Pekan pertama Liga Inggris 2026/27 belum cukup untuk menentukan arah satu musim, tetapi sejumlah pemain langsung mengirim sinyal bahwa cerita mereka bisa berubah. Setelah melewati cedera, penurunan performa, atau musim mengecewakan, enam nama mulai menunjukkan tanda kebangkitan yang sulit diabaikan.
Cole Palmer dan Martin Ødegaard menjadi dua nama terbesar dalam daftar pemain Liga Inggris yang membutuhkan musim pembuktian setelah kampanye sebelumnya tidak berjalan ideal. Anthony Elanga, Yoane Wissa, Thierno Barry, dan Josko Gvardiol juga membuka musim dengan respons yang membuat proyeksi mereka berubah.
Data pekan pertama memperlihatkan bahwa kebangkitan itu tidak hanya berupa satu gol atau satu momen spektakuler, tetapi juga perubahan fisik, peran, dan konteks permainan. Karena itu, enam pemain Liga Inggris ini layak dipantau bukan berdasarkan reputasi semata, melainkan tanda-tanda awal yang terukur.
Tentu saja, satu pertandingan masih terlalu dini untuk menghapus masalah sepanjang musim lalu, sehingga optimisme perlu ditempatkan secara proporsional. Namun ketika performa awal bertemu kondisi fisik membaik dan peran lebih sesuai, kemungkinan terjadinya musim kebangkitan menjadi jauh lebih masuk akal.
Palmer dan Odegaard, Dua Bintang Liga Inggris yang Kembali Menyala
Palmer membutuhkan hanya 31 detik untuk menciptakan assist pada laga pembuka Chelsea melawan Fulham, menyamai total assist Liga Inggris yang ia buat sepanjang musim sebelumnya. Umpan cepatnya diselesaikan João Pedro, sebelum Palmer kemudian mencetak gol yang menjadi penentu kemenangan Chelsea 3-2.
Laga tersebut menjadi penting karena Palmer menghabiskan musim lalu dengan masalah kebugaran dan cedera pangkal paha yang mengganggu ritmenya. Ia bahkan tidak masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia, sebuah kemunduran besar setelah dua musim pertamanya di Chelsea menghasilkan angka luar biasa.
Pada musim 2023/24 dan 2024/25, Palmer mencetak 37 gol serta menghasilkan 19 assist di Liga Inggris, sehingga terlibat langsung dalam 56 gol. Dalam periode itu, hanya Mohamed Salah dan Erling Haaland yang mencatat keterlibatan gol lebih banyak dibandingkan pemain Chelsea tersebut.
Tanda kebangkitannya melawan Fulham juga terlihat dari detail permainan karena Palmer mencatat lima tembakan, sembilan sentuhan di kotak penalti, memenangkan 10 duel, dan tujuh kali merebut kembali penguasaan. Jika kebugarannya bertahan, pemain Liga Inggris ini berpeluang kembali menjadi pusat serangan Chelsea.
Martin Ødegaard menghadapi persoalan berbeda karena kualitas tekniknya tidak pernah dipertanyakan, tetapi ketersediaannya menurun drastis ketika Arsenal menjadi juara musim lalu. Kapten asal Norwegia itu hanya memainkan sekitar 35 persen dari seluruh menit yang tersedia, sehingga perannya jauh lebih kecil dibandingkan musim terbaiknya.
Dalam dua musim penuh terakhir, Ødegaard hanya mencetak empat gol di Liga Inggris, angka yang terasa rendah untuk pemain dengan kebebasan kreatif sebesar dirinya. Bahkan pada musim juara Arsenal 2025/26, ia sulit disebut sebagai figur sentral karena cedera terus memotong kontinuitas permainan.
Sinyal perubahan muncul sejak Piala Dunia 2026 bersama Norwegia, lalu berlanjut ketika Arsenal membuka Liga Inggris dengan kemenangan 3-0 atas Coventry City. Ødegaard kembali menghidupkan segitiga kanan bersama Bukayo Saka dan Ben White, area yang pernah menjadi mesin utama progresi serangan Arsenal.
