Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Tottenham Belanja Rp7,7 Triliun tapi Tetap Dihajar, Apa yang Salah?

Tottenham Belanja Rp7,7 Triliun tapi Tetap Dihajar, Apa yang Salah?

  • Agustus 27, 2026

Tottenham memasuki musim 2026/27 dengan ambisi yang hampir mustahil disembunyikan setelah membelanjakan lebih dari £300 juta untuk merombak skuad. Namun pertandingan pertama di Liga Inggris justru berakhir dengan kekalahan 0-3 dari Brentford, hasil yang langsung menghidupkan kembali pertanyaan lama tentang mentalitas dan struktur tim.

Reuters melaporkan Tottenham dua musim beruntun finis di posisi ke-17 dan baru memastikan keselamatan pada hari terakhir musim lalu. Belanja besar musim panas semestinya menjadi titik balik, tetapi performa di Gtech Community Stadium memperlihatkan bahwa uang belum otomatis menghapus masalah yang menumpuk.

Brentford tidak sekadar menang karena memanfaatkan kesalahan lawan, melainkan mengungguli Tottenham dalam duel, organisasi, dan keberanian memainkan tempo sendiri. Keane Lewis-Potter, Vitaly Janelt, dan Michael Kayode mencetak gol dalam pertandingan yang bahkan bisa berakhir dengan margin lebih besar.

Roberto De Zerbi menurunkan empat rekrutan baru sejak awal, yakni Sandro Tonali, Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, dan Andy Robertson. Mateus Fernandes, gelandang senilai £85 juta, kemudian masuk setelah jeda tetapi tidak mampu mengubah arah pertandingan yang sudah dikuasai Brentford.

Masalah paling mencolok muncul sebelum jeda karena Tottenham tidak menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran pada babak pertama. Untuk skuad yang dibangun dengan biaya ratusan juta pound, ketidakmampuan menciptakan ancaman bersih menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kualitas individu.

De Zerbi mengakui timnya kalah dalam duel dan tidak bertarung dengan cara yang dibutuhkan untuk pertandingan semacam itu. Ia juga menyinggung kondisi fisik sejumlah pemain yang datang terlambat setelah Piala Dunia, tetapi penjelasan tersebut hanya menjawab sebagian masalah.

Pelatih asal Italia tersebut sebenarnya datang sebagai penyelamat dan mampu menjaga Tottenham tetap bertahan setelah hanya menjalani tujuh pertandingan pada akhir musim lalu. Karena itu, dukungan besar di bursa transfer sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap kemampuannya mengubah karakter tim.

Tottenham Belanja Besar, tetapi Timnya Belum Terbentuk

Tottenham memang kehilangan kapten baru Micky van de Ven dan Pedro Porro, sedangkan Xavi Simons, Mohammed Kudus, serta Dejan Kulusevski masih menjadi absensi jangka panjang. Namun keruntuhan di Brentford terlalu menyeluruh untuk dijelaskan hanya melalui daftar pemain yang tidak tersedia.

Archie Gray yang baru berusia 20 tahun bahkan mengenakan ban kapten dan menjadi pemain termuda yang menjalankan peran tersebut untuk Tottenham. Situasi itu secara simbolis memperlihatkan masalah kepemimpinan, terutama ketika tim membutuhkan sosok yang mampu menghentikan momentum buruk di lapangan.

Setelah pertandingan, De Zerbi mengatakan Tottenham bisa berkembang cepat, tetapi terlebih dahulu harus memahami mengapa mereka bermain begitu buruk. Kalimat tersebut penting karena proyek mahal ini menghadapi persoalan dasar: banyak pemain bagus belum tentu langsung berubah menjadi tim yang bagus.

Perbedaan dengan Brentford terlihat sangat tajam karena klub London Barat itu membangun tim melalui kontinuitas dan rekrutmen yang lebih selektif. Mereka hanya memecahkan rekor klub untuk Mamadou Sangare seharga £39 juta, lalu mempertahankan sebagian besar tulang punggung musim sebelumnya.

Sangare langsung memberi dampak dengan menciptakan gol kedua untuk Janelt, sementara Igor Thiago, Dango Ouattara, Kevin Schade, dan Michael Kayode tetap menyediakan fondasi yang sudah memahami sistem. Tottenham sebaliknya sedang mencoba memasang banyak komponen baru pada mesin yang belum stabil.

Brentford juga menambah bek Jannik Schuster dan winger Jaidon Anthony tanpa melakukan revolusi besar terhadap susunan utama mereka. Pendekatan tersebut memberi Keith Andrews skuad yang sudah saling mengenal, bukan kelompok pemain yang masih membutuhkan waktu memahami kebiasaan satu sama lain.

