Liverpool membuka Liga Inggris 2026/27 dengan hasil yang segera memunculkan pertanyaan besar tentang fondasi permainan mereka. Imbang 2-2 di kandang Newcastle United bukan sekadar kehilangan dua poin, melainkan alarm mengenai betapa mudahnya ruang tengah mereka ditembus dalam transisi.
Tim Andoni Iraola sebenarnya menguasai pertandingan, tetapi kontrol bola tidak otomatis berubah menjadi kontrol risiko. Opta Analyst mencatat Liverpool memegang hampir 61 persen penguasaan, melepaskan 27 tembakan berbanding 13, namun tetap kalah dalam expected goals permainan terbuka, 0,96 berbanding 1,46.
Opta Analyst juga mencatat tidak ada tim yang menjalani porsi pertandingan dengan low block lebih besar daripada Newcastle pada pekan pertama. Itu penting karena tuan rumah memimpin hampir sepanjang laga, sehingga penguasaan Liverpool memang harus dibaca bersama konteks pertandingan.
Anthony Elanga membawa Newcastle unggul hanya lima menit setelah laga dimulai, sebelum Cody Gakpo menyamakan skor selepas jeda. Joe Willock kemudian mengembalikan keunggulan tuan rumah, sampai penalti Dominik Szoboszlai pada menit ke-99 menyelamatkan Liverpool dari kekalahan pada debut liga Iraola.
Yang membuat dua gol Newcastle terasa mengkhawatirkan bukan hanya kecepatannya, melainkan pola serangan yang hampir identik. Kedua serangan bergerak langsung menembus koridor tengah setelah Liverpool kehilangan bola di wilayah ofensif, memperlihatkan jarak antarlini yang terlalu besar saat fase serangan gagal diselesaikan.
Pada gol pertama, hanya sembilan detik memisahkan intersep Amar Dedic di kotak Newcastle dengan penyelesaian Elanga di ujung lapangan. Gol Willock bahkan lahir dalam sekitar 12 detik sejak bola dimainkan Malick Thiaw kepada Yoane Wissa di dekat area pertahanan tuan rumah.
Menariknya, Newcastle juga menghadapi dua tembakan dari fast break dalam pertandingan tersebut, sama banyak dengan Liverpool. Perbedaannya terletak pada efisiensi, karena Elanga dan Willock menghukum kesempatan mereka sementara tim tamu tidak mampu mengubah dua transisi serupa menjadi gol.
Liverpool Bocor di Transisi, Bukan Sekadar Kekurangan Nomor Enam
Dua kejadian itu membuat tuntutan membeli gelandang bertahan baru terdengar masuk akal, terutama karena Ryan Gravenberch dan Szoboszlai memiliki naluri menyerang kuat. Namun persoalan Liverpool sebenarnya tidak sesederhana mencari penerus Fabinho, karena kerusakan muncul dari keputusan kolektif ketika struktur pengamanan serangan terputus.
Gravenberch ditempatkan sebagai pemain terdalam dalam double pivot, sedangkan Szoboszlai mendampinginya dan Florian Wirtz bergerak sebagai nomor 10. Masalahnya, Gravenberch kehilangan bola pada dua situasi menyerang yang membuat dirinya serta beberapa rekan berada di depan bola ketika Newcastle melancarkan serangan balik.
Situasi tersebut memicu kritik dari mantan penyerang Liverpool, Daniel Sturridge, yang menilai profil gelandang bertahan tetap dibutuhkan. Ia menyoroti bahwa sebagian besar opsi utama di lini tengah memiliki kecenderungan menyerang, sehingga tim tidak mempunyai pemain dengan karakter defensif murni sebagai pengaman.
Pandangan serupa datang dari Jamie Carragher, yang mempertanyakan keseimbangan ketika Wirtz, Szoboszlai, dan Gravenberch dimainkan bersama. Kritik itu memiliki dasar, sebab ketiganya nyaman membawa bola maju, tetapi struktur rest defence menjadi rentan apabila dua atau tiga pemain sekaligus melewati posisi bola.
Meski demikian, Iraola menolak menyederhanakan masalah hanya pada personel dan menilai Liverpool harus beradaptasi sebagai sebuah tim. Menurutnya, pemain terdalam tetap boleh naik membantu serangan, tetapi pemain lain wajib membaca situasi, melindungi ruang, menghentikan pembawa bola, atau melakukan pelanggaran taktis bila diperlukan.
Penjelasan Iraola penting karena gol kedua Newcastle tidak terjadi ketika Liverpool kekurangan jumlah pemain di belakang. Pelatih asal Spanyol itu menilai timnya sebenarnya memiliki cukup pemain untuk bertahan, tetapi gagal memenangi duel pertama dan kurang agresif menghentikan lawan sebelum serangan berkembang.