Golnya pada babak kedua membuat Ødegaard sudah mengoleksi dua gol di seluruh kompetisi musim ini, setelah sebelumnya juga mencetak gol di Community Shield. Untuk pemain Liga Inggris yang hanya membuat satu gol dalam 36 penampilan musim lalu, start tersebut memberikan pesan yang sangat berbeda.
Elanga dan Wissa Temukan Lagi Senjata Terbaiknya
Anthony Elanga mungkin menjadi contoh kebangkitan paling mudah dibaca karena musim debutnya bersama Newcastle hampir sepenuhnya kehilangan produktivitas yang ia miliki di Nottingham Forest. Setelah dibeli sekitar 55 juta pound, ia gagal mencetak gol dalam 32 pertandingan Liga Inggris dan hanya 14 kali menjadi starter.
Kontrasnya sangat besar dibandingkan musim terakhir Elanga bersama Forest ketika ia mencetak enam gol dan memberikan 11 assist. Kecepatan tetap menjadi senjata utamanya, tetapi struktur Newcastle musim lalu tidak selalu memberinya ruang transisi sebesar yang ia nikmati bersama klub sebelumnya.
Pada laga pembuka menghadapi Liverpool, Elanga kembali terlihat seperti versi terbaiknya dengan mencatat kecepatan puncak 34,9 kilometer per jam, tertinggi pada pekan pertama. Ia memanfaatkan umpan William Osula, meninggalkan Milos Kerkez, lalu menyelesaikan peluang ke sudut jauh untuk membuka skor.
Gol itu mengakhiri rentetan 40 penampilan Liga Inggris tanpa mencetak gol dan menjadi gol liga pertamanya untuk Newcastle pada penampilan ke-33. Bila Newcastle terus bermain lebih vertikal, pemain Liga Inggris asal Swedia tersebut bisa menemukan kembali lingkungan yang sesuai dengan kekuatan utamanya.
Yoane Wissa berada dalam kasus yang berbeda karena masalah utamanya bukan kehilangan kualitas, melainkan musim pertama Newcastle yang rusak sebelum benar-benar dimulai. Cedera lutut jangka panjang membuat mantan penyerang Brentford baru menjalani debut pada Desember dan hanya mencetak satu gol dari 19 penampilan liga.
Padahal satu musim sebelumnya Wissa mencetak 19 gol untuk Brentford, sementara Bryan Mbeumo menghasilkan 20 gol dalam duet yang sangat produktif. Total 19 gol Wissa berasal dari 18,6 expected goals, menunjukkan produktivitas tersebut bukan sekadar hasil penyelesaian akhir yang sulit diulang.
Melawan Liverpool, Wissa mencoba empat tembakan, terbanyak di antara seluruh pemain di lapangan, sekaligus memperlihatkan kembali keberanian membawa bola. Dribel dan kontrol jarak dekatnya menembus lini tengah Liverpool sebelum ia menyiapkan peluang yang diselesaikan Joe Willock untuk membawa Newcastle kembali unggul.
Jika kondisi lututnya stabil, Wissa memberi Newcastle karakter penyerang yang berbeda karena mampu bergerak di antara bek, menyerang ruang, sekaligus membawa bola. Bagi pemain Liga Inggris yang musim lalu kehilangan hampir seluruh momentum, pertandingan pertama tersebut menjadi fondasi pemulihan yang cukup meyakinkan.
Barry dan Gvardiol Punya Alasan Berbeda untuk Bangkit
Thierno Barry juga membutuhkan kesabaran pada musim pertamanya di Everton karena harus menunggu 14 pertandingan Liga Inggris sebelum mencetak gol pertama. Dalam periode tersebut ia bermain 631 menit dan melepaskan 15 tembakan tanpa hasil, membuat adaptasinya dari sepak bola Spanyol terlihat jauh lebih berat.
Persaingan dengan Beto juga membuat posisi penyerang utama Everton tidak pernah benar-benar menjadi miliknya, meski Barry akhirnya mencatat 21 kali menjadi starter. Beto memulai 17 pertandingan, tetapi keduanya belum mampu memberikan kepastian bahwa Everton telah menemukan penyerang nomor sembilan jangka panjang.
