyak uang karena model muda harus menanggung perjalanan, hotel, dan berbagai kebutuhan selama casting. Menurut Halls, sebagian model sudah tergolong beruntung jika pulang dari pekan mode Milan tanpa kerugian, meskipun beberapa nama eksklusif bisa memperoleh ribuan pound.
Editorial bahkan dapat dikerjakan tanpa bayaran demi mendapatkan publikasi dan eksposur, sedangkan kampanye parfum berada di ujung spektrum yang berlawanan. Halls menyebut fragrance sebagai pekerjaan paling menjanjikan secara finansial, meski ia sendiri mengatakan masih menunggu kesempatan besar tersebut.
Di balik perjalanan global itu, John Halls menemukan sisi emosional yang jauh berbeda dibandingkan kehidupan bersama sebuah tim sepak bola. Sebagai pemain ia bepergian bersama puluhan rekan dan staf, tetapi seorang model kerap harus menaiki pesawat sendirian menuju negara yang belum dikenal.
Pada fase awal, Halls dapat ditempatkan sekitar enam pekan di Paris lalu enam pekan di New York untuk menemui klien dan mengikuti casting. Rutinitas itu membuatnya merasa sangat kesepian karena harus membangun jaringan baru tanpa dukungan kelompok yang dahulu selalu tersedia di sepak bola.
Sekitar tiga tahun setelah memasuki modelling, tekanan tersebut akhirnya terasa seperti menghantam tembok dan memaksanya mengakui kondisi emosional yang memburuk. John Halls kemudian menemui psikiater untuk membicarakan kesepian dan depresi yang muncul di balik perjalanan karier internasionalnya.
Pengalaman itu memperlihatkan mengapa kisah John Halls lebih dari sekadar cerita pesepak bola yang kemudian berpose untuk merek mewah. Kesuksesan di catwalk menyembunyikan penolakan, cedera, ketidakpastian pekerjaan, kesepian, serta kebutuhan membangun kembali identitas setelah karier pertamanya berakhir.
Ada benang merah kuat antara Arsenal dan karier modelnya, yakni tuntutan untuk percaya diri tanpa jaminan kesempatan berikutnya akan datang. Halls pernah bersaing dengan talenta elite di Hale End dan London Colney, kemudian menghadapi persaingan serupa melalui casting di kota-kota mode dunia.
Karier sepak bolanya mungkin tidak menghasilkan status legenda seperti Henry, Bergkamp, atau Vieira, tetapi pengalaman itu memberinya fondasi yang tidak hilang. John Halls membawa disiplin atlet, kesadaran tubuh, keberanian tampil, dan mental kompetitif menuju profesi yang secara permukaan tampak sama sekali berbeda.
Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa pensiun dini tidak selalu berarti akhir kehidupan profesional seorang atlet ketika keterampilan lama bisa dialihkan. Dalam kasus John Halls, cedera yang memaksanya meninggalkan sepak bola justru mengantarnya pada karier kedua yang bertahan lebih lama.
Kini pada usia 44 tahun, Halls masih memiliki jejak profesional aktif dalam industri mode dan tetap terhubung dengan nama besar yang membentuk karier keduanya. Perjalanannya dari akademi Arsenal hingga Giorgio Armani menjadi contoh langka tentang bagaimana identitas profesional dapat dibangun ulang sepenuhnya.
Dari tiga penampilan bersama Arsenal hingga panggung mode Milan, perjalanan John Halls akhirnya berbicara tentang kemampuan beradaptasi ketika rencana hidup berubah mendadak. Ia tidak menjadi bintang Premier League, tetapi menemukan panggung lain tempat pengalaman sebagai pesepak bola tetap memiliki nilai besar.