Artinya, membeli seorang destroyer sekalipun tidak otomatis menutup semua lubang jika lima atau enam pemain tetap bereaksi terlambat setelah kehilangan bola. Liverpool membutuhkan aturan transisi yang jelas mengenai siapa menekan, siapa mundur, siapa mengawal jalur umpan, dan siapa menjaga kedalaman.
Data historis juga menunjukkan bahwa risiko serangan balik bukan masalah baru yang selalu membutuhkan solusi lewat transfer. Sejak awal musim lalu, Liverpool memang telah kebobolan sembilan gol melalui fast break di semua kompetisi, jumlah tertinggi dibandingkan klub Liga Inggris lainnya dalam periode tersebut.
Namun konteksnya tidak sesederhana angka sembilan itu, karena Liverpool memainkan lebih banyak pertandingan dibandingkan sebagian rival. Pada musim liga sebelumnya, enam tim justru kebobolan lebih banyak daripada lima gol fast break Liverpool, sedangkan enam tim juga menghadapi lebih banyak tembakan dari skema serupa.
Manchester City, misalnya, membiarkan 46 tembakan fast break, sedangkan Bournemouth era Iraola menerima 36 dan Liverpool 34. Angka itu menunjukkan tingkat keterbukaan tertentu bisa menjadi konsekuensi dari tim yang menyerang agresif, sehingga persoalannya adalah mengelola risiko tanpa mematikan keberanian menyerang.
Gravenberch Membuktikan Liverpool Bisa Tanpa Destroyer
Bukti terkuat bahwa Gravenberch mampu menjadi jangkar muncul pada musim 2024/25 ketika Liverpool memenangkan Liga Inggris. Arne Slot mengubahnya dari gelandang box-to-box menjadi pemain terdalam, dan keputusan tersebut menghasilkan salah satu musim terbaik sang pemain sejak pindah dari Bayern Munich.
Dalam kampanye juara itu, Gravenberch mencatat 60 intersep menurut data Opta yang dikutip Analyst, sedikitnya 11 lebih banyak daripada gelandang lain. Ia juga memenangi kembali penguasaan 193 kali, memperlihatkan bahwa kualitas bertahan tidak selalu harus datang dari gelandang dengan profil destroyer tradisional.
Kontribusinya juga tidak berhenti ketika Liverpool menguasai bola, sebab Gravenberch melakukan 118 progressive carries jarak panjang sepanjang musim tersebut. Di antara gelandang, hanya Bernardo Silva dengan 130 yang mencatat jumlah lebih tinggi, sehingga peran enam miliknya tetap membawa progresi dan keberanian menembus garis.
Premier League bahkan memilih Gravenberch sebagai Young Player of the Season 2024/25 setelah transformasinya di basis lini tengah. Penghargaan itu memperkuat argumen bahwa Liverpool sebenarnya pernah menemukan solusi internal, tanpa harus mempunyai pemain yang identitas utamanya hanya merebut dan menghancurkan serangan lawan.
Perubahan kemudian terjadi ketika Wirtz lebih sering menjadi nomor 10, Szoboszlai bergerak lebih dalam, dan performa Alexis Mac Allister ikut menurun. Gravenberch juga tidak setajam musim juara, tetapi penurunan kolektif membuat sulit memastikan apakah akar masalahnya individu atau struktur tim.
Menariknya, posisi rata-rata Gravenberch dan Szoboszlai melawan Newcastle tidak menunjukkan keduanya terus berdiri terlalu tinggi. Persoalan lebih besar muncul pada momen tertentu ketika serangan Liverpool kehilangan keseimbangan, terutama saat pemain yang seharusnya mengamankan transisi ikut menyerbu area lawan secara bersamaan.
Karena itu, mengaitkan seluruh masalah dengan kehadiran Wirtz juga kurang tepat bila melihat angka pressing. Pada musim lalu, Wirtz merebut bola di sepertiga akhir 0,79 kali per 90 menit, lebih tinggi daripada Szoboszlai yang mencatat 0,58 pada musim juara 2024/25.
Wirtz juga melakukan high pressure sekitar 58,3 kali per 90 menit, tidak jauh dari catatan Szoboszlai sebesar 61,0. Perbedaan fisik keduanya memang terlihat, tetapi data tersebut mengisyaratkan bahwa kemauan menekan bukan titik lemah utama Liverpool dalam komposisi lini tengah terbaru.
Musim 2024/25 bahkan menghasilkan rata-rata 1,79 fast break per pertandingan, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006/07, tetapi Liverpool hanya kebobolan dua kali. Fakta itu memperlihatkan bahwa struktur yang tertata dapat meredam risiko meski liga secara keseluruhan semakin transisional.