Musim ini Barry hanya membutuhkan satu pertandingan untuk membuka rekening gol dengan sundulan jarak dekat setelah kerja Iliman Ndiaye di sisi kanan. Gol tersebut membantu Everton mengalahkan Crystal Palace 2-0 dan mengurangi tekanan awal terhadap David Moyes dalam musim yang menentukan masa depannya.
Barry baru berusia 23 tahun dan sebelumnya pernah mencetak gol di Belgia, Swiss, serta Spanyol, sehingga proses adaptasinya masih memiliki ruang berkembang. Jika sentuhan awal itu membangun kepercayaan diri, ia bisa berubah dari proyek menjadi pemain Liga Inggris yang benar-benar mampu memimpin lini depan Everton.
Josko Gvardiol mungkin memiliki reputasi paling mapan dalam daftar ini, tetapi musim 2025/26 tetap menjadi kampanye yang ingin segera ia tinggalkan. Patah tulang kering pada Januari membuat bek Manchester City absen hingga pekan-pekan terakhir dan nyaris tidak bermain setelah kembali.
Cedera tersebut terasa lebih mencolok karena Gvardiol sebelumnya terkenal sangat tahan terhadap masalah fisik sejak datang pada Agustus 2023. Hingga 1 Januari 2025, ia tersedia dalam 89 dari kemungkinan 95 pertandingan Liga Inggris dan tampil dalam 81 pertandingan.
Kembalinya Gvardiol terlihat sempurna ketika ia memainkan 90 menit penuh menghadapi Bournemouth, pertandingan liga penuh pertamanya sepanjang 2026. Lebih dramatis lagi, ia muncul pada menit ke-91 dan mencetak gol kemenangan Manchester City dalam debut liga Enzo Maresca sebagai pelatih.
Gol tersebut menegaskan bahwa insting menyerangnya belum hilang karena Gvardiol kini mengoleksi 14 gol Liga Inggris sejak tiba di Inggris. Hanya Virgil van Dijk dengan 17 gol yang mencetak lebih banyak di antara bek selama periode tersebut, membuat ancamannya tetap menjadi bonus besar City.
Siapa Pemain Liga Inggris dengan Peluang Kebangkitan Terbesar?
Enam kasus ini memperlihatkan bahwa istilah musim kebangkitan tidak selalu mempunyai arti yang sama bagi setiap pemain Liga Inggris. Palmer dan Ødegaard membutuhkan kebugaran, Elanga membutuhkan konteks transisi, Wissa memerlukan kontinuitas, Barry mencari kepercayaan diri, sedangkan Gvardiol membutuhkan tubuhnya kembali stabil.
Pekan pertama juga memberikan tanda bahwa klub mereka kini menyediakan kondisi lebih baik untuk memaksimalkan kualitas tersebut. Chelsea memberi Palmer kebebasan di lini depan, Arsenal mengembalikan koneksi kanan Ødegaard, sementara Newcastle terlihat lebih nyaman menyerang cepat bersama Elanga dan Wissa.
Namun ujian sesungguhnya dimulai ketika lawan mulai beradaptasi, jadwal menjadi padat, dan kondisi fisik kembali diuji sepanjang musim. Satu penampilan bagus dapat memulai momentum, tetapi pemain Liga Inggris yang benar-benar bangkit harus mengulang level tersebut selama berbulan-bulan, bukan hanya satu akhir pekan.
Dari enam nama tersebut, Palmer dan Ødegaard memiliki plafon tertinggi karena pernah menunjukkan kemampuan memengaruhi perebutan gelar, tetapi Elanga menawarkan cerita perubahan paling tajam. Jika tanda awal ini berlanjut, Liga Inggris 2026/27 bisa menjadi musim penebusan bagi lebih dari satu pemain besar.
Konteks hasil pekan pertama Liga Inggris 2026/27 juga memperlihatkan Everton, Chelsea, Arsenal, dan Manchester City sama-sama membuka musim dengan kemenangan, sementara Newcastle mengawali kompetisi dengan hasil imbang dramatis kontra Liverpool.