Andrews sendiri menggantikan Thomas Frank setelah mantan pelatih Brentford tersebut menjalani periode yang gagal bersama Tottenham pada 2025. Seusai kemenangan, Andrews menekankan bahwa kohesi tim sudah terasa selama beberapa pekan dan membuat Brentford memasuki musim dalam kondisi sangat percaya diri.

Kontras itu menjelaskan mengapa pertandingan ini lebih besar daripada satu kekalahan pembuka musim bagi Tottenham. Brentford menunjukkan bahwa kohesi, pemahaman ruang, dan kontinuitas dapat mengalahkan skuad jauh lebih mahal apabila proses integrasinya belum mencapai tahap yang dibutuhkan.

Secara taktik, permainan De Zerbi membutuhkan struktur posisi yang sangat presisi ketika membangun serangan dari belakang dan keberanian mengambil risiko melalui umpan progresif. Sistem seperti itu sulit berjalan apabila jarak antarpemain belum konsisten, timing pergerakan terlambat, dan kondisi fisik belum seragam.

Tonali memberi Tottenham kualitas distribusi dan agresivitas di lini tengah, tetapi seorang gelandang elite tetap membutuhkan hubungan otomatis dengan bek serta pemain di depannya. Ketika koneksi tersebut belum terbentuk, penguasaan bola justru mudah menjadi steril dan transisi lawan terasa jauh lebih berbahaya.

Mateus Fernandes juga datang dengan ekspektasi luar biasa setelah biaya transfer £85 juta, tetapi label harga tidak mempercepat proses adaptasi terhadap tuntutan sistem baru. Tottenham harus menentukan peran terbaiknya tanpa mengorbankan keseimbangan antara kreativitas, perlindungan pertahanan, dan intensitas pressing.

Karena itu, persoalan Tottenham bukan kekurangan bakat melainkan ketidakjelasan bagaimana semua bakat tersebut saling melengkapi. De Zerbi memiliki banyak pemain dengan kemampuan teknis tinggi, tetapi pertandingan melawan Brentford menunjukkan skuad tersebut belum memiliki bahasa permainan yang benar-benar sama.

Penyakit Lama Tottenham Bukan Cuma Soal Cedera

Masalah duel yang disorot De Zerbi juga tidak boleh dianggap sebagai statistik kecil karena Premier League sering ditentukan oleh perebutan bola kedua dan benturan fisik. Tim dengan struktur bagus tetap bisa kehilangan kontrol apabila terlalu banyak duel individual berakhir untuk lawan.

Kekalahan 0-3 memperlihatkan Tottenham kalah bukan hanya secara taktik tetapi juga dalam intensitas, sesuatu yang lebih mengkhawatirkan setelah investasi sangat besar. Ketika pemain baru belum memahami mekanisme tim, energi dan agresivitas seharusnya menjadi dasar paling sederhana untuk menjaga pertandingan tetap kompetitif.

Di sinilah rekrutmen Savinho menambah dimensi menarik karena Tottenham kembali mengeluarkan dana besar untuk pemain ofensif yang mampu mengubah pertandingan secara individual. Nilai transfer dari Manchester City diperkirakan sekitar £75 juta dengan tambahan bonus yang dapat mencapai £10 juta.

Kedatangan Savinho membuat belanja Tottenham berpotensi mencapai sekitar £322 juta atau setara dengan Rp7,7 triliun jika seluruh bonus diperhitungkan, angka yang semakin meningkatkan tekanan kepada De Zerbi. Pemain Brasil itu menawarkan kecepatan, dribel, dan kreativitas sayap yang memang sangat kurang terlihat ketika menghadapi Brentford.

Savinho tiba setelah menjalani 84 pertandingan bersama Manchester City dengan tujuh gol, sementara sebelumnya mencuri perhatian ketika membantu Girona finis ketiga di LaLiga. Tottenham berharap kemampuan membawa bola dan menyerang satu lawan satu dapat memberi dimensi baru yang selama ini kurang konsisten.

Namun Savinho tidak dapat sendirian memperbaiki jarak antarlini, duel yang kalah, atau lemahnya respons setelah kehilangan bola. Tottenham membutuhkan winger berkualitas, tetapi menambahkan kreativitas di depan tanpa membenahi fondasi kolektif berisiko membuat skuad semakin mahal tanpa menjadi lebih seimbang.

Situasi semakin menarik setelah The Guardian melaporkan Manchester City menyepakati kepindahan Omar Marmoush ke Tottenham pada 26 Agustus melalui pinjaman dengan kewajiban membeli sekitar £50 juta. Penyerang Mesir tersebut menambah kecepatan dan ancaman gol sekaligus memperluas pilihan De Zerbi.

Marmoush dan Savinho dapat mengubah wajah serangan Tottenham karena keduanya nyaman berlari ke ruang dan menyerang pertahanan yang belum siap. Mereka juga memberi De Zerbi kemampuan memainkan sepak bola lebih vertikal ketika skema penguasaan bola menghadapi blok lawan yang rapat.