Keberadaan Fabinho pun dahulu tidak membuat Liverpool kebal terhadap serangan balik, karena tim juara 2019/20 kebobolan empat gol dari fast break. Jumlah itu dua kali lipat musim 2024/25 dan hanya satu lebih sedikit dibandingkan catatan lima gol pada 2025/26.
Contoh lain datang dari pertandingan pembuka musim lalu melawan Bournemouth, ketika Liverpool juga kebobolan dua gol melalui fast break. Saat itu Gravenberch tidak bermain karena skorsing, sementara lini tengah berisi Szoboszlai, Mac Allister, dan Wirtz, sehingga kelemahan serupa tetap muncul.
Pada gol kedua Bournemouth, Wataru Endo bahkan sudah berada di lapangan bersama Curtis Jones dan Szoboszlai. Meski Endo merupakan gelandang bertahan natural, Antoine Semenyo tetap mampu berlari dari satu area penalti ke area lain tanpa dihentikan sebelum mencetak gol penyeimbang.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa profil pemain tidak dapat menggantikan organisasi setelah kehilangan bola. Seorang gelandang bertahan bisa menambah perlindungan, tetapi tanpa jarak yang rapat, counter-press terkoordinasi, dan kesiapan melakukan duel, Liverpool tetap dapat dibelah dengan satu atau dua umpan vertikal.
Transfer Liverpool dan Peluang Menambah Nomor Enam
Di sisi transfer, nama Mamadou Sangare menjadi contoh paling menarik karena Brentford membelinya dari Lens sekitar £39 juta. Reuters melaporkan gelandang Mali berusia 24 tahun itu menandatangani kontrak lima tahun dengan opsi perpanjangan setahun, setelah berkembang menjadi pemain tengah menonjol di Prancis.
Sturridge menggunakan transfer Sangare sebagai gambaran bahwa Liverpool sebenarnya dapat mengejar profil defensif tanpa biaya ekstrem untuk ukuran klub papan atas. Namun minimnya pergerakan konkret memperlihatkan kemungkinan bahwa manajemen menilai prioritas utama bukan sekadar menambah satu gelandang dengan label nomor enam.
Konteks itu terasa lebih aneh karena Liverpool sebelumnya pernah mencoba mendapatkan Moises Caicedo dan Martin Zubimendi, tetapi gagal menyelesaikan transfer. Sejak Fabinho pergi, satu-satunya gelandang bertahan senior yang direkrut adalah Endo, yang kini berusia 33 tahun dan lebih sering berfungsi sebagai pemain rotasi.
Endo sendiri menjalani pemulihan cedera kaki pada pramusim dan mundur dari skuad Piala Dunia Jepang sebelum pensiun dari sepak bola internasional. Kondisi tersebut membuat kedalaman posisi gelandang bertahan murni Liverpool memang tidak terlalu besar apabila Gravenberch absen, kehilangan performa, atau membutuhkan istirahat.
Karena itu, keputusan terbaik mungkin bukan memilih antara transfer atau perbaikan taktik, melainkan mengerjakan keduanya secara bersamaan. Liverpool tetap dapat menambah pemain defensif untuk variasi pertandingan, sambil memastikan sistem Iraola tidak bergantung pada satu pemain untuk menghentikan seluruh serangan balik lawan.
Solusi Liverpool: Struktur Lebih Penting daripada Satu Pemain
Iraola membutuhkan mekanisme rest defence lebih disiplin, terutama ketika kedua bek sayap dan dua gelandang bergerak tinggi secara bersamaan. Minimal tiga pemain harus menjaga akses menuju penyerang lawan, sementara tekanan pertama setelah kehilangan bola wajib datang cepat agar transisi tidak berubah menjadi sprint terbuka.
Liverpool juga harus lebih cermat menyelesaikan serangan, karena peluang yang tidak diakhiri tembakan dapat menjadi awal serangan balik berbahaya. Iraola menyoroti hal itu setelah laga Newcastle, ketika sebuah situasi empat melawan tiga gagal dituntaskan dan justru berbalik menjadi gol Elanga.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai gelandang bertahan tidak memiliki jawaban hitam-putih setelah hanya satu pertandingan liga. Liverpool memang akan lebih lengkap jika mempunyai alternatif nomor enam spesialis, tetapi data masa lalu membuktikan struktur kolektif yang sehat dapat membuat Gravenberch menjalankan peran tersebut secara efektif.
Hasil 2-2 di St James’ Park seharusnya dibaca sebagai peringatan mengenai disiplin, bukan vonis bahwa skuad ini salah dibangun. Jika Liverpool memperbaiki jarak, rest defence, duel transisi, dan pengambilan keputusan, kebutuhan transfer bisa berubah dari kewajiban mendesak menjadi pilihan strategis yang memperkuat kedalaman.