Tetapi dua transfer tersebut kembali membawa pertanyaan sama: apakah Tottenham sedang membeli solusi untuk masalah yang tepat. Kekalahan dari Brentford tidak terutama lahir karena kurangnya nama besar di lini depan, melainkan karena tim gagal bertahan, bertarung, dan bekerja sebagai satu unit.

Savinho dan Marmoush Bukan Obat untuk Semua Masalah Tottenham

De Zerbi kemudian memperbarui kondisi skuad dengan memastikan Van de Ven dan Porro kembali tersedia, sementara James Maddison mengalami masalah ringan pada bahu. Perkembangan itu membuat alasan mengenai krisis personel semakin sulit digunakan apabila performa kolektif Tottenham tidak segera membaik.

Pelatih berusia 47 tahun tersebut kini menekankan perlunya membangun mentalitas pemenang dalam setiap kompetisi, termasuk ketika menghadapi Charlton Athletic di Piala Liga. Menurutnya, perubahan Tottenham harus melibatkan pemain, staf, dan kultur klub, bukan hanya kualitas individu yang didatangkan.

Pesannya relevan karena Tottenham dalam dua musim terakhir terbiasa berada dalam situasi krisis, sehingga kebiasaan kompetitif tidak dapat dibeli dalam satu jendela transfer. Dua kali finis ke-17 meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada persoalan siapa yang bermain sebagai winger atau gelandang.

Pergantian wajah skuad bisa terjadi dalam beberapa pekan, tetapi perubahan budaya membutuhkan kemenangan berulang, kepemimpinan, dan standar latihan yang konsisten. Tottenham harus membangun kembali keyakinan bahwa satu gol kebobolan atau periode buruk tidak otomatis berubah menjadi keruntuhan seperti yang terlihat di Brentford.

Di sisi lain, tekanan terhadap De Zerbi juga harus dibaca secara proporsional karena banyak pemain baru baru bekerja bersama dalam waktu singkat. Sistem yang kompleks membutuhkan repetisi, sedangkan Piala Dunia membuat periode persiapan sebagian pemain lebih pendek dibandingkan pramusim normal.

Justru karena itu, ukuran kemajuan Tottenham pada beberapa pekan berikutnya bukan hanya hasil akhir, melainkan apakah struktur permainan mulai terlihat lebih jelas. Perbaikan dalam duel, koordinasi pressing, perlindungan transisi, dan jumlah peluang berkualitas akan lebih berarti daripada sekadar penguasaan bola.

Brentford memberi pelajaran bahwa proyek sepak bola yang sehat tidak selalu dibangun melalui jumlah pengeluaran terbesar, tetapi melalui kesinambungan keputusan. Andrews mempertahankan kerangka tim yang finis kesembilan musim lalu dan menambahkan pemain ketika profilnya dianggap sesuai dengan kebutuhan.

Dengan Sangare sebagai pembelian terbesar, Brentford tetap berani menghadapi Tottenham yang mempunyai biaya skuad jauh lebih tinggi dan empat rekrutan baru sejak menit pertama. Mereka tidak terlihat inferior karena setiap pemain memahami posisi, tugas, dan respons yang harus dilakukan dalam berbagai fase pertandingan.

Tottenham tentu mempunyai plafon yang lebih tinggi karena sumber daya, fasilitas, dan kualitas pemain mereka jauh lebih besar dibandingkan Brentford. Namun keunggulan tersebut hanya berarti jika De Zerbi mampu mengubah daftar pemain mahal menjadi struktur yang saling memahami dan bereaksi secara kolektif.

Belanja lebih dari £300 juta membuat Tottenham hampir tidak memiliki ruang untuk bersembunyi di balik narasi pembangunan jangka panjang tanpa perkembangan nyata. Pendukung tidak menuntut gelar seketika, tetapi setelah dua musim finis ke-17 mereka berhak mengharapkan tanda bahwa arah tim sudah berubah.

Kekalahan pembuka memang tidak menentukan seluruh musim, terlebih Savinho dan Marmoush menambah kualitas yang belum tersedia ketika Tottenham dihajar Brentford. Namun pertandingan tersebut memberikan peringatan tepat waktu bahwa masalah lama tidak hilang hanya karena klub mengganti pemain dan mengeluarkan uang besar.

Tottenham sekarang memiliki pekerjaan yang lebih sulit daripada memenangkan perlombaan transfer, yakni membuat pemain baru memahami identitas, tanggung jawab, dan standar kompetitif yang sama. Jika bagian itu berhasil, £300 juta dapat menjadi fondasi kebangkitan; jika gagal, belanja tersebut hanya memperbesar skala kekecewaan.

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.